Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Menjelaskan


__ADS_3

Teo melepaskan tangan Rea ketika mereka sudah berada di dalam kamar Teo yang berukuran besar itu. Rea menatap Teo dengan bingung sekaligus takut, laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat begitu menakutkan, bahkan sorot matanya pun terlihat begitu tajam, tidak seperti biasanya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat begitu marah? Apakah aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar?" Rea bertanya seraya melangkah mundur ke belakang.


Teo yang melihat hal itu pun langsung menarik tangan Rea, dan membawa Rea ke dalam pelukannya. Rea terkejut, ia berusaha untuk lepas dari pelukan Teo, namun ia tidak bisa. "Lepaskan! Apa kamu sudah gila!" Seru Rea dengan tatapan matanya yang tajam. Rasa takutnya tiba-tiba saja menghilang begitu saja.


"Aku sudah bilang beberapa kali sama kamu, jauhi dia, jangan berhubungan lagi dengan dia. Kenapa kau tidak mengerti juga, hah!" Suara Teo terdengar sangat dingin di telinga Rea. Rasa cemburu dan juga marah semakin menyelimuti dirinya saat ini. "Katakan! Kau pergi kemana sama dia? Kenapa kamu baru pulang sekarang! Apakah kau bersenang-senang dengan dia seharian ini?" Pertanyaan Teo membuat Rea begitu marah. Bukankah seharusnya Teo itu meminta maaf karena sudah menyembunyikan fakta tentang Olivia yang sudah mencoba untuk membunuhnya? Mengapa Teo malah menuduh dirinya bersenang-senang dengan Stevan? Apakah Teo sudah gila!


"Ya! Aku memang sudah bersenang-senang sama dia, aku pergi ke hotel sama dia, dan aku melakukan hal yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Apakah itu yang ingin kamu dengar dari mulutku?" Ucap Rea terlampau marah. Ia tidak perduli dengan tuduhan Teo terhadap dirinya, ia bahkan sengaja membenarkan ucapan Teo yang menuduhnya bersenang-senang seharian bersama Stevan. Padahal kenyataannya, Rea sama sekali tidak bersenang-senang dengan Stevan. Rea hanya menemani sang mama seharian ini, dan Rea juga mengantar sang mama ke Hotel, karena sang mama tidak mau tinggal bersama dirinya di Mansion Albert.

__ADS_1


"Kau!!!" Teo kehabisan kata-katanya, ia tidak habis pikir mengapa istrinya itu bisa berkata seperti itu. Apakah yang di ucapkan oleh sang istri itu benar? Atau memang sang istri sengaja ingin membuatnya semakin marah dan cemburu?


"Kenapa? Apa kau puas dengan jawabanku, Teo?" Rea masih menatap Teo dengan tajam, ia juga masih berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Teo.


"Rea.... Aku akan memberimu kesempatan! Katakan yang sebenarnya, kemana kamu pergi dengan laki-laki brengsek itu?" Teo mulai merendahkan nada bicaranya, ia menatap Rea dengan tatapan matanya yang mulai berubah menjadi hangat. "Aku tahu, kamu pasti bohong kan? Ucapanmu tadi, sama sekali tidak benar. Aku sangat yakin kamu bukanlah wanita seperti itu, Rea." Teo berkata dengan sangat lembut. Ia mencoba untuk menghilangkan amarah serta rasa cemburunya terhadap Stevan. "Maafkan aku... Karena sudah menuduhmu.... "


"Aku akan menjelaskan semuanya sama kamu. Tapi.... Tolong lepaskan aku dulu." Ucap Rea menyela perkataan Teo yang belum selesai. Sangat tidak nyaman jika mereka berbicara dengan posisi yang begitu intim seperti itu.


Rea mengangguk paham, ia pun mulai menjelaskan semuanya kepada Teo. "Aku pergi ke kediaman Olivia... Aku tidak sengaja berjumpa dengan Stevan ketika aku hendak memanggil taksi di jalan.... "

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak meminta pak Juned mengantarmu, Rea?" Teo bertanya dengan cepat, ia bahkan menyela ucapan Rea membuat gadis itu mendesah pelan.


"Aku belum selesai bicara, Teo. Bisakah kamu tidak menyela ucapanku?" Rea menatap Teo dengan kesal. Belum selesai ia menjelaskan, Teo sudah memotongnya. Benar-benar menyebalkan. Pikir Rea.


"Maafkan aku... Lanjutkan lagi ceritanya."


"Tadi saat aku pergi, pak Juned lagi mandi, dan aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Aku ingin tahu keadaan mamaku di sana." Rea menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya perlahan, terlihat sebuah kesedihan terpancar dari raut wajahnya. "Dan ketika aku tiba di sana, aku... Aku melihat mamaku hampir di pukul oleh papa tiriku, lebih tepatnya sudah di tampar sama papa tiriku. Aku... Aku sangat kaget, dan aku tidak menyangka jika papa tiriku sejahat itu terhadap mamaku..." Rea menangis, saat ia mengingat mama kandungnya di perlakukan kasar oleh papa tirinya tadi, sementara Teo, ia terlihat sangat terkejut mendengar cerita Rea tentang pak Sbastian, yang menurutnya sangat penyayang itu.


"Tadinya aku ingin membawa mamaku ke sini, tapi dia menolak dan ingin menginap di hotel, akhirnya aku meminta Stevan untuk mengantar aku dengan mamaku ke hotel. Dan aku juga meminta Stevan untuk pulang setelah mengantar kita berdua ke hotel. Tetapi, siapa sangka Stevan akan menungguku di lobi hotel." Sambung Rea lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2