Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Kemungkinan hilang ingatan


__ADS_3

Teo, Stevan, dan juga Grace langsung beranjak berdiri ketika mereka melihat para dokter sudah membuka pintu ruangan UGD itu. Ketiganya segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan bagaimana keadaan Rea saat ini.


"Bagaimana kondisi istri saya, dokter?" Tanya Teo dengan tidak sabaran. Terlihat raut wajahnya masih khawatir sekaligus panik, ia takut jika hal buruk terjadi pada istrinya saat ini.


"Iya, dok. Bagaimana kondisi putri saya? Dia tidak apa-apa kan dok?" Grace turut bertanya dengan raut wajahnya yang khawatir, sama seperti Teo. Sementara Stevan, ia belum sempat bertanya karena dokter itu sudah menjawab pertanyaan Teo dan juga Grace.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, tetapi karena benturan di kepalanya yang cukup parah, kemungkinan pasien akan kehilangan ingatannya." Ucap dokter itu membuat Teo, Stevan dan juga Grace terkejut.


"Ma,,, maksud dokter, dia,,, dia amnesia, dok?" tanya Teo memastikan ucapan dokter tadi.


Dokter itu menganggukkan kepalanya, ia menatap Teo, kemudian ia berkata. "Ya betul. Dan untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri, dan kami akan memindahkan pasien ke ruang inap."

__ADS_1


"Silahkan, dok. Terima kasih." Grace menyahut ketika ia melihat Teo yang hanya terdiam dengan tatapan matanya yang kosong, begitu pun juga dengan Stevan. Ia tidak menyangka jika gadis yang sudah menarik perhatiannya itu akan kehilangan ingatannya karena kecelakaan yang di alaminya. Namun meskipun begitu, Stevan merasa bersyukur setidaknya gadis itu masih bisa selamat dari kecelakaan tersebut.


"Teo, kamu pulanglah dulu, biar mama yang jagain Rea di sini." Ucap Grace setelah kepergian para dokter tersebut.


Teo tidak menyahut, ia hanya melirik Grace sekilas, kemudian ia melangkahkan kakinya dan duduk di kursi tunggu. Grace menatap Teo, ia pun menghela nafasnya, kemudian ia menatap ke arah Stevan. "Apakah kamu teman Rea?" tanya Grace yang mendapat anggukkan kepala dari Stevan. "Sebaiknya kamu pulang saja, biar tante yang menjaga Rea di sini."Ucap Grace dengan tatapan mata yang masih tertuju pada Stevan.


Stevan menggeleng, ia pun lantas berjalan dan duduk di kursi tunggu. "Aku akan tetap di sini, sampai Rea sadar." Jawab Stevan dengan tampangnya yang datar.


"Aku akan tetap di sini, sampai Rea sadarkan diri." Tegas Stevan dengan nada suaranya yang mulai dingin.


"Jangan memancing emosiku, Stev! Sebaiknya kau pergi dan jangan pernah mendekati istriku lagi, mengerti." Ucap Teo mulai terpancing emosi karena sahabatnya itu tidak mau pergi.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum Rea sadar. Dan aku akan terus mendekatinya, tidak perduli dia istrimu atau bukan, aku akan tetap mendekatinya, dan kau seharusnya ingat jelas, alasan kau menikahi Rea. Bukankah kau hanya ingin... "


"Astaga... Kenapa kalian malah berantem sih?" Grace duduk di tengah-tengah Teo dan Stevan, ia menatap keduanya bergantian, kemudian ia kembali berbicara. "Kalian jangan bertengkar lagi, ini rumah sakit bukan tempat untuk kalian bertengkar."


"Aku tahu. Tapi, dia yang sudah memancing emosiku." Jawab Teo dengan dingin.


Stevan mendengus, ia pun lantas menatap Teo dengan tatapan matanya yang tajam. "Kau... " Ucapan Stevan tercekat di tenggorokan ketika ponselnya menimbulkan suara menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. Stevan segera merogoh ponsel itu dari dalam saku celananya, ia melihat nama sang mama terpampang di layar ponselnya. Dengan malas, Stevan menggeser tombol berwarna hijau, kemudian ia bangkit dan menjauh dari tempat duduknya tadi. Sementara Teo, ia terlihat menatap pintu ruangan yang mulai terbuka lagi.


Teo seketika berdiri, ia menatap Rea yang saat ini sedang terbaring lemah tak berdaya di atas brankar yang di dorong oleh beberapa perawat. Wajah gadis itu terlihat pucat dan terdapat sedikit luka, kepalanya di perban dan matanya tertutup rapat. Hati Teo terasa sakit, dan penyesalan itu kembali menghantui dirinya. "Rea, maafkan aku. Aku sudah membuatmu seperti ini. Maafkan aku, Rea." Batin Teo sembari mengikuti beberapa perawat yang mendorong brankar itu menuju ruang inap.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2