Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Cara memenangkan hati


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Saat ini Teo sudah duduk manis di kursi kebesarannya, di depannya terlihat Lucas, sang asisten sedang menjelaskan tentang proyek pembangunan salah satu mall di kota Cuernavaca. Lucas terlihat sangat serius dalam menjelaskan tentang pembangunan mall itu, sementara Teo, pikirannya malah berpusat pada istrinya yang saat ini sudah memenuhi isi kepalanya.


Teo sesekali menghela nafasnya, lalu tersenyum sendirian, kemudian mendengus kesal, tangannya tidak bisa diam, sedari tadi ada saja yang ia pegang, bahkan pena yang berada di atas meja pun melayang hampir mengenai kepala Lucas yang baru saja selesai menjelaskan tentang proyek pembangunan mall tersebut.


Lucas merasa bingung, rasanya tidak ada yang salah dengan penjelasannya tadi, lalu mengapa bosnya itu melempar dirinya dengan pena? Apakah setiap ucapan yang terlontar dari mulutnya sangat sulit di mengerti? Ah tidak mungkin, bukankah biasanya juga dia menjelaskannya sama seperti ini?


"Tuan, apakah ada yang salah dengan penjelasan saya barusan?" Lucas bertanya dengan hati-hati. Ia memberanikan diri untuk menatap bosnya tersebut.


"Lucas!" Panggil Teo dengan suara yang sedikit serak.


"Iya, tuan. Apakah perlu saya jelaskan kembali?" Tanya Lucas dengan isi kepala yang masih tertuju pada proyek pembangunan mall yang ia jelaskan tadi.


"Bagaimana caranya memenangkan hati seorang wanita dengan cepat?" Teo bersidekap, menatap Lucas yang terlihat bingung dengan pertanyaan yang ia lontarkan barusan. Ini adalah kali pertamanya sang bos bertanya seperti itu. Apakah bosnya sedang jatuh cinta? Ah bukankah dari dulu bosnya itu sudah pernah jatuh cinta pada kekasihnya, Olivia? Lantas, mengapa bosnya masih bertanya bagaimana cara memenangkan hati seorang wanita? Sungguh aneh.

__ADS_1


"Bos, bukankah anda sudah pernah memenangkan hati seorang wanita dulu? Kenapa anda masih bertanya pada saya yang seorang jomblo ini." Ucap Lucas yang tentunya dalam hati. Mana berani ia berkata seperti itu pada bosnya, Bisa-bisa bonus bulan ini hilang ntah kemana.


"Lucas! Aku sedang bertanya! Mengapa kau diam saja!" Seru Teo ketika Lucas tidak menjawab pertanyaannya tadi.


Lucas seketika tersadar, ia menatap bosnya masih dengan tatapan yang bingung. "Saya, tidak tahu bos." Jawabnya membuat Teo mendengus kesal.


"Kenapa kau tidak tahu? Bukankah seharusnya kau tahu!" Ucapan Teo sangat menyebalkan bagi Lucas. Bukankah bosnya itu tahu bahwa selama ini Lucas tidak pernah tertarik pada seorang perempuan? Bagaimana mungkin Lucas bisa memberinya cara memenangkan hati seorang wanita? Sungguh menyebalkan.


"Bos, bukankah anda dulu pernah memenangkan hati seorang wanita? Kenapa anda tidak menggunakan cara dulu saja, bos." Usul Lucas seraya menatap bosnya yang terlihat semakin kesal karena usulannya tersebut.


Lucas tidak banyak komentar, ia pun langsung berpamitan sebelum bosnya itu benar-benar melemparnya ke laut, ya walau pun itu tidak mungkin, karena di sana tidak ada laut dan jarak untuk pergi ke laut cukup jauh dari sana.


Setelah kepergian Lucas, Teo pun langsung menghubungi istrinya. Ingin memastikan bahwa sang istri sedang berada di rumah, tidak pergi kemana pun tanpa izin dari dirinya seperti beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Rea ketika ia sudah menjawab panggilan dari dirinya.


Teo seketika menyunggungkan senyumannya, ia membenarkan posisi duduknya, kemudian menjawab dengan nada yang begitu lembut. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sekedar ingin memastikan bahwa kamu sedang berada di rumah."


"Ya, aku memang sedang berada di rumah, tapi mungkin sebentar lagi aku akan pergi keluar." Ucap Rea seketika menghilangkan senyuman manis di wajah Teo.


"Mau pergi kemana? Dengan siapa?" Tanya Teo tidak suka. Ia mulai berpikir, jika sang istri akan keluar bersama sahabatnya, Stevan. Jadi, dia sangat kesal dan juga marah ketika istrinya bilang, bahwa dirinya akan pergi keluar.


"Toko bunga, sendiri." Jawab Rea dengan cepat.


"Toko bunga? Untuk apa kamu pergi ke toko bunga?" Tanya Teo sangat penasaran. Tidak biasanya sang istri pergi ke toko bunga, ah jangan-jangan istrinya akan membelikan bunga untuk Stevan? Sial! Kenapa Teo harus berpikiran jauh seperti itu? Mana mungkin Rea membelikan bunga untuk seorang pria? Bukankah itu terlalu memalukan!


"Beli bunga, memangnya mau ngapain lagi? Sudahlah, kamu fokus saja dengan kerjaaan mu, aku akan pergi sekarang." Ucap Rea terdengar kesal. Setelah itu Rea pun langsung memutuskan sambungannya secara se pihak.

__ADS_1


"Sial! Kenapa harus di matiin? Dan untuk siapa dia membeli bunga itu? Apakah untuk Stevan? Tidak bisa, aku harus menanyakannya nanti." Gumam Teo seraya melempar ponsel ke atas meja. Moodnya jadi buruk setelah mendengar sang istri mau membeli bunga untuk seseorang.


__ADS_2