Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Waktu yang tidak tepat


__ADS_3

Mata Reno menatap tajam pada seorang pria yang sedang duduk di samping Cahaya. Ya, dia adalah Davin yang tadi tiba-tiba saja datang saat dia ingin melamar Cahaya. Padahal baru saja dia mengeluarkan cincin, tiba-tiba saja pria itu datang dengan mobil mewahnya dan mengaku sebagai suami Cahaya.


Cahaya terlihat habis menangis, pertanda bahwa mereka habis bertengkar saat Davin membawa Cahaya keluar untuk bicara.


Beberapa jam yang lalu


Cahaya duduk di sebuah ruang makan di rumah yang lumayan besar. Ya, dia sedang makan malam bersama dengan Reno dan ibunya.


"Bagaimana makanan ini, Cahaya? Apakah enak?" tanya Bu Darsih.


"Enak, Bu." Cahaya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kau cantik sekali malam ini, Nak," pujinya.


"Terima kasih, Bu." Cahaya hanya mengulum senyumannya.


"Oh ya, Cahaya, ada yang ingin Ibu sampaikan padamu. Mungkin ini terlalu cepat, tapi, sepertinya Reno tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Darsih menatap Reno yang tersenyum sambil mengangguk. Ya, dia memang ingin melamar Cahaya malam ini langsung di hadapan ibunya.


"Ada apa, Bu?" Cahaya merasa bingung dengan situasi yang tiba-tiba menjadi serius ini. Dia tidak suka suasana seperti ini. Inginnya suasana yang ceria dan penuh candaan.


"Begini, Reno sepertinya sudah siap untuk menikah. Dari segi umur, kemapanan, dan juga kemantapan hatinya."


"Oh Mas Reno mau menikah? Selamat, ya, Mas, kapan acaranya? Aku akan datang." Cahaya masih berpikir pria itu ingin memberikannya undangan pernikahan. Padahal, mempelai yang dipilih Reno adalah dirinya.


"Tidak, Cahaya, bukan begitu. Maksudnya adalah dia ingin agar kau menjadi calon pengantinnya." Darsih pun memperjelas semuanya.


"Hah? Maksudnya? Oh, saya disuruh menjadi pendamping mempelai wanita? Baiklah, saya setuju."


"Bukan, Cahaya, bukan itu. Maksudnya, aku ingin melamarmu. Kau yang akan menjadi calon istriku." Reno akhirnya mengatakan hal yang dari tadi ingin dikatakannya. Dia menatap Cahaya dalam-dalam. Mata bening dan indah itu terlihat terkejut. Sepertinya dia memang merasa bahwa semua ini terlalu cepat.


"Hah? Melamar?" Cahaya membulatkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa dia menerima lamaran orang lain sementara dirinya masih menjadi istri orang?


"Iya, aku ingin agar kau menjadi istriku." Reno menatap dengan sungguh-sungguh. Sepertinya dia memang telah jatuh cinta pada wanita pemberani itu.


Cahaya langsung menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana harus menjelaskannya.

__ADS_1


"Maaf, Mas, anu, aku tidak bisa menerima lamaranmu."


"Hah? Kenapa? Apa aku kurang tampan?" Terlihat raut wajah kecewa Reno saat ini.


"Bukan, bukan itu. Masalahnya...."


Belum selesai Cahaya berbicara, tiba-tiba saja dari luar terdengar suara mobil berhenti. Seketika mereka melihat ke luar.


Pintu pun diketuk. Darsih langsung membukanya karena merasa penasaran. Pasalnya, mobil itu sangat mewah dan dipastikan yang memilikinya bukan orang dari kampung ini.


Saat itu, keluarlah Davin dengan pakaian yang sangat rapi. Darsih sudah menduga bahwa pria ini pasti pekerja kantoran.


"Maaf, cari siapa?"


"Apa benar Cahaya ada di sini?" tanya Davin sambil mencoba melihat ke dalam rumah. Namun, Darsih seperti ingin menutupi pandangan Davin.


"Maaf, saya tidak kenal Cahaya." Darsih masih mengingat ucapan Cahaya saat dia berpesan untuk tidak menerima tamu yang mencari dirinya.


"Jangan bohong, Bu. Foto ini menjadi saksinya." Davin menunjukkan sebuah foto Cahaya saat berbicara dengannya. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi.


"Begini, saya tahu kedatangan anda pasti ingin membawa Cahaya untuk bekerja di perusahaan anda. Tapi, saya mohon, jangan paksa dia. Meskipun anda orang kaya, tapi dia tidak mau bekerja sama dengan anda."


"Tapi, tidak mungkin Cahaya sudah menikah. Dia tidak pernah mengatakan apapun."


"Itu karena kami sedang bertengkar. Saya mohon, Bu, izinkan saya bertemu dengannya. Saya sangat mencintainya." Davin menatap dengan penuh permohonan.


Melihat kesungguhan Davin, akhirnya Darsih pun mempersilahkannya masuk.


Begitu melihat Davin masuk, Cahaya pun terkejut. Dia menatap tak percaya bahwa Davin berhasil menemukannya.


"Siapa, Bu?" tanya Reno sambil memperhatikan penampilan Davin yang jelas adalah orang kaya.


"Dia ini, suaminya Cahaya."


"Apa? Suami? Mana mungkin. Cahaya kan belum menikah." Reno menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.

__ADS_1


"Kami sudah menikah. Ini buktinya." Davin menunjukkan foto pernikahannya dengan Cahaya.


"Ah, kalau foto pasti bisa diedit, kan?" Reno masih bersikeras bahwa dia tidak percaya. Entah memang tidak percaya atau tidak mau menerima kenyataan.


"Ya sudah, kalau begitu lihat ini." Davin menunjukkan buku nikah dirinya dan Cahaya.


Seketika Reno langsung terdiam. Dia kembali duduk ke kursinya dengan tatapan penuh kekecewaan. Dirinya tidak menyangka bahwa wanita yang berhasil merebut hatinya adalah istri orang.


"Cahaya, ikutlah denganku, kita bicara sebentar," ucap Davin sambil meraih tangan Cahaya.


"Tidak, aku tidak mau."


Davin pun mendekati Cahaya dan berbisik padanya. "Jika kau tidak mau, maka aku akan menciummu sekarang juga."


Sontak ucapan Davin langsung membuat Cahaya takut. Wanita itu langsung pergi keluar bersama dengan Davin.


'Memangnya aku semenakutkan itu sehingga dia tidak mau dicium?' batin Davin.


Sementara Darsih terlihat menenangkan Reno yang dirundung rasa kecewa. Pria itu menunduk sedih karena dia gagal mendapatkan wanita yang dicintainya. Berdosakah dia jika menginginkan Cahaya dan Davin bercerai?


Tunggu episode selanjutnya ya.


***


Hai, gaes, ada novel terbaru nih buat kalian.


Blurb:


Judulnya : Eternal Enemy


Penulis : Navizaa


Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.


Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.

__ADS_1


"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.


Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu? apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bayang saja?


__ADS_2