Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Kehidupan yang baru


__ADS_3

Cahaya terbangun saat alarm jam berbunyi. Setengah jam lagi, pasti adzan subuh akan berkumandang. Cepat-cepat dia bersiap ke kamar mandi untuk mensucikan diri terlebih dahulu karena malam tadi telah terjadi pergumulan panas dengan Davin.


Tak lupa dia membangunkan Davin yang masih terlelap dan mengajaknya untuk mandi wajib dan berwudhu.


"Mas, bangun, Mas, ayo, bangun." Cahaya menepuk pipi Davin pelan.


Davin mulai terbangun dan membuka matanya. Saat melihat Cahaya ada di depan matanya, dia pun langsung tersenyum dan merengkuh Cahaya ke dalam pelukannya.


"Mas, nanti saja pelukannya. Sekarang ayo mandi wajib dulu, setelah itu kita salat berjamaah."


"Jam berapa ini?" Davin melihat jam dinding yang menunjukkan hampir subuh.


"Ayo mandi, Mas."


"Ayo, tapi mandi berdua, kan?" Davin semakin mempererat pelukannya. Posisi Cahaya yang berada di atas Davin membuatnya kesusahan bergerak.


"Aduh, mana bisa mandi berdua, nanti wudhu nya akan batal jika kita bersentuhan."


"Dasar istri polos." Davin mengusap kepala Cahaya dengan gemas. Dia tertawa sambil melepaskan pelukannya.


Cahaya pergi ke kamar mandi kamar itu, sedangkan Davin pergi ke kamar mandi kamar sebelah, yaitu kamar lama Cahaya.


Setelah mandi wajib dan berwudhu, mereka pun melaksanakan salat berjamaah bersama-sama. Cahaya merasa bahagia karena kini dia telah memiliki imam salat.


Setelah selesai melaksanakan salat subuh, Davin pun mengajak Cahaya untuk pergi jogging bersama mengelilingi komplek perumahan mereka.


Cahaya terlihat sangat gesit berlari. Mungkin dikarenakan tubuhnya yang langsing membuatnya mudah membawa tubuhnya.


Davin yang berusaha menyainginya sedikit kewalahan.


"Sayang, jangan terlalu cepat, kita tidak sedang lomba lari."


"Tapi kalau tidak cepat, nanti tukang buburnya pulang."


"Hah? Tukang bubur?"

__ADS_1


"Iya, aku pernah melihat ada tukang bubur di lapangan tempat biasa orang jogging. Aku ingin kesana dan merasakannya."


Davin hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Ternyata tujuan Cahaya ikut jogging bukanlah untuk mendapatkan tubuh yang sehat, melainkan demi mencicipi bubur di lapangan komplek itu.


Di sana, setelah berlari berkeliling lapangan, Cahaya dan Davin pun berhenti untuk makan bubur. Terlihat sudah banyak orang-orang yang sarapan setelah melakukan jogging.


Ada yang bersama pasangan, ada juga yang bersama teman-teman mereka.


"Pak Davin?" sapa dua orang gadis yang sepertinya bekerja di perusahaan Davin.


"Mila, Sinta, kalian jogging di sini juga?"


"Iya, Pak, mumpung weekend."


"Wah Pak Davin sama istri, ya."


"Iya, dia suka jogging juga."


Cahaya tersenyum ramah pada mereka. Sebagai istri bos, dia terbilang sangat ramah dan sopan.


Cahaya mengangguk dan melihat Davin langsung pergi ke kamar mandi.


"Bu Cahaya, sepertinya Ibu sangat bahagia, ya, bersama Pak Davin."


"Iya, saya bahagia." Cahaya mengangguk mengiyakan. Meskipun pertanyaan itu kurang pantas ditanyakan pada seorang istri bos, namun Cahaya tetap bersikap baik.


"Kami juga senang melihat Pak Davin memiliki istri yang sangat baik dan ramah seperti Bu Cahaya. Kapan-kapan Ibu main ke kantor, dong."


"Hehehe, iya, nanti kalau saya ada waktu saya akan ke kantor suami saya. Dia juga mengatakan ingin melihat saya mengantarkan makan siang untuknya."


Melihat Cahaya tersenyum tulus, mereka benar-benar yakin kalau wanita itu benar-benar bahagia.


Mereka pun segera pamit dan langsung menelepon seseorang untuk melapor.


"Halo, Tuan, memang benar, Nona Cahaya bahagia dengan pernikahannya."

__ADS_1


[Bagus, kalian boleh pergi dari sana. Hutang kalian di restoran saya, saya anggap lunas.]


"Terima kasih, Tuan."


[Lain kali jika ingin mengadakan kencan pertama, lihat dulu, pria seperti apa yang kalian kencani.]


"Baik, Tuan, terima kasih."


Mila dan Sinta pun bisa tersenyum lega. Hutang mereka di restoran mewah itu akhirnya lunas dengan melakukan sedikit pekerjaan mudah ini.


Sebelumnya, mereka dijebak oleh dua pria yang mereka kenal dari aplikasi dating. Saat bertemu, dua pria itu meminta makan di restoran mewah. Dan tak hanya itu, mereka malam membawa teman-teman mereka dan memesan banyak makanan yang mahal. Namun setelahnya, mereka malah pergi satu persatu dengan alasan ke toilet.


Hingga akhirnya, Mila dan Sinta terpaksa memberikan KTP mereka sebagai jaminan. Pemilik restoran yang bertanya mereka kerja dimana langsung terkejut saat mendengar mereka kerja di perusahaan Davin. Dia pun menawarkan kerja sama mudah ini dengan imbalan makanan yang tak perlu dibayar.


Pemilik restoran langsung melaporkan hal ini pada Kakek Cahaya. "Tuan, cucu anda hidup bahagia bersama suaminya. Anda tidak perlu memisahkan mereka dengan cara itu."


"Baiklah, aku mengerti. Tadinya aku berpikir mereka tidak akan bisa bersama. Ternyata cucuku cukup polos untuk memaafkan suaminya. Ya sudah, sebaiknya jangan ganggu mereka. Kalau Cahaya bahagia, maka aku bisa tenang."


****


Hai, gaes, ada rekomendasi novel nih buat kalian.


Judul : Eternal Enemy


Penulis: Navizaa


.Blurb:


Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.


Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.


"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.


Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu? apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bayang saja?

__ADS_1


__ADS_2