Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Cemburu Davin


__ADS_3

"Mas, kenapa diam?" tanya Cahaya yang akhirnya menyadari bahwa Davin terus diam sepanjang perjalanan.


"Tidak apa-apa," sahut Davin tanpa menoleh.


"Kalau tidak apa-apa, mengapa kau seperti marah?"


"Tidak, aku tidak marah."


"Lalu, mengapa kau tidak mau melihat wajahku?"


"Hei, berhenti dulu," ucap Davin pada sang sopir. Sang sopir pun berhenti.


"Turun!" titah Davin lagi yang langsung membuat sang sopir turun.


Setelah sang sopir turun dan menutup pintu mobil, Davin langsung menoleh ke arah Cahaya dengan tatapan agak dingin.


"Mas, kenapa? Sepertinya kau sedang marah, ya?"


"Tidak, aku tidak marah."


"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?"


"Kenapa dengan wajahku? Apa aku jelek? Oh, apa aku tidak setampan Reno?"

__ADS_1


"Hah?" Cahaya mengernyitkan dahinya. Apakah saat ini Davin sedang cemburu pada Reno karena perkataan Darsih tadi?


"Tidak, Mas, kau bahkan lebih tampan dari salah satu member idolaku."


"Masa?"


"Iya, kau sangat tampan. Lagipula, yang suamiku itu kan kau, bulan Reno."


"Lalu, mengapa mereka berpikir ingin menjadikan dirimu istri Reno? Pasti kau mengaku single kan?"


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun pada mereka karena tidak ada yang bertanya. Lagipula, aku dan Reno hanya sebatas teman kerja."


"Oh, teman kerja, ya. Baiklah, kalau begitu, buktikan padaku kalau aku adalah suamimu."


"Dengan cara apa, Mas?"


"Dengan cara seperti ini." Davin mulai memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Cahaya. Hingga saat jarak wajah mereka hanya tinggal dua centi lagi, tiba-tiba Cahaya langsung teringat sesuatu. Dia pun menarik wajahnya dan panik.


"Kenapa?" Davin juga ikut khawatir.


"Gajiku, Mas, gajiku belum ku ambil. Padahal aku besok gajian." Cahaya mulai panik.


"Apa? Gaji? Disaat seperti ini, kau malah memikirkan gaji?"

__ADS_1


"Ya iyalah! Itu gaji hasil kerja kerasku, Mas."


Davin menepuk dahinya. Dia lupa bahwa Cahaya adalah gadis yang sangat polos.


"Sayang, aku akan menggantinya. Bahkan berkali lipat." Davin mencoba meyakinkan Cahaya agar percaya. Padahal, Cahaya bisa mendapatkan uang sebanyak yang dia mau di rumah Davin.


"Tapi, aku ingin menggunakan gajiku untuk membayar hutangku padamu, Mas. Aku membawa kartu debitmu dan mengambil lumayan banyak."


"Tidak perlu, karena uangku adalah uangmu juga."


"Ya sudah, baiklah, Mas. Em, sampai dimana tadi?" Cahaya mulai kembali ke mode serius. Namun, Davin yang sudah kehilangan momen romantis tadi memutuskan untuk tidak melanjutkan nya di sini. Apalagi sang sopir masih ada di luar seperti orang kikuk.


Dia pun menyuruh sopir untuk masuk dan mereka melanjutkan perjalanan. Rasanya dia ingin cepat-cepat sampai ke rumah.


Sepanjang jalan, dia terus membayangkan apa yang akan terjadi dengan mereka malam ini. Sedikit gugup dan malu karena pasti malam ini dia akan melakukan hal yang belum pernah dilakukannya pada Cahaya.


Sedangkan Cahaya masih memikirkan gajinya yang harusnya bisa diambilnya besok. Dia sangat menyayangkan gajinya lewat begitu saja.


Namun, tiba-tiba saja, Silvi mengirimkan sebuah bukti transaksi pembayaran gaji Cahaya via transfer.


[Cahaya, ini gajimu, ya. Maaf, tadi Reno belum sempat memberikannya.]


Cahaya pun kegirangan karena ini adalah gaji pertamanya. Pantas saja waktu itu Reno menyuruhnya membuka rekening. Ternyata semua gaji karyawan diberikan via transfer.

__ADS_1


Tak lupa dia mengucapkan terima kasih pada Silvi yang seakan mengerti perasaannya saat ini.


__ADS_2