Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Tawaran


__ADS_3

Cahaya yang baru bangun dari tidurnya pun bermaksud pergi ke pasar untuk menyetok belanjaan di kulkas kontrakan itu.


Dia melihat isi dompetnya yang...emm, sebenarnya berisi uang sangat banyak karena dia meminjam uang Davin yang dia ambil di ATM tanpa batas milik Davin. Sebenarnya ATM itu masih ada bersamanya, namun dia tidak akan menggunakannya lagi karena takut Davin akan tahu keberadaannya.


Setelah memanggil tukang ojek, dia pun segera pergi ke pasar untuk berbelanja. Terlihat banyak sekali orang yang lalu lalang serta pedagang yang sedang berinteraksi dengan pembeli.


Pertama, Cahaya pun membeli sayur-sayuran, lalu melanjutkan dengan membeli rempah-rempah, lalu terakhir ikan dan daging.


Seteah selesai dengan semuanya, Cahaya pun beralih ke tukang baju karena dia tidak memiliki baju yang banyak. Hanya ada beberapa saja, itu pun pemberian pemilik kontrakan.


Dia memilih beberapa daster dan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ia terkejut melihat beberapa orang berpakaian rapi sedang mengobrol dengan pemilik kontrakan.


"Apa anda kenal dengan orang ini?" tanya salah seorang di antaranya.


Terlihat Bu Darsih bingung karena jelas orang yang mereka cari adalah Cahaya.


Dari balik pepohonan, Cahaya langsung mengkode Bu Darsih untuk mengatakan tidak. Dengan cepat dia menggeleng dan membuat orang-orang itu pergi.


Cahaya pun segera menghampiri Bu Darsih setelah memastikan keadaan aman.

__ADS_1


"Bu, apa yang mereka katakan?"


"Mereka bertanya apakah saya mengenalmu? Lalu saya jawab tidak. Tadi mereka menunjukkan fotomu."


'Mereka pasti orang suruhan Mas Davin', batinnya.


"Memangnya mereka siapa? Kau mengenalnya?" tanya Bu Darsih penasaran.


"Tidak, Bu, tapi saya rasa karena saya pernah mengikuti ajang pencarian bakat dan pergi begitu saja makanya mereka mencari saya," ucap Cahaya dengan asal.


"Wah, hebat, kenapa kau kabur?"


"Soalnya saya ditaksir sama juri, makanya saya pergi. Saya yakin pasti mereka itu orang suruhan juri." Semakin asal mengarang cerita. Padahal, dia tidak memiliki satupun bakat. Mau itu bernyanyi, berakting, melukis, atau menari, dia tidak bisa sama sekali.


"Terima kasih, Bu."


"Oh ya, Cahaya, kebetulan anak saya kan punya toko roti, bagaimana kalau kau kerja dengannya. Kebetulan, dia itu sedang butuh karyawan bagian kasir," ucap Bu Darsih.


"Darimana Ibu tahu saya membutuhkan pekerjaan?" Cahaya terkejut karena Bu Darsih seolah mengetahui isi hatinya.


"Bukan saya menjengkali. Tapi, kontrakan saya ini kan tidak murah, saya hanya takut kalau suatu saat harus mengusirmu karena tidak bisa bayar kontrakan." Bu Darsih terlihat ragu mengatakannya.

__ADS_1


"Oh masalah itu? Tidak masalah Bu, uang saya.." Cahaya menghentikan ucapannya saat mengingat asal uangnya saat ini.


"Eh, iya, Bu, saya mau. Kapan saya boleh mulai bekerja?"


"Besok saja. Kebetulan ini, saya sudah meminta seragamnya. Hanya tinggal kau pakai saja kok." Bu Darsih memberikan sebuah paper bag berisi seragam kerja untuk Cahaya.


"Wah, terima kasih, Bu." Cahaya tersenyum senang menerimanya.


Bu Darsih pun segera kembali ke rumahnya.


"Bagaimana, Bu?" tanya Reno yang merupakan anak Bu Darsih.


"Dia mau."


"Yang benar, Bu? Alhamdulillah." Reno tampak kegirangan mendengar Cahaya mau bekerja di toko rotinya. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu ternyata tertarik pada Cahaya sejak pertama wanita itu datang. Bukan karena cantik, tetapi karena dia berani. Reno memang sangat menyukai wanita berani seperti Cahaya. Bisa dibilang, Cahaya adalah tipe idealnya.


Sementara itu..


"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukannya?" tanya seorang pria tua yang sedang terbaring dengan selang infus di tangannya.


"Maaf, Tuan, kami belum menemukannya."

__ADS_1


Terlihat wajah pria itu yang langsung sedih mendengar laporan dari anak buahnya. Dia hanya mengepalkan tangannya erat. Tanpa berkata apapun lagi, dia langsung menyuruh anak buahnya untuk pergi.


__ADS_2