
Sesampainya di rumah, mereka disambut hangat oleh Sevina dan David. Mereka terlihat bahagia karena sang menantu sudah kembali pulang.
"Selamat datang kembali, Cahaya. Maafkan karena anak bodoh Mama sudah membuatmu tidak betah di sini." Sevina memeluk Cahaya dengan erat.
'Apa? Anak bodoh?' batin Davin.
"Maafkan aku karena telah pergi meninggalkan rumah ini, Ma."
"Tidak, Nak, ini bukanlah kesalahanmu. Ini adalah kesalahan si payah ini." Sevina melepaskan pelukannya dan memukul lengan Davin pelan. Namun, hal itu membuat Davin sedikit meringis karena pukulan itu cukup menyakitkan.
'Sudah, dibilang payah, malah dipukul lagi,' batin Davin kesal.
"Aku menyesal karena telah melakukan hal seperti itu. Aku merasa sangat malu karena pakai acara pergi segala."
"Tidak, Sayang, untuk apa? Justru Davin lah yang harusnya merasa malu. Dia begitu payah dan bodoh sehingga tidak bisa mempertahankan istrinya di rumah."
'Kenapa aku terus yang menjadi bahan hinaan?' Davin semakin kesal.
"Setidaknya kan aku..."
__ADS_1
"Cukup, Cahaya, sepertinya kau tidak perlu mengatakan semua isi hatimu. Kami semua mengerti bahwa kau melakukan itu karena kesalahanku." Davin berusaha menyudahi percakapan antara mertua dan menantu yang terus mengucilkan dirinya.
"Iya, Ma, sudahlah, pasti mereka sangat lelah karena menempuh perjalanan yang panjang. Sekarang, sebaiknya kita pulang dan biarkan mereka istirahat." David yang memahami perasaan anaknya langsung mengajak sang istri pulang.
"Ya sudah. Eh, tapi, berhubung kalian sudah berbaikan, tidak ada salahnya kan untuk mulai memikirkan cucu yang lucu untuk kami." Sevina dapat melihat wajah anak dan menantunya yang langsung memerah karena malu.
Tentu saja dia menuntut hal itu karena mereka sudah berbaikan. Lagipula, itu akan membuat semua teman-teman arisannya diam. Karena saat berita tentang Cahaya sempat tersebar, mereka sudah mulai menyindir Sevina dan tak bersikeras mengatakan bahwa Davin adalah seorang penyuka sesama jenis. Mungkin, dengan hamilnya Cahaya nanti, mereka akan berhenti mengatakan itu.
"Ma, sudahlah, ayo." David langsung mengajak sang istri untuk pulang tanpa biarkan nya melanjutkan kalimat yang mungkin akan lebih membuat Davin merasa risih.
Setelah mere pulang, Davin dan Cahaya pun berjalan beriringan menuju ke kamar. Sesampainya di sana, mereka bingung karena sebelumnya kamar mereka terpisah.
"Tapi, aku kan tidak tahan AC, Mas." Cahaya juga tidak berani menoleh. Dia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajah merahnya.
"Se-sebenarnya, AC di kamar ku sudah aku ganti dengan pengaturan suhu yang lebih rendah. Ja-jadi, kau tidak akan kedinginan. La-lagipula ada aku yang akan menghangatkan…eh, maksudku, jika suhunya masih dingin, aku bi-bisa menaikkannya."
'Astaga aku malu sekali,' batin Davin yang masih terus menyembunyikan wajahnya.
"Kenapa tidak bilang tadi tadi, Mas. Dan, apakah kita akan tetap berdiri disini?"
__ADS_1
"Oh, ya, maaf. Kalau be-begitu, silakan masuk." Davin mempersilakan istrinya untuk masuk duluan ke dalam kamar.
Di dalam kamar, lagi-lagi terjadi kecanggungan karena mereka masih sama-sama bingung. Duduk di sisi ranjang sambil menunduk malu.
'Ayo, Davin, ayo, kau pasti bisa,' batin Davin menguatkan tekadnya.
Dia pun mulai menggerakkan tangannya dan memegangi punggung tangan Cahaya.
Cahaya menoleh dan tersenyum.
"Cahaya, bolehkah aku memelukmu?"
"Bo-boleh, Mas."
Davin langsung memeluk Cahaya. Nyaman, rasanya memang sangat nyaman. Entah berapa lama mereka berpelukan hingga akhirnya keduanya pun mulai terhanyut dalam buaian cinta. Dan malam ini, ranjang yang bergetar menjadi saksi romantisme pasangan suami istri itu.
Heh, heh, udah, udah, jangan berharap lebih di adegan ini, wkwkw. Mending kalian baca deh nih, ada rekomendasi novel yang bagus buat kalian.
__ADS_1