Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Pembawa sial


__ADS_3

Kediaman Sbastian.


"Sialan! Kenapa kau harus memiliki putri pembawa sial itu hah! Karena dia, putriku harus di penjara." Teriakan penuh amarah seorang laki-laki paruh baya memenuhi ruangan berukuran besar kediaman Sbastian. Laki-laki paruh baya itu menatap nyalang wanita yang tengah berdiri di hadapannya. "Masa depan putriku hancur gara-gara putri sialanmu itu. Kenapa dia tidak mati saja!" Lagi, laki-laki paruh baya itu berteriak kepada wanita yang berdiri di hadapannya. Amarahnya jelas sangat terlihat, mungkin karena putri kesayangannya di penjara membuat laki-laki paruh baya itu begitu marah.


"Sudah cukup kamu menghina putriku, Bastian! Putriku bukanlah pembawa sial, tetapi putrimu lah yang memiliki hati yang keji, aku menyesal karena sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri, bahkan aku mengacuhkan putriku sendiri karena putrimu itu." Wanita itu menangis, ia menatap tajam laki-laki yang bernama Sbastian itu karena sudah menghina putrinya yang tidak bersalah. "Dia pantas masuk penjara, itu adalah hukuman untuk dia karena sudah mencoba untuk membunuh putriku, Rea." Sambung wanita itu yang tak lain adalah Grace, ibu kandung Rea.


Plaaaak....


Sebuah tamparan keras melayang sempurna di wajah mama Grace, dan pelakunya tentu saja Bastian, papa kandung Olivia. "Beraninya kau berbicara seperti itu tentang putriku! Apakah kau sudah bosan hidup?" Bastian mencengkram kuat lengan istrinya, amarahnya semakin besar, rasa ingin membunuh mama Grace mulai muncul dalam dirinya. "Lihat saja, aku pastikan putri sialanmu itu menderita, begitupun juga denganmu, Grace." Sambung Bastian sembari mempererat cengkramannya membuat mama Grace meringis kesakitan.


"Jangan kau ganggu putriku. Dia tidak bersalah, putirmulah yang bersalah." Ucapan mama Grace tercekat, tangisannya pun mulai pecah, sungguh ia tidak menyangka, laki-laki yang selama ini ia anggap baik dan sangat mencintainya, ternyata berhati busuk sama seperti putrinya, Olivia.

__ADS_1


"Persetan!" Bastian semakin menjadi, ia melepaskan cengkramannya kemudian mendorong tubuh mama Grace hingga terjatuh. Bastian mendekat, ia mulai mengangkat tangannya berniat untuk menampar kembali istrinya.


"JANGAN KAU PUKUL IBUKU!" Seru seorang gadis yang tak lain adalah Rea.


Bastian langsung menoleh ke sumber suara, amarahnya semakin memuncak ketika ia melihat Rea, gadis yang sudah menyebabkan putri kesayangannya di penjara. Sementara mama Grace, ia terlihat sangat terkejut dengan kedatangan putri kandungnya itu, ia tidak menyangka jika Rea akan datang di waktu yang tidak tepat, karena Rea harus menyaksikan dirinya di siksa oleh papa tirinya Rea.


"Berani sekali kau datang ke rumahku! Ah aku tahu, kau datang untuk menyerahkan nyawamu, bukan?" Bastian berkata dengan nada yang sangat dingin, bahkan sorot matanya seperti ia akan membunuh Rea saat itu juga. Gadis itu tidak takut, ia justru berjalan dan berdiri di hadapan papa tirinya itu.


Rea tersenyum sinis, tatapan matanya yang tajam menatap Bastian dengan penuh kebencian. "Pantas saja Olivia memiliki hati yang busuk, ternyata dia turunan anda." Ucap gadis itu membuat Bastian semakin emosi. "Seharusnya anda mengajarkan putri anda kebaikan sejak kecil, jadi dia tidak akan berbuat kriminal ketika dia dewasa. Dia pantas di penjara." Sambung Rea dengan tangan terkepal kuat. Meskipun Rea tidak mengingat Bastian orang seperti apa dulu, tapi ketika Rea melihat Bastian ingin memukul ibu kandungnya, Rea sangat yakin jika Bastian bukanlah orang baik. Lalu, mengapa mamanya bisa menikah dengan Sbastian? Jelas laki-laki paruh baya ini sangat kejam, bahkan dia masih membela putrinya yang jelas telah melakukan kejahatan.


"Anda ingin memukul saya, anda pikir anda siapa? Beraninya anda memukul saya!" seru Rea dengan sinis. "Putrimu pantas di penjara, karena dia sudah melakukan kesalahan yang besar. Seharusnya anda menasehati putri anda, bukan malah ingin memukul saya." Sambung Rea lagi.

__ADS_1


Rea langsung berjalan mendekati mama Grace yang sudah berdiri sembari menatapnya sendu. "Ikut aku, mah. Jangan tinggal di sini lagi, di sini sangat berbahaya." Ucap Rea dengan nada suaranya yang mulai berubah menjadi lembut. Melihat keadaan sang mama, membuat hati Rea merasa sakit.


"Rea.... "


"Ayo, mah. Jangan tinggal di sini lagi, ok." Ucap Rea sebelum mama Grace menyelesaikan ucapannya.


"Siapa yang menyuruhmu membawa dia hah!" Seru Sbastian menghalangi jalan Rea dan juga istrinya. "PENJAGA! BAWA MEREKA KE RUANG BAWAH TANAH, CEPAT." Perintah Bastian kepada para penjaganya. Para penjaga itu langsung maju dan bersiap untuk menangkap Rea dan juga mama Grace.


"JIKA KALIAN BERANI MENYENTUHKU ATAUPUN MAMAKU, TEO TIDAK AKAN MELEPASKAN KALIAN SEMUA." Ucap Rea dengan intonasi yang tinggi. Para penjaga itu langsung menghentikan langkah kakinya, mereka tahu Teo itu siapa, dan mereka tidak ingin terlibat dengan orang yang bernama Teo itu, mereka lebih memilih kehilangan pekerjaannya daripada harus berhadapan dengan Teo.


Rea tersenyum, ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya, begitupun juga dengan mama Grace. Keduanya pergi meninggalkan kediaman Sbastian.

__ADS_1


"Sialan! Kenapa kalian tidak menangkapnya hah! Apakah kalian sudah bosan bekerja denganku." Geram Bastian kepada para penjaganya, namun para penjaganya hanya diam, tidak ada satupun yang bicara membuat Bastian langsung memberikan mereka pukulan.


Bersambung.


__ADS_2