
"Kemana wanita itu? Apakah dia sudah pergi?" Tanya Rea ketika ia melihat Teo memasuki ruangannya seorang diri.
"Ya, dia sudah pergi." Jawab Teo dengan cepat.
"Sudah pergi? Bukankah dia baru saja datang, mengapa dia sudah pergi lagi?" Tanya Rea penasaran.
"Dia ada urusan mendadak, makannya dia langsung pergi." Jawab Teo dengan santai. "Kamu istirahat, ya. Aku akan pergi sebentar, nanti aku balik lagi." Sambung Teo lagi.
Rea menganggukkan kepalanya, ia menatap Teo, kemudian ia berkata. "Pergilah," ucapnya pelan.
__ADS_1
Teo tersenyum, ia pun lantas mengusap puncak kepala Rea dengan lembut. "Aku akan segera kembali." Ucap Teo dengan nada suaranya yang lembut. Rea hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu setelah itu, Teo pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Saat ini Teo sudah berada di Mansion miliknya. Ia berjalan dengan langkah kakinya yang cepat menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Raut wajahnya yang nampak menyeramkan, membuat para pelayan menunduk ketakutan.
Beberapa saat kemudian, Teo pun sudah tiba di dalam kamarnya. Ia berjalan menuju kursi sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa tersebut. Pikirannya mulai tertuju pada Olivia yang menjadi dalang di balik kecelakaan Rea. Sungguh Teo benar-benar tidak percaya jika mantan kekasih yang ia anggap wanita baik itu, tega melakukan hal keji terhadap adik tirinya sendiri. Namun, bukti sudah kuat, bahkan rekaman yang ia dapat dari si penabrak itu pun sudah ia dengar, dan ia sangat yakin jika suara itu adalah suara Olivia.
"Olivia! Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu ternyata wanita bermuka dua. Ternyata selama ini aku sudah salah menilaimu, Olivia." Batin Teo dengan tangan yang terkepal kuat. Ia merasa marah sekaligus merasa bodoh, karena ia sangat mudah sekali mempercayai wanita itu. Apakah itu karena ia terlalu mencintainya, sehingga ia selalu menilai Olivia dengan sebelah matanya? Atau memang ia benar-benar laki-laki bodoh?
__ADS_1
"Jangan-jangan dia meninggalkanku bukan karena... Ah Video. Aku harus melihat video yang di kirimkan oleh Lucas." Teo membatin lagi. Ia segera merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya, lalu mencari beberapa video yang di kirimkan oleh asistennya tersebut. Setelah ia menemukan video itu, ia pun langsung memutarnya.
Mata Teo membulat sempurna, ketika ia melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam video itu sedang berciuman mesra di salah satu cafe yang berada di Amerika, dan Teo sangat yakin jika perempuan itu adalah Olivia, wanita yang selalu ia dambakan. "Sialan!" Teo menggeram penuh amarah, ia pun langsung mematikan video tersebut, lalu memutar video berikutnya.
"Olivia, ternyata selama ini aku salah menilaimu." Teo tersenyum kecut, ia menggenggam erat ponselnya, guna menahan amarah dalam dirinya. "Kau sangat bodoh, Teo. Bahkan kau menghukum orang yang jelas-jelas hanya korban kebohongan Olivia." Teo melempar vas bunga yang berada di atas meja, hatinya benar-benar merasa sakit, ketika ia mengingat setiap perbuatan dan juga perkataannya terhadap Rea, yang jelas-jelas hanyalah korban dari kebohongan kekasihnya dulu.
"Rea,,,, maafkan aku, karena aku tidak pernah mempercayai ucapanmu dulu. Maafkan aku, Rea. Aku benar-benar bodoh." Batin Teo dengan penuh penyesalan. "Aku berjanji, aku akan menebus semua perbuatanku terhadapmu dulu, dan aku akan memperbaiki semuanya." Batinnya lagi sembari memejamkan kedua bola matanya. Wajah cantik yang selalu ia sakiti itu, tiba-tiba muncul dalam otak kecilnya, membuat rasa bersalah Teo semakin besar.
Bersambung.
__ADS_1