
Malam harinya...
Teo terus saja menatap jam yang berada di dinding kamarnya, ini sudah pukul tujuh malam, namun sangat istri belum kembali juga. Hatinya gelisah, pikirannya sangat kacau, cemburu, kesal dan juga marah bercampur menjadi satu dalam dirinya.
Teo perlahan meraih kembali ponsel yang sudah ia lempar ke atas tempat tidurnya, ia kembali menghubungi nomor istrinya, namun nomor sang istri tetap tidak aktif juga. "Rea.... Sebenarnya kamu pergi kemana? Kenapa nomormu tidak aktif juga?" Teo mengusap wajahnya gusar, ia pun lantas berjalan meninggalkan kamarnya, berniat untuk pergi mencari keberadaan Rea saat ini.
"Tuan.... Makan malamnya sudah siap." Berta menghampiri Teo, ia berpikir jika Teo turun untuk makan malam, namun pikirannya salah, karena saat ini Teo sama sekali tidak ada nafsu makan, yang ada dalam pikirannya hanyalah Rea.
Teo tidak menghiraukan ucapan Berta, ia terus berjalan menuju pintu utama dengan langkah kakinya yang lebar. "Jangan sampai aku menemukanmu bersama si brengsek itu." Batin Teo seraya mempercepat langkah kakinya.
Teo segera membuka pintu utama, ia bergegas keluar dan berjalan menuju parkiran mobilnya. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti, ketika ia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan gerbang Mansion miliknya. Teo segera berjalan menuju gerbang, kedua tangannya terkepal kuat ketika ia melihat seorang laki-laki tampan turun dari dalam mobil itu. "Stevan! Sialan. Dia ternyata benar-benar pergi dengan si brengsek ini." Gumam Teo sembari mempercepat langkah kakinya menuju pintu gerbang yang jaraknya lumayan jauh.
Stevan terlihat membuka pintu mobil bagian penumpang, senyumannya selalu saja tersungging dari sudut bibirnya, sepertinya laki-laki ini sedang bahagia, namun ntah apa yang sudah membuatnya bahagia, hanya Stevan lah yang tahu.
__ADS_1
"Sudah sampai, turunlah." Stevan berkata dengan lembut, ia mengulurkan tangannya kepada seorang gadis cantik yang tak lain adalah Rea.
Rea tersenyum tipis, namun ia tidak menerima uluran tangan Stevan, karena Rea sadar, posisinya saat ini adalah istri orang, sangat tidak baik jika dirinya harus menerima uluran tangan dari laki-laki yang bukan suaminya. "Aku bisa turun sendiri, terima kasih sudah mengantarku pulang. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot mengantarku, Stev." Ucap Rea terdengar dingin, namun tidak membuat senyuman di wajah tampan Stevan memudar.
"Aku tidak repot sama sekali. Demi kamu, kemana pun kamu pergi, aku siap mengantarmu." Jawab Stevan terlihat sangat tulus, sedikit membuat jantung Rea berdebar.
"Semua orang akan salah paham jika kamu berbicara seperti itu kepada istri sahabatmu sendiri. Mereka pasti akan mengira kalau kamu jatuh cinta kepadaku." Kekeh Rea seraya merapikan anak rambut yang menghalangi matanya.
"Aku memang sudah jatuh cinta kepadamu, Rea. Bukankah aku selalu mengatakan jika aku tertarik kepadamu? Namun, kamu terus mengabaikanku." Ucap Stevan membuat Rea terdiam beberapa detik. Sangat konyol jika Stevan jatuh cinta kepadanya, apalagi ia adalah istri dari sahabatnya sendiri, bukankah itu tidak masuk akal?
"BAGUS REA CLARYSA! Kamu pergi dengan laki-laki lain, dan kamu baru pulang sekarang!" Suara dingin terdengar di telinga Rea dan juga Stevan.
Rea seketika menoleh dan mendapati Teo sedang berdiri menatapnya dengan dingin. "Teo, kamu sudah pulang." Rea berkata dengan tenang, ia menatap Teo yang terlihat begitu marah.
__ADS_1
Teo tidak mengindahkan pertanyaan Rea, ia justru menghampiri Stevan dan memberikan Stevan bogeman mentah di pipi kanannya. "JAUHI ISTRIKU, ATAU KAU AKAN MENYESAL!" Ucapnya penuh dengan amarah.
Rea yang melihat hal itu pun sangat terkejut, ia segera menarik tangan Teo yang terlihat akan melayangkan kembali bogemannya pada wajah Stevan.
"Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu memukulnya!" Seru Rea terlihat marah.
"DIA PANTAS MENDAPATKAN PUKULAN ITU, KARENA DIA SUDAH BERANI MEMBAWAMU PERGI." Ucapan Teo semakin dingin, bahkan amarahnya terlihat semakin memuncak ketika ia melihat Rea yang tidak terima dirinya memukul Stevan.
"Memangnya kenapa kalau aku membawa dia pergi? Bukankah kau tidak.... "
"Stevan! Sebaiknya kamu pulang sekarang, terima kasih sudah mengantarku." Sela Rea dengan cepat. Rea tidak ingin kedua laki-laki itu bertengkar hanya karena dirinya.
Mendengar ucapan Rea, Stevan pun hanya bisa menurut, meskipun dalam hati, ia sangat ingin membalas pukulan yang di berikan oleh Teo, namun ketika ia melihat wajah Rea, ia pun mengurungkannya. "Baiklah, aku pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik, ya." Stevan melangkah pergi menuju pintu mobilnya, sementara Teo, ia langsung menarik Rea dan membawanya masuk ke dalam Mansion miliknya.
__ADS_1
Bersambung.