
Sudah beberapa hari ini, orang suruhan Davin sedang melakukan pencarian pada Cahaya. Namun, gadis itu tak kunjung ditemukan. Membuatnya begitu bingung karena nyatanya orang tuanya marah atas kepergian Cahaya.
"Memangnya kenapa dia sampai pergi? Apa kalian bertengkar?" omel Sevina tiada henti.
"Bukan begitu, Ma, aku sendiri tidak tahu kalau dia pergi. Waktu itu aku tidak bertengkar dengannya." Davin berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini pada mamanya.
"Begini saja, Davin, sebenarnya kau mencintai dia atau tidak?" Kini giliran David yang berbicara.
"Aku tidak tahu, Pa."
"Kalau tidak tahu berarti kau belum memahami perasaanmu. Sekarang katakan pada Papa, saat dia ada apa yang kau rasakan?"
"Aku kerepotan, aku merasa berisik, aku selalu dibuat pusing."
"Lalu, apa yang kau rasakan ketika dia pergi."
Davin menundukkan kepalanya, lalu mengangkat perlahan.
"Aku merasa hampa. Tidak mendengar suara berisiknya, bosan, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan diri."
__ADS_1
"Mama melihat bukumu dan di sana tertulis nama Safira forever. Apa itu Safira istrinya Rayden?" tanya Sevina.
Davin terkejut karena Sevina mengetahui rahasianya. Ternyata buku itu tertinggal di rumah orang tuanya hingga mereka pun melihatnya.
"Ya, Ma, benar."
"Kau menyukai istri orang?" tanya David tak percaya.
"Bukan, bukan begitu, Pa. Aku menyukai dia sebelum dia menikah dengan Rayden. Dan di pesta malam itu..."
Flashback on
Pesta saat Cahaya dipermalukan.
"Ada apa, Mas?" tanya Safira heran.
"Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu."
Safira terkejut mendengar pernyataan cinta Davin. Dia memundurkan langkahnya untuk menjauh dari Davin.
__ADS_1
"Tenanglah, aku di sini bukan untuk memaksamu menerimanya. Aku masih tahu diri. Aku hanya ingin membebaskan diriku dari beban yang sudah lama mengikat hatiku. Setidaknya sekarang aku sudah lega meskipun aku tahu kau tidak akan menerimanya."
"Maaf, Mas, aku tidak bisa menerimamu." Safira menunduk sedih. Pernikahannya bersama Rayden memang tidak berjalan baik karena sang suami yang masih mencintai almarhumah kekasihnya. Dia selalu berada di bawah bayang-bayang gadis itu hingga membuatnya tersiksa.
"Ya, aku tahu. Karena itu aku akan mengakhiri ini semua. Aku akan belajar untuk melupakan rasa ini dan mencoba menjalani hidupku."
"Ya, Mas, Cahaya adalah wanita yang baik. Cintailah dia. Aku bisa melihat bahwa dia memiliki hati yang tulus."
"Sekarang kita berhenti berbicara soal cinta, ya. Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Lancar saja, Mas. Mas Rayden memberikan fasilitas untukku. Aku beruntung menikah dengannya."
"Aku tahu kalau Rayden masih terikat dengan cinta masa lalunya. Aku mengenal almarhumah kekasihnya itu. Dibandingkan dia, kau jauh lebih baik, Safira. Kau pasti bisa merebut hati Rayden. Meskipun dia itu sedikit menyebalkan, tapi dia tetap pria yang bertanggung jawab. Percayalah, suatu hari, Rayden pasti akan mencintai dirimu."
"Terima kasih, Mas, aku juga berharap suatu hari kau bisa membuka hatimu untuk Cahaya. Aku bisa melihat cinta yang tulus saat dia menatapmu."
Flashback off
"Oh, jadi kau sudah memutuskan untuk berhenti mencintai Safira? Itu lebih baik, Davin. Mama memang sedikit terlambat dari Alea. Tapi sudahlah, jangan sesali itu. Dan sepertinya kau juga sudah terbiasa dengan Cahaya."
__ADS_1
"Bukti ucapan mu tadi yang merasa hampa dan bosan saat dia tidak ada, artinya kau mencintai dia, Davin."
Davin hanya terdiam. Mencoba mencerna semua kejadian ini. Tapi, benarkah dia mencintai Cahaya? Sejak kapan? Mengapa dia tidak mengetahuinya?