Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Makan siang


__ADS_3

Blanco Colima


Di sinilah Rea dan juga Stevan berada saat ini. Rea tampil cantik dengan mini dressnya yang berwarna merah, sementara Stevan ia terlihat sangat tampan dengan setelan kerjanya. Hampir semua mata yang ada di dalam restaurant itu tertuju pada sosok wanita cantik dan juga laki-laki tampan tersebut. Tidak bisa di pungkiri jika kecantikan Rea dan ketampanan Stevan hampir sama dengan aktor, artis di ibukota tersebut. Jadi, tidak heran jika para pengunjung restaurant itu menatap keduanya dengan kagum.


Stevan yang selalu bersikap dingin, kini terlihat lembut, bahkan ketika ia menginjak pintu restaurant itu, senyumannya terus terpancar dari wajahnya yang tampan, sementara Rea, ia terlihat tidak nyaman menjadi tontonan para pengunjung restaurant tersebut, bahkan ia merutuki dirinya sendiri, yang sudah memakai sedikit riasan di wajahnya yang sudah cantik itu.


"Kamu cantik sekali hari ini. Sangat Berbeda dari hari pertama kali kita bertemu." Bisik Stevan di telinga Rea.


"Terima kasih atas pujiannya, tuan." Jawab Rea terkesan cuek, seolah-olah pujian itu sudah biasa ia dapatkan dari laki-laki yang pernah di temuinya. Stevan terkekeh, gadis ini benar-benar sangat menarik. Pikirnya.


"Ini bukan sekedar pujian, nona cantik. Ini... "


"Ssst... Jika kamu berbicara lagi, aku akan pergi dari sini." Ucap Rea menyela ucapan Stevan. Stevan hanya tersenyum, ia pun lantas menutup mulutnya hingga mereka tiba di salah satu tempat duduk restaurant itu.


Stevan lantas menarik kursi itu, lalu ia tersenyum kepada Rea. "Silahkan duduk, nona cantik." Ucapnya lembut.

__ADS_1


Rea hanya mengangguk, ia pun langsung duduk di kursinya. Setelah Rea duduk, Stevan menarik kursi untuk dirinya.


Seorang pelayan restaurant itu datang menghampiri mereka, kemudian ia memberikan buku menu kepada Rea dan Stevan. "Silahkan, mau pesan apa?" Tanya pelayan itu dengan sangat ramah.


"Kamu mau pesan apa?" Stevan bertanya kepada Rea.


Rea nampak berpikir, ia menatap buku menu dan mencari apa yang ingin ia makan. Setelah beberapa saat, barulah ia membuka mulutnya. "Aku ingin pesan ini, dan minumannya ini." Ucap Rea seraya menunjuk nama makanan yang ingin ia makan di restaurant tersebut.


Stevan tersenyum, ia pun langsung memberikan buku menu itu kepada si pelayan. "Aku juga sama seperti yang dia pesan." Ucapnya kepada si pelayan itu.


Rea dan juga Stevan pun hanya menganggukkan kepalanya secara bersamaan, sementara si pelayan itu langsung berbalik dan pergi.


***


Perusahaan Albert Group.

__ADS_1


Saat ini Olivia sedang berada di dalam ruangan Teo, ia sengaja mendatangi perusahaan sang kekasih, hanya untuk mengajak sang kekasih makan siang bersama. Meskipun awalnya Teo menolak, namun Olivia tetap memaksanya dan memohon kepada laki-laki itu, hingga pada akhirnya Teo pun merasa tidak tega dan menuruti permintaan gadis cantik itu.


"Blanco Colima, aku ingin makan siang di restaurant itu." Ucap Olivia setelah ia berhasil memaksa sang kekasih untuk makan siang bersamanya.


"Baiklah, terserah kamu saja." Jawab Teo seraya memakai jasnya, kemudian ia beranjak dari kursi kebesarannya.


"Sayang, apa kamu tidak senang makan siang bersamaku?" Tanya Olivia seraya memeluk lengan sang kekasih.


"Bukannya tidak senang, Olivia. Tapi, siang ini aku ada pertemuan penting dengan klien ku, sementara jarak antara perusahaanku dengan Blanco Colima, lumayan jauh. Kamu tahu kan." Jawab Teo sembari menatap Olivia, gadis keras kepala yang di cintainya.


"Maafkan aku, aku,,,, aku hanya merindukan suasana dulu saat kita makan bersama." Lirih Olivia terdengar sendu di telinga Teo.


"Jangan meminta maaf, ok. Sekarang lebih baik kita segera berangkat, biar aku undur pertemuanku dengan klienku." Ucap Teo seraya mengusap lembut wajah cantik Olivia.


Olivia tersenyum, ian pun langsung menganggukkan kepalanya. Setelah itu keduanya pun lantas pergi melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2