Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Tunangan


__ADS_3

Hari ini pun tiba. Davin dan Cahaya akhirnya bertunangan. Banyak teman-teman Sevina yang hadir demi melihat seperti apa calon istri Davin yang sering mereka anggap penyuka sesama jenis.


Namun, karena melihat Cahaya yang sangat cantik, mereka hanya bisa terdiam. Terlihat raut-raut wajah yang merasa bersalah karena pernah menyebut Davin penyuka sesama jenis.


"Mas, aku cantik kan?" tanya Cahaya sembari berbisik.


"Iya, kau sangat cantik," sahut Davin tanpa menoleh.


"Tapi kau tidak melihat ku." Cahaya mengerucutkan bibirnya.


"Aku melirik mu. Dan kau sangat cantik, puas?" Masih tanpa menoleh.


"Untuk apa dilirik kalau bisa dilihat?"


"Leherku hanya sedang lelah." Davin mulai risih dengan Cahaya yang tidak bisa diam.


"Mana ada leher lelah. Kau bahkan tidak menoleh ke kanan dan ke kiri."


Davin menghela napa panjang. Ia pun menoleh ke Cahaya, lalu tersenyum lembut. "Cahaya, kau sangat cantik."


Cahaya merasa sangat puas mendengarnya. Ia hanya bisa tersenyum malu.


Acara pun segera dimulai dengan kata sambutan dari MC, lalu keluarga, hingga proses bertukar cincin antara Davin dan Cahaya. Semua bertepuk tangan setelah keduanya sama-sama memakai cincin pertunangan.


Cahaya dan Davin pun duduk di tempat yang telah dirias untuk sesi foto bersama keluarga. Tampak Davin hanya berwajah datar. Ia benar-benar terlihat seperti orang yang tidak menginginkan pertunangan ini.


Selesai sesi foto, mereka pun duduk berdua, sementara para tamu menikmati hidangan yang ada di sana.


"Mas, kenapa kau murung terus? Apa yang kau pikirkan? Kau sangat tertekan sekali." Cahaya terlihat khawatir pada Davin.


"Tidak ada."


"Aku tahu, pasti kau sangat tertekan dengan pertunangan ini. Aku minta maaf jika aku hanya bisa menjadi beban mu saja. Jika aku bisa,,,,lho Mas mau kemana?"


Tiba-tiba saja Davin pergi saat Cahaya belum selesai berbicara.


"Aku ke toilet sebentar, perut ku sakit sejak tadi."


"Astaga, Mas Davin, aku kira kau sedang sedih." Cahaya tertawa kecil melihat tingkah Davin yang ternyata sejak tadi ingin membuang hajat.


"Cahaya, mana Davin?" tanya seorang wanita yang merupakan teman Sevina. Ia ingin memberikan selamat karena ingin segera pulang.


"Mas Davin sedang BAB, Bu, Kenapa?"


"Oh saya hanya ingin memberikan selamat saja karena saya ingin pulang."


"Oh, nanti akan saya sampaikan, Bu," sahut Cahaya.


"Oh ya, saya tidak pernah melihatmu, apa kalian dijodohkan?"


"Tidak, Bu, saya dan Mas Davin memang resmi berpacaran," sahut Cahaya.


"Apa pendidikan terakhir mu?"


"SMA, Bu?"


"Kau dari keluarga mana? Maksudnya, apa pekerjaan orang tuamu?"


"Orang tua saya sudah meninggal, Om dan Tante saja punya restoran."


"Oh yatim piatu, dan hanya restoran."


"Dan sebuah rumah mewah, berhektar-hektar sawah dan tanah, peternakan, dan masih banyak lagi."


"Itu harta kamu? Banyak sekali."


"Tidak, itu seserahan Mas Davin."


"Oh hanya seserahan. Berarti masih orang kalangan bawah ya."


"Kenapa, Bu?"


"Saya heran saja kenapa Davin mau dengan wanita miskin yatim piatu seperti mu. Sedangkan anak saya jauh lebih cantik dan berpendidikan. Harta kami juga banyak." Ibu itu semakin merendahkan Cahaya.


"Harta banyak, anak cantik, pendidikan tinggi, tapi sayang, Mas Davin tidak tertarik." Cahaya tersenyum tipis.


"Tutup mulutmu. Kau tidak pantas bersama dengan Davin. Harusnya Davin menikah dengan anak saya, bukan wanita miskin seperti mu."


"Tapi sayang, pendapat ibu tidak berguna di sini. Saya akan menjadi istri Mas Davin. Dan anak ibu akan tetap menjomblo. Wanita yang sedang ibu Hina ini adalah calon istri pengusaha kaya."


Merasa kalah telak, si ibu pun pergi dengan wajah semerah tomat. Ia tadi bermaksud memprovokasi dan membuat Cahaya malu, namun malah ia yang merasa dipermalukan sekarang.


Davin sudah kembali dari kamar mandi dengan senyuman kelegaan di wajahnya.


"Kenapa tersenyum sendiri?" tanya Davin pada Cahaya yang sedang tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Tidak ada, Mas, sudah cuci tangan pakai sabun?"


"Tentu saja sudah." Davin merasa heran dengan pertanyaan Cahaya.


Cahaya hanya tersenyum sedikit, lalu melangkah sedikit menjauhi Davin sambil tersenyum.


****


Davin merasa sangat risih saat ini. Pasalnya, ia dan Cahaya sedang berboncengan naik sepeda motor ke mall. Bukan tanpa alasan. Saat menjemput Cahaya, mobil Davin dikerjai oleh bocah-bocah yang ada di lingkungan rumah Cahaya. Baret dan coretan menghiasi kehancuran mobilnya.


Davin yang memang penyabar hanya bisa mengelus dada. Saat ia berniat mengganti mobil, tiba-tiba saja Cahaya menawarinya berboncengan menaiki sepeda motor karena yang ada di rumah itu hanyalah sepeda motor yang dibelikan om dan tantenya untuk Cahaya jika ingin keluar jalan-jalan ke tamat di depan gang rumahnya.


"Mas, kenapa diam saja? Mas tidak suka naik motor ini?!" tanya Cahaya dengan sedikit berteriak karena suaranya yang terbang terbawa angin.


"Tidak bukan begitu. Aku hanya malu saja."


"Malu kenapa? Mas malu karena naik motor? Motor ini sangat bagus, Mas."


"Bukan! Aku malu karena kau yang membonceng. Sedangkan aku seperti anak yang baru dijemput ibunya pulang sekolah," gerutu Davin.


"Hahaha, maaf, Mas, mau bagaimana lagi, kau kan tidak bisa naik motor. Aku berjanji, sepulang dari mall, aku akan mengajarimu naik motor."


"Iya, baiklah, tapi kenapa kau harus mengebut seperti ini?"


"Hah? Ngebut?" Cahaya memperhatikan kecepatannya saat ini. "Tidak Mas, ini masih di bawah batas normal."


"Tapi bagiku ini terlalu kencang."


Cahaya menghela nafas pelan. "Ya sudah, aku kurangi kecepatannya."


"Nah, ini baru benar." Davin mengacungkan jempolnya. Ia menikmati perjalanan yang bagi Cahaya sangatlah panjang dan lambat.


Namun, baru beberapa menit ia mengendarai dengan kecepatan rendah, datanglah sekelompok anak muda yang menyaingi mereka dengan menggunakan sepeda motor yang besar.


Seorang yang berada paling dekat dengan mereka berkata, "Hari gini, naik motor kayak siput? Pulang aja sana! Naik odong-odong aja sana, hahaha!"


Tawa ejekannya seakan menular kepada teman-temannya yang kini ikut tertawa dan meninggalkan Cahaya dan Davin.


"Mas, pegangan!" seru Cahaya.


"Pegangan? Untuk apa?" Davin terlihat bingung.


Tanpa menjawab, Cahaya pun langsung menambah kecepatannya. Davin yang refleks, langsung memegangi pundak Cahaya karena takut jatuh. "Cahaya, istighfar, nanti kita jatuh!" Davin mengingatkan.


"Tidak, Mas, anak-anak nakal itu harus diberi pelajaran!" Cahaya semakin menambah kecepatannya.


Dua motor yang ditumpangi empat anak muda tadi terkejut karena Cahaya dapat menyusul mereka.


"Mbak! Nekat amat! Nanti pacarnya jatuh lho." Seseorang berteriak sambil tertawa mengejek.


'Hah? Bukankah dia anaknya Pak Adi, sopir Papa,' batin Davin saat melihat anak yang tadi menghinanya. Anak tersebut tidak mengenal Davin karena Davin sedang memakai helm.


"Hala, nggak usah banyak bacot! Ayo sini balapan kalo berani. Sampe sono noh!" Cahaya menunjuk sebuah minimarket yang di depannya tidak ramai yang parkir.


"Ayo!" seru remaja itu.


"Cahaya, sudahlah, jangan diladeni." Davin mengingatkan.


"Jangan takut, Mas, kita pasti menang!" Cahaya pun menambah kecepatan agar lekas sampai di lampu merah duluan.


Benar saja, kini posisinya ada di depan para remaja nakal itu.


Davin yang semakin takut akhirnya memberanikan diri memeluk tubuh Cahaya dan menempel di punggungnya.


Cahaya menjadi gugup sehingga ia mengurangi kecepatannya agar tidak jatuh. Akibatnya, ia pun kalah dalam perlombaan karena Davin.


Sesampainya di depan minimarket, keempat remaja itu berhenti dan turun dari motor mereka. Cahaya juga berhenti karena dihalangi oleh mereka.


"Siapa tadi yang sok jago? Lo udah kalah, Mbak! Sebagai hukuman, Lo harus cium kaki gue!" seru remaja itu.


"Apa? Dasar anak-anak nakal! Gue kalah karena,,,,"


"Karena apa? Pacar Lo yang cemen ini? Mas, cowok atau banci, sih!"


Davin yang tidak ingin meladeni kenakalan remaja itu langsung membuka helmnya. Ketika sudah dibuka, remaja yang tadi berlagak sok jago langsung gemetaran dan syok.


"Tu,,,Tuan Davin," ucapnya sambil bergetar.


"Lo kenapa Gus? Dia siapa?" tanya teman remaja yang ternyata bernama Agus.


"Tu,,,Tuan, saya,,,,"


"Sekarang pulang, dan introspeksi diri mu. Jangan pernah melakukan ini lagi di jalanan, bahaya."


"I,,,iya, Tuan, saya minta maaf. Mbak, saya minta maaf."

__ADS_1


"Ya udah gue maapin. Pulang sono Lo! Bikin emosi aja Lo!"


"I,,,iya, Mbak, sekali lagi saya mohon maaf." Agus pun kembali ke sepeda motornya, mengajak teman-temannya untuk putar balik. Bersyukur hari ini dia hanya bertemu dengan Davin. Jika ia bertemu dengan Sevina atau David, maka habislah sudah.


"Mas, dia siapa? Kenapa begitu melihat mu dia langsung ciut?" tanya Cahaya.


"Dia itu anak dari sopir papa," sahut Davin.


"Kau sangat baik, Mas, jika bertemu majikan lain, pasti tidak akan dibiarkan begitu saja."


"Aku hanya tidak ingin repot."


Cahaya hanya manggut-manggut.


"Cahaya, bisakah aku meminta tolong? Jika berkendara, pakai kecepatan normal saja."


"Iya, Mas, baik, maaf." Cahaya menghela nafas pasrah.


"Ya sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan."


Cahaya mengangguk, lalu menaiki motor disusul oleh Davin.


"Emmm, Mas, kalau aku bonceng, jangan pegang pundak lagi, ya," ucap Cahaya sebelum melajukan motornya.


"Kenapa? Jadi aku pegangan apa?"


"Aku agak gugup, Mas. Pegangan pada dirimu sendiri saja," ujar Cahaya.


"Pegangan pada diri sendiri?" Tampak berpikir. "Seperti ini?" Memeluk dirinya sendiri.


"Bukan, maksudnya,,,,,anu,,itu sudahlah lupakan saja." Cahaya langsung melajukan motornya. Ia berusaha berkendara se-pelan mungkin. Menyingkirkan rasa gemasnya pada jalanan yang mulus, nyaris tanpa hambatan.


Hingga akhirnya, mereka pun sampai di mall.


Cahaya berdecak kagum melihat kemegahan mall yang baru pertama kali ini ia kunjungi.


"Bagus sekali," ucap Cahaya.


"Apa ini kali pertama kau ke sini?"


Cahaya mengangguk cepat.


"Mas, mau cari apa?"


"Baju."


"Baju yang seperti apa?"


"Terserah padamu, aku ingin membelikan untukmu."


"Untukku?"


"Iya, sebagai hadiah. Bukankah ini hari ulang tahun mu?"


"Hah? Ulang tahun?" Cahaya melihat ponselnya dan mengecek tanggal hari ini.


"Benar, aku sampai lupa, hahaha. Pasti karena tidak pernah dirayakan. Jangankan dirayakan, diberi ucapan selamat pun baru ini, hahaha." Cahaya tergelak menutupi rasa nyeri di hatinya. Hidup yang begitu miris hingga hari lahir pun tidak ia ingat.


"Kalau begitu, sekarang kita beli baju yang bagus, aku juga sudah memesan kue ulang tahun untuk kita rayakan di restoran," ucap Davin.


Cahaya menyeka sudut matanya yang basah. "Terima kasih, Mas, setidaknya kau memperlakukan aku sama seperti manusia lainnya."


"Jangan bersedih di hari ulang tahun mu." Davin mengusap kepala Cahaya dengan gemas.


Mereka pun pergi ke salah satu toko baju yang bagus. Cahaya memilih beberapa pakaian rumahan, namun Davin malah memaksanya untuk membeli lagi yang banyak. Dan tak hanya itu, Cahaya juga dibelikan sepatu, tas, aksesoris, serta alat make up.


Setelah puas berbelanja, mereka pun pergi ke restoran. Di sana, sudah ada kue ulang tahun yang sudah dipesan Davin sebelumnya. Davin menyalakan lilin di atas kue tersebut.


"Sekarang buat permohonan sebelum meniupnya."


Cahaya mengangguk. Ia menatap kue di depannya, lalu memejamkan mata. "Aku berharap, aku dan,,,,,,"


"Cahaya, dalam hati saja," ujar Davin.


Cahaya mengangguk, lalu mengulangi kalimatnya dalam hati.


Selesai berdoa, Cahaya pun meniup lilin ulang tahunnya. Air matanya kembali menetes.


"Terima kasih ya, Mas, ini pertama kalinya aku meniup lilin ulang tahun."


"Sudah, jangan menangis, ini hari bahagia mu." Davin mengusap air mata yang mengalir di pipi Cahaya.


"Terima kasih, Mas. Kedatangan mu merubah seluruh hidup ku. Kau adalah malaikat penolong yang dikirim Allah untukku, terima kasih." Cahaya mencoba kembali tersenyum.


Setelah itu, mereka pun segera memakan kue, lalu hidangan yang sudah dipesan.

__ADS_1


Cahaya tak henti-hentinya mengucap syukur karena telah dipertemukan dengan Davin. Kalau tidak, pasti sekarang ia hanya tinggal nama saja. Namun dengan nama yang jelek di mata masyarakat karena meninggal bunuh diri. Beruntung Davin ada untuknya dan menggagalkan niat buruknya.


__ADS_2