
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Teo sudah rapi dengan setelan tiga potong nya, ia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Berta yang melihat tuannya sudah turun pun segera menghampirinya.
"Selamat pagi, tuan... "
"Siapa wanita itu?" Tanya Teo sembari menunjuk ke arah seorang wanita yang saat ini tengah duduk di kursi meja makan, membelakanginya.
"Nona Olivia, tuan." Jawab Berta sedikit menundukkan kepalanya.
Tangan Teo langsung terkepal kuat ketika ia mendengar nama mantan kekasihnya itu. Teo langsung mempercepat langkah kakinya menuju ruang makan, raut wajahnya terlihat begitu menyeramkan, membuat salah satu pelayan yang sedang melayani Olivia, pun langsung pergi.
"Untuk apa kau berada di sini, Olivia!" seru Teo dengan nada suaranya yang begitu dingin.
Olivia yang mendengar suara Teo, pun pantas berdiri, lalu berbalik dan menatap Teo dengan seulas senyuman di wajahnya. "Sayang, kamu mengejutkanku, tahu." Sahut Olivia terdengar sangat manja, membuat Teo muak mendengarnya.
__ADS_1
"Jawab pertanyaanku. Untuk apa kau berada di sini, Olivia?" Teo mengulang pertanyaannya, ia menatap Olivia dengan tatapan yang dingin, sangat berbeda jauh dengan dulu.
Olivia tetap memperlihatkan senyumannya, ia sama sekali tidak memperdulikan jika saat ini Teo sedang menahan amarah terhadap dirinya. "Sayang, bukankah kamu sudah mengizinkan aku untuk tinggal di sini? Lalu, mengapa kamu bertanya lagi." Ucap Olivia seraya bergelayut manja di lengan Teo. Namun, Teo langsung melepaskannya dengan kasar. "Sayang, kenapa kamu jadi kasar seperti ini?" Olivia mulai menampilkan wajah yang menyedihkan. Bahkan, ekor matanya mulai terlihat genangan kristal bening yang siap terjatuh membasahi wajahnya yang cantik itu.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Olivia. Sebaiknya kamu pergi dari sini, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Ucap Teo semakin dingin, membuat Olivia langsung terdiam dengan tatapan matanya yang sendu. Olivia tidak menyangka, jika laki-laki yang sangat mudah sekali ia bohongi, kini malah bersikap begitu dingin terhadap dirinya. Padahal, ia sudah memperlihatkan raut wajahnya yang begitu sedih, namun itu sama sekali tidak berhasil menarik simpati Teo.
"Sayang, aku tidak ingin putus denganmu. Aku sangat mencintai kamu, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, Teo. Aku mohon, jangan akhiri hubungan kita, ok." Olivia mulai memohon, air matanya pun kini sudah terjatuh membasahi wajahnya yang cantik itu.
"Tidak, Teo. Aku tidak ingin pergi dari sini, aku sangat mencintai kamu. Dan aku yakin, kamu juga masih sangat mencintai aku kan? Iya kan, Teo." Teriak Olivia seraya memegang lengan Teo dan menatap Teo dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
"Tidak! Aku sudah tidak lagi mencintai kamu, Olivia. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, dan jangan pernah menemuiku lagi." Ucap Teo dengan tegas dan juga semakin dingin membuat raut wajah Olivia seketika berubah.
"Apa karena wanita itu?" Tanya Olivia dengan menahan amarah yang mulai muncul dalam dirinya.
__ADS_1
"Ini semua tidak ada hubungannya dengan dia. Ini semua karena ulahmu sendiri, Olivia." Teo mencengkram dagu Olivia kuat, tidak ada lagi tatapan mata yang lembut seperti dulu lagi, kini yang ada hanyalah tatapan mata penuh dengan kebencian. Olivia meringis kesakitan, ia memegang tangan Teo dan berusaha untuk melepaskannya, namun sayangnya ia tidak berhasil, karena cengkraman Teo yang begitu kuat.
"Olivia! Aku menyesal karena aku sudah mencintai wanita seperti dirimu, aku menyesal karena aku sudah percaya kepada wanita seperti dirimu." Tatapan mata Teo semakin tajam dan menakutkan, seolah-olah ia ingin membunuh wanita yang saat ini sedang berusaha untuk melepaskan cengkramannya itu. "Aku sudah tahu semuanya, Olivia. Dan aku tidak menyangka jika kamu ternyata wanita murahan dan juga wanita yang begitu keji terhadap adik tirimu sendiri. Aku benar-benar bodoh, karena selama ini aku selalu meyakinkan diriku, bahwa kamu adalah wanita baik-baik. Dan aku sangat bodoh, karena aku tidak mempercayai ucapan asisten ku sendiri." Sambung Teo lagi membuat Olivia seketika terdiam dengan raut wajah yang terkejut.
Olivia tidak menyangka jika Teo akan mengetahui semua kebenaran tentang dirinya. "A,,,, apa yang kamu bicarakan, Teo? Aku sama sekali tidak mengerti." Ucap Olivia dengan gugup, bahkan tatapan matanya pun terlihat gelisah, membuat Teo langsung tersenyum dingin kepada dirinya.
"Jangan berakting lagi, Olivia! Karena aku sudah tahu semua kebusukkanmu. Jadi, sebaiknya kamu pergi dari sini, pergi yang jauh, sampai polisi pun tidak tahu keberadaanmu." Teo langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, membuat Olivia hampir saja terjatuh ke dasar lantai.
"Aku,,,, aku tidak bersalah, polisi tidak akan menangkapku!" seru Olivia seraya mengambil ponselnyal, lalu bergegas pergi meninggalkan Teo. "Brengsek! Dia tidak mungkin melapor polisi kan? Dia pasti hanya ingin menakut-nakuti aku saja. Kalau memang dia ingin melaporkan aku ke polisi, bukankah seharusnya dia menangkapku saja? Aku tahu, dia pasti masih memiliki rasa cinta terhadapku. Aku yakin itu." Batin Olivia sembari mempercepat langkah kakinya.
Teo menghela nafasnya dengan kasar, ia menatap kepergian Olivia dengan tatapan matanya yang dingin. "Seberapa jauh pun kamu pergi, kamu tetap akan mendapatkan karmamu, Olivia." Batin Teo dengan tangan yang mulai terkepal kuat, amahar dalam dirinya mulai muncul kembali, ketika ia mengingat semua kebohongan yang telah Olivia lakukan kepada dirinya.
Bersambung.
__ADS_1