
"Huuuu, huuuu." Cahaya menangis sepanjang perjalanan. Sudah banyak tisu yang terpakai untuk mengusap air matanya. Davin hanya fokus menyetir saja. Sengaja dia tidak berbicara apapun karena Cahaya tak kunjung berhenti menangis.
"Apa salahku, Ya Allah, aku salat lima waktu, aku juga mengaji selepas isya'. Aku selalu bersedekah, dan aku juga selalu berbuat baik. Aku bahkan pernah menolong semut yang berebut makanan. Aku memang pernah tanpa sengaja menjatuhkan sikat gigi Mas Davin ke kloset, tapi aku langsung mencucinya dan mengembalikan ke tempatnya."
"Apa?" Davin terlihat syok dengan kejujuran Cahaya. Dia pun mengingat saat dirinya mencium bau aneh di sikat giginya.
"Ca-Cahaya, dengan apa kau mencuci sikat gigiku?"
"Dengan sabun cair yang ada di dekat kloset, Mas."
"Astaghfirullah, Cahaya." Davin tak bisa berekspresi lagi. Sabun itu jelas untuk membersihkan kloset.
"Maaf, Mas, huuuu." Cahaya kembali menangis.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sudahlah, aku tidak mempermasalahkannya. Aku akan mengganti sikat giginya. Oh ya, boleh aku tahu darimana kau mengetahui tentang tragedi yang menimpa orang tuamu?"
__ADS_1
"Itu, karena saat masih tinggal di rumah paman dan bibi, aku menemukan surat yang ditulis ibu untuk mereka."
Mbak Ririn, Mas Doni, tolong jaga Mentari. Jangan pernah ceritakan padanya bahwa aku dan Mas Anggara sedang terancam bahaya. Pengusiran yang dilakukan ayah mertua membuat kami harus menerima teror dari musuh-musuhnya. Dia tidak peduli pada kami sedikitpun. Aku tahu itu karena dia tidak merestui pernikahanku dengan Mas Anggara. Mbak, tolong tambahkan nama Cahaya di depan nama Mentari. Agar orang-orang itu tidak mengancam keselamatan Mentari.
"Begitu isi suratnya, Mas. Makanya aku sangat marah ketika mengetahui bahwa kakek tadi adalah kakekku." Cahaya mengakhiri tangisannya setelah menceritakan semuanya. Menangis sepanjang jalan memang sangat melelahkan baginya.
"Tapi, tidakkah kau mau memaafkannya? Bagaimana pun juga, dialah satu-satunya orang yang kau punya di dunia ini. Dan aku bermaksud mengadakan akad nikah ulang denganmu karena wali nikahmu masih ada."
"Tapi aku tidak mau menerimanya, Mas."
Cahaya hanya diam dan menunduk. Dia tidak bisa lagi berdebat dengan Davin. Bahkan, saat mereka sudah sampai di rumah, dia telah tertidur karena kelelahan.
Sementara itu, Kakek Cahaya terlihat menangis tersedu-sedu sambil memandangi foto anak dan menantunya.
Terlihat sebuah penyesalan mendalam di matanya. Dia mengingat saat-saat dimana dia dengan tega mengusir sang anak yang memilih menikahi wanita pujaan hatinya dan dia terpaksa membatalkan perjodohan dengan rekan bisnisnya. Pernah beberapa kali sang anak meneleponnya dan memberitahukan bahwa musuh ayahnya sedang mengincar mereka. Namun, dia tetap tidak peduli.
__ADS_1
Hingga saat sang anak dibunuh bersama istrinya, dia semakin membenci sang menantu. Dia tahu mereka memiliki anak. Namun, rasa bencinya pada sang menantu membuat dirinya tidak memperdulikan sang cucu.
Saat dirinya sakit-sakitan dan tidak memiliki pewaris, akhirnya dia mencari sang cucu yang diketahui menjadi menantu keluarga Pramudya. Dia pun menghubungi Davin dan memintanya untuk membawa Cahaya ke rumahnya.
****
Hai, gaes, ada rekomendasi novel bagus nih buat kalian. Jangan lupa mampir ya.
Judul : One Night Destiny
Penulis: Eka Pradita
Satu malam yang kelam di mana ketika Zoya mabuk dia dipertemukan dengan seorang pria kaya raya yang kejam hingga berakhir di atas ranjang. Tanpa sadar kesuciannya hilang. Namun, Zoya menganggapnya sebagai jalan keluar dari masalah yang kini dihadapinya.
Bagaimana jika ternyata cinta satu malam itu sampai membuatnya hamil? Apakah Lucas akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya? Ikuti kisahnya sampai tamat hanya di One Night Destiny.
__ADS_1