
Dia bermata indah, bibirnya tipis, kulitnya cantik, dan berhijab pula.
Cahaya bisa melihat sejak kedatangan wanita itu, mata Davin tidak beralih darinya. Dia terus menatap wanita yang datang bersama suaminya itu.
Dia adalah Safira, istri dari Rayden, sepupunya Davin. Mereka memang datang menjenguk Cahaya setelah papa Rayden memberitahukan perihal ini.
'Wanita ini cantik sekali, dia nyaris sempurna,' batin Cahaya yang kini meneliti wajah Safira yang gak luput dari pandangan Davin.
"Kenalkan, saya Safira," ucap Safira memperkenalkan dirinya sambil tersenyum manis. Meski Cahaya adalah wanita, dia tidak menepis bahwa senyuman Safira membuatnya begitu kagum karena terlihat semakin cantik.
"Salam kenal," ucap Cahaya sambil tersenyum.
"Wah, sepertinya Kak Davin melakukan kesalahan tadi malam sehingga bisa membuatmu berakhir di rumah sakit." Rayden terkekeh sambil melihat reaksi Davin yang sangat kesal.
"Sudah aku katakan padamu bahwa Cahaya seperti ini karena kedinginan sepanjang malam." Davin mencoba menjelaskan untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Rayden menuduh Davin melakukan penyerangan terhadap Cahaya di atas ranjang dengan begitu brutal. Istilahnya, malah pertama Davin dan Cahaya lah penyebab wanita itu masuk ke dalam rumah sakit.
"Tidak apa-apa, Kak, memang begitulah jika pasangan yang baru menikah." Rayden menggenggam tangan Safira, lalu menciumnya tepat di hadapan Davin.
Hal itu membuat Davin langsung membuang muka. Cahaya dapat melihat wajah penuh kekecewaan Davin saat ini. Sebuah tatapan menyakitkan yang ditujukannya kepada Safira kini membuat Cahaya benar-benar yakin bahwa wanita itu adalah wanita yang sangat dicintai oleh Davin.
"Mas, sudahlah, jangan menggoda Kak Cahaya seperti itu." Safira berusaha mengingatkan Rayden untuk tidak menggoda Davin lagi.
"Iya, Sayang, iya." Rayden hanya tersenyum tipis. Dia merasa sangat puas membuat Davin cemburu. Benar dugaannya bahwa Davin masih menyimpan rasa cinta terhadap istrinya. Tentu saja hal itu bagus untuknya karena akan menjadi senjata untuk menyakiti Davin. Seperti itulah persaingan antara sepupu itu. Davin yang mencintai istri sepupunya, dan Rayden yang iri pada prestasi Davin.
Sedangkan Safira dan Rayden yang menikah karena perjodohan sampai saat ini belum juga menemukan yang namanya cinta. Karena apa? Karena Rayden masih di bayang-bayangi oleh mantan kekasihnya yang sudah meninggal.
begitu rumit percintaan mereka hingga sulit untuk menambah perasaan masing-masing saat ini.
"Ya sudah, kami permisi dulu, ya." Rayden pun mengajak istrinya pergi meninggalkan ruangan itu setelah mendoakan kesembuhan Cahaya.
__ADS_1
Sepeninggal mereka, Davin terlihat sangat sedih, bahkan tak melepaskan pandangannya dari arah pintu yang sudah kembali tertutup.
"Mas," ucap Cahaya pelan.
Davin tak langsung menyahut dan sepertinya dia tak mendengar. Dia masih betah menatap pintu sambil melamun.
"Mas!" ucap Cahaya dengan ada yang lebih kuat agar Davin mendengarnya.
"Ya, Safira, ada apa?" Tanpa sadar Davin mengucapkan nama Safira yang membuat Cahaya tertegun.
"Maaf, Cahaya, ada apa?" tanya Davin dalam kalimatnya dengan benar.
"Apa dia adalah wanita yang kau sukai? Diakah wanita yang membuatmu tidak ingin membuka hati untuk orang lain?"
Pertanyaan Cahaya langsung membuat Davin terkejut karena dengan mudahnya Cahaya mengetahui hal itu.
__ADS_1
"Cahaya, aku..."