Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti
Kecelakaan


__ADS_3

Olivia mengepalkan tangannya kuat, sungguh ia tidak menyangka jika Teo akan pergi meninggalkannya seorang diri di dalam restaurant itu. Kini ia menjadi bahan tontonan para pengunjung restaurant tersebut.


"Apa yang kalian lihat! Apa kalian ingin aku mencongkel mata kalian semua hah!" Seru Olivia penuh amarah. "Dasar sialan! Beraninya dia ninggalin aku di sini sendiri, brengsek." Batin Olivia sambil berlalu pergi meninggalkan restaurant itu.


"Sulit di percaya, ternyata pemilik perusahaan Albert group memiliki kisah cinta yang rumit. Yang satu istrinya, satunya lagi kekasihnya, sungguh luar biasa." Ucap salah satu pengunjung setelah kepergian Olivia.


"Benar, ku pikir gadis yang datang bersama tuan Teo itu adalah istrinya, tapi ternyata kekasihnya. Dan istrinya malah duduk bersama sahabatnya tuan Teo." Salah satu pengunjung lainnya menimpali ucapan pengunjung tersebut.


"Menurutmu, siapa yang salah? Istrinya, kekasihnya, tuan Teo atau sahabat tuan Teo?" Tanya si pengunjung kepada temannya.


"Ntahlah, aku tidak tahu. Lagian itu urusan mereka berempat, untuk apa kita memikirkannya lebih baik kita selesaikan dulu makan siang kita dan jangan sampai kejadian hari ini bocor, atau kita akan tamat." Jawab temannya tidak mau ambil pusing karena itu bukan urusannya. Sementara teman satunya lagi terlihat menghela nafasnya, jujur saja ia sangat kepo dengan kisah percintaan rumit pengusaha sukses itu.


***


Stevan terus mengejar Rea hingga ke jalanan, gadis itu meskipun bertubuh mungil, tapi ternyata langkah kakinya cukup cepat, bahkan Stevan pun harus berlari kecil untuk mengejarnya.


"Rea, biar aku antar pulang ya." Stevan menawarkan dirinya setelah ia berhasil mengejar gadis cantik itu. Namun gadis cantik itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Jawab Rea dengan dingin. Lalu setelah itu Rea pun kembali melangkahkan kedua kakinya berniat untuk pergi dan menyetop sebuah taksi yang melintas di jalanan tersebut.


"Jangan menolakku, Rea. Biar aku antar kamu pulang, ok." Stevan memaksa, ia bahkan menarik tangan Rea membuat Rea langsung menghentikan langkah kakinya, kemudian ia berbalik dan menatap Stevan.


"Tidak perlu, Stevan. Aku tidak ingin orang lain salah paham tentang kita, mengertilah." Ucap Rea sembari menarik tangannya dari Stevan.

__ADS_1


"Aku menyukaimu, biarkan kesalahan pahaman ini menjadi kenyataan untuk kita. Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu, aku tidak akan menyakitimu seperti yang Teo lakukan kepadamu, percayalah." Tatapan mata Stevan terlihat sangat serius, begitupun juga dengan nada suaranya.


"Tetapi aku tidak menyukaimu, Stevan! Dan sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi." Ucap Rea dengan nada suaranya yang masih dingin itu.


"Aku bisa membuatmu menyukaiku. Jadi berikan aku kesempatan." Kekeh Stevan tidak perduli dengan penolakan Rea.


"Hentikan, Stevan! Jangan memaksaku lagi!" Seru Rea mulai jengah menghadapi sifat pemaksa laki-laki satu ini.


"Aku tidak akan berhenti, sebelum... "


"Sebelum apa?" Tanya Teo yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Stevan.


Stevan langsung berbalik, ia mendapati Teo yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam. "Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau bersama kekasihmu itu." Ucap Stevan dengan nada yang mengejek.


"Istri? Apa kamu yakin dengan apa yang kamu bilang barusan, Teo? Bukankah kamu menikahi Rea hanya untuk membuatnya menderita? Lalu, mengapa kamu bertingkah seolah-olah kamu sedang cemburu melihat laki-laki lain mendekatinya?" Ucap Stevan dengan nada suaranya yang mengejek membuat Teo benar-benar naik pitam dan seketika melayangkan pukulannya di wajah tampan Stevan.


Rea yang melihat hal itu pun sangat terkejut, ia tidak menyangka jika Teo akan memukul Stevan di tempat yang lumayan ramai oleh beberapa kendaraan lalu lalang.


"Jangan menguji kesabaranku!" Seru Teo seraya mengangkat tangannya berniat untuk memukul wajah Stevan kembali, namun sayangnya kali ini pukulannya dapat di tangkis oleh Stevan.


"Seorang Teo Albert ternyata bisa semarah ini hanya gara-gara wanita yang di bencinya di dekati oleh laki-laki lain. Tapi, aku tidak akan menyerah, aku akan tetap mendekatinya sampai aku berhasil mendapatkannya." Lagi, ucapan Stevan kembali membuat amarah dalam diri Teo memuncak. Bahkan laki-laki dingin itu kini sudah kembali melayangkan bogemannya yang tidak dapat di tangkis oleh Stevan.


"Brengsek!" Teo kembali memberikan bogeman mentah di wajah Stevan, Stevan pun tidak tinggal diam, ia memberikan bogeman pada wajah Teo, hingga wajah tampan itu membiru sama seperti dirinya.

__ADS_1


Rea yang menyaksikan perkelahian itu pun seketika panik, ia ingin meminta tolong, namun sangat di sayangkan saat ini tidak ada satu orang pun yang melewati jalanan itu, hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalanan tersebut. Dan tentunya para pemilik kendaraan itu tidak akan peduli dengan perkelahian yang bukan urusan mereka.


"HENTIKAN!!!" Teriak Rea, namun tidak di perdulikan oleh Stevan dan juga Teo. Kedua laki-laki itu terus saling memberikan pukulannya masing-masing, membuat Rea kembali berteriak sembari menarik salah satu tangan kedua laki-laki itu. "HENTIKAN! Ku mohon jangan berkelahi lagi." Barulah kedua laki-laki itu berhenti dengan keadaan yang sudah berantakkan.


Rea merasa lega, ia menatap Stevan dan juga Teo secara bergantian. "Ada apa dengan kalian? Apa kalian merasa jika berkelahi kalian akan terlihat keren? Tidak sama sekali." Ucap Rea membuat kedua laki-laki itu terdiam. "Rapikan diri kalian, aku akan pulang sendiri dan jangan ada yang menghentikanku." Sambungnya lagi.


"Pulang bersamaku." Tegas Teo sambil menatap Rea.


"Sudah ku bilang, aku akan pulang sendiri, apa kamu tidak mendengarnya." Jawab Rea dengan kesal.


"Dia akan pulang bersamaku." Stevan pun mulai mengeluarkan suaranya, ia kekeh ingin mengantar Rea pulang.


"Astaga... Kenapa kalian berdua sangat menyebalkan!" Seru Rea sembari bergegas melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Stevan dan juga Teo.


Stevan dan Teo pun tidak tinggal diam, mereka langsung mengejar Rea yang terlihat akan menyebrang jalanan. "Jangan mengikutiku lagi, ku mohon." Ucap Rea ketika ia menyadari jika Stevan dan Teo masih mengikutinya.


"Baiklah, aku menyerah." Stevan mulai angkat tangan, ia pun menghentikan langkah kakinya dan menatap Rea dari jarak yang sedikit jauh. Namun tidak dengan Teo, laki-laki satu ini terus saja berjalan mendekati Rea.


Rea yang mengetahui Teo berada di belakangnya pun segera menyebrangi jalanan itu, bahkan ia tidak menyadari jika dari arah kanan ada sebuah mobil putih yang melaju dengan begitu cepat dan menabrak tubuhnya hingga terpental jauh.


"REAAAAAA....." Teriak Stevan sembari berlari menghampiri tubuh Rea yang terpental jauh itu, sementara Teo, ia terlihat gemetar, kakinya mendadak lemas seolah-olah tidak ada tulang di dalamnya.


"Ti,,,,, tidak mungkin, i,,,, ini tidak mungkin terjadi, ini,,,, ini pasti mimpi." Gumam Teo sembari memukul wajahnya sendiri ingin memastikan bahwa yang di lihatnya hanyalah sebuah mimpi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2