
Pagi menjelang.
Angin berhembus semilir membawa gemerisik suara daun2 yang bergesekan dari gerumbul pepohonan lebat di sisi tanaman. Suara burung mengningkahi rona awan yang bersemburat di atas langit sana.
Cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar. Tebalnya gorden berwarna putih nyatanya tak bisa menghalangi cahaya itu masuk ke dalam ruangan membuat Cahaya terbangun dari tidurnya.
Samar-samar dia melihat langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Perlahan segala kebisingan dan apa yang sedang terjadi di sekeliling tempat tidurnya mulai bisa dirasakan. Nampaknya bukan hanya cahaya matahari saja yang membangunkan tidurnya, tapi juga obrolan orang-orang yang entah datang dari mana. Obrolan mereka benar-benar sangat mengganggu.
"Aku dimana?" gumam Cahaya sambil melihat sekelilingnya yang ternyata sudah ada beberapa orang di sana. Ada Davin, Sevina, serta David.
"Cahaya, kau sudah sadar, Nak?" tanya Sevina yang merasa khawatir dengan menantu barunya itu.
"Aku kenapa, Ma?" tanya Cahaya dengan heran. Memang, pagi tadi dia melihat seseorang mendatangi dirinya dan mencoba untuk mengangkat tubuhnya. Namun, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Seolah yang dialaminya saat ini adalah mimpi.
__ADS_1
"Kau ditemukan lemas di dalam kamar dengan tubuh yang mengigil serta suhu tubuhmu yang panas tinggi. Davin bilang, kau marah padanya dan memilih tidur di kamar lain, apa itu benar?" tanya Sevina ingin memastikan bahwa apa yang diucapkan anaknya benar.
Cahaya melirik Davin yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. dia tahu bahwa dari tatapan itu Davin ingin agar Cahaya tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Benar, Ma, tadi malam aku memang marah pada Mas Davin karena dia ingin tidur dengan lampu redup. sedangkan aku lebih suka lampu yang terang." Akhirnya Cahaya menuruti keinginan Davin untuk tetap bersandiwara di depan orang tuanya.
"Astaga, jadi karena masalah itu kau sampai tidur di kamar lain?" Sevina menepuk dahinya.
"Ya, Ma, dan karena aku kesal, tanpa sengaja remote AC yang ada di dalam kamar jatuh dan rusak sehingga menyetel ke suhu udara yang paling dingin. Makanya aku bisa sampai berakhir di sini. Maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir, Ma, Pa, Davin." Cahaya lihat satu persatu keluarga baru yang ada di depannya itu.
"Cahaya, lekas sembuh, ya, Sayang. Sebentar lagi teman-teman dan sepupu Davin datang untuk menjenguk. Jangan katakan pertengkaran itu, ya, kasihan Davin kalau sampai teman-temannya tahu bahwa kau sakit karena dia," pinta Sevina.
"Ya, Ma, mana mungkin aku mengatakan itu. Aku akan menjaga nama baik Mas Davin."
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang. Sebenarnya, Mama dan Papa ada meeting penting sebentar lagi. Kami tinggal dulu, ya. Biar Davin yang akan menjagamu di sini."
"Iya, Ma, Pa, hati-hati, ya," ujar Cahay sambil mengangguk.
Mereka pun segera pergi dan meninggalkan Cahaya dengan Davin di dalam ruangan itu.
"Apa harus aku katakan dan lakukan ketika temanmu datang?" tanya Cahaya yang masih bersikap dingin pada Davin.
"Jawab saja jika mereka bertanya hal yang mungkin bisa kau jawab.Jika kau tidak bisa menjawabnya, maka kau bisa melihatku, dan aku yang akan menjawabnya."
"Baik." Cahaya hanya mengangguk setuju. Dan setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Keduanya sama-sama diam membisu.
Cahaya memilih untuk memejamkan matanya dan kembali tidur. Sedangkan Davin hanya memainkan ponselnya sembari menunggu teman-temannya datang.
__ADS_1
Sebenarnya dia tidak berniat memberitahu semua ini kepada teman-temannya. Namun, sang ibu malah memberitahu perihal Cahaya sakit kepada Rayden, sepupu Davin. Tentu saja hal itu langsung menyebar karena dia yang ingin melihat Davin diledek teman-temannya. Karena tak bisa dipungkiri, hubungan persepupuan antara Rayden dan Davin memang tidak baik karena Davin lebih unggul dibandingkan dengan Rayden. Menumbuhkan rasa iri pada Rayden hingga membuat hubungan kian memanas.
Sedangkan Rayden saat ini sudah menikah dengan wanita yang dicintai Davin karena perjodohan. Namun hal itu digunakan Rayden sebagai senjata untuk meluluhlantakkan perasaan Davin yang dinilai masih mencintai istrinya.