
Dering alarm membuatnya terbangun. Gadis kecil itu mengeliat pelan kemudian bangun.
Arquiela Robert nama gadis itu. Cukup panggil dia Ella. Usianya masih 8 tahun, sekarang kelas 3 Sekolah Dasar dan hanya tinggal berdua dengan ibunya, Marie Willem. Ayahnya? Entah di mana. Ibunya tdk pernah menyinggung soal ayahnya dan dia tak keberatan akan hal itu. Cinta ibunya sudah cukup.
"Mommy....." panggilnya pelan.
Orang yang dipanggilnya tidak berada di sampingnya ketika dia meraba tempat di sebelahnya.
"Momy ada di mana?"
Ketika dua kali dipanggilnya tak ada jawaban, dia kemudian keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Ibunya tertidur di lantai ruang tamu dengan wajah pucat dan tubuh yang sangat dingin.
" Mommy? kenapa tidur di sini? Ayo bangun dan tidur kembali di kamar"
Ella mencoba membopong ibunya. Tapi ibunya benar-benar berat. Ibunya tergolong wanita dengan tubuh semampai jadi tentu saja dia tak bisa membopongnya.
"Tak perlu kau bangunkan. Dia sudah pergi ke neraka"
Seorang wanita duduk di sofa dan menatap wajah Ella dengan tatapan benci lalu beralih pada Marie dengan tatapan yang sama juga.
" Bibi kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?"
Wanita yang dipanggil Ella bibi hanya berdecak kesal kemudian berdiri hendak pergi.
"Bibi, kenapa Mommy pergi ke neraka? Aku yakin Mommy pasti sekarang bahagia di surga"
__ADS_1
Angguk Ella dengan pasti. Dia tahu ibunya sudah tak bernafas lagi saat ini.
"Karena dia telah mengambil milikku yang berharga"
"Jadi benda apa itu? Apakah sebuah berlian yang besar? Aku ingat Mommy punya beberapa. Bisakah bibi mengambil semuanya lalu pergi menjemput ibuku di neraka?"
Pertanyaan itu tentu punya maksud. Bukannya Ella tidak tau siapa wanita ini dan kenapa ibunya terbujur kaku.
"Heh.. Hanya beberapa berlian murahan. Di mana sertifikat rumah ini dan vila ibumu?"
"Aku tidak tahu tapi bibi tolong ibuku dahulu"
"Aku punya banyak urusan"
Ella tahu jawabannya akan seperti itu tapi dia tidak menyerah.
Ella memeluk kaki wanita itu kemudian mengatup kedua tangannya.
"Aku bilang minggir"
Dia mendorong Ella dengan kuat hingga Ella jatuh dan menimpa ibunya.
"Bibi jangan pergi.. Bawa ibuku dahulu ke Rumah Sakit. Ibu masih bisa tertolong jika kita pergi sekarang" Tangisan Ella makin memekakan telinga.
"Anak sialan. Kau benar-benar persis seperti ibumu, sama-sama suka ribut dan juga pembawa sial!!!"
__ADS_1
"Aku tidak akan membawa sial pada bibi"
"Lihat. Kau yang membawa sial. Saat itu ibumu yang membuat Kakak Rosie mati, sekarang kau pula yang membuat ibumu mati"
Dia mencengkeram dagu Ella kemudian membuat gadis itu menatap wajah ibunya.
"Bibi, aku akan serahkan rumah ini, villa dan semuanya tapi tolong ibuku.. hiksss."
C*ih!!! Ludahnya didepan Ella.
"Kau pikir semua ini cukup? Ini baru permulaan"
Ella putus asa saat wanita itu pergi setelah meludahi mereka. Kenapa ini terjadi? Tanyanya dalam hati. Ia menjerit meronta dalam hati tapi mulutnya hanya mengeluarkan isakan kecil.
Aku harus pergi dan meminta bantuan.Teringat akan hal itu, Ella lari ke dalam kamar dan mengambil selimut lalu menutup tubuh ibunya.
Dia lari ke jalan dan berteriak minta tolong, tetapi tidak ada seorangpun yang memedulikannya. Lagipula perumahan itu berada di tempat cukup sepi karena para penghuninya sudah pergi bekerja.
Matahari mulai tinggi, panasnya cukup menyengat sehingga peluh di pelipis Ella mengalir deras. Perut mulai keroncongan tetapi bantuan yang diharapkannya tak kunjung datang.
Deg! Jantungnya berdetak kencang saat ia ingat seseorang. Orang yang mungkin bisa membantunya untuk menyelesaikan permasalahannya. Yah Ella tau orang itu pasti akan menolongnya sesulit apapapun masalah yang dia punya.
***
Akankah ada yang menolongnya? Siapa pula orang yang dipanggilnya bibi??
__ADS_1
Hay Readers semoga suka novelku yah?? maaf masih tahap awal. Mohon dukungannya 😍😍 Jangan lupa tinggalkan jejak 😊😊