Sellena

Sellena
Ungkapan hati


__ADS_3

"Biarkan aku bertemu dengan gadis sial*n itu"


Samar-samar terdengar suara yang ribut di luar kamar Edgar. Ella bangun dari tidurnya dan pergi mencuci muka.


"Apa hakmu bertemu putriku?"


"Dia adalah penyebab kecelakaan yang menimpa putraku"


"Putra kita berdua yang balapan. Apa hubungannya dengan Ella?" Mami Cyntia mulai merasa emosi.


"Karena dia adalah bahan taruhan balapan ini. Pembawa sial tetap akan menjadi pembawa sial seumur hidupnya"


Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Laura Derbaltroz sebab Mami Chyntia tidak kuat mendengar tutur kata kasar yang dikeluarkannya.


"Kau yang harus mengajari putramu cara mendapatkan hati seorang gadis dengan benar"


"Putraku tidak ada masalah. Tapi putramu yang ikut campur dengan kehidupan putraku. Dia selalu menghalangi putraku mendapatkan apa yang diinginkannya"


"Apa maksudmu menghalangi? Ck. Putraku melakukan tugas seorang pria sejati. Melindungi wanita cantik dari para Alligator mesum"


"Mesum?"


Mami Chyntia bersedekap kemudian lanjut bicara."Kelakuan salah satu putramu itu di luar kebiasaan kita. Entah berapa gadis yang dia permainkan"


"Bukan urusanmu" Bentak Laura dengan sedikit emosi. Sejurus kemudian dia tersenyum iblis. " Tapi putramu mungkin akan mendekam di penjara"


Masuk penjara? Bagaimana mungkin? Mami Chyntia bermonolog.


"Ya itu benar. Lihat apa yang telah dia lakukan padaku" Suara Richard mengagetkan Mami Chyntia. Dia melihat Derbaltroz muda itu duduk di kursi roda yang didorong kakaknya.


"Panggil gadis itu dan tandatangani surat perjanjian pranikah ini. Jika tidak maka aku jamin besok putramu yang koma itu dipindahkan ke penjara"


"Jadi apa buktinya?"


"Ini" Laura menyodorkan tablet yang dipegangnya.


Dalam video, Edgar melaju dengan cukup kencang dan menabrak bemper mobil Richard yang menyebabkan mobil Richard terbalik. Kemudian menabrak lagi pengemudi lain. Total yang meninggal adalah 3 orang dna yang menderita luka-luka adalah 8 orang diluar Edgar dan Richard.


"Ini tidak mungkin" pekik Mami Chyntia histeris.


"Bawa gadis sial*n itu kemari maka aku akan membersihkan nama kalian yang sudah terlanjur tercetak di media. Cepat atau lambat, reporter akan memenuhi rumah sakit ini. Aku pastikan kalian menjadi topik terpanas" Laura makin menyombongkan diri. Dia berkacak pinggang.


Langkah sepatu yang bersahutan menandakan ada dua orang yang akan datang. Mami Chyntia berharap itu adalah Jackson dan Emma. Dan harapannya terkabul.


"Mom? Kenapa menangis?" Tanya Jackson khawatir setelah melihat ada Keluarga menyebalkan yang berdiri di situ.


"Mereka ingin memasukkan Edmund ke dalam penjara karena Edmund menyebabkan dia terluka dan juga kematian 3 orang pengemudi lain" Telunjuk Mami Chyntia menunjuk lurus wajah Richard Derbaltroz.


"Kalian memang keluarga gila" Jackson tidak lagi mempedulikan bagaimana perasaan sahabatnya Nick.


"Berikan ini pada gadis itu" Laura melemparkan map ke lantai kemudian berbalik. Nick masih setia mendorong kursi roda Richard.


Emma dengan sigap memapah mami Chyntia untuk masuk ke dalam ruang perawatan Edgar. Jackson memungut kembali map yang Laura lemparkan tadi. Emma mendudukan Mami Chyntia di sofa kemudian mengetuk pintu kamar mandi. Ella masih ada di dalam sana.


Ella bingung melihat mami Chyntia menangis. Apalagi ada pemberitaan bahwa Kejadian tabrakan yang tragis melibatkan anak salah satu pengusaha sukses di kota itu. Masih dalam tahap penyamaran tapi ini mungkin tidak akan berlangsung lama. Keluarga Derbaltroz adalah iblis licik yang pastinya akan membayar mahal pers hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Hey, Mami. Ada apa? Mengapa mami menangis?"


Mami Chyntia menggeleng pelan tidak ingin memberitahu Ella apa yang terjadi tapi Jackson sudah lebih dahulu menyodorkan map itu kepada Ella.


"Tidak. Jangan buka itu sayang. Mami tidak ingin isi map itu menyakitimu" Air mata makin berderai jatuh di pipinya.


Ella tercengang melihat isi perjanjian yang ada di dalam map itu. Hak mendapatkan 45% harta warisan Derbaltroz setelah 5 tahun pernikahan. Selama inikah dia harus terjerat di dalam keluarga Iblis itu? Jika bercerai sebelum waktu maka tidak akan mendapatkan sepeserpun dan tidak ad harta gono gini. Melarat dong kalau bercerai sebelum 5 tahun.


*Bukan hanya bagiku dan juga pasangan Derbaltroz itu gagal mendapatkan 45 persen tapi aku juga harus melarat karena tanpa harta gono gini.


Jadi ini yang membuat Mami menangis? Tidak ingin aku berada dan tersiksa di sana? Tapi aku adalah gadis yang kuat*.


"Mami, aku bersedia asalkan bisa menyelamatkan Edgar. Aku sudah berhutang banyak padanya"


"Ini tidak adil untukmu sayang. Jika Edmund bangun maka dia akan marah pada kami semua. Kita pasti punya jalan keluar lainnya"


"Mami, kita tidak punya cara lain lagi. Bahkan pemberitaan di internet makin memojokkan kita. Tadi berita saja tanpa mencantumkan nama. Sekarang bahkan wajah Edgar diblur. Besok pasti video kecelakaan itu tersebar luas. Bayangkan apa yang terjadi selanjutnya? Keluarga Dhawn miskin dalam semalam dan itu kerena melindungiku. Cukup Keluarga Simmons saja yang bangkrut"


"Mami mohon, jangan lakukan ini sayang" Mami memeluk Ella dengan kuat. Dia Mom-nya Edgar tapi sangat menyayangi Ella seperti putrinya sendiri. Emma dari tadi hanya diam tidak ingin bersuara.


Ella membubuhkan tanda tangan dan cap jarinya dengan cepat setelah Mami melepaskannya. Takut mami akan menghalanginya lagi.


Kakak Jackson memandangi Ella dengan perasaan berkecamuk. Apakah tindakannya ini tepat untuk menyelamatkan adiknya? Ataukah justru membuat adiknya makin terpuruk saat bangun nanti? Ini sudah seminggu tapi belum ada tanda Edmund-nya akan bangun.


Bangunlah Brother. Para gadis merindukan tingkah konyolmu. Ayah dan kak Jerry juga merindukanmu. Mereka hanya melihatmu sesekali karena banyak peretas yang berusaha mengacaukan keadaan perusahaan. Mom bahkan opname karena tekanan darah tingginya belum lagi keluarga iblis itu mulai bertingkah lagi. Jika kau bangun, aku akan berusaha untuk mencari sumber masalah ini. Jackson sedikit meremas tangan Edmund memberikan dia kekuatan. Setelah itu dia bangun dan pergi bersama Emma. Yah, Emma adalah Sekretarisnya saat ini. Pekerjaan itu sengaja dia lowongkan agar lebih dekat dengan Emma.


***


"Darimana saja kau?"


Aku baru masuk rumah tapi nenek sihir ini mulai berkoar-koar.


"Dari Rumah Sakit menjenguk Edgar"


"Menjenguk tapi tiap hari. Kau ini siapanya? Hanya sebagai teman tapi perhatian minta ampun"

__ADS_1


"Lalu apa hubungan pertemanan kami dengan bibi? Ini pukul 9. Aku selalu pulang tepat waktu. Jika menginap pun aku meminta ijin, aku tidak meninggalkan tanggung jawabku menjaga si kembar. Lalu apa yang ingin bibi khawatirkan?"


"Kau seorang gadis dan kau pulang larut malam. Apa kata tetangga?"


"Kata tetangga? Tidakkah bibi ingin mendengar apa yang mereka katakan tentang Adriana yang pulang subuh dalam keadaan sedikit mabuk dan teraniaya? Lagipula tetangga kita hanyalah pepohonan rimbun dan burung hantu. Jaga baik-baik putrimu sebelum menasehatiku. Aku bukan gadis kecil yang dulu bibi pelototi lalu terdiam bisu takut menceritakan kebenaran di hari itu. Ayohlah bi, aku tidak ingin mengungkit kejadian pagi itu"


"Gadis kurang ajar. eluar kau dari rumahku"


"Ehem,,, Empat tahun berlalu jadi mungkin bibi lupa sertifikat rumah ini atas nama siapa. Masih Willem dan juga akan selalu Willem. Jadi mungkin kalian semua yang akan keluar dari rumah ini. Oh yah satu lagi. Jangan mengomeli Emma saat pulang nanti. Dia sedang dalam keadaan stres karena Edgar dan pekerjaan. Jadi lebih baik bibi diam sebelum dia meninju muka bibi yang cantik itu"


"Gadis kurang ajar!!" Teriakan yang sama membahana lagi.


"Sudah jam begini kenapa Adriana belum pulang yah? Aha, menemani Tuan Muda Derbaltroz? Atau mungkin pria kaya lainnya? Jangan emosi bibi. Jika wajah bibi keriput, mungkin Edgar tidak akan mengenali bibi saat bangun"


"Diam kau, gadis busuk"


"Hehehhee... Aku memang bau keringat. Tapi perbuatan beberapa orang memang benar-benar busuk dan bibi pasti tahu maksudku"


"Apa maksudmu?"


"Apa bibi menyukai Edgar? Bukankah dulu bibi menghalalkan segala cara mendapatkan cinta Tuan Roberto? Aku bisa saja membuat bibi dan Edgar bersatu tapi itu mustahil. Aku bagi Edgar adalah gadisnya, kepunyaannya. Aku tidak akan berbagi dengan bibi seperti yang Mommy lakukan dulu membagi Tuan Roberto denganmu adik sepupunya"


"Aku tidak menyukai bocah ingusan itu"


"Bocah ingusan itu membuatmu berdandan sangat lama" bisik Ella di telinga Amber dan berlari dengan cepat menaiki tangga sebelum lemparan guci mengenai kepalanya.


"Kubunuh kau!!" Teriak Amber frustasi.


"Kalau berani menerima amukan si kembar, maka kemarilah. Tidak berani kan? Jangan teriakan kalimat itu lagi. Mungkin aku yang akan berteriak begitu pada bibi lain kali. Hahaahahahahaha...." Tawa Ella mengisi lorong dan membuat si kembar tidur dalam ketakutan. Tawa itu sedikit mencekam.


Ceklek. Pintu terbuka menampilkan seornag gadis dengan senyum terbaiknya menatap si kembar yang mengeluarkan sebagian kepalanya saja. Sisanya tertutup selimut.


"Thank, God. Kami kira Mami adalah hantu" Ello bernapas lega


"Aku cantik, modis, memiliki senyum memikat dan kalian menyebutku hantu?"


"Mami tertawa seperti hantu tadi" Elli menambahkan.


"Hehehe, aku menakuti ibu kalian. Kalian tidak keberatan kan?"


"Sejak kapan kami keberatan? Lain kali jika ingin tertawa, beritahu kami dahulu sehingga kami menyiapkan jantung. Tadi Ello hampir mengompol" Elli menertawai kembarannya.


"Kami baru habis menonton film horor. Dimana kekasih yang dibunuh balas dendam kemudian mencabik-cabik tubuh orang. Tiba-tiba saja Mami tertawa seperti itu membuat bulu kuduk kami meremang" Ello memberi penjelasan.


"Film horor? Itu akan menakuti kalian yang masih berumur 4 tahun ini"


"Kami hampir 5 tahun jika Mami lupa"


Mereka bertiga kompak tertawa tentang lelucon pikun yang sebenarnya tidaklah terlalu lucu. Gadis cantik seperti Ella tiba-tiba pikun adalah hal lucu.


"Mami akan menemani kalian tidur. Bagaimana hubungan kalian dengan Carol dan Jay?"


"Seperti biasa. Mereka sibuk dengan sekolah. Tapi mereka sering bermain di sini bila Mami dan Mami Emma pergi. Kak Layla menghadiahi kami sepatu dan Kak Henry membeli robot. Kami menolak tapi mereka meletakan semua itu diam-diam saat kami tidak ada" Jelas Elli panjang lebar.


"Yah sudahlah. Lalu ibu kalian?"


"Ibu cerewet dan marah-marah setiap pagi apalagi kalau mami tidak pulang. Lalu sarapan tiba-tiba menjadi hambar jadi kami dibuatkan bekal oleh mami Emma" jelas Elli.


"Mami akan menemani kalian tidur sebagai permintaan maaf atas serangan jantung dadakan tadi"


"Oke baiklah. Tapi kapan kami menjenguk Angkel cantik?" Tanya Ello dengan wajah sedih.


"Belum waktunya. Jika Angkel sudah bangun, Mami pasti akan mengajak kalian"


"Promises?"


"Janji" Ella mengagguk mantap kemudian memeluk kedua adiknya itu di sisi kiri dan kanan. Mereka kemudian terlelap tidak lama kemudian.


***


Bzzzzzzz...Bzzzzzz...Bzzzzzz....Bzzzzz... Suara getar handphone milik Ella membangunkannya di saat subuh. Ada panggilan masuk dalam mode getar.


"Hallo.. Emma" Nama Emma terpampang di layar handphone.


"Bisakah kau cepat kemari?" Emma panik.


"Ada apa?" Ella masih tenang dan setengah mengantuk. Dia tidak tidur nyenyak di Rumah Sakit.


"Kemari sajalah" Emma berteriak frustasi membuat kuping Ella sedikit berdenging.


"Baiklah..."


Ella mengecup kening si kembar kemudian membetulkan selimut mereka sebelum melangkahkan kaki ke kamarnya sendiri. Dia mandi kilat dan berganti pakaian.


Saat turun, dia melihat ada bibi di dapur menyiapkan sarapan. Dia segera memutar susu hangat dan meneguknya buru-buru hingga hampir tersedak.


"Hati-hati non" bibi mengusap punggung Ella pelan.


"Terimakasih, bi"


Dia segera berlari menuju parkiran. Di sana sudah ada supir yang biasa mengantarkan kakaknya Henry ke kantor.

__ADS_1


"Selamat pagi pak. Bisakah antarkan saya ke Rumah Sa..." Kata-katanya terpotong karena klakson dari sebuah mobil di gerbang..Penjaga segera membukanya karena sudah hafal supir tersebut.


"Nona, ikut saya saja"


"Baiklah, Kak"


Samurai segera melajukan mobil dengan sedikit terburu-buru pasalnya ada hal luar biasa yang terjadi di Rumah Sakit. Jalanan cukup lengang membuatnya dengan leluasa melaju dan bermain dengan perseneling gas. Ella sudah terbiasa jadi duduk diam dan memejamkan mata.


"Sudah sampai"


"Terimakasih Kak" Ella tersenyum manis dan berlari masuk Rumah Sakit.


"Ella..." panggil Emma dengan mata yang bengkak.


"Hey, mata pandamu benar-benar ingin membuatku tertawa" Ella bergurau melihat mata Emma.


"Hikssss" Tangisan itu tepat di telinga Ella membuat Ella menerka-nerka apa yang sedang terjadi.


"Emma!" Ella memegang kedua bahu Emma dan menatapnya bingung.


"Masuklah" Begitu saja kata yang Emma sampaikan. Dia tidak sanggup lagi bicara kata-kata lainnya. Air matanya dari tadi tidak berhenti mengalir.


Ella membuka pintu dengan sedikit gemetar. Entah kenapa keringat dingin membanjiri wajahnya. Di belum siap dengan apa yang akan terjadi nanti.


"El" Sapaan akrab membuatnya memandangi gadis dengan suara yang lembut itu.


"Selamat pagi Nay. Kau juga ada di sini dengan.." Kata-katanya menggantung begitu saja melihat ada Leon. Dia memalingkan muka begitu Leon tersenyum padanya.


Ramai sekali hari ini. Ella membathin. Dia belum melihat apa yang terjadi di kasur pasien. Mami Chyntia tidak ada. Begitu juga dengan Papi Romand.


Deg! Edgarnya terbaring dengan wajah yang makin memucat. Dokter yang menanganinya hanya menggelengkan kepala tanda tidak ada harapan lagi. Operasi hanya bertahan sebentar saja. Gumpalan darah di otak membuatnya Stroke berat dan kelumpuhan permanen akibat tulang kering yang hancur.


Ella tau Edgarnya sangat menderita tapi dia akan lebih menderita lagi bila kekasih masa kecilnya itu meninggalkannya untuk selamanya.


"Dokter, anda pasti berbohongkan? Ed-ku pasti akan sembuh" Ella mencegat dokter yang akan keluar ruangan.


"Maaf kami tidak dapat berbuat apa-apa" Dokter melanjutkan langkahnya.


"Kau berbohong. Ed-ku tidak mungkin pergi. Dia akan selalu menemaniku" Tuding Ella dengan nada frustasi. Dia melempar asal tas yang di bawanya tadi.


"El, kendalikan dirimu" Renay mencoba membujuk Ella.


"Pergi kau. Kau bersekongkol dengan dokter menjauhkan aku dari Edgar-ku. Tidak akan aku biarkan kalian menyakitinya" Renay terhempas karena dorongan Ella dan mendarat di pelukan Leon.


"El, aku mohon. Sadarlah"


"Kau tidak pernah merasakan apa itu kehilangan, Nay. Jasi kau tidak akan tahu perasaanku. Jangan pamer kemesraan kalian di hadapanku. Pergi kalian!!!!" Teriakan Ella membuat Renay kaget. Air mata segera berkumpul di pelupuk matanya. Dia melarikan diri dan Leon mengejarnya.


"Ella, hey" Hardikan Jackson tidak juga membuat Ella sadar. Trauma psikis membuatnya emosi dan meledak-ledak.


Kematian ibu di depan matanya, tabrakan, rundungan keluarga Derbaltroz dan hampir kehilangan Edgar saat ini membuatnya menggila tidak karuan.


"Lepaskan aku Kak. Kakak juga ingin menjauhkan aku darinya? Apa salahku sehingga mereka tega berbuat begini pada Edgar? Aku akan membalas sakit yang di alami Edgar seribu kali lipat" Ella berontak sekuat tenaga tapi pelukan Jackson lebih kuat darinya.


"Dia masih ada harapan"


"Jika masih ada harapan kenapa dia tidak bangun bahkan ketika aku berteriak tadi? Jika masih ada harapan kenapa dia pucat seperti itu. Bukannya aku putus asa, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi" Seketika Ella jatuh terduduk di lantai.


"Aku ingin berdua dengannya" Ella mengusir Jackson halus.


Dia naik dan berbaring di tempat tidur lalu meletakan kepala Edgar di bahunya. Tangannya menggenggam telapak Edgar tapi hidungnya sibuk menghirup harum rambut Edgar.


"Jika ada yang bertanya seberapa berharganya dirimu bagiku? Jawabanku adalah kau lebih daripada segalanya. Aku mengenalmu sebagai bocah pembangkang dan juga pembuat onar. Lebih daripada itu, kau adalah sahabat sejati yang selalu menjadi tempat aku berbagi rasa. Tidak mudah melalui hari-hari tanpa seorang ibu tapi kau menunjukkan bahwa ada beragam cinta yang mampu aku dapatkan setelah kehilangan."


"Bahumu ini adalah tempat aku bersandar ketika aku goyah. Tanganmu selalu menuntunku kembali jika aku mulai kehilangan arah. Bibirmu yang selalu mengomeliku bila aku salah, selalu memujiku bila aku berhasil dan selalu meledekku disetiap kesempatan. Hey, aku rindu senyumanmu. Senyuman yang menghangatkan hatiku bila badai duka itu datang menghantam. Kau selalu berpesan agar aku menjadi gadis pemaaf. Tapi kau sendiri malas untuk memaafkan orang."


Ella sudah tidak sanggup bersuara. Dia menghirup dalam-dalam oksigen di sekitarnya. Suaranya serak tapi dia masih memaksakan diri mencurahkan isi hatinya yang dia simpan selama ini.


"Tak inginkah kau bangun? Aku masih membutuhkan mulut cabaimu itu untuk menghibur hari-hariku yang suram. Ed, apakah kau tahu bahwa namamu ternyata ada 100 persen dalam hatiku. Aku malas mengakuinya tapi ternyata aku mulai merindukanmu padahal selalu bertemu denganmu. Aku bergantung padamu, aku candu akan senyumanmu dan aku juga mencintaimu. Aku baru sadar jika cinta yang selama ini aku agungkan ternyata hanya perasaan kagum. Aku tidak lebih berdebar jika bertemu mereka. Aku.. aku jatuh cinta padamu tanpa kusadari. Aku mencintaimu, Ed"


Ella turun dari tempat tidur kemudian mencium kening, pipi, dan terakhir bibir Edgar yang pucat. Dia memberikan ciuman pertamanya pada Edgar walaupun di saat seperti ini.


Tiiiiiitttt.. Suara mesin menandakan kehidupan Edgar berakhir. Entah dia mendengar atau tidak pengakuan cinta itu tapi yang pasti dia pergi meninggalkan kita semua.


"Tunggu aku di sana. Kita akan menjadi pasangan serasi bila bertemu lagi" Ciuman yang kedua Ella berikan pada telapak Edgar yang dingin dan sedikit membiru.


***


Janganlah menjadi diriku yang terlambat menyadari apa itu cinta. Cinta yang aku cari selama ini ada dan selalu menemaniku tepat di sampingku.


Jika ada cinta yang datang padamu, sambutlah. Sahabat lelakimu adalah orang yang tepat untuk melabuhkan cinta. Terlambat mengucapkan membuat semua kebersamaan sia-sia.


Tunggu aku di tempat barumu. Aku akan mencarimu hingga bertemu. Ijinkan aku menjadi kekasih hatimu bila kita bertemu di kehidupan selanjutnya. Aku mencintaimu, pria cantikku. Ella


***


😭😭 Semedi 4 hari akhirnya Edgar meninggal juga. Mungkin kelamaan nunggu Otornya up.


Tinggalin jejak yah? 😭😭😭


Otor kabur dulu cari tisu...

__ADS_1


__ADS_2