
Sesaat kemudian dia berlari lagi menyusuri jalan tanpa alas kaki. Telapaknya sedikit lecet dan memerah. Tapi Ella tetap berjuang.
Saat kelelahan mendera, dia hanya bisa berjalan tertatih. Kaki mungilnya membawanya kedepan pagar sebuah rumah. Penjaga gerbang yang mengenalnya langsung mempersilahkannya masuk.
"Kak Leon....." Panggilnya tanpa mengucapkan salam lagi.
"Selamat pagi nona Ella, Tuan Muda ada di halaman belakang"
"Terimakasih. Maafkan aku masuk tanpa permisi. Aku mau bertemu kakak"
Sang pelayan hanya tersenyum maklum. Tapi melihat penampilan dan kaki Ella, ada yang ingin ditanyakannya tapi gadis itu sudah menjauh dengan cepat.
"Kak Leon tolong kami" ucap Ella begitu tiba di hadapan Leon.
"Ada apa ini?" tanya Leon panik karna melihat air mata yang mengering di pipi Ella.
"Mommy tertidur di ruang tamu. Aku mencoba membangunkannya tapi tak bisa. Ada bibi juga saat itu tapi bibi tidak membantu. bibi meludah dan pergi. Aku sudah berteriak minta tolong tapi semua orang tidak peduli. Aku tidak tahu harus kemana lagi" Ella kembali terisak.
"Kau sudah makan?"
"Aku tidak sempat sarapan karna melihat Mommy tadi. Aku tidak lapar. Kita harus mengurus Mommy secepatnya"
"Kalau begitu, tunggulah di sini. Kau bisa makan roti yang ada di meja makan kalau kau mau"
__ADS_1
Ella hanya mengangguk. Leon membuka jaket lalu memakaikannya pada Ella. Ia pergi menemui Ayah Ibunya.
"Ayah, Ibu, Ella butuh bantuan kita. Ibunya sudah meninggal"
"Sahabatku yang malang. Aku sudah pernah bilang jangan berhubungan dengan keluarga Roberto. Mereka orang-orang jahat"
"Ibu tenang dahulu. Mungkin bukan perbuatan Keluarga Roberto. Bisa saja ada penyakit bawaan, misalnya jantung"
"Sudahlah, kau selalu membela keluarga Roberto itu. Hikssss... Bagaimana mungkin Marie pergi secepat ini? Kemarin kami masih mengobrol tentang bunga hingga sore. Sahabatku benar-benar malang"
"Sayang, kematian itu seperti pencuri. Kita tidak akan tahu kapan dia akan datang. Kita hanya perlu berjaga-jaga saja. Hari ini Marie, mungkin besok salah satu dari kita" kata Tuan Besar Simmons bijak.
"Ayah benar, Ibu. Kita harus lapor polisi dan pihak rumah sakit"
Sementara itu Ella mencoba memakan roti selai yang ada. Tapi setelah 3 gigitan, dia benar-benar tidak sanggup untuk makan lagi. Dia bahkan merasa mual.
Melihat itu, Nyonya Besar menyuruh pembantu membuatkan susu hangat untuk Ella.
"Sayangku..." Panggil Nyonya Besar dengan lembut pada Ella.
"Bibi. Maaf aku makan tanpa permisi"
"Tak perlu sungkan, kau bagian keluarga ini, kau kan sahabatku"
__ADS_1
Sahut nona Erine dengan cepat. Erine adalah adik dari Leon.
"Minum susunya sampai habis baru kita akan berngkat. Jika tidak habis, kau akan duduk di sini dan tak boleh keluar"
Ancam Nyonya dengan serius hanya agar Ella tidak kelaparan. Ella menghabiskan susu dengan secepat kilat, dia mnum sambil memikirkan ibunya
***
Ketika mereka tiba di rumah Ella, ambulans sudah terparkir di sana. Polisi juga memberi Police Line di sekitar tempat Nyonya Marie terbujur tadi.
Hasil Otopsi membuktikan bahwa Nyonya Marie meminum banyak obat penenang dan obat tidur dengan dosis melebihi anjuran dokter. Ada tanda-tanda sesak napas serta ruam di sekitar pergelangan tangan.
Penguburan Nyonya Marie dihadiri beberapa orang. Termasuk "bibi" dan keluarga Roberto.
Ella tidak banyak menangis lagi. Dia tahu menangis takk'an mengembalikan ibunya. Dia hanya harus menjalani hidupnya kembali.
***
Apa yang akan terjadi pada "Kasus Nyonya Marie Willem?"
Tunggu episode selanjutnya๐ค
Jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐๐๐
__ADS_1