
Setelah tiba-tiba menarik Ella dan Emma untuk pulang, Edgar segera menyuruh mereka naik mobilnya. Dan kedua gadis itu juga tak membantah sedikitpun. Perintah Edgar adalah mutlak.
Hanya musik dari speaker mobil Ed yang menjadi pemecah keheningan di antara mereka. Entah kenapa tiba-tiba mereka bertiga bisu. Mungkin sementara menyelami pikiran masing-masing hingga mobil terparkir dengan mulus di halaman rumah Keluarga Roberto. Ah lupa, itu Rumah Nyonya Willem Mommynya Ella.
"Ed, kau tak ingin mampir? Kembar merindukanmu" Tawar Emma. Dia mendapatkan kekuatan lidahnya kembali.
"Macam kau tuan rumah saja"
"Dasar menyebalkan. Aku membencimu, Ed. Mulut cabe" Emma keluar dan membanting pintu mobil agak kuat hingga membuat Ella kaget.
"Aku kan hanya bercanda. Pintu mobilku yang malang" ratap Edgar.
"Jangan khawatir. Dia hanya lagi PMS saja kok makanya emosinya tidak stabil dan agak sensitif. Lain kali kau juga jangan berkata pedas begitu. Emma sudah menemaniku beberapa tahun ini" Ella masih menasehati Ed karena menurutnya sedikit keterlaluan. Ella turun dan berdiri di samping mobil.
"Dia memang otaknya yang kurang stabil" Edgar acuh.
"Ed..." Ella sedikit geram karena mulut sahabatnya ini benar-benar tidak bisa dikondisikan.
"Aw" pekik Edgar begitu Ella menghadiahkan cubitan pada kedua pipinya hingga tampak merah.
"Ayo jalan"
Ella segera menggandeng Edgar masuk, tampak seperti gadis yang akan memperkenalkan pacar pada orangtuanya. Nasib mereka kurang beruntung, Amber dengan wajah singa laparnya menunggu kedatangan Ella. Emma lolos karena Amber tidak melihatnya tadi.
"Dari mana saja kau. Dasar perempuan....."
Kata-kata Amber menggantung di udara. Teriakan yang hampir keluar terpaksa dia telan lagi melihat siapa yang digandeng Ella saat ini. Tuan Muda Dhawn, salah satu pewaris terkaya nomor 1 di kota itu. Dahulu kan nomor satu keluarga Simmons tapi dalam satu malam, mereka dihempas pada titik terbawah.
"Ah.. Selamat sore Tuan Muda Dhawn"
Masih sempat juga Amber merapikan baju dan menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinganya. Tampak malu-malu di depan Brondong tampan dan menggoda ini. Pertama kali dia datang kan masih anak-anak tapi sekarang dia sudah remaja dan sangat menawan.
Menjijikan. Malu sama umur kenapa? Kan harusnya aku yang tebar pesona begitu pada Ed. Ella memutar bola matanya malas.
"Selamat sore juga Nyonya Roberto"
"Ada perlu apa ya?"
What the hell? Temanku yang kubawa juga masih di tanya perlu apa? Basa Basi Busuk. Tebar pesona.
"Ella menyuruhku mampir"
Harus menyuruh gadis busuk ini meminta Tuan Muda mampir sesering mungkin. Lihat betapa tampannya dia.
"Bibi!! Ed hanya mampir sebentar"
__ADS_1
Amber tersentak kaget mendengar suara Ella. Tadi dia masih berangan yang aneh dan iya-iya dengan Edgar.
"Kalau begitu duduklah dahulu, aku akan membuatkanmu teh"
"Tidak perlu. Aku mampir untuk menengok si kembar. Ayo Ella" Ed menolak dengan tegas melihat binar di mata Amber.
Ed memimpin jalan. Dia hafal betul lekuk rumah itu karena sering datang. Tapi hanya beberapa kali bertemu Amber. Hari ini untuk pertama kali mereka bicara cukup lama. Tatapan Amber membuatnya mual. Dia tak ingin berlama-lama bersama siluman di lantai bawah. Mendengar teriakan marah Emma masih lebih menyenangkan daripada di tatap dengan tatapan memuja oleh tante-tante.
Dia naik dengan cepat. Hampir saja berlari. Saat sampai di tangga teratas, dia masih sempat melirik Amber yang terus memandangnya hingga air liur mau menetes.
"Ck! Daun Muda milik tetangga memang lebih menggiurkan" cibir Ella kesal.
"Jangan cemburu. Aku akan tetap jadi milikmu bukan?" Ed mengacak rambut Ella gemas.
"Hallu terossss"
Netranya menangkap siluet gadis muda yang baru keluar dari kamarnya yang terlihat mencibirnya. Harum bunga mawar menyapa hidungnya.
"Tau mandi juga rupanya"
"Hm" Emma tak mau ambil pusing dengan perkataan Edgar. Dia lebih fokus pada pintu kamar si kembar.
"Ciee yang dikacangin" Ella berbisik di telinga Edgar kemudian tertawa diam- diam. Edgar hanya memasang muka masam saja.
"Elli.. Mami pulang..."
"Oh sayangku. Kami tak terlambat kan?" tanya Ella pada Elliot.
"Tentu saja tidak bila Angkel cantik yang mengantar Mami pulang"
"Benar. Angkel tampak seperti suami siap siaga sedia selalu" Elli ikut membenarkan ucapan kembarannya.
"Siapa yang Angkel cantik? Siapa yang Suami? Aku ini sahabat Mami kalian"
"Ini di antara kita sesama lelaki. Siapa yang lebih cantik antara Mami Ella dan Mami Emma?" Ello bertanya dengan mata menyipit.
"Aku lebih cantik dari mereka berdua"
Narsis. Emma
Sudah kuduga jawabannya begitu. Ella
"Lalu siapa yang akan Angkel nikahi?" Giliran Elli yang bertanya.
"Akan aku nikahi mereka berdua. Puas?"
__ADS_1
"Ye... artinya Angkel akan jadi milik kami berdua kan?"
"Yayayya... Terserah kalian berdua. Tapi lelaki sejati hanya mencintai dan menikahi satu wanita" Perkataan Edgar sukses membungkam Kembar identik tersebut.
Saat bersama si kembar, Edgar banyak bicara dan tertawa. Mungkin ada yang merasa aneh mengapa si kembar memanggil Ella dan Emma "Mami". Sebab ingatan pertama yang terpatri jelas di memori mereka adalah senyum Ella dan Emma. Tapi panggilan itu hanya di antara mereka saja. Jika ada orang lain selain mereka, panggilan akan berubah menjadi Kakak cantik.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama bersama Ella, Emma dan Si kembar, Ed pamit pulang. Dia harus segera sampai sebelum jam 7 malam. Peraturan Keluarga Dhawn ada untuk ditaati.
"Nyonya Roberto, aku pulang" Pamit Ed sopan pada Amber. Ed turun ke bawah sendirian. Amber melihat peluang untuk tebar pesona lebih intens lagi.
"Nanti kembali lagi ya?" Pinta Amber tak tahu malu. Dia bahkan telah berganti baju dengan belahan rendah untuk mempertontonkan alat produksi ASI itu. Tak lupa Amber menyemprotkan parfum berwangi mawar untuk memikat Ed.
"Iya, Nyonya" Ed tersenyum manis.
Aku kemari juga karena Ella dan Si kembar. Biat apa terus-terusan bertemu nenek sihir sepertimu? Apa-apaan dengan wangi mawar hari ini? Aku benci mawar. Ed
Astaga dia tampan sekali. Aku mungkin harus ke salon besok agar aku juga nampak muda. Siapa tahu aku bisa menggaet dan berkencan dengannya. Amber membalas senyum Edgar tak kalah manis. Terselubung maksud menggoda pria muda di bawah umur tersebut.
***
"Apaan sih itu tante rempong? Sudah tua, punya suami, punya anak lima orang bahkan ada yang seumuran denganku masa iya pasang ekspresi genit begitu? Mana buah kelapanya mau tumpah gara-gara sesak di dalam baju. Dia kira aku tertarik apa? Aku jadi malas mau datang lagi kalau ada Siluman pepaya di sana. Mimpi apa aku semalam"
Ed menepuk-nepuk pipinya pelan kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Dia teringat saat di pintu depan, dia berpapasan dengan Adriana yang juga memasang wajah rubah kelaparan.
"Amit-amit kalau sampai Adriana juga suka sama aku. Saingan dong sama mamanya... hahahahaha...."
Sesuatu yang lucu tiba-tiba saja terlintas di kepala Edgar. Dia tertawa sendiri membayangkan Amber dan Adriana berebutan menariknya di sisi kiri dan kanan. Dia kemudian menggeleng pelan menghalau awan pikiran yang ada di atas kepalanya.
Beberapa menit kemudian dia sampai di Mansion Mewah Keluarga Dhawn. Beberapa kali lipat lebih besar daripada rumah Ella. Ed segera memarkirkan mobilnya di garasi. Ada sebuah Ferari terparkir di sana. Pikirannya melayang pada seseorang.
Dia langsung masuk ke ruang tamu. Dia cukup terkejut melihat seseorang yang sudah 4 tahun ini tidak dilihatnya sedang duduk bercengkarama dengan seseorang lagi.
"Ehemm" Dehemnya kuat mengalihkan tatapan kedua orang tersebut.
"Hay, Ed" Pria satunya maju dan memeluk Ed erat. Merindukan Ed. Dan satunya menatap Ed dengan perasaan bersalah.
***
Jadi siapa kedua pria di ruang tamu Mansion Dhawn tersebut??
Apakah Amber berhasil menaklukan "Daun Muda" yang diincarnya??
Jawabannya ada di episode selanjutnya....
Terimakasih yang sudah mampir. Tinggalkan jejak yah? ππ€©
__ADS_1
Salam ELughtaππ