Sellena

Sellena
Berada di pelukanmu


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa, Layla berlari sepanjang lorong Rumah Sakit untuk menemui dokter Raymond. Ruang Obgyn berlawanan arah dengan ruang gawat darurat sehingga agak lama dia berlari di lorong itu.


Keadaan Ella yang depresi dan hanya berdiam diri tersebut mengundang rasa penasaran pasien dan pengunjung karena Ella masih menggunakan baju pengantinnya.


Berita Pernikahan antara Ella dan Nick memang sudah menyebar. Mereka menebak-nebak mengapa pengantin wanita yang seharusnya sedang berada di awan karena malam pertama, justru terbaring lemas dengan mata memandang intens ke satu arah.


Brankar di dorong dengan kecepatan maksimal menuju ruang psikologi. Stimulan berupa sugesti bahkan terapi hipnotis tidak mengembalikan kesadaran Ella karena dia membangun tembok yang tinggi.


"Apa ada cara lain, dok!"


"Berikan dia stimulus kecil berupa kenangan indah atau orang yang sangat dia cintai. Itu bisa membuat dia sedikit tersadar"


"Kalau begitu biarkan aku membawa Ella pulang" Tawar Layla.


"Tidak. Itu justru akan membuat Ella makin menyembunyikan dirinya. Nyonya Roberto berteman baik dengan keluarga Derbaltroz. Ada juga Adriana yang sedang hamil anak mantan tunangannya, lalu Tuan Roberto yang tidak peduli padanya. Itu justru akan mengganggu proses penyembuhan. Bawa pulang ke mansion Dhawn. Di sana banyak kenangan Edgar yang mungkin bisa membuat dia tersadar"


Perkataan Jerry diterima dengan baik oleh Layla dan Raymond karena itu jalan terbaik.


***


Mami Chyntia sudah berada di rumah ketika Jerry dan Raymond memarkirkan mobil. Setelah Renay membawa pulang Erine dan Leon, mereka juga langsung membubarkan diri. Malam itu juga mereka kembali ke Mansion Dhawn.


Begitu membuka pintu, pertama yang dilihatnya adalah Ella yang duduk diam di kursi roda dengan wajah pucat. Mami Chyntia berlari keluar dan memeluk gadis kesayangannya.


"Bawa Ella masuk ke kamar Edmund. Hubungi Nona Adamson agar mengganti bajunya. Nona Adamson bisa dipercaya" Mami Chyntia belum habis bicara, Jackson sudah ada di belakang kemudi siap menjemput pujaan hatinya.


Jerry menggendong Ella dan membaringkannya di ranjang milik Edgar. Harum semerbak parfum yang biasa digunakan Edgar seketika membuat air mata meleleh di pipi Ella. Mami Chyntia refleks memeluk Ella merasakan perasaan sakit yang sama, kehilangan orang yang mereka sayangi.


"Kamu baik-baik di sini ya sayang? Mami janji, mami tidak akan membiarkan mereka melukaimu lagi"


Melihat Ella yang sakit Cyntia merasa seperti putrinya sendiri yang sedang sakit. Cinta kasih yang dia berikan pada Ella sama besar seperti cintanya pada Edmund. Entahlah mengapa dia sangat sayang pada Ella. Dia sangat bahagia melihat gadis itu tersenyum begitupun sebaliknya.


"Alangkah baiknya bila kamu adalah putri kandungku. Ya, kamu adalah putriku yang lahir dari rahim seorang wanita hebat seperti Marie"


Siapa yang tidak mengenal Nyonya Marie? Dia adalah pengusaha wanita yang sukses dan kaya raya nan baik hati yang suka membantu orang lain. Sungguh sayang dia meninggal di usia muda saat dirinya sedang berada di puncak kesuksesan. Berita kematiannya tiba-tiba menghilang begitu saja menimbulkan beberapa pertanyaan.


Marie, ijinkan aku memiliki putrimu untuk diriku sendiri. Mami Cyntia masih membelai rambut Ella sayang hingga pintu diketuk dari luar menampakkan wajah Emma yang manis.


"Selamat pagi, Mami" Sapa Emma lembut.


"Pagi juga sayang. Maaf merepotkanmu untuk mengurus Ella karena jika Mami yang mengganti pakaiannya, agak sedikit canggung walaupun sesama perempuan"


"Emma mengerti Mami. Ella juga tidak sembarang membiarkan orang menyentuhnya. Kalau begitu Emma harus memandikannya terlebih dahulu"


"Kalau ada perlu, panggi mami ya?"


Emma mengangguk patuh dan tersenyum manis membuat Mami Chyntia refleks mengelus rambut Emma dengan lembut. Tiba-tiba saja Mami Chyntia menarik tangannya menyisakan suasana canggung di antara mereka.

__ADS_1


"Ahh... Itu.. Mami pergi buatkan kalian sup dahulu" Mami Chyntia kabur dari hadapan Emma yang masih bengong dengan perubahan tingkah Mamanya Edgar tersebut.


Mami kenapa? Mengelus rambutku tiba-tiba saja gelagapan? Apa rambutku ketombean yah? Tidak mungkin, aku baru keramas kemarin kok. Emma justru berdebat dengan pikirannya lupa bahwa dia harus memandikan Ella.


"Dasar pikun" Emma mengetuk kepalanya sendiri dengan gemas.


Dia mengunci pintu kemudian membuka pakaian Ella dan membawanya ke kamar mandi. Dia sangat gemas karena gadis yang banyak bicara tersebut hanya diam saja.


"Cepatlah sembuh karena minggu depan kita mulai kuliah. Dua pria cantik itu juga merindukanmu. Mereka bertingkah konyol. Kami tidak tahu harus melakukan apa kedepannya kalau kau masih seperti ini karena kami butuh saran darimu"


Emma menyabuni dan menggosok tubuh Ella. Dia sudah membungkus kaki Ella yang terluka dengan plastik agar tidak basah.


"Video perselingkuhan itu juga sudah kami simpan. Tapi masalahnya kau masih begini dan kami tidak bisa bergerak tanpa Leader. Aku sangat ingin memukul jal*ng tersebut sampai penyet tapi Leon kakak tersayangmu dan si Nick bedeb*h itu datang dan menangkap kedua tanganku. Tenaga mereka lebih besar sehingga aku kesulitan. Kalau ada kesempatan lain, misalnya dia menggoda Kak Jackson, aku bisa langsung mencakar wajahnya atau melumuri lubang buayanya dengan cabai. Aku benar-benar emosi saat ini. Heh, keceplosan juga bawa-bawa nama Kak Jackson tapi dia keren loh waktu menghajar mereka. Aku akan tunjukkan videonya saat kau sembuh"


Emma bicara panjang lebar hanya untuk menstimulasi pikiran Ella yang memang benar Ella seketika menggerakan jarinya yang semula diam membatu.


Syukurlah usahaku bicara banyak sampai-sampai keceplosan ada hasil baik. Setidaknya Ella juga berusaha keluar dari tembok yang dibangun oleh psikologinya.


Emma menggendong Ella keluar kamar mandi dan memakaikannya pakian. Mau tidak mau dia harus melihat tubuh polos Ella. Dia sudah terbiasa karena mereka selama ini tumbuh besar bersama sehingga dia tidak canggung.


***


Acara makan hari itu tidak berjalan seperti perencanaan Mami Chyntia sebab Ella tidak bisa menelan makanan. Terpaksa dia hanya menerima suntikan nutrisi.


Malam menjelang dan Emma sudah terlihat lelah. Bagaimanapun dia memiliki andil besar untuk memulihkan Ella. Dia bicara banyak dan berbuat hal-hal lucu yang dia tertawai sendiri. Di dalam sana Ella mendengar semuanya hanya saja dia enggan keluar dari kastil indahnya.


Emma sudah tertidur pulas di samping Ella ketika ada seseorang yang masuk melalui jendela. Sosok tampan dengan jaket hitamnya ini sontak membuat Emma kaget. Indera pendengarannya yang tajam mendengar langkah kaki asing mendekati Ella.


Rahang Emma hampir terlepas dari tempatnya saking lebarnya dia menganga.


Oh sial! Apa aku sedang bermimpi cowok tampan ini ada di hadapanku. Tidak. Ini halusinasi sebab tidak mungkin. Tapi dia tetap ada setiap kali aku berkedip. Jadi apa yang sedang terjadi? Aku siapa? Aku di mana? Aishhhh pusing!!!!


"Tidurlah di kamar tamu malam ini dan biarkan aku di sini" Perintah itu langsung membuat Emma tersadar dari lamunannya dan pergi tanpa berbantah.


Pria itu segera mengunci pintu begitu Emma sudah keluar. Sungguh sial bahwa Emma tidak tahu di mana kamar tamu sehingga dia masuk sembarang kamar dan tidur bersama seseorang.


"Emmh.. hah!!??" Hampir saja Jackson berteriak saking kagetnya. Dia segera menyalakan lampu meja dan menghela napas lega begitu tahu siapa yang tidur di sampingnya.


Emma membetulkan posisi tidurnya. Begitu merasakan tubuh dan wangi yang dikenalnya, dia langsung memeluk guling besar itu menghasilkan rona merah yang menjalar di seluruh wajah dan telinga Jackson.


Astaga jiwa liarku bangkit hanya karena pelukannya. Kau di bawah sana jangan bangun saat-saat begini. Bertahanlah dan tidur dengan tenang. Ini sangat menyiksaku. Anggap saja dia bantal guling. Sugesti itu mampu membuat belalai gajah di bawah sana diam tenang. Jackson mulai berani menutup mata membiarkan Emma memeluknya erat. Setidaknya dia tidak kedinginan.


Di kamar Edgar, Ella tidur dengan tenang. Dia mampu menutup dan membuka matanya dan menggerakan jari tapi masih diam tenang bila mendengar orang bicara.


Tempat tidur bergerak pelan dan wajah pria itu ada tepat dihadapan wajahnya. Nafas yang hangat membuat Ella tersadar dan membuka mata. Hanya saja dia melihat siluet yang tidak asing di depannya. Kegelapan yang menderanya membuat dia frustasi.


Benda yang lembut dan kenyal tiba-tiba saja menempeli bibirnya. Ella merasakan itu. Dia sudah kembali dari kastil indahnya sejak mulut ember Emma bicara tanpa henti. Hanya saja sekarang dia perlu keluar dari benteng kokohnya.

__ADS_1


Wangi ini! Tidak mungkin! Ella menatap nanar pria dihadapannya. Dia ingin menggapai dan merasakan wajahnya tetapi dia tidak bisa menggerakan tangannya. Shock yang dialaminya melumpuhkan kinerja otonya.


Senyuman dingin yang diterima Ella membuatnya berdebar. Sinar bulan menampilkan siluet yang indah itu. Ciuman manis yang dia terima mengembalikan kesadarannya.


Bibir yang lembut tersebut menempel lagi. Kali ini justru ada pergerakan memberikan sensasi aneh bagi Ella. Seperti tersentrum listrik Ella ingin menyudahinya tapi si empunya squishi tersebut malah makin berani menelusup masuk mengajak daging tak bertulang tersebut bermain-main.


Apa ini? Apakah ini namanya berciuman? Astaga!!! Bagaimana caranya aku menyudahi ini? Aku... Ella tidak fokus berdebat dengan bathinnya karena orang itu menyudahi pergerakan di mulut Ella dan membiarkan Ella bernapas.


Ella menjadi gagu tak bisa mengucap serapah yang dia siapkan dari tadi. Melihat itu si pria tersenyum menakutkan, menampilkan smirk aneh.


Merasa pasokan oksigen sudah cukup di paru-paru Ella, dia melanjutkan kembali kegiatannya. Menghabisi bibir Ella dengan ganas, bermain dan menggoda Ella dengan ciuman kecil sedang Ella berusaha menggerakan tangannya.


Ketika dia menghisap bibir Ella kuat, sebuah bogeman mendarat di pipi membuatnya terhunyung ke samping. Ella berhasil menggerakan tangannya. Dia kemudian bangun kembali untuk mencengkeram kedua tangan Ella dan menaruh di atas kepala gadis itu.


Ella ingin berontak tapi kakinya yang mati rasa membuatnya kesulitan bergerak sekarang apalagi cengkeraman pria di atasnya ini sangat kuat dan bibirnya yang dicium menghasilkan gejolak di perutnya. Dia merasa ingin muntah


Pinggangnya kini ada yang merayap. Ella yakin itu tangan si pria. Dia meremas gemas pinggang Ella hingga membuat Ella melotot marah. Ingin sekali Ella menendang pria itu tapi kakinya benar-benar berat.


Ella bernapas lega karena pria itu tidak menciumnya ganas tapi dia memerah karena justru pria itu sedang menjil*t lehernya.


Bedeb*h sial*an kampr*t. Ella berkomat-kamit memakinya tanpa suara karena suaranya tercekat di tenggorokan.


Tangan yang makin naik dan kepala yang turun menuju suatu titik di dadanya membuat Ella habis kesabaran. Sekuat tenaga dia bergerak, gagal. Dia berusaha lagi tapi tetap gagal. Merasa putus asa, dia menangis dan memberontak.


Jiwanya menghancurkan tembok tinggi yang terbentuk sebagai perlindungan diri itu karena tubuhnya kini berada di bawah kuasa pria asing yang menggetarkan hatinya. Tapi dia masih perlu melindungi harta berharga yaitu kehormatannya.


Dalam keputus asaan itu kaki yang mati rasa kembali bisa digerakan dan menendang si penjahat sebelum dadanya yang mulus dinodai.


Ketika akan menyalakan lampu, siluet itu mencium bibirnya singkat lalu berbisik.


"Kita akan bertemu lagi, gadisku"


Dia melarikan diri dengan meloncat dari lantai dua. Ella berdiri di jendela dan mengamati pria yang menjauh tersebut. Perangkat lensa di matanya dengan jelas menandai pria tersebut.


"Sial! Setelah dia kabur baru lensa ini berfungsi!!! Kenapa tidak bisa menangkap gambarnya saat dia berada di depan mataku tadi!!"


Ella frustasi di kamar Edgar. Dia menutup dan mengunci jendela itu lalu berusaha untuk tidur kembali dengan posisi yang sama.


Si pria yang kabur tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih berkilau. Meraba bibirnya yang beberapa menit lalu mengajak berantem bibir lainnya. Dia tertawa kecil mengingat gadis di bawah kukungannya itu melotot kesal padanya ketika dia menciumi tulang selangkanya.


"Aish!! Malam ini benar-benar panas" Dia mengipas pelan wajahnya yang memerah mengingat bibirnya hampir saja berada di puncak dada tersebut.


Tidak buruk juga bentuknya. Sangat pas untuk ukuran telapak tanganku. Sekali seumur hidupnya dia berubah menjadi mesum.


***


πŸ™ˆπŸ™ˆ Jangan banyak komen adegan di atasπŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Akan ada pertemuan lagi beberapa tokoh yang berkonflik. Semakin seru nih jadi jangan bosan ya?


Salam ELughta😍😘


__ADS_2