
Setelah berperang dengan hati dan nuraninya, dia tetap memilih untuk menerima tantangan Richard. Dia adalah seorang pria sejati, bagaimana mungkin dia bisa menerima ejekan dari seseorang? Dia juga tidak khawatir lagi karena mobil milik kakaknya merupakan model modifikasi dengan beberapa fitur kecepatan tambahan.
"Ini cukup mendebarkan" Ungkap Edgar pada dirinya sendiri.
Hasil balapan ini akan membawa perubahan besar pada hidup Ella. Selama ini memang dia sudah menjauhkan Ella dari keluarga Derbaltroz tapi mereka tetap saja mendekatinya hanya untuk membuat Ella menjadi warisan berjalan mereka.
Tidak masalah jika Nick yang mendekati Ella tetapi Richard adalah tipe ambisius dan juga suka bermain wanita. Belum lagi Orangtua mereka yang bagaikan singa kelaparan. Selalu merundung Ella dengan perkataan yang tidak semestinya. Jika mereka kembali baikpun karena kini tahu Ella menjadi kandidat untuk mendapatkan 45% harta kekayaan Tuan Derbaltroz Tua.
"Aku tidak boleh kalah. Demi Ella" Edgar semangat di dalam mobil kakaknya. Senyum manis tercetak jelas di bibirnya.
***
Dua mobil parkir bersampingan. Mobil biru milik Jackson kontras dengan warna merah terang milik Richard. Beberapa mobil sengaja di parkir di belakang mereka. Jackson dan Nick juga hadir untuk menyaksikan awal pertempuran itu. Nantinya mereka akan memutar jalan melewati perumahan CJ agar bisa lebih dahulu sampai di Arena Balapan. Sedangkan dua pembalap ini akan melewati rute yang sebelumnya telah disepakati.
"Berhati-hatilah" Pesan Jackson pada Edgar. Edgar adalah adik satu-satunya. Walaupun dia adalah Pembalap tapi kejadian di Arena tetap tidak bisa di prediksi.
"Aku harus menang demi Ella"
"Ini"
Jackson memberikan alat komunikasi khusus pada Edgar. Dia akan bisa mendengar apa yang Edgar ucapkan dari dalam mobilnya. Hanya dia yang bisa mendengarnya. Dia juga memasang kamera di depan kap mobil, di belakang dan juga di seputar interior mobilnya. Ini untuk keselamatan adiknya sehingga dia perlu berjaga-jaga untuk semua hal.
"Oh yah apa kau memberitahu Ella?"
"Bisakah aku memberitahunya? Dia akan marah dan mendiamkanku selamanya jika tahu. Dan jangan biarkan dia tahu"
"Baiklah. Tapi apakah Emma juga tidak tahu?"
"Kucing galak itu tidak mendiamkanku tapi akan mengomeliku sepanjang hari. Kupingku ini rentan terhadap suara bising"
"Apa Renay kau beritahu?"
"Aku tidak terlalu dekat dengannya. Lagipula dia juga tidak akan datang melihat situasi bahwa dia akan menikah dengan Leon. Aku juga menjauhkan dia dari Ella. Aku tidak ingin Ella melihat kemesraan mereka" Edgar mencengkeram kemudinya kuat mengingat acara makan malam kemarin.
"Rumit sekali cinta kalian ini" Jackson hanya bisa menepuk pelan pundak Edmund.
__ADS_1
"Kedua pembalap, bersiaplah" Ucap seorang pemandu balap.
"Lakukan dengan baik" Pesan Nick pada Raymond dengan kedipan matanya. Dan Raymond membalasnya dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Bersiap. Satu, dua, tiga"
Ketika kain telah dilempar seorang gadis aduhai, mereka dengan cepat menginjak pedal gas dan melaju.
"Mobil ini lumayan. Tapi kenapa sedikit tidak enak, Kak?" Tanya Edgar pada mic kecil di sudut bibirnya.
"Apa yang kurang bagus?" Tanya Jackson. Dia sedang dalam perjalanan menuju Arena Balap dekat perumahan. Dia sengaja membiarkan supir pribadinya menyetir mobil Edmund agar dia bisa berkomunikasi dengan Edmund.
"Entahlah. Tapi pelaju cepat tidak berfungsi dengan baik. Mobil modifikasi ini tidak seperti ekspektasiku. Raymond masih tetap bersisian denganku walaupun aku sudah menekan tombolnya"
"Aku sudah menggunakannya selama seminggu ini dan tidak ada masalah"
"Apa kakak menggunakan tombol pelaju ini waktu berkendara?"
"Tidak pernah"
"Lalu kenapa kakak menyuruhku menggunakan mobil rongsokan ini? Jika tahu akan seperti ini, aku akan menggunakan istri tercintaku itu saja." Edgar sedikit kesal akhirnya mencengkeram kemudinya dengan gemas.
"Aku tidak akan menang karena si Derbaltroz sial*n itu sudah mendahuluiku"
"Oke jangan banyak bicara tapi gunakan otakmu menstabilkan laju agar tidak menabrak atau di tabrak"
"mmm...baiklah" kata Edmund. Dia harus menurunkan kecepatan lajunya.
Bedeb*h. Maki Edgar kasar karena mobil itu tetap melaju kencang. Angka spidometer tetap naik walaupun dia sudah mengangkat kakinya dari pedal gas. Dia memukul setir dengan tidak sabar.
"Kakak, waktu mobil ini di modifikasi, siapa yang membantumu? Jangan bilang Derbaltroz sial*n itu?" Tanya Edgar dengan tidak sabar.
"Aku tidak sempat melihat perakitannya tapi semua kertas rancangan aku serahkan pada Nick. Maaf"
"Arggghhhh" Edgar makin kesal setelah menebak jalan cerita balapan ini.
__ADS_1
Mendengar erangan Edmund, Jackson makin panik. Belum lagi jalan yang mereka lewati adalah pegunungan yang tidak di pasangi CCTV. Akhirnya dia menyuruh bawahannya untuk memantau keadaan adiknya melalui udara. Salah satu drone rakitannya berhasil mengambil video dan menampilkannya di layar handphone milik Jackson.
"Eagle 1, merekam" Suara drone yang muncul dari layar handphone Jackson.
"J. Jika ada sesuatu denganku, aku harap kau mau melindungi dua gadis itu untukku. Jauhkan mereka dari Derbaltroz sial*n" Panggilan J hanya ada ketika kedua orang itu bicara layaknya sahabat.
Demi apapun Edgar sedari tadi tidak berhenti mengumpat. Segala jenis umpatan yang dia tahu, dia keluarkan. Jackson hanya mendengarnya dalam diam. Tidak ingin berkomentar agar Edgar tidak panik.
Balapan itu sudah masuk ke daerah permukiman yang cukup padat. Mereka harus meliukan mobil di antara mobil lain yang semakin padat. Dengan kecepatan mobil yang luar biasa itu, mereka meninggalkan debu yang lumayan bagi pengendara di belakang.
"Ayo bertahanlah, Baby. Sedikit lagi sampai di Arena" Edgar bicara pada mobilnya agar membuat hatinya sedikit tenang.
"Maafkan aku gadisku" Edgar tersenyum manis kemudian beberapa saat kemudian,
"Braaakkkkkk....."
Jackson menjatuhkan Ipad yang dia pegang. Mobil biru dalam video itu keluar jalur dan menabrak pengemudi lain. Bahkan menabrak mobil merah yang mepet di depannya hingga sama-sama ringsek di pinggir jalan.
***
"Oh, astaga" Ella menjatuhkan gelas yang dia pegang.
"Kau kenapa?" Tanya Emma khawatir.
"Gelasnya licin" ucap Ella meyakinkan Emma bahwa dia baik-baik saja tapi tidak dengan gemuruh dalam dadanya.
Dia segera menelpon Edgar tapi sayangnya hingga beberapa panggilan tetap tidak terjawab bahkan sampai sore hari. Ini tidak biasanya dia tidur sampai jam begini. Mereka sudah janjian akan mengisi formulir pendaftaran di William's University karena Ella mendapat Beasiswa di sana.
"Ella.... El" Teriak Emma frustasi karena tidak mendapati Ella di kamarnya.
"Ada apa?" Ella muncul dari kamar si kembar.
Bruk! Ella jatuh terduduk di lantai. Dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
***
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalkan jejak buat Ella yah??
Salam ELughta😍😘