Sellena

Sellena
Rambutnya bergelombang


__ADS_3

Steven mengikuti langkah anak buahnya dengan malas. Dia sudah memikirkan hukuman apa yang cocok untuk anak buah yang masuk tanpa permisi.


"Jadi berapa lama lagi kita harus berjalan?"


"Nona ada di ruangan Gawat Darurat di lantai 1 sehingga kita berjalan agak lama"


"Gunakan lift, dasar bodoh!!"


"Maaf bos, saya panik tadi"


"Alasan saja! Cepat masuk!!"


Steven memelototi anak buahnya membuat bodyguard itu menunduk takut. Besar saja badannya tapi mentalnya masih perlu dilatih. Tapi memang karena Steven punya tatapan mengintimidasi yang membuat nyali lawannya menciut segera.


"Nona Besar masih dioperasi karena kepalanya terbentur. Itu Bos, lampunya sudah hijau yang berarti sudah selesai operasi.


"Selamat datang, Bos" Sapa bawahannya serempak. Mereka menjaga Nona Muda di luar kamar operasi.


Dokter keluar bersama brankar yang berisi seorang gadis cantik. Tidak jauh beda dengan gadis di kamar sebelumnya. Seketika Steven menyadari kekeliruannya.


"Kami sudah selesai mengoperasi Nona Willem. Perhatikan agar Nona tidak menggerakan kepalanya terlalu sering. Tempurung kepalanya sedikit retak tapi kita bersyukur karena tidak ada kerusakan pada otak untuk saat ini. Kami akan sering memantaunya karena mungkin saja terjadi penggumpalan darah di otak kedepannya"


"Terimakasih, Dokter" Steven membungkuk hormat lalu berpaling pada anak buahnya. "Antarkan Nona Besar ke kamar VVIP yang tadi"


Entah apa tujuan Steven menyatukan dua gadis dengan wajah mirip tersebut.


***


Cklik! Pintu terbuka dan menampakan beberapa bodyguard yang sedang mendorong brankar. Ella memandang mereka yang juga memandang Ella dengan heran.


"Sudah acara pandang memandangnya. Hubungi Tuan Besar dan beritahu apa yang kalian lihat saat ini"


Pantas saja aku menjadi berdebar di dekatnya tadi karena dia bukanlah Elleane tapi Ella. Astaga aku kenapa bisa seceroboh ini?

__ADS_1


Steven memandang Ella lama sebelum dia menguji kejujuran Ella.


"Ternyata kau bukan Nona Besar kami"


"Memangnya aku pernah bilang bahwa aku Nona Besarmu? Tidakkan?" Ella yang sudah mendapatkan kembali suaranya bertanya.


"Kenapa kau memeluk Tuan Besar?"


Steven malah balik bertanya.


"Aku peluk karena menganggapnya Ayah. Lagipula salah siapa kalian tidak mengenali Nona Besar kalian dengan baik? Rambutku lurus sedangkan Nona kalian bergelombang. Atau jangan-jangan kalian buta ya?"


Entah mengapa Ella senang sekali bercakap-cakap dengan Steven.


Dia benar. Elleane punya rambut yang bergelombang. Aku menjadi bodoh dihadapannya kini. Steven maju dan memegang dagu Ella.


"Kau operasi di mana sehingga wajahmu mirip Nona Besar?"


"Operasi? Ck! Ini wajah anugerah Tuhan. Mana aku tahu kenapa aku mirip dia? Jangan-jangan memang aku ini kembarannya dia. Lagipula aku punya Ayah yang tidak jelas sama sekali"


"Dari kisah hidupku. Dasar es batu! Orang dingin dan kaku sepertimu mana tahu cerita kelam hidupku? Siapa nama gadis itu?"


Aku sangat tahu karena kita sudah bersama sejak dahulu sebelum kau dititipkan padaku.


"Hey, Kulkas!! Jawab dong"


"Elleane Willem"


Deg! Ella kaget mendengar nama belakang gadis itu. Apa hubungannya dengan Mommy-nya?


Mungkin dia Willem yang lain. Willem bukan Mommy saja. Pikirnya


"Namanya terdengar seperti nama Mommyku. Apa mungkin kami masih punya hubungan darah?"

__ADS_1


"Jangan berharap terlalu tinggi!"


"Aiyah siapa yang berharap? Aku kan sedang menebak. Dasar!"


Berhadapan dengan Ella, Steven mengeluarkan nada arogannya tapi tetap saja dibalas dengan kata-kata yang membuatnya ingin terus membuat Ella bicara banyak. Sejujurnya dia rindu suara merdu itu yang terakhir kali di dengarnya menangis di atas peti matinya.


"Eh Kulkas, kenapa bengong? Mikirin hutang? Ganteng-ganteng punya banyak hutang" cibir Ella lalu beringsut untuk tidur.


"Kau..."


"Jangan berisik, paaien mau bobo. Bangunkan aku kalau Ayah gadis itu datang. Jangan-jangan dia serangan jantung melihat kemiripan kami bagai buah dibelah dua. Iya buah kalo dibelah simetris yang sama besar dong bukan hanya pinang saja"


"Sudah tidur sana!!" Perintah Steven ketus


"Cie yang tadi pagi sok-sokan jagain aku padahal salah orang"


Ella segera menarik selimut dan mencoba tidur menghindari tatapan intimidasi dari Steven. Tapi sejurus kemudian dia bangun.


"Kulkas...."


"Siapa yang kau panggil Kulkas hah!!??" Bentak Steven.


"Uish.. G3. Ganteng-ganteng galak. Kak Steven, yang baik hati tidak sombong pintar menabung tidak punya hutang murah senyum juga....."


"Katakan intinya saja"


"Antarkan aku... ke kamar mandi" Ucap Ella pelan karena malu.


Steven beringsut dari sofa lalu segera menggendong Ella menuju bathroom.


"Kau ingin ditemani?"


"Tidak usah! Aku bisa sendiri"

__ADS_1


Steven segera mengaitkan infus di threepod yang tersedia di situ lalu mengambil jurus seribu keluar dari sana segera.


Mengantar cewek ke kamar mandi saja deg degan begini. Apalagi kalau.... Ucapan bathinnya berhenti tepat saat Tuan Willem masuk.


__ADS_2