
Brandon menjemput Ella di luar gerbang mansion Willem. Ella sendiri beralasan bahwa jika masuk, mungkin saja Brandon akan mengobrol lama dengan Ayahnya.
Ella sendiri tadi menggunakan taxi dari markas menuju perempatan jalan dekat mansion Willem. Dia berjalan kaki agar tidak terlalu menimbulkan kecurigaan. Dia sudah menghindari beberapa CCTV yang terpasang di luar gerbang. Camael punya peranan penting untuk hal ini.
Lain kali, aku akan meretas CCTV di mansion ini. Ella menatap mansion itu dengan berbinar seolah-olah mendapatkan harta karun.
Bip.. Bip!! Dua kali bunyi klakson membuat Ella menoleh ke sebuah mobil yang terparkir di sampingnya.
"Sudah menunggu lama?"
"Lumayanlah, 15 menit" Ella tidak berbohong. Dia memang sudah menunggu selama itu.
"Maaf aku terlambat karena biasanya seorang gadis kalau berdandan, pastilah sangat lama"
"Aku terbiasa untuk bersiap dengan cepat sehingga bos tidak mungkin lama menunggu"
"Perbiasakan memanggil dengan namaku saja jika di depan Ayah dan ibuku"
"Em... Bolehkah aku memanggilmu Kak Brand?"
Deg! Ella merasa memanggil Brandon dengan sepenggal namanya saja membuat dia mengingat kembali ibunya. Marie Callista Brand.
"Aku ralat. Aku panggil Kak Brandon saja. Jika hanya sepenggal membuatku mengingat kembali marga ibuku"
"Okelah" Brandon malas berpikir banyak saat ini. Sebab dia cukup berdebar untuk menggagalkan lagi acara perjodohan ini.
Mobil berhenti dengan mulus di depan sebuah restoran mahal. Ella menduga bahwa acara perjodohan ini seharusnya cukup besar.
Mau tidak mau dia harus menjalani ini sambil mendapat pelototan tajam dari salah satu pengawal bayangannya. Siapa lagi kalau bukan Edgar?
Edgar sebenarnya tidak rela gadisnya harus menjadi pacar pura-pura orang lain tapi semua ini juga demi misi mereka berdua. Edgar mengela napas kasar beberapa kali berusaha untuk tidak menyerang Brandon.
"Gandeng tanganku dengan mesra"
__ADS_1
Ella melakukan itu dengan natural. Benar-benar seperti telah saling mengenal lama. Dia tidak bergelayut manja tetapi lebih kepada berjalan dengan anggun di samping sang pujaan hati bohongan.
***
Attala memandang gadis yang duduk di samping Brandon dengan tatapan tajam. Tapi beberapa saat kemudian bara api di matanya mulai meredup ketika melihat putrinya begitu akrab dengan gadis itu sehingga menyendokkannya makanan.
"Makan yang banyak karena kau butuh tenaga melewati persidangan ini"
"Terimakasih Ren, aku selalu siap" Ella balas menyendukkan beberapa lauk ke atas piring Brenda dan Brandon.
Perlakuan itu menjadi tatapan beberapa orang dengan pendapatnya masing-masing.
Joly memandang Ella meremehkan dengan tangan terkepal di bawah meja. Dia sungguh ingin menghancurkan wajah Ella yang membuat Brandonnya terpikat.
Sungguh gadis ini membuatku muak. Aku sangat ingin membunuhnya. Joly menusuk steak dengan agak keras.
Walaupun dia putrinya Tuan Willem tapi dia berteman dengan j***ng kecil itu. Sungguh sangat disayangkan. Aku harus memisahkan mereka secepatnya. Meiya melirik Joly yang sepertinya cemburu. Pakai tangan gadis pencemburu itu saja. Meiya tersenyum penuh arti.
***
Sebuah robot merangkak naik dari sepatunya dan menyuntikan serum tepat di lehernya. Ella merasa pusing sejenak sehingga dia memilih untuk duduk di atas closet.
Langkah kaki memasuki toilet dan pintu luar toilet yang dikunci terdengar. Ella tahu siapa yang melakukannya. Setelah merasa cukup baik, dia keluar dari bilik toilet. Sudah ada Joly yang menyambutnya.
"Jadi ini kekasih Kak Brandon? Terlihat seperti siluman rubah"
Ella hanya berbalik lalu memberikan senyum terbaiknya yang di ujungnya ada sedikit smirk. Ella menuju washtafel mencuci tangannya.
Joly yang marah karena diacuhkan langsung saja berusaha menjambak Ella dari belakang. Ella refleks melangkah kesamping sehingga Joly terhunyung ke depan dan menabrak kaca di atas washtafel. Luka robek yang cukup dalam langsung tercipta.
"Hey... Siapa saja tolong buka pintunya... Ada yang terluka di dalam sini..." Ella menggedor pintu dengan panik.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan mencoba membuka pintu itu tetapi terkunci. Kuncinya masih ada di tas kecil Joly. Ella memang sengaja tidak mengambil kuncinya walaupun dia tahu benda itu ada di sana. Dia memang akan membuat drama mengasyikan.
__ADS_1
Pelayan telah pergi meminta bantuan pada Manajer dan juga Brand. Itu terdengar dari suara Brand yang memanggil nama Elleane berulang kali.
"Aku terkunci di dalam sini bersama gadis yang duduk di seberang meja tadi, Kak"
Brandon mencoba membukanya dan benar saja memang terkunci. Jadi dia meminta kunci duplikatnya dari Manajer agar bisa membuka pintu.
"Syukurlah kau baik-baik saja" Brand memeluk Ella erat lalu membolak-balikan Ella melihat apakah dia terluka atau tidak.
"Dia yang terluka karena mencoba menjambakku tadi. Aku refleks bergerak sehingga dia menabrak kaca. Aku rasa wajahnya hancur sekarang"
"Baguslah kalau benar-benar sangat rusak sehingga dia malu untuk bertemu denganku. Dia gadis yang sangat menjengkelkan. Aku beberapa kali ingin meledakkan kepalanya"
"Ellaa.... Kau baik-baik saja?" Brenda yang baru datang langsung memeluk Ella dengan erat. Menyingkirkan tangan kakaknya yang tadi mengelus kepala Ella.
"Kau memanggilnya siapa tadi?"
"Ella..." Jawab Brenda cepat. Sejurus kemudian dia mengatupkan mulutnya rapat.
"Kenapa memanggilnya begitu? Seperti nama orang lain saja" Brandon jadi sewot sendiri.
Brenda memandang heran kakaknya ini yang biasanya galak kenapa memandang Ella dengan tatapan selembut salju itu... Heh, lembut tapi tetap saja dingin. Brrrrr....
"Karena lebih mudah memanggilnya begitu"
"Itu nama kecilku" sambung Ella cepat sambil tersenyum.
Brandon malas mengubris dia malah menelepon ambulans agar segera membawa Joly yang memang berdarah cukup banyak. Ella tiba-tiba rubuh di pelukan Brandon membuat suasana semakin panas. Brandon sigap menangkap Ella dan menggendongnya menuju parkiran.
Ambulans dan mobil yang dikendarai Brandon membelah jalanan kota itu dengan kecepatan di atas rata-rata.
Ella membuka matanya pelan melirik Brenda yang serius menatap jalanan. Brenda refleks menatap padanya membuat Ella memejamkan matanya lagi tapi sudah lebih dulu diketahui Brenda bahwa Ella ternyata berakting.
Brenda ingin tertawa melihat gadis yang tidur dipangkuannya ini tadi membuat seisi restoran heboh karena pingsan di toilet yang terkunci.
__ADS_1
Ayah dan ibunya Joly juga panik mengetahui putri mereka terluka. Pembahasan perjodohan Brandon dan Joly akhirnya tertunda lagi membuat Tuan Urmato menggeram kesal.
Sial! Umpatnya kesal di dalam hati.