Sellena

Sellena
Abal-abal


__ADS_3

Ketika dua orang dengan hati penuh ikhlas menjalin sebuah hubungan. Hubungan persahabatan yang indah tanpa dicemari dengan rasa iri tapi mampu membuat orang lain merasa dengki. Ada saja yang ingin mereka berpisah agar masing-masing bisa di bully.


Setelah sekian lama mengawasi keadaan, Clara mulai menjalankan rencananya. Jika Brenda tidak bisa dibully maka seharusnya Elleane bisa kan? Toh dia hanya gadis kecil yang datang berkuliah tanpa dikawal.


Sehebat apapun Pengawal milik Keluarga Willem jika tidak berada di dekat Nona Besar mereka maka penculikan pasti akan sukses besar.


"Hmpppp.... mmmm.. mmmm.." Lakban yang membekap mulut Ella membuatnya kesulitan berteriak. Dengan sendirinya air mata mengaliri wajah mulusnya.


"Diam!!" Bentak seorang penjahat yang memiliki codet di leher dan punggung tangannya.


Samar-samar Ella mendengar beberapa anak juga ikutan menangis karena mendengar tangisannya.


Astaga, obat bius mereka membuatku tertidur seharian penuh. Kenapa mereka membawaku ke negara ini? Ella sudah bisa menganalisa dimana dia berada karena saat membuka mata, Camael diaktifkan.


Setelah melihat bahwa keadaannya memungkinkan, Ella berusaha menggapai bagian samping sepatunya yang memiliki ruang untuk menyimpan robot kecil. Semua robot langsung keluar kemudian menyebar ke tempat itu untuk menganalisis keadaan dan jalur evakuasi.


Satu robot naik menuju lehernya dan menyuntikan obat penawar yang bisa bertahan selama 48 jam. Ella bisa terhindar dari racun, obat bius maupun obat perangsang dalam dosis tinggi. Kemarin dia lupa menyuntikannya sehingga berakhir diculik seperti ini. Tapi memang ini bagian dari rencananya.


Si robot yang sudah selesai menyuntikkan obat penawar langsung bersembunyi di baju Ella untuk menjadi kamera yang bisa memonitor bagian belakang Ella.


Mereka membawa kami semua ke luar negeri. Apa mungkin kami akan diperdagangkan? Banyak sekali anak gadis. Ella memonitor semua ruangan melalui lensa matanya.


"Camael, bantu aku menekan pin milik Black Rose, hubungi Steven agar ia bisa memberitahu Tuan Willem bahwa aku diculik" Bisik Ella pada Camael yang sekarang dalam mode lensa di matanya.


Camael segera memerintahkan robot penyuntik tadi untuk menekan pin yang tergantung di leher Ella sedangkan ia sendiri menghubungi Steven.


***


"Kemana Ella? Kenapa belum sampai juga? Jika ini hari tidak datang berarti dua hari dia membolos" Tiba-tiba saja Brenda memiliki firasat tidak enak sehingga dia pun memutar langkahnya menuju parkiran mobil sambil menelepon kakaknya agar menjemputnya kembali.


Ting! Notif masuk di dalam telepon genggamnya. Sebuah pesan darurat yang membawa serta logo Black Rose yang berarti salah seorang anggota mereka terkena masalah.


"Kak, kenapa lama sekali?"


"Kenapa kau bolos hah?" Tanya Brandon kesal.


"Elleane menghilang dan mungkin saja sedang membutuhkan bantuan kita"


"Kenapa kau berikan cip itu padanya? Bisa saja dia sedang memancing kita agar bisa menghancurkan kita"


"Ayohlah Kak, aku sangat percaya padanya. Dia itu anaknya Tuan Cezare Marcosta Willem jadi tidak mungkin bermusuhan dengan kita karena selama ini kita merupakan penyedia peralatan senjata untuk mereka. Yah sepertinya Elleane tidak tahu soal ini"


"Baiklah. Karena dia pernah menolongmu maka kali ini aku pasti menolongnya. Kerahkan anak buah kita di daerah tersebut. Kita akan langsung berangkat menggunakan helikopter"


Setelah semuanya siap, mereka langsung berangkat menuju tempat Ella ditawan.


***

__ADS_1


Butuh waktu beberapa jam agar para penyelamat tiba. Ella sudah menyuruh Camael memberitahu Steven di mana saja posisi para penjahat.


"Hey kau, bangun!!" Salah satu penjahat menjambak rambut Ella dan membuatnya menengadah. Mereka memasukan sebuah pil yanh sekiranya adalah pil perangsang.


Cih! Penjahat dari dulu cara mainnya sama saja seperti ini. Membosankan!! Cibir Ella karena para penjahat tidak ada kemajuan dalam melakonkan peran mereka.


"Kita tunggu sebentar pasti dia akan memohon kita untuk bermain bersamanya"


Mereka terkekeh dengan tawa yang menjijikan. Ella dalam hatinya bertanya bagaimana dia harus berakting sedang dipengaruhi obat? Masalahnya dia sudah disuntik penawar tadi sehingga percuma saja pil yang mereka berikan.


"Coba kau cek dia" Perintah bos mereka melihat Ella tidak ada reaksi sama sekali.


"Dia tertidur"


"Apa kau salah memberinya obat?"


"Maaf bos"


Plak. Tamparan yang nyaring terdengar menggema.


Hihihi... Enakkan kena tampar bos? Ella ingin menertawai si penjahat hanya saja dia masih harus berakting. Dia menahan senyumannya sekuat tenaga. Ah, dasar Ella humor recehan.


Beberapa pil berbeda yang mereka paksa Ella minum tidak memberikan reaksi justru Ella makin lelap tertidur, mereka menjadi marah.


"Hajar dia"


Sialan nih orang-orang. Seandainya saja Elleane itu bisa berkelahi juga sepertiku, pasti sudah aku habisi kalian dari kemarin. Berakting menjadi dirinya sungguh sangat melelahkan. Hanya bisa berteriak dan menangis memohon. Ella sungguh-sungguh ingin bangun dan menghajar mereka.


***


Pasukan yang Steven bawa sudah mulai masuk dan menjelajahi tempat itu. Steven belum masuk karena dia telah diberitahu Camael bahwa akan ada orang lain yang membantu.


Tidak lama kemudian, muncullah kakak beradik itu yang sudah membawa sebuah senapan dan pisau. Brenda sendiri lebih suka menyayat daripada memberondong dengan peluru.


Anak buah Brandon juga sudah masuk dan melumpuhkan para penjahat abal-abal. Mereka yang lain sibuk membebaskan para gadis yang ditawan.


Ketika pintu terakhir dibuka, Brandon tidak menyangka menemukan harta yang selama ini dicarinya. Seorang anak buah yang sudah menghianatinya sedang mencoba melecehkan Elleane.


Prok prok prok. Brandon bertepuk tangan dan masuk lalu duduk di salah satu kursi yang tersedia. Asiknya Brenda segera mendekat ke arah Elleane sedangkan Steven mengunci pintu.


"Lama tak jumpa kau makin berani ternyata. Aku lupa namamu... Bren, siapa namanya?"


"Hiro"


"Oh yah Hiro... Apa kau tidak memandang wajahku sehingga bermain kotor di daerah kekuasaanku? Peringatanku waktu itu belum cukup?"


Hiro nampak bingung karena dia menangkap gadis yang sama sekali tidak berhubungan dengan Mantan Bosnya, Brandon.

__ADS_1


Mampus aku. Aku tidak mencaritahu asal usul gadis ini terlebih dahulu. Sebagai penjahat yang baru setahun beraksi, Hiro masih berada di bawah tekanan Brandon. Dia hanya terlalu bodoh waktu itu sehingga berkhianat.


Tak! Salah satu anak buah Hiro jatuh tergeletak di lantai dengan kepala yang sudah berlubang. Brandon memainkan senjatanya tanpa terlihat oleh Hiro.


"Apa kau juga ingin seperti dia? Karena orang mati pasti tidak akan menjawab pertanyaan, benarkan?"


Lumayan sadis, aku suka. Tapi tidak lebih sadis daripada Edgarku. Ella mengingat kembali saat hari pertama dia masuk markas di negara A, dia lewat ruangan penyiksaan. Bagaimana Edgar mencabuti kuku mereka satu persatu. Teriakan dan tangisan bagaikan nyanyian selamat tidur.


Sekali tembak, mati. Tidak akan merasakan kesakitan. Sedangkan mencabuti kuku satu persatu atau memotong lidah, sungguh penyiksaan yang memberikan rasa sakit tiada akhir.


"Kami menerima tawaran kerja sama dari seseorang untuk menculik gadis ini"


"Siapa dia?"


"Kami tidak tahu secara pasti hanya saja aku masih menyimpan nomor teleponnya"


"Kalau begitu telepon dia dan katakan semua sudah beres"


Dengan gemetar, Hiro mendial nomor tersebut. Tidak lama kemudian, seorang perempuan mengangkatnya.


"Bagaimana? Kalian berhasil menjualnya?"


"Sudah Nona. Bagaimana dengan pembayaran?"


"Aku sudah mentransfer sesuai kesepakatan kita. Aku ada tugas lagi. Kalian culik Brenda, gadis yang berada di sebelah Elleane. Jual juga dia seperti Elleane. Atau mungkin kalian bisa bermain-main dengannya. Kirimkan videonya padaku, ok?"


Mendengar namanya disebut, seketik emosi Brenda memuncak. Jika saja kakaknya tidak menyuruhnya menyembunyikan kemampuan, sudah dia bantai si Clara saat pertama kali dibully.


"Baik Nona"


Setelah mematikan panggilan itu, Hiro tidak ingin menatap wajah Brandon.


" Sepertinya hanya orang dekat saja. Jadi kalian ingin aku yang menghukum atau dia?" Tunjuk Brandon pada Steven.


Lebih baik ikut Tuan Muda Brandon saja. Melihat orang ini aku justru merasa tercekik. Pikir Hiro


"Ayo jawab!!!" Gebrakan tangan Brandon di meja membuat jantung Hiro meloncat dan menari ria.


"Tuan Muda saja"


Steven yang sedari tadi diam hanya menatap Ella yang tertidur damai dengan wajah memar, lengan terkelupas dan juga rok yang sedikit terangkat.


Tak tak tak. Tiga anak buah Hiro jatuh tertidur selamanya. Brandon suka sekali memainkan senjatanya tanpa pemberitahuan. Hiro gemetar ketakutan hingga mengompol.


"Cih! Masih suka mengompol tapi ingin jadi penjahat. Membuat malu perserikatan para penjahat saja" cibir Brenda yang juga sedari tadi diam.


Steven membuka pintu dan membiarkan anak buah Brandon masuk untuk membawa Hiro keluar setelah dibuat pingsan.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Ella tiba-tiba pingsan. Steven bergegas membalut tubuh Ella dengan jaketnya kemudian menggendongnya keluar.


__ADS_2