Sellena

Sellena
Menjual Informasi


__ADS_3

"Kenapa kau membiarkan dirimu diculik?"


Belum juga duduk, sebuah pertanyaan membuat Ella menoleh pada Steven.


"Awalnya dengan begitu, aku bisa membuat Tuan Willem tahu bahwa aku anaknya tapi karena aku hanyalah sebuah pion sampai akhir, aku tidak akan pernah lagi mengungkit hal ini. Aku ingin menutup akses data kelahiranku. Biarlah selamanya menjadi misteri"


"El, tidak sesederhana perkataanmu. Aku tahu ada maksud yang lain lagi dibalik tindakanmu"


Steven bangkit lalu menggendong Ella. Meletakannya dipangkuan lalu mengelus pelan rambutnya. Sekuat apapun gadis itu, dia tetaplah gadis remaja yang butuh perhatian lebih.


"Hanya mencari lebih banyak relasi. Black Rose Queen merupakan suplier terbesar kita. Aku juga sempat kaget saat Brenda memberikanku pin itu. Ternyata status Brenda sangatlah luar biasa. Di kampus, ada seorang yang selalu berusaha mencelakai Brenda. Nah dia menculikku, berpikir aku lemah. Aku ikut berakting dengannya. Membiarkan dia senang karena berhasil menyingkirkan aku"


"Tapi kau kenapa membiarkan mereka menyiksamu?"


"Coba kau pikir. Apakah Elleane bisa bela diri? Dia adalah nona besar perfectionis yang hanya tahu berdandan. Jika aku melawan mereka, pastilah mereka akan semakin waspada"


"Ingat cukup kali ini aku toleran terhadap penculikanmu. Untung saja kau sudah sembuh sehingga tidak terjadi pendarahan lagi"


"Berikan aku data check up dari Rumah Sakit kemarin. Aku ingin melihat status kesehatanku. Bisa jadi penyakit itu muncul lagi tanpa kita sadari"


"Akan kuambilkan nanti. Sekarang istirahatlah karena kau harus pergi menemui bayi-bayimu. Beberapa hari tanpamu, mereka tidak makan dengan baik"


Astaga aku lupa jika aku punya dua bayi. Kasihan mereka.


Ella melompat turun dan segera berlalu menuju kamar Thea dan Theo tanpa mempedulikan protes Steven.


***


"Sayangku berdua, apa kabar? Mami sangat merindukan kalian berdua"


Ella meraih Theo terlebih dahulu dari pembaringan dan mulai mengecup pipinya. Theo tersenyum senang. Gantian Thea juga dihujani ciuman.


"Kau hanya menciumi mereka berdua tapi aku dicuekin" Steven manyun.


Sebelumnya dia telah mengusir para pengasuh keluar agar waktu berempat mereka tidak terganggu.


"Kau juga ingin?"


Steven mengangguk antusias. Ella maju kemudian mengecup pelan pipi Steven. Cukup lama hingga Steven menahan napasnya. Dia bisa merasakan wajahnya terbakar. Ella tersenyum dan memeluk Steven.


"Terimakasih karena masih menjadi pendukung terbesarku"


"Sama-sama"


Steven balas memeluk Ella dengan erat seolah-olah waktu berduaan hanyalah hari itu saja.


"Ayo ajak bayi kita berkeliling markas. Mereka pasti senang berkenalan dengan para ksatria"


"Ide bagus" Steven mengiyakan permintaan Ella.

__ADS_1


Jadilah hari itu mereka habiskan dengan menjelajahi markas memperkenalkan Thea dan Theo pada para prajurit.


Banyak yang antusias dan meminta menggendong dua bayi itu bergantian.


***


"Syukurlah kau sudah datang"


"Hehehe... Memangnya kenapa?"


"Seandainya kau tidak datang, mungkin aku akan mengebom rumah ayahmu"


"Dia bukan ayahku jadi dia tidak bisa melarang apa yang ingin aku lakukan"


"Apa kau marah padanya sehingga mengatakan itu?"


"Tidak juga. Dia bukan ayahku karena sesungguhnya aku bukanlah Elleane. Aku hanya penggantinya" ucap Ella tersenyum.


Benar juga kenapa aku tidak menyadari itu yah? Elleane tidak akan mau berteman dengan gadis yang selalu dibully sepertiku. Brenda sudah menemukan jawabannya.


"Jadi siapa kau sebenarnya?"


"Aku Arquiela Roberto Simmons"


"Bukan Simmons dari Arthur Simmons kan?"


"Kau tahu tentang Ayah?"


"Benar. Aku hanya putri angkat saja. Tapi sampai sekarang masih menggunakan nama Keluarga itu karena terlalu repot untuk mengganti nama lagi"


"Tapi kau benar-benar mirip Elleane. Nah, dimana gadis itu sekarang kalau begitu?"


"Rahasia" Ella mengedipkan matanya.


"Baiklah. Aku beli informasi itu dengan pin ini" Brenda menyodorkan pin anggota Black Rose Queen.


"Kau kan pernah memberiku. Ini masih ada"


Gadis ini sangat menghargai pemberian orang lain ternyata. Brenda kaget Ella menggunakannya sebagai kalung.


"Kalau begitu, ini!"


"Wakil Ketua? Kakakmu akan mencekikmu begitu tahu kau sembarang mengangkat Wakil"


"Lagipula geng itu milikku. Kakak punya geng sendiri lagi. Black King"


"Informasi ini sangat rahasia jadi....."


"Jadi apa? Ya Sudah!! Jadi Ketua geng BRQ sehingga kau juga bisa menjadi salah satu Wakil Ketua Black King"

__ADS_1


Sungguh ini adalah penawaran yang sangatlah menggiurkan. Tidak sembarang orang bisa menjadi anggota Black King. Tapi Ella mendapatkannya dengan cukup mudah.


Brenda segera meraih kalung Ella dan mengganti liontinnya dengan pin berwarna emas kehitaman. Sedangkan anting ditelinga Brenda juga sudah berpindah tempat ke telinga Ella. Tapi baru sebelah, Ella menghindar dengan cepat membuat Brenda kesusahan memasangkannya.


"Hey... hey... apa yang kau lakukan hah?"


"Membuatmu menjual informasi. Jiwa ingin tahuku memberontak minta dipuaskan"


"Aku kan belum menyetujui tawar menawar kita?"


"Bagaimana kalau menjadi Wakil Presdir? Rizon's Corp cukup besar dan mampu bersaing dengan Willem's Corp" ucap Brenda dengan mata berbinar dan yakin jika Ella tergiur.


"Apa diwajahku ini tertulis gadis matre hah!?" Ella menoyor kepala Brenda pelan.


"Hahaha... Tidak"


"Aku tidak tergiur untuk menjadi Wakil Presdir yang membosankan itu. Perusahaanku di negara I saja aku tinggalkan karena harus berakting di sini menjadi Elleane"


"Lalu apa yang kau inginkan? Sangat susah membujukmu. Aku yakin kau tidak kekurangan uang juga"


"Benar sekali. Harta kekayaan di negara asalku bisa mencapai tiga perempat total harta Tuan Willem. Hanya kurang dukungan saja. Jadi aku akan mengambil pin dan anting ini sebagai imbalan informasinya"


"Bagus.. Bagus... Ayo katakan di mana Elleane?"


"Oh, dia sedang Koma dan disembunyikan di salah satu markas Tuan Willem"


"Lalu kenapa kau bisa menjadi dirinya? Menggantikannya? Apa ada orang lain yang tahu?"


"Hanya Steven dan dirimu. Jadi aku harap informasi ini tidak bocor"


"Wah aku tersanjung kalau begitu. Nah, apa hubunganmu dengan Steven?"


"Hahaha... Kekasih masa kecil? Em... yah begitulah"


"Apa kalian pernah begituan?"


"Begitu apa??"


"Seperti ini..." Brenda menyatukan ujung jari-jarinya.


"Hahha.. Kami sering"


"Wah kau sangat jujur"


"Lalu kau? Apa ada pria yang kau sukai?"


"Em... itu... itu... Ayohlah, sudah mulai mata kuliahnya"


"Sejak kapan kita sekelas hah!??" Teriak Ella mengejar Brenda yang sudah kabur dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Sejak hari ini"


__ADS_2