
"Berhenti menangis. Wajahmu akan seperti panda" Emma tidak tega melihat betapa sembab wajah Ella sekarang. Dia tidak mudah menangis tapi sekarang dia benar-benar terpuruk.
"Antarkan aku ke markas. Aku ingin melakukan perawatan di sana"
Gio segera melajukan mobil menuju Mansion Keluarga Simmons. Masih ingatkan saat Keluarga Simmons bangkrut? Orang yang membeli mansion itu adalah Ella sendiri dengan bantuan pengacara Mommy-nya. Tempat itu telah diubah menjadi markas dan tempat riset teknologi muktahir.
Mobil diparkir di garasi. Ella masuk melalui pintu khusus sedangkan Emma lebih memilih membuntuti Gio menuju tempat latihan. Sudah lama dia tidak merenggangkan otot dan menghajar bawahannya. Kepala keamanan menyambutnya ramah.
"Selamat pagi Ketua" Chen atau RK- 02 menyapa dengan hormat.
"Chen, ayo bertarung!" Ajakan nonanya seketika membuat Chen membulatkan matanya.
"Em, maafkan saya karena hari ini saya akan bertugas menjadi bayangan sehingga nona bisa berlatih bersama RK-03" Chen memilih menghindar dari amukan nonanya.
"Pesta dimulai jam 7 jadi ayo berlatih saja. Ajarkan aku menggunakan sumpit"
"Bukankah nona mahir menggunakannya?" Heran Chen.
"Menggunakan sumpit untuk membunuh orang belum aku pelajari darimu. Jangan membantah. Atau kau ingin Nona Besar yang mengajakmu? Aku jamin kau akan disiksanya habis-habisan" Emma atau RK-01 masih berusaha membujuk Chen dengan menjual nama Ella. Dia harap Ella tidak marah sebab ketika berada di markas, Ella berubah dingin.
"Baiklah" Jawab Chen lemah tidak sesuai dengan wajahnya yang tampan dan sedikit menakutkan apabila marah.
***
"Nona Besar....." Sapa RK-06 dengan manja pada Ella.
"Berhenti bersikap manja dan siapkan perawatan untukku. Kita akan mengadakan pertunjukan dramatis malam ini. Ini gunakan Camael untuk meretas CCTV hotel. Aku harap aku mendapatkan informasi penting" Ella menyodorkan tablet dengan wajah galaknya.
Nonaku yang imut ini kenapa galak sekali? Bathin RK-06 atau sebut saja dia Venus bertanya. Pria cantik dengan tindik di telinganya ini mahir meretas sama seperti Gio tapi keunggulan lainnya adalah dia mampu menciptakan beberapa virus yang akan langsung melumpuhkan kinerja komputer.
(Ok. Otor tidak akan melantur lagi. Back to the story π)
"Venus... Kau harus menjadi perempuan malam ini"
"What? Uhuk!!" Venus tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perintah Ella.
Aku tidak salah dengarkan? Apa nona akan mengoperasi perkututku ini?
"Nona, aku masih normal. Aku bahkan menyukai perempuan"
"Aku mau mengubahnya menjadi Cucakrowo"
"Aku mohon nona jangan mengoperasiku. Aku akan turuti semua kemauan nona. Apapun itu tapi biarkan dia tetap menjadi perkutut kesayanganku"
"Benar? Semua kemauanku? Tapi siapa yang mau mengoperasimu, hah!? Aku hanya ingin kau didandan menjadi perempuan dan dekati Richard lalu menaruh ini di sakunya"
"Eh? Aku terpedaya. Tapi pakaian dalam? Aku pegang punya siapa ini? ikhh!" Tatapan jijik terpatri jelas di wajah Venus.
"Milik Adriana.Ada tulisan namanya juga. Pria akan sulit mendekati Richard jadi kau yang kebetulan cantik akan sesuai seleranya. Aku harap kau tidak diperk*s* melihat betapa bernafsunya Richard didekat gadis cantik. Heh!?? Buat apa aku peduli? Kau bahkan bukan gadis"
"Nona tega padaku? Aku masih polos. Berciuman saja belum pernah. Aku..." Belum selesai bicara para MUA segera menarik Venus pergi untuk mendandaninya.
"Uwahhhh... Sakit... Jangan sentuh di sana... Akhhh! Aku tidak tahan lagi... Jangan! Nona aku mohon ampuni aku!!! Tolong... Buluku...." Begitulah teriakan kesengsaraan seorang Venus.
"Apa kau mendengar teriakan Venus? Apa dia dilecehkan? Lagipula siapa yang berani padanya? Mungkin aku salah dengar" Emma kembali melanjutkan permainan sumpitnya bersama Chen.
Ella masih menikmati pijatan di seluruh tubuhnya sambil terkikik geli mendengar teriakan kesakitan Venus. Dia tahu bahwa bulu kaki Venus sedang di bersihkan makanya dia berteriak seperti itu.
***
"Dimana MUA yang akan meriasku?" Ella sudah marah-marah sejak tadi sebab sudah 1 jam dia menunggu tapi tidak ada satupun yang datang. Tinggal 2 jam Acara akan dimulai.
"Ini mereka" Emma menunjuk beberapa orang yang mengaku sebagai MUA.
__ADS_1
"Cepat rias aku!" Ella sudah geram sendiri tahu apa yang terjadi.
Adriana, awas kau! Seketika Adriana merasa merinding.
Satu setengah jam kemudian mereka selesai berdandan. MUA segera keluar dari ruang makeup. Ketika melihat cermin, Ella tidak percaya melihat wajahnya.
"Omegat. Ini wajah mak lampir atau pemeran zombie?" Ella kaget sendiri melihat riasan yang bertengger di wajahnya. Dia tidak kalah ngakak melihat Emma yang sama mengenaskan dengan dirinya. Alis mata Emma bengkok.
Plok! Sekali tepukan tangannya, beberapa orang entah darimana datangnya segera merapikan riasan di wajah Ella. Sekarang, Ella nampak sangat cantik.
"Inilah wajah bidadari yang sesungguhnya. Bereskan orang-orang tadi. Jangan tinggalkan jejak. Kirim saja peralatan kosmetik mereka ke kamar Adriana dan juga jari jempol mereka. Aku ingin lihat sejauh mana dia mau bermain-main denganku" Ucap Ella bangga pada wajahnya tapi kemudian matanya berubah ganas.
MUA yang bertugas segera menghilang dari hadapannya. Emma memuji kecantikan Ella yang terpancar secara alami. Dia benar-benar kagum dan berharap suatu saat dia bisa berada di posisi yang sama. Tapi tidak dengan perintah Ella barusan. Emma sedikit merinding.
***
Ella dengan gaun birunya berjalan menuju Richard yang sudah menunggunya. Dia melangkah dengan anggun tak lupa senyuman manis senantiasa menghiasi wajahnya. Make up yang dipakaikan benar-benar sangat memancarkan kecantikan alaminya. Richard mengulurkan tangannya dan Ella segera menyambutnya.
Di sisi lain, Adriana nampak sangat marah. Orang suruhan yang disewanya tadi justru membuat Ella sangat cantik. Dia saja yang tidak tahu bahwa anak buah milik Ella yang membereskan mereka. Tinggal menunggu kejutan kecil di kamarnya.
Nick nampak tampan dengan kemeja putih. Jasnya entah dia lemparkan di mana dan Ella tidak terlalu peduli. Dia hanya ingin fokus ke acara pertunangannya.
"Selamat malam hadirin sekalian, malam ini kita akan melangsungkan sebuah pesta bersejarah antara Keluarga Derbaltroz dan Keluarga Roberto. Dua insan di keluarga ini saling terjerat dalam cinta dan akan segera melangsungkan acara pertunangan mereka" MC bicara basa-basi dan membuat Ella sedikit menguap malas.
"Mari kita sambut kedua insan yang berbahagia. Kalian bisa bertukar cincin sekarang"
Richard segera mengambil cincin dan menyematnya di jari manis Ella begitupun sebaliknya dan resmilah mereka bertunangan saat ini.
Hanya begini saja? Aku kira ada kejutan apa. Tapi sepertinya mereka masih menyimpan rapat-rapat cakar yang ingin mencabikku. Karena kalian diam maka biarkan aku yang memimpin permainan. Ella bermonolog dalam hatinya sambil bersmirk menakutkan.
"Jadi apa maksud nona Reinar bicara seperti itu yah? Kenapa membawa nama Edgar di hari pertunanganku? Tidak lihatkah kau bahwa aku terluka akan kepergiannya dan kau sebagai sahabat seharusnya lebih peka. Ah, maafkan aku Kakak Ipar. Aku sangat tidak sopan padamu" Ella menyunggingkan senyum manis namun mematikannya seketika membuat Renay sedikit takut tapi sebuah pelukan hangat membuatnya sedikit lega.
"Ada apa sayang?" Tanya Leon lembut pada Renay.
"Ah, maaf Kakak Ipar kita bersalaman terlalu lama. Lagipula kita kan mantan sahabat sebelum semua ini. Aku harus pergi menyapa tamu lain" Ella segera berlalu tapi Leon menahan tangannya.
"El..." Panggilan lembut yang Ella dengar tidak mampu membuat jantungnya berdebar lagi.
"Ada apa Tuan Muda Simmons? Apa aku masih boleh memanggil anda Kakak? Eih tapi aku takut karena anda adalah tunangan nona Reinar sekarang. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian karena kita tidak punya hubungan darah sama sekali walaupun kita adalah Simmons yang sama"
Renay memberi kode agar Leon melepaskan tangan Ella. Dengan berat hati Leon membiarkan Ella pergi ada sedikit hatinya yang tidak rela Ella menjadi milik orang lain sedangkan dia sendiri tidak sadar dan tidak tahu malu. Dia juga sudah punya tunangan.
"Selamat Ella. Selamat masuk ke dalam permainan baru" Emma memeluk Ella dan sedikit berbisik.
"Gaun hitam seksi ini benar-benar pas di tubuhmu" Ella memuji Emma.
"Aku sedikit malu awalnya karena ini lebih pendek daripada yang aku maksud. Tapi apakah ini tidak apa-apa?" Emma seketika ingin berlari meninggalkan pesta dan mengganti baju karena banyak pasang mata memandang paha mulusnya.
"Apa pedulimu? Kau cantik. Apakah kau akan kalah bertarung dengan pria cantik di sana?"
"Siapa? Heol!? Yang benar saja? Kenapa Venus lebih cantik daripadaku?"
Wanita eh salah! bencong eh bukan juga!! Maksudnya pria cantik dengan rambut pirang dan bibir tipis itu hanya memandang Emma dari kejauhan. Sesekali di menyesap wine sambil mencari keberadaan Richard. Target ternyata duduk bersama beberapa wanita cantik. Tidak ada salahnya dia mencoba merayu. Mungkin saja Richard tertarik padanya.
Chip berbentuk softlens yang Ella pakai menampilkan visual yang sama yang dilihat oleh Venus dan juga CCTV hotel tergantung daripada perintahnya pada Camael saja.
__ADS_1
Ella melihat Venus mendekati Richard dan duduk tidak jauh dari Richard sambil mengelus pelan kakinya yang pegal. Richard merasa teralihkan dengan penampilan Venus saat ini. Apalagi paha mulusnya terlihat dari sela roknya yang sedikit tersingkap. Richard tidak tahu saja bahwa ke atas sedikit ada cucakrowo mengeram yang sama seperti miliknya.
Richard menoleh sana-sini mencari keberadaan Ella. Sadar bahwa Richard mencarinya, Ella segera berbalik badan lalu sibuk bersalaman dengan teman-temannya dari William's High School.
Merasa sudah aman dan Ella yang sibuk, Richard mendekati Venus. Dia sengaja duduk disampingnya dan menumpahkan sedikit wine ke atas paha Venus.
Sial. Basah sudah rok kesayangan nona. Noda ini akan sulit dibersihkan. Dasar laki-laki Alligator. Venus hanya menelan kemarahannya ke dalam lambung dan membiarkan Richard mengelap paha mulusnya.
"Maafkan aku nona, aku tidak sengaja"
Sebenarnya sengaja karena kau sangat cantik. Richard
"Tidak apa-apa. Aku mungkin harus mengganti baju"
"Apakah aku boleh mengantarmu? Aku punya sapu tangan yang bisa mengeringkan pahamu"
Menjijikan. Air liurnya hampir saja meluber melihat betapa mulusnya pahaku. Dia tidak tahu bahwa tadi aku meraung kesakitan karena buluku dibotakin.
"Boleh. Ayo ke tempat agak sepi agar kau bisa membantu aku melapnya" Venus segera berdiri tapi Richard mencegahnya.
"Aku duluan. Cari aku di tempat yang ada lukisannya. Aku menunggumu cantik" Richard menoel dagu Venus.
Syukur mereka sudah mencukur dan memakaikanku masker yang membuat wajahku sangat lembut. Venus meraba dagunya yang tidak terdapat bulu lagi di sana.
"Berhati-hatilah, Six. Nafsu orang itu sangat tinggi. Tidak lucu kan perkutut ketemu cucakrowo?" Pesan suara Ella yang keluar melalui microfon berbentuk jepit rambut di samping telinganya. Venus tahu nona Besarnya sedang menertawainya puas-puas di ujung sana.
Venus mendekati Richard. Ruangan itu sangat sepi karena memang private room tulisan di pintu luar ruangan itu. Richard segera melap paha Venus dengan saputangan miliknya. Setelah selesai, dia mengecup pelan paha mulus itu. Tidak puas, dia menjilat sisa wine dan Venus mengeluarkan sedikit suara erangan. Seketika Richard menegang. Suara Venus sangat seksi. Padahal aslinya barithon.
Venus merebut sapu tangan yang dipegang Richard kemudian menjatuhkannya di sofa. Dia segera duduk di atas paha Richard. Tangan nakalnya menyelipkan kembali saputangan itu kedalam saku celana Richard. Gesekan antara paha dan perkututnya membuat dia memerah. Sesungguhnya Venus memaki Richard setengah mati karena Richard berusaha mencium lehernya.
Akhirnya sebuah senyuman aneh keluar dari bibir seksi Venus kala seorang wanita masuk dan segera menampar Richard. Tebak siapa dia? Tentu saja dia Adriana. Venus segera melompat turun dan keluar ruangan.
Nona harus memberiku kompensasi yang besar dan aku ingin mandi kembang. Akh! Jijik!!!!!! Venus menendang sembarangan sehingga sepatunya terlepas dan jatuh tepat di atas kepala Nick.
Sial diriku yang cantik ini. Haish bukan aku tampan berlebihan. Puji Venus pada dirinya sendiri sambil berdoa dia tidak di mutalasi oleh Nick.
"Maafkan saya Tuan Muda. Sepatu saya longgar"
"Tidak apa. Untung cantik" Nick penuh senyuman. Dia berlutut dan memasang kembali sepatu di kaki Venus.
"Aku tidak punya apapun untuk membalas anda. Bagaimana kalau sebuah pelukan?"
"Boleh" Nick langsung menerima tawaran itu. Lagipula Venus kan gadis yang sangat cantik. Lebih cantik daripada Warisan Berjalannya.
Mission Clear. Satu kali jalan, dua orang tumbang. Venus tersenyum manis sambil menggenggam handphone milik Nick. Dia adalah pencuri profesional.
Venus segera pamit dan pergi dari situ secepatnya karena dia ingin mandi kembang 7 rupa setelah di cumbu dan di peluk oleh dua perkutut sialan itu.
Ella tersenyum senang. Tidak sia-sia dia merekrut pencuri kecil yang sayangnya tampan dan lebih cantik darinya di saat bersamaan.
"Emma, Let's play hard"
Dan sesuatu kemudian terjadi dan menimbulkan kehebohan di pesta pertunangan itu. Tunggu saja kelanjutannya karena Ella memerintahkan Otor supaya tidur sambil bersemedi siapatahu besok bisa up.
*Mohon maaf apabila ada yang tersinggung dengan cerita saya di atas.
*Jangan di bawa masuk ke dalam hati nanti jadi racun. Ini semata hanya untuk hiburan saja.
*Berikan like, komen dan vote yang banyak yah karena Otor berbaik hati menampilkan visual yang entah sesuai atau tidak dengan hati Reader.
Salam ELughtaππ
__ADS_1