Sellena

Sellena
Bekas


__ADS_3

Di pagi hari setelah bangun, Ella menatap kamar rumah sakit mencari keberadaan Edgar. Edgar masih terlelap di sofa. Ketika akan turun, sebuah tangan melingkar dengan posesif di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Emma? Emma makin mengeratkan pelukannya saat tau bantal gulingnya mulai menjauh. Teman tak punya akhlak memang ini. Bagaimana bisa seorang pasien di jadikan bantal guling?


Ella menengok infus yang masih tersisa sedikit. Dia mengerang tertahan saat melihat masih ada sedikit ruam di kulitnya. Mungkin hari ini dia akan ijin saja tidak usah ke sekolah. Tapi dua orang ini harus di bangunkan agar ke sekolah.


Ella berusaha membangunkan Emma dengan menepuk pelan pipinya tapi Emma tidak bergeming. Satu-satunya cara adalah...


"Emma, Edgar membelikan kita burger. Jika kau tak bangun maka sisa burger ini kuhabiskan"


Tak lama kemudian Emma tersentak bangun dan membuka matanya malas. Tapi kata "burger" mengalahkan kantuknya. Dia mencari keberadaan burger yang mengganggu mimpi indahnya bersama artis Korea.


"Mana burgernya, El?" Tanya Emma dengan wajah kesal


"Oh, masih di kafe. Dia menunggumu bangun untuk melahapnya" Jawab Ella tanpa dosa.


"El......" Teriakan Emma membangunkan Edgar. Wajah Ed masih sedikit linglung. Dia bangun kemudian duduk di sofa dan memandang dua gadis pengganggu tidurnya.


"Bisakah kalian tidak berteriak saat tengah malam? Kalian mungkin dikira dikejar hantu oleh pasien lain"


"Ha?? Selamat pagi Tuan Muda Dhawn. Tengoklah jam di dinding. Pukul berapakah itu? Dan dengarkan deru mesin mobil di luar rumah sakit ini. Sekarang Pukul 7 tepat. Tapi lanjutkan saja mimpi indah kalian berdua. Aku ingin ke kamar mandi"


"Astaga. Kita akan terlambat ke sekolah jika begini. Tenang, sabar. Ha... Minta asisten mengantarkan baju ke sini. Lalu kalian berdua??" Edgar mengambil handphone kemudian menghubungi asisten rumahnya.


Sejak kapan Edgar takut terlambat? Emma heran tapi malas untuk bertanya.


"Aku tidak mungkin masuk sekolah dengan keadaan seperti ini kan? Kalian berdua yang pergi saja ke sekolah"


"Tapi kalau kau tidak ke sekolah, semua ini akan terlihat mencurigakan. Bagaimana luka kecil membuatmu menginap 2 hari di rumah sakit" Emma turun dari tempat tidur kemudian duduk di samping Edgar.


"Itu akan di bahas nanti. Aku perlu ke kamar mandi. Emma, bantu aku"


Emma membantu Ella menurunkan botol infus kemudian membiarkan Ella menyelesaikan urusannya. Dia menunggu di luar bersama Edgar.


Saat Ella di kamar mandi, Layla datang membawa dua paperbag. Satunya berisi seragam sekolah dan satunya adalah sarapan mereka. Layla langsung pamit karena dia ada jadwal pagi ini. Layla adalah salah satu dokter rumah sakit itu yang juga merahasiakan penyakit Ella dari orang luar.


"El, lebih baik langsung mandi. Kak Layla datang mengantarkan seragam kita. Ini ambillah" Teriak Emma dari luar pintu kamar mandi. Ella hanya menjulurkan tangannya dan mengambil paperbag yang disodorkan Emma.


Asisten Edgar juga datang membawa pakaian Tuan Mudanya. Edgar pamit pada Emma. Dia akan mandi di Kamar Mandi di ruangannya dokter Raymond.


Emma segera masuk kamar mandi begitu Ella keluar. Sudah hampir jam setengah 8 saat itu. Dia mandi dengar terburu-buru. Untungnya Layla menaruh bedak di paperbag itu sehingga Emma bisa memakainya untuk menutupi matanya yang sedikit bengkak. Beda dengan Ella yang tampak cantik natural tanpa polesan makeup.


"Selamat pagi nona Roberto. Aku akan mengecek keadaanmu."


"Silahkan, Kak"


Setelah berkutat dengan Stetoskop, dan melihat ruam di tubuh Ella, dokter muda itu tersenyum.

__ADS_1


"Kau semakin baik. Ruam ini akan hilang sebentar lagi. Pendarahan kemarin juga tidak terlalu banyak. Hanya saja Edgar benar-benar khawatir padamu. Aku harap kau akan sembuh secepatnya"


"Jadi aku bisa ke sekolah kan hari ini?"


"Tentu saja. Tapi hati-hati dengan luka di jarimu. Jangan sampai berdarah lagi. Lusa kau bisa datang untuk mengganti perban"


"Em, Kak Layla kan dokter juga, apa bisa aku menyuruh Kak Layla saja yang menggantinya?"


"Aku lupa kau punya kakak dokter. Ya baiklah"


Dokter Raymond langsung menyuruh perawat untuk melepaskan infus dari tangan Ella.


"Hay kak" sapa Emma karena dia baru keluar dari kamar mandi.


"Oh Emma. Aku harap kau menjaga Ella baik-baik di sekolah hari ini"


"Siap bos" Emma menghormat patuh pada dokter Raymond yang membuat semua orang tertawa kecil.


Saat dokter keluar, Edgar masuk dengan wajah segar. Dia kemudian mengajak Ella dan Emma pergi. Mereka mungkin akan makan di atas mobil. Pakaian bekas mereka di letakkan begitu saja di bagasi mobil.


***


"Fiuh,,, Untung kita tidak terlambat"


"Aku harap lain kali kau lebih pelan. Gedung sekolah ini tidak lari" Ella turun dari mobil Edgar dengan sedikit omelan. Mereka tidak jadi sarapan karena tidak memungkinkan.


" Ayo ke kelas dan sarapan" Ajak Edgar. Tahu bahwa dua gadis itu kelaparan. Dia juga sama.


Kenapa mereka santai saja tanpa membawa ras atau buku? Karena semuanya ada tersimpan di loker. Buku catatan cadangan dan beberapa buku pelajaran ada di sana. Lagipula dia dan Edgar bisa berkongsi kok.


"Hay, kalian sudah datang. Bagaimana kabarmu, El" sapa Renay begitu melihat Ella masuk.


"Aku baik. Hanya luka gores saja tapi Edgar panik luar biasa. Lihat, perban kecil di jari ini?" jawab Ella. Tapi Renay mengerti kenapa Edgar panik. Karena Ella menderita Hemofilia. Luka kecil tapi berdarah terus menerus akan menyebabkan kekurangan darah.


"Ini untukmu, pakailah. Permintaan maafku karena pelayanan yang buruk di pestaku semalam" Renay menyerahkan sweater pada Ella.


"Mana punyaku?" Emma langsung menarik sweater yang di pegang Ella tapi Renay memukul tangan Emma sedikit keras. "Aw.." pekik Emma karena tangannya nyut-nyut.


"Rasakan" Edgar malah meledek Emma. Renay segera menarik Emma duduk kemudian mencubit pipinya gemas.


"Kau kan tidak punya ruam, tidak harus pakai sweater kan? Aku traktir kau di kafe saja ya?"


Emma tersenyum kemudian mengangguk paham. Dia memeluk Renay dan berterimakasih atas perhatian sahabatnya itu pada Ella. Sedangkan di bangku belakang, Edgar sibuk membantu Ella memakai sweater untuk menutupi ruam di tubuhnya. Untung saja Adriana belum tiba saat itu. Tak lama kemudian Adriana muncul dengan senyum sumringahnya menyapa para sahabat. Mereka balas menyapanya tapi Ella sibuk dengan sarapannya.


"Kriiiiingg"

__ADS_1


Miss Lana muncul berbarengan dengan bel yang berdering. Guru Biologi itu tampak cantik dengan rambut pirangnya. Dia tersenyum sebentar kemudian absen. Pelajaran Biologi hari itu tentang struktur rangka pada hewan.


***


Kantin tampak ramai hari itu. Bahkan penuh sesak. Edgar dan para gadis duduk di satu meja. Mereka memesan banyak makanan karena Ella merasa lapar lagi. Tapi baru setengahnya, dia mulai tidak berselera lagi.


"Ada apa, Ella?" tanya Renay khawatir.


"Maaf. Aku sedikit mual" Jawab Ella dengan wajah ditekuk.


"Kau ingin makan yang lain? Aku akan ambilkan" Tumben sekali Adriana berinisiatif.


"Aku ingin sesuatu yang berkuah"


"Tunggu sedikit ya?"


Alasan Adriana berinisiatif karena melihat Richard sedang memesan makanannya. Dia ke sana sekalian tebar pesona.


Sudah pasti dia pergi karena ada Richar**d. Emma yang melihat kedekatan Adriana dan Richard hanya memilih bungkam tidak ingin banyak komentar.


"Ini, Ella" Adriana menyodorkan semangkuk bakso pada Ella. Ella segera menghabiskannya. Tapi matanya menatap nanar pada kotak bekas makanannya tadi yang kini berpindah di hadapan Edgar. Edgar menghabiskan makanan yang tersisa kemudian tersenyum manis pada Ella.


"Sayang kalau dibuang. Kan mubazir jadinya"


"Tapi itu bekasku loh?" Ella malah menatapnya bingung.


"Apa aku harus makan bekasnya Emma? Atau Renay? Atau Adriana mungkin? Ketiga gadis yang disebut namanya melongo.


"Tidak boleh" Jawab Renay


"Heh? Mana bisa?" Jawab Adriana


"Benar-benar tidak sudi" Emma justru tidak ingin makanannya disentuh Edgar gila itu.


"Nah, jadi yang harus kumakan bekasnya itu adalah Ella"


Pemikiran konyol apa itu? Kenapa dia suka sekali makan bekasnya Ella? Ella tak ingin banyak berdebat dia meminum habis kuah bakso itu kemudian mengajak mereka menaruh kembali bekas makanan mereka di meja piring kotor.


Mungkin tampak aneh, tapi ini kulakukan untuk membuktikan bahwa masih ada yang selalu setia untuk menghabiskan beberapa hal denganmu. Aku adalah sahabat setiamu. Edgar.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak🙏🙏


Salam ELughta🤗😘

__ADS_1


__ADS_2