
Setelah sarapan, Elleane meminta ijin pada Jackson untuk membawa Emma jalan-jalan. Jackson mengiyakan mengingat itu adalah teman Emma yang jauh-jauh dari luar negeri hanya untuk menghadiri pernikahan mereka.
"Jangan pulang terlalu larut karena kau memiliki janji denganku" Jackson mengecup kening Emma lembut.
"Tenang saja Kak, aku tidak akan lupa" Emma balas mengecup pipi Jackson kemudian menggandeng Elleane pergi.
Jackson menatap heran kedekatan di antara keduanya karena setaunya hanya dengan Ella saja Emma dekat. Jangan-jangan?
"Ella... Elleane? Siapa Elleane ini? Mirip Ella.. Apakah Ella menyamar? Ataukah memang ada benaran Elleane selain Ella? Hanya saja Emma bisa sedekat itu?" Jackson berperang dengan pemikirannya hingga kepalanya pusing.
***
"Kita mau kemana?" Tanya Emma.
"Kita akan menguntit" Ella mengedipkan sebelah matanya.
"Kita main detektifan yah?"
"Ayo membuntuti seseorang"
Dua gadis itu kini main detektifan. Mereka bahkan menyamar agar yang dibuntuti tidak curiga.
Setelah sekian lama menunggu di luar Rumah Sakit, seseorang keluar dari dalam dan membawa seorang bayi. Dia nampak sedikit pucat karena baru habis melahirkan dan juga rasa was-was yang tinggi.
Dia segera naik taksi menuju sebuah perumahan yang saat ini sepi. Ella dan Emma jauh di belakang karena tidak ingin diketahui. Mereka berhenti begitu melihat taksi berhenti menurunkan seorang wanita dari dalam.
"Apa yang sedang dilakukannya?" Emma segera mengambil teropong dan memeriksa wanita tersebut.
Ternyata si wanita meletakan bayi tersebut dekat tong sampah. Dia menengok kanan kiri takut ketahuan tapi sepertinya aman.
"Camael, sudah merekamnya?"
"Sudah Nona"
Kamera kecil berbentuk lalat yang hinggap di tong sampah membuat wanita itu tidak curiga sama sekali. Wajahnya terekam jelas. Dilihat dari peluh yang mengalir di pelipisnya dapat dipastikan bahwa dia sebenarnya sedang ketakutan.
Dia segera pergi dari tempat yang agak terpencil itu dan menelepon seseorang untuk menjemputnya. Sebuah sedan yang mereka kenali berhenti dan membawa wanita tersebut.
"Ayo turun" Ajak Ella.
"Dia membuang bayinya sendiri? Wanita sialan itu membuatku marah. Aku ingin meninju wajahnya tapi tidak bisa karena penyamaran kita bisa terbongkar" Emma mengepalkan tangan dan meninju udara.
__ADS_1
"Bayi yang cantik. Dia tersenyum padaku. Cup.. cup.. Mami akan membawamu pulang" Ella menggendong bayi tersebut dan membawanya pergi bertepatan dengan turunnya seorang wanita dari taksi di tempat tersebut.
***
"Kita akan membawanya kemana?" tanya Emma.
"Markas tentu saja. Aku ingat di sana ada seorang ilmuwan yang baru melahirkan. Aku ingin dia pindah dan tinggal di markas sehingga bisa menyusui bayi ini juga"
"Camael, hubungi dokter Tamia agar pindah ke markas karena Nona membutuhkan bantuannya. Segera!"
"Baik nona"
Dokter Tamia yang kala itu sednag menyusui di rumahnya sangat terkejut ketika sistem memberitahu bahwa Nona Mudanya meminta dia pindah ke markas.
Mungkin saja Nona Muda ingin mengembangkan obat baru. Pikirnya.
Tanpa menunggu lama, suaminya datang menjemput sehingga mereka semua bisa tinggal sama-sama di sana. Suaminya adalah salah seorang pengawal bayangan khusus untuk Nona Emma.
Mereka pergi ke Markas melalui jalan rahasia yang mereka bangun. Terowongan bawah tanah tersebut ada di sisi bukit yang lain sehingga jalan yang ditempuh cukup jauh. Tapi demi keamanan bersama maka itu mereka tidak mengeluh.
Saat mereka tiba, sudah ada Emma dan seorang lain lagi yang mirip Ella. Mereka menatap heran orang lain itu. Melihat keheranan semua orang termasuk Gio, Vico dan Chen, Emma lantas tertawa.
"Nona Muda hanya mengubah gaya dan warna rambutnya saja dan kalian sudah tidak mengenalinya lagi? Entah aku ingin tertawa atau menangis"
"Ini baru rambut dan aku memakai make up sedikit kalian tidak mengenaliku? Jangan sampai ada penyusup yang masuk di sini dan kalian anggap aku. Ck! Sepertinya didikan kalian masih kurang. Masa anak buahku tidak mengenali aku?"
Semua menunduk diam karena tahu kesalahan mereka. Tapi Ella tersenyum puas karena sungguh anak buah saja tidak mengenalinya apalagi orang lain?
"Oh yah, dok. Aku butuh bantuanmu untuk mengurus seorang bayi lagi yang aku temukan. Sudikah dokter menyusuinya? Sepertinya dia kelaparan"
"Di mana bayi itu?"
Dokter Tamia langsung berdiri dan menyerahkan bayinya kepada sang suami sedangkan dia sendiri mendekat ke arah Ella.
"Maaf merepotkanmu" Emma menyerahkan bayi tersebut.
"Tidak sama sekali Nona. Sepertinya dia baru lahir. Aku akan membawanya ke kamar"
"Silahkan"
Setelah Tamia membawa si kecil ke kamar, Ella menatap mereka semua yang ada.
__ADS_1
"Aku harap sampai dia dewasa, tidak ada yang membocorkan rahasia ini. Sampai kapanpun, dia adalah anak kesayanganku"
"Baik Nona"
"Chen, urus surat kelahirannya. Eh, tidak usah saja. Aku akan mengurusnya ketika aku kembali ke negara A karena lebih aman jika dia lahir di sana. Aku akan minta Ayahku mengurusnya. Oke, kalian bisa kembali bekerja"
Semua langsung berdiri, menunduk hormat dan kembali ke ruangan masing-masing. Mereka sebenarnya masih ingin mendengar Nona Besar mereka bicara tapi sayangnya tidak ada hal penting lagi.
"Berikan dia nama" pinta Emma ketika mereka sudah ada di kamar bayi tersebut.
Tamia sudah selesai menyusui dan mengurusnya. Bahkan bayi itu kini terlelap di box miliknya.
"Menurutmu?"
"Kenapa bertanya padaku? Itukan bayimu?"
"Bayi kita"
"Kau bilang tadi anak kesayanganmu, bukan anak kesayangan kita kan?"
"Tapi kita yang menemukannya"
"Panggil saja dia Theana"
"Kelak ketika aku punya anak laki-laki, akan kuberi nama Theodor"
"Kalau aku punya anak, kuberi dia nama Jamie dan Jenie" ucap Emma setelah berpikir beberapa lama.
"Mungkin nanti mereka bisa menikah. Kita jodohkan saja mereka"
"Hushh... anakmu lebih tua dong. Kan dia lahir duluan"
"Tapi mungkin saja aku masih punya anak yang lain yang bisa kita jodohkan"
"Kenapa kita berdua bicara menjodohkan mereka sedangkan anakku saja belum lahir"
Dan akhirnya mereka berdua tertawa menyadari kekonyolan mereka.
***
Pengumuman
__ADS_1
Berhubung akun kak BidadariQ logout dan juga tidak bisa masuk lagi akhirnya terpaksa semua Novelnya PHP alias Hiatus.. Panik gak? Panik lah... Mau nangis ajah... ðŸ˜ðŸ˜