
Ella tersenyum pada wanita yang mempunyai wajah sama dengan ibunya. Hanya berbeda warna dan bentuk rambut. Terlihat seperti Elleane.
Wanita itu memeluk Ella dengan sangat erat sambil sesegukan. Keponakan yang tidak pernah dia ketahui selama 17 tahun ini sangatlah mirip dengan putrinya.
"Bibi, jangan menangis lagi yah?" Ella melerai pelukan di antara mereka kemudian menghapus air mata dari pipi Marine.
"Ayo masuk. Eh? Troli bayi? Bayi siapa?"
"Bayi kami berdua, bibi"
Marine tampak bingung tapi tetap saja menyuruh mereka masuk, terlebih lagi mereka membawa dua bayi.
Setelah minuman dan kue dihidangkan, Marine kembali menatap Ella dengan haru.
"Oh yah siapa namamu? Bibi hanya tahu kau dipanggil Ella"
"Namaku Arquiela Roberto Simmons"
"Simmons? Arthur Simmons?"
"Bibi mengenalnya?"
"Salah satu kolega Pamanmu. Tapi mengapa bisa namamu menyandang nama Keluarga mereka?"
"Saat Mom meninggal, mereka yang mengadopsiku sehingga mereka memberikanku nama yang sama sehingga aku pakai sampai sekarang"
"Lalu Keluarga Roberto?"
"Aku tidak dianggap di sana. Hingga Keluarga Simmons bangkrut barukah aku pulang ke rumah yang ternyata telah di huni mereka"
"Maaf selama ini bibi dan ibumu tidak bertegur sapa karena beberapa masalah. Bahkan tidak bisa mengurusmu dengan baik. Jadi mulai sekarang, tinggalah di sini. Mau yah?" Marine Willem mencoba membujuk Ella.
Ini tidak seperti dugaanku. Kenapa membiarkan aku tinggal di sini, sedangkan aku hanyalah keponakan. Tulus atau Bulus?
__ADS_1
Ella tidak langsung menjawab. Dia memandang Steven yang sedari tadi diam meminta bantuan.
"Aku sangat ingin tinggal di sini bibi. Hanya saja, kami sudah punya dua bayi. Aku hanya takut Paman tidak suka mendengar keributan"
Marine segera tersadar bahwa masih ada kehidupan lain di dalam ruangan itu. Dua bayi yang hanya bangun untuk minum susu kemudian berbaring lagi.
"Kalau begitu, bibi akan bicarakan dengan Pamanmu. Kita akan lebih ramai jika ada Elleane di sini"
"Kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu karena kami membawa bayi"
Setelah melakukan adegan pelepasan yang mengharukan, Ella menghempaskan diri di tempat duduk mobil dengan mendesah.
"Haih!!! Aku lebih suka tinggal di markas karena aku pasti akan sering bertemu denganmu. Tiba-tiba saja memintaku tinggal di sana pasti ada suatu rencana"
"Jangan berpikir macam-macam. Dia itu bibimu. Pasti hanya ingin menebus rasa bersalahnya"
"Rasa bersalah apa yang dia punya? Aku penasaran akan hal itu"
"Jangan terlalu penasaran. Tidak semua hal harus dicaritahu"
"Baiklah"
Tangan Kanan Steven mengelus pucuk kepala gadis kesayangannya. Mereka segera ke markas karena sudah petang dan juga bayi mereka butuh asupan.
Steven menggendong Thea sedangkan Theo bersama Ella ketika masuk markas. Mereka dipindai oleh sistem keamanan. Karena sudah terdaftar sebelumnya, keempatnya bisa masuk.
Keduanya masuk ke kamar bayi mereka. Ella pergi memandikan Theo lebih dahulu kemudian Thea akan menyusul. Ketika memandikan Thea, Steven sibuk memakaikan popok dan pakaian. Sungguh terlatih. Diam-diam Ella tersenyum.
Mengurus kedua bayi itu bersama Steven merupakan berkah tersendiri baginya.
Ella sendiri sudah mendesain sebuah pakaian yang mirip seperti dada wanita yang lengkap berisi susu. ASI itu mereka beli dari pendonor yang mempunyai kelebihan ASI sehingga kebutuhan bayi mereka terpenuhi.
****** susu mirip seperti milik wanita menyusui sehingga bayi sangat mudah mengisapnya. Ella memakainya di dalam bajunya hingga tampak dia seperti ibu menyusui pada umumnya. Perlu diketahui, dia sudah mengusir Steven terlebih dahulu. Walaupun itu sintetis, tetap saja dia merasa malu.
__ADS_1
"Sudah selesai? Kenapa tidak membiarkanku melihatnya?" tanya Steven begitu Ella memanggilnya masuk. Dia langsung mendapat pelototan dari Ella.
"Nikahi aku dahulu baru kau bisa melihatnya. 4 tahun lagi"
"Itu sangatlah lama"
"Waktu itu umurku sudah 22 tahun. Waktunya sangat pas"
Steven malas berdebat lagi. Demi rencana Ella, mereka harus menunda pernikahan mereka sambil terus mencari informasi mengenai Keluarga Brand.
Steven dan Ella asyik bermain dengan bayi mereka hingga kedua bayi itu kompak menguap dan tertidur. Ella menaruh mereka di box kemudian mengecup mereka.
Saat akan keluar, Steven menarik pergelangan tangan Ella dan menutup kembali pintu yang sempat terbuka. Tanpa banyak bicara, dia membungkam mulut Ella dengan sebuah ciuman memabukan.
Ella juga menikmatinya karena dia bukanlah gadis munafik. Wajah Ella memerah sempurna. Antara senang, malu dan juga kehabisan napas. Steven melepaskan tautannya kemudian mengecup kening Ella sayang.
"Ayo pacaran"
"Aku sedang berselingkuh denganmu, kalau begitu"
"Aku tidak peduli. Jawabanmu?"
"Aku kira kita sudah berpacaran sejak pertama kali berciuman"
"Itukan saat aku koma, tidak ada nikmatnya sama sekali"
"Jadi..... Saat itu kau hanya pura-pura saja!!??"
"Patah kaki memang benar tapi yang lainnya hanya settingan. Jika saja Kau lebih lama lagi menangis di sana, aku pasti akan segera bangun dan membungkam mulut cengengmu itu"
"Aku bukan cengeng. Aku tidak tahu kenapa merasa sangat rapuh saat itu. Separuh jiwaku hilang. Apalagi melihat penguburanmu. Astaga! Aku ingin ikut saja waktu itu"
Steven merasa bersalah kemudian membenamkan Ella ke dalam pelukannya. Mengecup Ella berulang kali sedangkan Ella hanya melingkarkan tangannya di punggung Steven mencari kenyamanan di sana.
__ADS_1
Inilah rasa yang tidak ingin aku lewatkan. Perasaan cinta yang membuncah dan memabukan.