
"Berita pagi ini, ditemukan mayat bayi berjenis kelamin perempuan di dekat tempat pembuangan sampah perumahan kumuh. Sampai saat ini, polisi masih mencari ibu yang tega membuang bayi tersebut"
Berita heboh itu menggemparkan karena selama ini tidak pernah ada lagi yang membuang bayinya. Mereka semua mengutuk ibu bayi tersebut. Teganya dia membuang bayi yang baru lahir dan bahkan belum dibersihkan.
Di Rumah Sakit, Adriana juga menonton berita tersebut sambil menggendong bayi laki-laki yang tampan. Matanya tampak seperti milik Richard. Richard junior itu tidur dipelukan ibunya.
"Adriana, biarkan ibu yang menggendongnya. Kau pasti kelelahan" Amber meraih bayi tersebut dari gendongan Adriana.
"Ibu jaga dia sebentar karena aku ingin tidur"
Amber meletakan bayi tersebut ke dalam box kemudian ikutan tidur di sofa.
Adriana tidak tenang dalam tidurnya karena selalu bermimpi hal-hal buruk tapi kemudian dia meyakinkan diri bahwa dia tidak bersalah dan selamanya tidak bersalah.
Bagaimanapun putraku akan menjadi pewaris harta kekayaan Derbaltroz. Aku tinggal membujuk Richard untuk menikahiku. Adriana bertekad.
Sedangkan orang yang dipikirkannya justru sedang asyik bersama Cathrine. Berbelanja dan lanjut ke ranjang. Richard tidak pernah sepi akan belaian para gadis bahkan seorang Amber juga bisa takluk di bawah kungkungannya.
Richard tidak harus menjadi semenjijikan ini hanya untuk membuktikan keperkasaan dan kekayaannya tapi berkali-kali dihina oleh Nick membuat dia menjadi liar bahkan lebih liar daripada Nick.
Jangan kira bahwa karena sudah menikah dengan Erine lalu dia menjadi setia. Orang sering menyebutnya pendiam makan dalam-dalam karena tampangnya saja alim padahal justru dia lebih menjijikan daripda Richard yang terang-terangan berselingkuh.
***
Setelah kembali ke mansion Dhawn, Emma langsung menemui Jackson yang ternyata belum pulang dari kantor sehingga akhirnya dia mandi dan bersiap.
Saat keluar dari kamar mandi, dia terkejut melihat Jackson yang bertelanjang dada karena kegerahan. Sungguh pemandangan yang eksotis, dimana perut rata dengan sedikit berkotak itu terpampang nyata dihadapannya.
"Sayang? Kau sudah pulang?"
"Oh hay istriku yang cantik. Sudah harum pula" Jackson menarik Emma ke pangkuannya.
"Mandilah segera karena aku sudah menyiapkan air mandi"
"Sebentar lagi karena aku hanya ingin tahu kemana kalian pergi"
"Hanya pergi memata-matai orang" jawab Emma.
"Apakah menyenangkan?"
"Sedikit. Oh yah, apa aku bisa kembali kuliah? Aku ketinggalan beberapa mata kuliah. Mudah-mudahan dua kunyuk itu mau meminjamkan catatan mereka"
"Duu..dua.. kunyuk? Akrab sekali kalian"
"Yang lebih akrab itu Ella. Mereka akan berubah menjadi sangat manja bila didekat Ella"
"Baguslah kalau begitu. Kalau mereka bermanja padamu, aku akan mematahkan leher mereka"
"Ayohlah sayang, kau tidak akan mampu melawan mereka berdua sekaligus. Mereka itu umpama belut, licin dan licik"
"Kau meragukan suami tampanmu ini?"
"Soal ketampanan, tidak perlu diragukan. Tapi soal Skilk berkelahi, aku tidak yakin"
"Kau tidak yakin? Kau tidak yakin hah?"
"Stop... Itu sangat geli hahaha...."
Emma tertawa dan bergerak kiri kanan hingga menyenggol jamur yang tertidur sehingga berdiri tegak siap mengapel.
"Emma... Berhenti bergerak karena aku tidak mau membuatmu kelelahan sore ini. Mom memintamu membantunya masak"
Melihat wajah menahan ngilu milik Jackson, Emma menjadi tidak tega.
"Baru pukul lima sore jadi bisakah kita..." Emma menggantung ucapannya membuat Jackson mengernyit.
"Kita apa?"
"Emmm... Kita.... Kita berdua... membuat Dhawn junior" Emma bicara lamat-lamat sampai suaranya hilang di akhir kalimat.
"Kita berdua membuat apa?"
"Membuat itu.. itu loh.. aishhh..."
Emma yang tidak bisa mengutarakan maksudnya karena malu, langsung saja membuka handuknya dan terpampanglah keindahan di depan mata Jackson seketika membuat Jackson mengerti maksud istri kecilnya ini.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, rupanya kau minta diberikan bayi. Ayo membuatnya..."
Dan Jackson merebahkan tubuh istrinya di ranjang lalu menggempurnya sore itu. Sekali saja cukup dan Emma tidak terlalu kelelahan sehingga dia masih bisa membantu Mami Chyntia masak.
"Sayang... Temani Jackson karena Mom bisa masak sendiri"
"Tapi Kak Jackson yang menyuruhku turun"
"Anak itu.. Kapan aku punya cucu kalau kalian tidak membuatnya?"
"Hah...?? Errr itu..." Emma tidak mampu menjawab pertanyaan mertuanya. Tidak mungkin kan dia bilang bahwa mereka barusan selesai membuatnya?
"Hay Emma.." Sapa Elleane yang sudah tampil cantik dengan apron menggantung di lehernya.
"Sejak kapan Elleane ada di sini? Kau juga bisa memasak?"
"Yes. Mom yang mengajariku masak.. Dan aku bisa masak beberapa hidangan"
"Bagus kalau begitu. Mom, biarkan kami yang masak dan Mom beristirahat saja"
"Kita bertiga yang masak. Jangan berdebat lagi"
Akhirnya dua wanita dan satu gadis tersebut masak bersama-sama membuat senyum yang merekah terbit di wajah pria tua yang menyaksikan mereka dari kejauhan.
Istriku sangat bahagia bisa masak bersama kedua menantunya. Aku lupa gadis bule itu belum resmi menjadi menantuku. Romand lanjut membaca koran.
Setelah acara masak itu selesai, mereka memanggil semua anggota keluarga. Ella alias Elleane menyimpan sedikit lauk untuk Steven. Dia beralasan bahwa dia biasa lapar tengah malam dan Mami Chyntia mempercayainya.
Setelah selesai makan, Elleane ingin membereskan meja tetapi langsung dilarang Mami Chyntia.
"Biarkan pelayan yang membereskannya. Pergi beristirahatlah karena aku dengar dari Emma, besok kau pulang ke negaramu"
"Iya. Besok aku pulang. Kalau begitu, aku bawa sekalian dengan makananku"
"Kalau lapar baru turun untuk makan. Kasihan kan makananmu menjadi dingin"
"Tidak apa-apa. Justru dingin lebih enak"
Akhirnya Elleane membawa makanan itu naik. Dia sengaja masuk ke kamar tamu yang lumayan jauh dari kamar Edgar.
"Stev??" Panggil Elleane pelan. Dia meraba-raba saklar lampu.
Grep! Sebuah pelukan menarat di perutnya. Seandainya tidak memakai chip lensa di matanya, mungkin Elleane sudah menghajar orang yang memeluknya.
"Stev, berhenti bermain-main. Kalau kau memelukku seperti ini, aku anggap kau menyukaiku"
Otomatis pelukan itu terlepas dan lampu seketika menyala menampilkan wajah baru bangun tidur dengan mata panda yang mendominasi.
Ini yang dimakan tampan dari sononya. Baru bangun saja tampan begini, apalagi kalau sudah mandi. Bisa-bisa aku mimisan. Elleane memuji ketampanan Steven di dalam hatinya.
"Nih makananmu Tuan Muda. Tidur saja terus seperti beruang kutub dan jangan makan"
Elleane merasa sangat kesal bagaimana bisa lelaki dihadapannya ini berhibernasi begini lama.
"Ini enak. Siapa yang memasaknya?"
"Aku, Emma dan Mami Chyntia"
"Pantas rasanya begini. Aku tahu ini masakannya Mom"
"Masakannya siapa?"
"Masakan Momnya Jackson tentu saja" Steven sedikit gugup saat Elleane bertanya tadi.
"Oh. Tapi sepertinya kau sangat familiar dengan rasanya, ya? Seolah-olah kah bagian dari keluarga ini"
Mari kita lihat sampai kapan kau akan menyimpan rahasia yang sudah aku ketahui.
Uhuk... Steven batuk karena tersedak. Elleane hanya menyodorkan segelas air padanya kemudian naik tempat tidur bersiap tenggelam dalam mimpi.
Tidak mungkin gadis bodoh ini tahu siapa aku kan? Atau rahasiaku benar-benar sudah terbongkar? Steven menyelesaikan makan lalu masuk kamar mandi untuk menyikat gigi.
Setelah itu dia ikutan naik dan berbaring di samping Ella dengan hati-hati.
"El..."
__ADS_1
Tidak ada jawaban.
"Ella..."
Masih juga tidak dijawab.
"Nona Arquiela Roberto Simmons, sampai kapan kau akan pura-pura tidur?"
"Huh!! Namaku sekarang adalah Elleane Willem. Ada apa?"
"Mau kuberitahu kau beberapa rahasia?"
"Kau ingin mengatakannya, maka katakan. Jika takut aku membocorkannya maka jangan katakan apapun. Aku mengantuk"
"Sebenarnya aku ingin balas dendam"
"Kalau begitu balaslah dendammu dan hidup kembali dengan normal"
"Tidak semudah itu. Jika identitasku terbongkar, bisa saja keluargaku yang menjadi targetnya"
"Kau pikir keluargamu selemah itu?"
"Masalahnya aku juga harus melindungi gadis yang aku suka"
"Gadis yang kau suka? Bukankah itu diriku?"
"Jangan narsis"
"Stev.."
Elleane seketika naik di atas tubuh Steven dan mengunci pergelangan tangan Steven di atas tubuhnya.
"Ella, kau tahu apa yang kau lakukan sekarang?"
"Aku tahu. Maka sebelum aku melakukan hal jahat, katakan apakah kau menyukaiku?"
"Tidak. Ada gadis lain yang aku suka"
"Benarkah? Apakah itu Emma? Atau mungkin Renay atau bisa jadi Erine?"
"Siapa mereka? Aku tidak kenal"
"Benarkah? Kau tidak kenal? Sampai berapa lama kau akan menipu semua orang? Aku begitu bersedih setelah kehilanganmu. Aku bahkan ingin ikut denganmu masuk ke dalam kubur. Hiksss.. Kau ada dihadapanku menggunakan nama orang lain, bertingkah seperti orang lain, dan tidak mengakui perasaanmu sendiri.. Steven.. Ataukah aku harus memanggilmu Edgar barulah kau kembali menjadi seperti dulu.. hikss"
Ella dengan kasar mencium lelaki di bawahnya. Melihat air mata Ella, Edgar menjadi tidak tega. Dia membiarkan Ella melampiaskan emosinya melalui ciuman itu.
Edgar memandang lensa cokelat yang berair itu dengan perasaan terenyuh. Merasa cengkeraman Ella melemah, dia membalikan keadaan menjadi Ella dibawahnya.
"Ck!! Aku ingin berpura-pura lebih lama lagi tapi melihatmu menangis sungguh aku tidak tega. Maaf karena aku masih harus bersembunyi dari dunia luar. Dan soal gadis itu, aku menyukai Ellaku yang berambut hitam"
Ella tersenyum di balik tangisannya. Dia tidak menyangka lelucon konyol Edgar itu mampu membuatnya berbunga.
Esgar melanjutkan ciuman mereka yang terjeda. Lebih lembut ketika dia merasai daging lembut tersebut. Dia mengigit kecil bibir Ella membuat Ella ingin melayangkan protes tapi justru lidah Edgar masuk dan membelit lidah Ella.
"Mmm.. mmmm..." Ella ingin bertanya apa yang sedang dilakukan Edgar dengan mulutnya tapi sungguh Edgar tidak melepaskannya.
"Hahh.. hah.... kau inginhh... membuatkuhh.. matihh... huhhh.. Aku hampir saja kehilangan napas karena ciumanmu"
Edgar hanya tertawa kecil menyaksikan orang yang tadinya menciuminya dengan menggebu justru kehabisan napas saat dia balas menciumnya.
"Itulah yang dinamakan ciuman" jawab Edgar santai.
"Itu bukan ciuman. Itu namanya lidah saling berbelit"
"Hahahaha.... Itukan bagian dari ciuman..."
"Tapi itu menggelikan..."
"Kalau tidak geli, tidak enak dong"
Akhirnya dengan wajah memerah, Ella berusaha mencekik leher Edgar.
"Hey... Kita belum malam pertama dan kau ingin mencekikku? Enak saja.."
Edgar memerangkap lagi tubuh Ella dan menciuminya lagi dengan lebih mendalam membuat Ella tahu bahwa lebih baik jangan memprovokasi Edgar..
__ADS_1
Aku kapok!! Ella menangis dalam hati sambil menikmati ciuman memabukan Edgar.