Sellena

Sellena
Salah orang?


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu, Ella langsung berangkat ke negara A ditemani Steven. Di hari yang sama Elleane juga pulang bersama ayahnya dengan menggunakan penerbangan yang berbeda.


Sudah beberapa bulan Ella menyesuaikan diri dengan lingkungan di kediaman Willem khususnya markas. Ada sedikit rasa penasaran dengan sosok Marine Brand yang menjadi kembaran ibunya. Mereka belum menyapa satu sama lain karena Ella sibuk mengurus pendaftaran masuk Perguruan Tinggi.


Steven sekarang menjadi satu-satunya teman yang bisa dia ajak bercanda walaupun ditanggapi dengan wajah datar bak Pangeran Es yang dingin dan beku. Tapi menurut Ella itu manis layaknya es krim.


"Astaga, Stev... Di mana kau letakan modulku? Aku kan sudah bilang jangan menyentuh barang-barangku!!!!" Teriakan menggelegar Ella atau yang sekarang dipanggil Ellena menggema di seantero markas membangunkan para tentara rahasia yang baru tidur sejam lalu.


"Ada di dalam tasmu!" Jawab Steven acuh.


"Bukan yang itu. Pasti kau letakkan di perpustakaan. Aku tidak akan meminjamkanmu catatanku lagi. Kau sama saja seperti Edgar, pelupa!" Ella berlalu dari hadapan Steven yang tertegun mendengar itu. Sungguh apakah Ella belum bisa melupakan dirinya yang dahulu?


Ella secepat kilat masuk ke perpustakaan di markas itu dan menemukan modul birunya tergeletak begitu saja di bawah lantai. Ada bekas sepatu di sana. Sungguh dia sangat ingin mencekik si pemilik sepatu. Dan di ujung lorong, Steven merasa merinding.


"Musim panas tapi aku sedikit menggigil" keluhnya dengan wajah datar.


***


Ellena tidak banyak bergaul karena Steven selalu menempelinya dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kuat. Ella biasa menggambarkannya dengan kabut hitam di sekeliling tubuhnya.


Beberapa pria tampan yang ingin berkenalan dengan Ellena hanya bisa menelan pil pahit bahwa penjaga Ellena sangat menyeramkan dan Ellena merasa biasa-biasa saja didekatnya.


"Masih mau belajar atau pulang?" Tanya Steven.


"Aku ingin pergi makan jajanan. Ayo ke C town berburu makanan enak. Aku yakin kau belum pernah merasakan makanan lezat di luar rumah kan?" Ella menggandeng lengan Steven dengan wajah riang berbanding terbalik dengan wajah Steven yang seolah-olah tidak punya otot di wajahnya.


"Lepaskan gandenganmu" Perintah Steven tegas.


"Kugandeng kau atau aku pergi sendiri dan kau pulang kena omel Daddy?"


Dengan ancaman tersebut, Steven rela digandeng Ellena sepanjang lorong hingga ke tempat parkir menyisakan ribuan pasang mata yang memandang mereka dengan iri.


Seharusnya aku yang di sana. Masing-masing berpendapat bahwa mereka yang seharusnya berada di samping Ellena ataupun Steven.


***

__ADS_1


C Town


Ella melangkah keluar mobil dengan wajah sumringah. Dia bertepuk tangan kegirangan melihat stand makanan yang tertata rapi. Belum lagi pengunjung yang berdesakan seolah-olah menambah semangatnya berburu kuliner.


"Let's go!" Ellena meninju udara dan secepat kilat kabur dari pandangan Steven dan bertengger di salah satu stand kemudian pindah ke stand lain menikmati jajanan.


Steven hanya diam-diam mengikutinya sambil terus memotret wajah cantik yang sangat dirindukannya itu. Kadang dia sangat ingin menjahili Ella seperti waktu dahulu dia menjadi Edgar tapi sayangnya dia harus tetap menjadi Steven yang dingin agar penyamarannya tidak terbongkar.


Tanpa diketahuinya, Ella tahu siapa dia sebenarnya. Alat pengacau transmisi yang dipakainya tidak mampu menahan keingintahuan Ella. Itulah mengapa Ella menjadi dekat dengannya tanpa merasa canggung lagi.


"Sudah selesai memotret?" Tanya Ellena begitu Steven mendekat.


"Memotret apa?" Steven balik bertanya gelagapan.


"Aku kira kau memegang handphonemu untuk memotretku. Sudahlah, aku hanya berandai-andai" Ella mengibaskan tangan kirinya di udara sambil tangan kanannya menyodorkan jajanan ke hadapan Steven yang langsung dimakan Steven tanpa banyak berkata.


"Ayo pulang!" Ellena langsung melangkah pergi meninggalkan Steven yang masih berusaha menghabiskan jajanan enak dihadapannya, bekas Ellena.


"Ellena...." Steven panik sendiri saat tidak melihat Ellena di mobil.


Steven berbalik dan berlari ke sana-sini mencari keberadaan Ellena. Ellena sendiri ada di ujung lorong menolong seorang nenek tua yang kesulitan berjalan. Sebelumnya Ellena memukuli anak muda yang ingin merampok si nenek.


"Kita nampak seperti nenek dan cucu yang akur yah?" Ellena tertawa renyah meninggalkan senyuman manis di wajah wanita berumur tersebut.


Sesuai arahan si nenek, mereka sudah sampai. Sebuah rumah seserhana tapi terkesan elegan membuat Ellena kagum. Wanita tua itu kemudian menekan bel dan keluarlah seorang wanita berambut cokelat bergelombang mirip rambut Ellena saat ini yang meniru Elleane.


Mereka mempersilahkan Ellena masuk tapi Ellena tidak bisa karena dia harus pulang secepatnya sebelum Daddy tampannya mengeluarkan amukan dahsyat.


"Kita akan bertemu lagi, Nek" Ellena mencium tangan kedua orang itu kemudian segera berlalu.


Bagi si nenek kebiasaan itu sudahlah sering dia rasakan berbeda dengan wanita di sampingnya yang sempat bengong.


"Kita akan bertemu kembali cucuku"


Mereka masuk ke dalam rumah itu. Tatapan si nenek jatuh ke wajah Putrinya yang sangat mirip dengannya. Memiliki rambut hitam panjang dan mata cokelat yang manis.

__ADS_1


Saat keluar dari rumah itu, Ellena sempat bingung harus ke arah mana akhirnya dengan bantuan Camael, dia bisa menemukan jalan menuju C town. Sayangnya saat di perjalanan dia harus bertemu dengan beberapa berandalan sewaan.


"Temani kami sebentar saja, ya?" Tawar si pria dengan tatapan mesum mengarah ke dada Ellena yang hanya sebesar buah jeruk.


Diintimidasi dengan tatapan begitu Ellena berang. Dia memberikan hadiah perkenalan sebuah bogeman ke arah rahang si pria dan membuat rahang itu bengkok seketika. Sungguh tidak sia-sia latihan yang diberikan selama dia ada di markas milik Cezare Willem tersebut.


Teman-temannya yang lain segera mengeroyok Ellena dengan membabi buta tapi mereka kalah skill bertarung karena Ella dengan mudah melumpuhkan mereka sambil menusukan jarum beracun di titik akupuntur mereka.


Membunuh atau dibunuh. Itulah prinsip di markas tersebut sehingga Ellena harus menanggung dosa pembunuhan demi menyelamatkan nyawa manusia yang lainnya karena dia yakin mereka pasti akan kembali berbuat onar jika dia tidak segera menyeberangkan mereka ke alam baka.


Steven menarik dan memeluk Ellena begitu menemukannya tapi sebuah tamparan membuat dia tersadar.


"Anda siapa? Kenapa memeluk saya?" Pertanyaan itu mengembalikan akal sehatnya.


"Maaf, aku salah orang!"


Warna baju dan rambut orang ini mirip Ellena sehingga dia langsung saja memeluknya tanpa melihat terlebih dahulu.


"Hahahahahaa...." Tawa kencang itu menggema di gendang telinga Edgar menyisakan urat di lehernya yang mengencang. Tangannya ingin sekali memiting leher si penertawa.


"Sudah puas tertawa? Kau kemana saja, hah!?"


"Membantu seorang nenek yang akan dirampok dan juga menyeberangkan arwah" Jawab Ellena santai.


"Kau terluka?"


"Tidak"


"Baguslah. Pekerjaanku berkurang"


"Stev, kemampuanmu menurun? Kenapa kau lari mondar-mandir? Kau kan bisa mengecek GPS?"


Steven tersadar dan meruntuki kebodohannya.


"Aku lupa membawa handphone" sahutnya.

__ADS_1


"Lalu ini apa?" Ellena menenteng handphone miliknua yang langsung direbut sebelum Ellena melihat isi dalamnya.


"Sudahlah. Yang penting kau sudah ketemu" Steven kehabisan kata meladeni kekepoan Ellena


__ADS_2