
Malas menulis lanjut tapi ada yang masih minta crazy up. π΄π΄ Ingin hiatus dan menggantung ceritanya tapi masih sayang beberapa readers. Sudahlah, Author ngomel-ngomelpun tidak akan mampu menambah popularitas sesignifikan mungkin. Paling-paling hanya ada pembaca baru yang heran kenapa Author marah-marah. Iya Authornya emosian sama kayak tante Lauraππ Tapi Otor orangnya baik banget, buktinya dia masih sempat ngehalu jalan cerita novel ini walaupun menurut beberapa orang tidak masuk akalπ Happy Reading, All..
.
.
"Apa yang terjadi?" Tuan Besar masuk dengan wajah terkejut melihat benar ada dua orang yang sangat mirip di kamar itu. Ella hanya tersenyum canggung. Ella telah digendong kembali oleh Steven.
"Halo, Apa kabar Tuan Willem?" Ella menyapa pria itu dengan sopan. Dia masih ingat bahwa Tuan Willem adalah pemilik yayasan Williams.
"Aku ingat, kau gadis yang mendapat peringkat tertinggi. Aku merasa familiar denganmu. Ternyata karena kau sangat mirip putriku"
"Maafkan saya karena tadi tidak sempat memberitahu bahwa saya bukan putri anda. Itu karena saya masih sedikit terpengaruh obat"
"Tidak apa-apa. Lalu mana keluargamu?"
"Oh iyah saya lupa. Apa ada dua pasien yang datang bersama saya? Apa di mobil juga ditemukan berkas?"
Tuan Besar menatap Steven menyuruhnya menjelaskan.
"Pasien pria mengalami parah tulang kering sedangkan wanita selain kerusakan wajah, juga mengalami keguguran. Usia kandungannya 3 bulan. Ini dokumennya"
Steven menyerahkan dokumen yang sempat Ella tandatangani sebelum kecelakaan. Sebuah dokumen yang mengantarnya menjadi seorang Miliarder.
"Terimakasih sudah menyelamatkan dokumen penting ini. Anda pasti bertanya isinya apa. Ini surat perceraianku dengan pasien pria."
"Menurut berita, kalian baru menikah beberapa saat lalu kan? Kalian pikir pernikahan itu mainan?"
"Saya yang cerai kenapa anda yang sewot? Anda sudah pasti bisa menebak sebab perceraian ini kan? Pasien wanita adalah selingkuhannya karena dia keguguran sekarang saat usia janin tiga bulan yang artinya mereka berhubungan bahkan sebelum saya menikahi Nick. Oh iyah, ini tidak ada hubungannya dengan anda kenapa aku semangat sekali menjelaskan? Maaf Tuan Besar, aku janda muda sekarang"
Ella menjelaskannya pada Steve tapi Tuan Willem juga mendengarkannya sehingga dia perlu memberitahu statusnya kini pada pria tampan itu.
"Jangan pertahankan pernikahan jika orang ketiga sudah mulai masuk. Apalagi sampai mengandung"
"Itulah mengapa saya dengan senang hati menandatangani surat cerai itu karena mereka yang memaksa. Jika keluarga Derbaltroz datang, mohon anda bisa bekerjasama dengan saya agar mereka tidak tahu bahwa saya sudah sembuh dari kelumpuhan"
"Bagaimana kau bisa sembuh?" Tanya Steven cepat.
"Errrr... Itu.. Aku tidak bisa memberitahumu. Teknik Rahasia"
Mana bisa aku membongkar aibku bahwa aku digerayangi pria tampan memesona yang mesum tapi ternyata membantuku sembuh.
Steven yang melihat wajah serius Ella hanya berusaha tersenyum tipis. Dialah pria di malam itu sehingga dia ingin memastikan apakah Ella sudah mendapatkan identitasnya atau belum.
"Gotcha!!" Teriak Ella senang...
"Kenapa!!?"
__ADS_1
"Oh itu... Aku menemukan pencuri ciuman" Ella mengedipkan matanya pada Steven dengan maksud tertentu.
Cezare Willem yang duduk di sofa hanya tersenyum melihat interaksi Steven dengan Ella. Steven tidak begitu dengan Elleane putrinya karena dia selalu menjauhkan diri saat Elleane mendekat. Sekarang Cezare paham mengapa Steven berlaku demikian.
Ternyata dia sudah punya seseorang dalam hatinya. Semirip apapun putriku dengan gadis itu, tidak bisa menggoyahkan rasa. Haih, aku kehilangan kandidat calon menantu. Cezare duduk sambil memejamkan matanya mencoba tidur.
"Ellaaaaa.... Astaga, kenapa kau seperti ini? Huhuhu..." Tiba-tiba saja Emma datang dan memeluk Elleane dengan erat.
"Ekhmmm" Tuan Cezare yang semula telah terlelap harus terlonjak kaget mendengar suara Emma. Emma membalikan badannya saat mendengar deheman di balik punggungnya.
"Eh? Pemilik sekolah? Mengapa anda di sini? Oh anda yang menyelamatkan Ella?"
"Iyah saya menyelamatkan mereka berdua. Itu putriku Elleane, temanmu ada di sebelah sana" Tunjuk Tuan Cezare pada Ella yang sedang menahan tawanya. Seketika Emma merona, dia malu akan kelakuannya yang salah mengenali sahabatnya. Siapa suruh mereka sangat mirip?
"Astaga? Oh iyah benar. Sejak kapan Ella punya rambut bergelombang? Maafkan saya Tuan"
Emma beringsut mendekati Ella dan berbisik.
"Kenapa kau tidak mengingatkan aku hah? Kau membuatku malu sudah nangis-nangis depan anak orang"
"Lagipula senang melihatmu sangat khawatir"
"Ish!... Eh? Siapa pria tampan ini?" Emma pura-pura amnesia.
"Itu Tuan Muda Willem"
"Tampan. Salah! Sangat tampan!" Emma mengangkat dua jempolnya di hadapan Steven yang hanya mendapat dengkusan dari Steven.
"Sudahlah Emma. Memang orangnya kayak kulkas berjalan kok" Ella berusaha menengahi dua orang itu.
Tidak Edgar, tidak Steven, kalau ketemu Emma bawaannya emosian melulu. Ella menepuk jidatnya pusing.
"Tuan Willem, maaf karena sahabat saya sudah membuat keributan"
"Tidak apa. Dia khawatir padamu" Cezare hanya bisa tersenyum.
"Dia adalah keluarga saya yang sebenarnya. Yang lainnya hanya karena menyandang nama family yang sama. Kami bersahabat layaknya dua saudari yang saling merindukan"
Ella menjelaskan posisi Emma didalam hidupnya.
"Satu lagi. Masih ada Edgar yang menjadi penyemangat. Sayang dia sudah berpindah alam sehingga tidak bisa bersama kami. Jika dia melihat saya terluka begini, dia akan ngomel-ngomel lebih daripada ibu-ibu kehilangan uang belanja. Saya benar-benar merindukannya" Terdengar nada sendu saat Ella mengucapkannya.
Steven memalingkan wajah tak ingin Ella melihat dia ikutan bersedih dengan kata-kata sendunya.
"Hanya saja saja sampai saat ini saya yakin dia masih hidup. Hati ini berkata demikian. Melihat Steven, saya seperti melihat cerminan Edgar. Sayangnya Tuan Muda adalah putra anda, Tuan Willem. Jadi saya menepis semua kecurigaan saya bahwa Edgar dan Tuan Muda Steven adalah kembar. Sama seperti saya dan putri anda yang mirip tapi tidak berhubungan sama sekali"
"Ada beberapa hal yang memang hanya bisa dipahami menggunakan hati bukan logika. Ketika aku melihatmu juga mengingatkanku pada seseorang"
__ADS_1
"Siapa kalau saya boleh tahu"
"Marie Calista Brand. Saudari kembar istri saya Marine Brand"
"Maaf menyela Tuan Besar. Nama ibu saya Marie Calista Willem. Jika saya boleh tahu berapa umur Nyonya Marie sekarang"
"Jika masih hidup, mungkin 38 tahun. Sayangnya dia meninggal 9 tahun lalu"
"Emma tunjukan wajah Mommy pada Tuan Willem. Aku yakin Mommy orangnya"
Setelah mengamati foto tersebut, Tuan Cezare mengangguk.
"Benar dia adalah Marie Calista Brand"
"Tapi mengapa aku tidak melihat Paman di pemakaman Mommy?"
Ella segera mengganti panggilannya sebab orang dihadapannya adalah Pamannya sendiri.
"Kami memakamkannya di negara A. Sebelumnya kami memang mendapatinya masih hidup di salah satu Rumah Sakit kota ini. Setelah itu kami membawanya untuk pengobatan. Sayangnya dia lebih memilih menyelamatkan nyawa istriku yang saat itu membutuhkan donor jantung"
"Tapi bagaimana bisa? Apa kita harus membongkar makam Mommy untuk memastikannya?" Ella merasa frustasi sendiri mendengar kenyataan itu bahwa sebenarnya ibunya masih bertahan hidup beberapa jam.
Semua ini karena wanita jahat itu. Aku akan membalas semuanya. Seandainya waktu itu dia membantuku membawa Mommy, pastinya Mommy masih hidup saat ini. Ella mencengkeram selimut yang menutup tubuh bawahnya. Dia merasa sangat sesak dan ingin menangis.
Cezare sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia sudah curiga Ella adalah putri Marie sejak pertama bertemu. Seharusnya dia menyelidiki latar belakang Ella saat itu juga.
"Keluarga Derbaltroz dalam perjalanan untuk mengunjungi Nick dan Erine" Bisik Emma di telinga Ella.
"Maaf Paman, bisakah Paman menyuruh salah satu bodyguard memindahkan saya ke kamar pasien di kelas biasa? Saya masih harus berpura-pura lumpuh"
"Baiklah. Paman juga belum bisa mengungkapkan kehadiran Elleane yang mirip sepertimu di sini"
Akhirnya Steven sendiri yang sedari tadi diam segera menggendong Ella dan memindahkannya ke kursi roda. Dia juga mendorong kursi itu hingga sampai di ruang rawat kelas 3 sesuai permintaan Ella. Sepanjang jalan, Ella mencoba untuk mengkakukan ekspresinya kembali. Steven sampai memuji bagaimana Ella sangat mendalami perannya tersebut.
Aku tidak perlu khawatir bagaimana dia menghadapi beberapa bedebah itu jika dia sangat pandai bersandiwara seperti ini. Diam-diam Steven tersenyum miring.
Ketika Steven masuk lift, Laura dan Jenko tiba. Mereka langsung masuk dan meneriaki Ella yang pura-pura tidur.
"Dasar anak setan, aku benarkan kalau dia pembawa sial? Aku kehilangan cucuku"
"Heh tante rempong, kalau bicara jangan buka semua itu mulut. Kelihatan deh ompongnya, bau juga. Yang nyetir siapa? Nick kan? Ella hanya duduk diam kaku. Salah si sopir. Bodoh kala menyetir tidak bisa bedakan tanjakan dan turunan"
"Kau berani mengatai anakku bodoh, hah!!??"
"Idih tante jangan teriak-teriak deh. Ini Rumah Sakit bukan rumah penampung yang suka nyalak-nyalak. Nah kalau bukan bodoh apa? Masa dungu sih?"
"Anak ini!!!" Laura kehabisan kata-kata untuk memaki.
__ADS_1
"Ibu kalau mau teriak-teriak, silahkan di jalan. Di sini ada banyak pasien yang butuh ketenangan"
Akhirnya Laura memilih pergi karena dia harus memeriksa keadaan anak dan calon menantunya. Setelah mereka pergi, Ella tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.