Sellena

Sellena
Memenuhi Perjanjian


__ADS_3

Mansion Dhawn.


"Ada gerangan apa kau datang kemari sepagi ini?" Tanya Mami Chyntia melihat Richard berdiri di depan pintu rumahnya.


"Well, aku datang hanya ingin menagih janji"


Richard tersenyum pada Nyonya Chyntia Dhawn.


"Masuk dan bicaralah di dalam. Bik Asnah, buatkan kami minum" Mami Chyntia masih menunjukkan sikap seorang tuan rumah yang sopan melihat Richard masih menggunakan tongkat.


Biarlah. Dia masih seorang pesakitan. Pikir Mami Chyntia setelah Richard masuk.


"Baiklah/ Baik Nyonya" Jawab Richard dan Bik Asnah bersamaan.


"Jadi apa janji kami padamu?"


"Surat perjanjian itu tentunya sudah ditandatangani"


"Terimakasih, Bik. Silahkan diminum. Edgar sudah tiada jadi surat itu sudah tidak berguna lagi"


"Sepertinya aku lupa memberitahu anda. Itu hanya menjamin agar dia tidak dipenjara terlepas dari apakah dia masih hidup atau tidak"


"Sayangnya Surat itu menghilang entah kemana. Ella juga belum menandatanganinya"


"Kalau begitu aku akan ajukan surat yang baru dan tugas anda membuat dia tandatangan. Jika tidak, aku jamin anda akan sama miskinnya dengan Keluarga Simmons. Aku bisa mengubah kalian dalam semalam"


"Jangan memerintahku bocah nakal. Kau tahu kan, apa jadinya jika kau menyentuh Keluarga kami? Tanyakan pada ibumu, apa yang terjadi saat dia mencoba memusuhiku" Mami Chyntia berusaha tetap tenang walaupun tangannya telah gemetar menahan emosi.


"Tidak masalah. Aku juga tidak ingin bertanya pada Ibuku apa yang terjadi pada kalian berdua tapi jangan sampai ada salah seorang dari keluarga kalian yang menghilang lagi. Bukankah dia putra kesayanganmu? Bagaimana bisa masalah seorang gadis bisa membuatnya tiada. Bukankah gadis seperti itu harus dijauhi dari keluargamu?" Richard mencoba memprofokasi Mami Chyntia.


"Mungkin kau berpikir begitu. Tapi aku ibunya Edmund, aku tahu hal baik apa yang telah dilakukan putraku. Kau mungkin menganggap remeh Ella tapi gadis itu lebih kuat daripada yang terlihat. Jangan sampai dia kembali mematahkan kakimu" Mami Chyntia bersedekap.


"Kita lihat nanti apa yang akan terjadi. Apakah anda masih bisa menyombongkan dia atau tidak. Bersiaplah akan badai beberapa hari lagi. Badai itu adalah kejutan karena klian tidak patuh pada janji kalian"


"Aku tidak bisa mengambil keputusan atas diri Ella. Biarkan gadis itu yang memutuskan jalan hidupnya sendiri. Jika memang kau berani maka temui dia. Ini alamat rumahnya. Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, silahkan. Pintu keluar ada di sana" Usir Mami Chyntia secara halus dengan menyunggingkan senyuman manis.


Richard seketika mengepalkan tangannya kemudian keluar dengan wajah yang memerah. Dia tidak menyangka bahwa tekanan yang dia berikan tidak berpengaruh pada Nyonya Dhawn.


Tapi dia tidak kehabisan akal dia meremas alamat yang tadi Nyonya Dhawn sempat berikan. Sebuah ide tercetus dibenaknya.


Gadis, kau tidak akan bisa lari kemana-mana saat ini. Kau adalah pion utamaku. Richard bicara dalam hatinya sejenak sebelum menyuruh supir memacu mobil ke alamat tersebut.


***


"Hey sayang. Kenapa datang tanpa memberitahuku? Aku bahkan tidak berdandan. Tunggu sebentar di sini yah?" Adriana secepat kilat berlari menuju kamarnya dan memoles wajahnya agar kelihatan cantik di mata Richard.


Berdandan sampai besokpun wajahmu tetap membuatku mual. Kata hati Richard.


(Ternyata Richard masih punya hati yang bisa bicara.๐Ÿค”)


"Selamat pagi, tante" Sapa Richard begitu melihat Amber turun. Menggunakan pakaian kekurangan bahan. Liurnya sedikit lagi akan menetes memuji kemolekan tubuh Amber.


"Hay, sayang. Sudah lama?" Amber mengerling manja pada pacar anaknya.๐Ÿ™„


"Barusan tante. Oh yah aku punya penawaran menarik. Tante pasti tergiur"


"Apa itu?"


"Ella harus menikah denganku maka tante bisa mendapatkan 5% dari harta kekayaan yang akan aku dapatkan nanti. Tante bantu aku agar bisa menikahi Ella"


"Tante akan bantu. Apa sih yang tidak buatmu?" Amber sengaja memeluk lengan Richard dan menekan dadanya di sana. Sesuatu yang panas menjalar di titik tertentu tubuh Richard.


Ini benar-benar godaan. Punya ibunya lebih besar daripada Adriana. Sial. Bisa-bisa aku kumat dan menyerangnya di sini. Richard menahan sekuat tenaga sesuatu yang panas itu agar tidak menjalar lebih jauh lagi.


"Mama..."


"Oh, Adriana" Amber segera menjauh dari Richard. Amber kemudian duduk di samping Richard memeluk lengan yang sama saat mamanya memeluk Richard tadi. Tekanan di sana memang sedikit berkurang tapi gejolak yang dirasakan Richard makin besar.


"Antarkan aku ke kamarmu"


"Heh? Mam, aku dan Richard pergi ke kamarku dulu. Mama bisa mencari kami di atas tapi dalam waktu 2 jam ini jangan mengganggu kami. Kami akan mendiskusikan hal yang penting"


Adriana memang sangat pengertian. Dia hafal betul ketika Richard membutuhkan pelukan hangatnya menenangkan ombak yang berkecamuk.


"Em, baiklah. Jangan lama-lama. Ayahmu pulang dari kantor pukul 5 sore nanti. Jangan sampai ketahuan Kakakmu" Amber tersenyum manis melihat hasil gesekan dadanya. Sesuatu mengacung di bawah sana.


Mengikuti arah tatapan Amber, Richard semakin merapatkan pahanya agar tonjolan itu tidak terlihat. Untungnya Adriana cepat-cepat menariknya pergi memasuki kamarnya. Dia masih tertatih tapi panas itu harus cepat dipadamkan.


"Ini kamarmu? Kunci pintunya. Aku butuh kamu, sayang"

__ADS_1


"Tumben kamu bereaksi cepat hanya karena sedikit sentuhanku" Adriana memamerkan sentuhannya di kulit tubuh Richard. Lupa pintu belum dikunci.


"Diam dan lakukan tugasmu dengan cepat. Aku tidak punya banyak waktu"


"Baiklah"


Richard menjatuhkan dirinya di tempat tidur karena tidak kuat menahan sakit di tulang keringnya. Adriana sudah menanggalkan pakaiannya. Dia masih sedikit malu jadi dia butuh selimut. Ketika dia membuka selimut, ratusan kecoak segera merayap memenuhi tubuhnya. Dia bagaikan mumi kecoak. **Seketika itu juga dia pingsan.


(Geli-Geli Lucu ๐Ÿ˜’๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ Kini tinggallah aku sendiri, merana menahan gejolak di pusat kehidupan๐Ÿ˜… gak canda ajah bukan Richard yang nyanyi**).


"Akh, ini bagaimana aku menuntaskannya?"


"Tante bisa membantumu"


Amber masuk dan mengitari tempat tidur. Ada beberapa kecoak yang masih bertahan di tempat tidur. Dia memapah Richard yang setengah telanj*ng masuk ke sana. Keadaan di sana lebih baik.


Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini di antara kita saja. Jangan sampai Adriana tahu. Apa kau paham?"


"Aku paham. Maka puaskan aku" Perintah Richard.


Dan pergumulan itu terjadi di Kamar Mandi. Amber bekerja keras sendirian sebab kaki Richard masih belum bisa digunakan dengan baik. Tapi dia senang setidaknya ada daun muda yang bisa mengubah fantasi liarnya bersama Edgar menjadi kenyataan. Yang muda tentu lebih perkasa.


(Semangat Tante. Minum Susu Tinggi Kalsium biar tulang sehat). ๐Ÿ™„๐Ÿ™„


Sehabis gempa bumi yang melanda, Richard dikembalikan ke posisi semula dan pura-pura baru siuman. Amber keluar kamar bersamaan dengan Adriana yang siuman.


"Sayang, kau baik-baik saja?"


"Bersihkan kamar ini. Banyak sekali kecoaknya. Wajah mereka mirip denganmu"


"Ehhhehehe.. Akan aku bersihkan. Ayo lanjutkan yang tadi"


"Aku tidak berselera lagi setelah melihat betapa berantakannya kamarmu"


"Tapi sayang... Aku menginginkanmu"


"Yah sudah. Bawa aku ke Kamar Mandi"


Aku ingin membandingkan pekerjaan siapa yang lebih hebat.


Adriana mengernyitkan hidungnya mencium aroma yang sangat dikenalnya. Aroma percintaan serta parfum wanita. Tapi rasa panas telah menguasainya sehingga dia mulai bekerja memuaskan hasratnya sendiri.


Tidak buruk juga. Mereka berdua bekerja sama baiknya. Aku mungkin mendapatkan double tokcer hari ini. Senyum terbit di wajah Richard sambil terus bergumam tidak jelas menahan terjangan ombak.


***


Kamar Adriana ada di lantai bawah sehingga dia mudah untuk berjalan. Dia masih punya banyak tenaga karena dua wanita itu yang bekerja keras.


"Ayo makan siang dulu" Amber segera menarik Richard duduk di sebelahnya.


"Semoga anda puas akan pelayanan kami Tuan Muda Derbaltroz yang Terhormat." Emma tersenyum manis pada Richrad menyuarakan ketidaksukaannya.


"Diam kau gadis busuk" Hardik Amber cepat.


"Ekhm, bibi jangan marah-marah saat makan siang. Darah tingginya bisa kumat. Kami tidak mampu menggendong bibi jika bibi kejang-kejang nantinya" Ella melirik kaki Richard yang masih belum sembuh. "Ada laki-lakipun percuma, kakinya masih dibalut perban. Lalu di mana Adriana? Tadi kulihat dia antusias atas kedatangan tamu bibi".


Ella menarik Emma agar duduk kembali sambil pura-pura celingukan mencari Adriana padahal dia tahu Adriana kelelahan di kamarnya. Toh dia juga punya rekaman kegiatan mereka ber-ti-ga. Ta-da kejutan๐Ÿ˜Š.


"Ka..kau.." Amber kehabisan kata-kata. Tak bisa mengungkapkan keadaan sebenarnya. "Dia hanya mengantuk"


"Oh begitu" kata Ella sambil memberikan smirknya


Hanya mereka berempat yang makan saat itu karena si kembar masih di sekolah menunggu Supir menjemput mereka. Para pelayan menunggu di dapur.


"Aku telah selesai. Emma, ayo menunggu di ruang tamu" Ella mengedipkan sebelah matanya pada Emma agar membiarkan dua sejoli itu bermesraan.


Richard tersenyum kaku begitu hanya berduaan dengan Amber. Matanya menerawang jauh menikmati kehangatan mereka di bawah shower tadi.


"Hey, Sayang. Kau melamun?"


"Menjauhlah sedikit, Tante. Mereka akan melihat kita"


"Para bocah ingusan itu tahu apa?"


"Aku pergi duluan. Ingat tawaranku tadi. Setelah aku selesai bicara, tante coba menekannya agar dia setuju"


"Baiklah, pergilah sayangku" Amber sedikit meremas paha Richard. Richard hanya mengangguk mengerti akan sikap Tante calon ibu mertuanya tersebut.


"El," Sapa Richard dan mencoba duduk di samping Ella.

__ADS_1


"Sofa untuk tamu di sebelah sana. Lagipula ini hanya pas untuk dua orang" Ella menunjuk sofa di depannya membuat Richard berhenti mendekatinya.


"Ada yang ingin kubicarakan"


"Hmmm" sahut Ella.


"Ini tentang surat perjanjian itu"


"Aku setuju" Ella malas berbasa-basi. Dia tahu kedatangan Amber pasti mau membujuknya.


"Kenapa kau mengiyakan secepat itu?" Amber merasa dirugikan. Tidak membujuk Ella berarti hangus sudah 5% warisan dari Derbaltroz tua.


"Haih, Surat itu masih ada di tangan Kak Jackson. Lagipula aku bosan tinggal di sini. Warisan 45% tidaklah buruk. Lumayan untuk menghidupiku nanti. Iyakan Tuan Muda?"


Amber cukup ternganga mendengar 45% harta warisan. Dia melirik Richard bertanya-tanya kenapa bukan Adriana saja yang menikah dengan Richard. Toh sama-sama putri dari keluarga Roberto.


"Bibi? Leher bibi kenapa? Itu sangat merah" Ella kaget melihat leher bibinya. Pura-pura sih sebenarnya.


"Ada nyamuk yang menggigit tadi" Amber kikuk di tempatnya sambil melirik Richard lagi.


Jangan terus-terusan melirikku nenek tua. Bathin Richard takut kepergok selingkuh.


"Aku harap aku bisa memukul nyamuknya sampai mati. Berani sekali dia menggigit bibiku yang cantik"


Huweekk... El, pujianmu membuatku mual. Emma


"Uhukkk" Richard tersedak ludahnya disangka dia siluman nyamuk.


"Aku harap anda tidak menderita virus mematikan itu Tuan Muda" Sinis Emma.


Richard hanya mendelik kesal. Lalu berkata lagi pada Ella.


"Aku harap kita segera melangsungkan pertunangan kita minggu depan"


"Apa tidak terlalu lama? 2 hari kedepan. Aku memberimu waktu menyiapkan semuanya. Aku hanya ingin menunggu hasil" Ella meniup-niup kukunya pelan tanpa mau melihat wajah Richard.


Ternyata dia tidak sabar memiliki diriku. Richard dengan PD berkata dalam hatinya.


"Iyah Nak, persiapkan dengan baik yah?" Amber mengedipkan matanya pada Richard. Lagi.


Lebih cepat dia pergi, lebih baik. Mudah bagiku mencari di mana sertifikat rumah ini. Amber mulai menyusun rencananya.


"Kalau begitu aku pergi"


"Aku akan mengantarmu, Nak" Amber dengan cepat berdiri tapi Ella lebih dahulu berdiri.


"Ayolah, Bi. Yang akan menjadi calon istrinya tuh aku bukan bibi. Bibi tidak perlu repot-repot mengantarnya"


Amber duduk kembali dengan kesal mengabaikan Emma yang mulai senyum-senyum sendiri menyembunyikan rasa gelinya.


Dua siluman ini. Awas saja kalian. Amber memelototi Emma tapi Emma sibuk membuka aplikasi Whats Appnya membalas pesan dari Jackson. Keduanya makin akrab.


"Tuan Muda, aku harap acara pertunangan kita berdua sangat meriah. Undang juga teman-teman kita di High School"


"Buatmu, apa saja" Richard mencoba mencium kening Ella tapi Ella menghindar.


Ella dengan sigap menendang kaki Richard yang masih di gips hingga membuat dia tersungkur di lantai.


"Upss... Maaf ini sedikit licin. Aku akan menyuruh pelayan membersihkannya nanti"


"Tidak apa-apa. Aku tahu kau belum sepenuhnya menerimaku"


"Nah tahu begitu, jangan mencoba untuk merayuku. Kita bisa bertunangan dan menikah bukankah sudah keberuntungan luar biasamu? Jangan terlalu serakah. Balon jika ditiup akan tampak indah jika ukurannya pas. Tapi akan meletus bila terlalu besar"


"Aku paham"


"Jika paham maka segera pulang. Bawa obat nyamuk jika bepergian. Banyak nyamuk sekarang karena musim hujan. Kau juga lehermu merah pasti kena gigit nyamuk. Aku takut nyamuk membawa Virus kaki gajah. Kakimu kan sudah patah jangan sampai bengkak juga. Bisa saja terjadi tapi entahlah" Ella mengedikan bahu kemudian berbalik dan masuk.


Sejeli apa gadis itu sampai bisa melihat leherku? Padahal aku dari tadi melihat bahwa dia hanya memperhatikan kukunya. Akh, aku pusing. Richard naik mobilnya dengan terseok-seok. Kakinya sangat sakit saat ini.


"Langsung ke Rumah Sakit" Perintah Richard pada supirnya.


"Baik, Tuan Muda"


***


Jadi begitulah gempa buatan terjadi. Entah apa yang Ella pikirkan hingga dengan cepat menyetujui permintaan Richard yang penuh muslihat.


Tunggu saja kejutan lainnya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Ayohlah komen dan berikan saran. Jangan lupa likenya juga. Please, jangan jadi ghost reader๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Salam ELughta๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2