
Happy Valentine Day๐๐๐ Mohon maaf para Reader yang budiman dan masih setia menunggu update novel ini sampai malak di chat๐ Semisal Kak BiQ.... Otor belum sembuh dari sakit tapi karena ada yang sudah rindu jadi Otor bikin cerita pendek saja yah? Doakan Otor semoga cepat sembuh and Happy Reading๐๐
.
.
Ella pulang bersama Nick kala itu. Di atas mobil yang dia tumpangi, air matanya masih saja mengalir. Ratu drama ini tahu saja menarik simpati. Nick menjadi tidak konsen menyetir. Walau bagaimanapun, pertunangan ini terjadi karena dia juga ikut andil di dalamnya. Dia berusaha melupakan Ella karena akan segera menikah dengan pilihan ibunya.
"El, sudahlah. Jangan menangis lagi" Nick memberhentikan mobil di pinggir jalan.
"Bagaimana bisa dia berbuat begitu padaku? Kenapa bukan Adriana saja yang bertunangan dengannya kalau memang mereka sudah melakukan hal sejauh itu? Aku juga merasa sangatlah bersalah pada Adriana"
"Untuk apa merasa bersalah?"
"Aku telah mengambil orang yang dicintainya"
"Kami yang bersalah padamu"
"Kami? Maksud Kakak Nick?" Ella pura-pura tidak paham akan perkataan Nick.
"Ah maksudku dia yang harusnya merasa bersalah padamu. Bagaimanapun dia dan Adriana sudah bersama selama ini tapi masih tetap saja ingin menikah denganmu"
"Apa tidak ada cara lain untuk menunda pernikahan?"
"Menikahlah denganku maka kau akan terbebas darinya"
Ikan menarik umpannya. Tawa Ella dalam hati.
"Tidak mungkin semudah itu kan? Aku tidak ingin merusak reputasimu, Kak"
"Tenang saja. Aku akan melindungimu darinya"
Well, melindungi diriku dan 45% harta warisan sekali jalan tidaklah buruk juga. Kak, kau mencoba untuk memanfaatkanku tapi lihat saja apa yang akan kau dapatkan bila bermain-main dengan seorang gadis cantik sepertiku.
"Aku serahkan hidupku padamu, Kak"
"Jangan menangis lagi tidak bagus untuk wajah cantikmu. Harusnya kau bahagia karena sudah bertunangan"
Ella melepaskan senyuman terbaiknya. Di sudut bibirnya terbentuk smirk aneh. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa lagi yang sedang di rencanakannya.
(Dan Otor juga jangan lupa๐ ๐ )
25 menit perjalanan menuju kediaman Keluarga Roberto hanya diisi dengan melodi dari senandungan Nick untuk menghibur Ella sedangkan gadis itu sudah tertidur dari tadi.
"El, sudah sampai" Nick menoleh dan melihat Ella yang sudah tertidur. Akhirnya dia menggendong Ella ke dalam rumahnya.
"Di mana kamar Ella?" Tanya Nick pada pembantu rumah itu.
"Tidak perlu mengantar adikku sampai di kamarnya. Dia masih seorang gadis dan aku sebagai kakak tidak senang jika ada yang masuk kamar adikku. Terlebih lagi ada juga Emma di kamar yang sama"
"Tapi dia sedang tertidur" Nick mencoba memberi alasan. Dia hanya penasaran dengan kamar gadis itu.
"Aku bilang tidak yah tidak. Sebagai Kakak ipar seharusnya kau ingat posisimu"
"Ayohlah, kita kan bersahabat jadi..."
"Persahabatan kita putus saat kematian Edgar. Jangan lupa bahwa kau yang memodifikasi mobil balapnya. Kemungkinan besar kau ikut andil dalam kematiannya" Sebelum Nick habis berbicara Henry sudah memotongnya, membuat setitik keringat meluncur dari pelipis Nick.
Henry dengan sigap mengambil alih Ella. Dia tidak mungkin menunjukan rupa kamar gadis itu pada orang luar. Dimana dia tahu apa isi kamar itu yang penuh dengan peralatan canggih saat ini. Camael sedang memproses data saham yang dimiliki perusahaan Keluarga Derbaltroz.
Syukur aku bisa mengambil alih Ella. Jika sampai Nick tahu keadaan kamar Ella pasti rencana Ella benar-benar akan berantakan. Aku tahu gadis kecilku ini punya rencana besar. Dan aku akan mendukungnya diam-diam.
"Keluarlah lewat pintu yang kau masuki tadi. Terimakasih sudah mengantar adikku pulang"
"Sama-sama. Lain kali saat kita bertemu, kau mungkin akan memanggilku adik ipar"
"Aku menantikan saat itu" Henry berlalu meninggalkan Nick seorang diri di ruang tamu. Datanglah iblis penggoda.
"Selamat malam Tuan Muda" Sapa Amber dengan lembut.
"Selamat malam juga Nyonya"
"Ada keperluan apa yah?" Amber beringsut mendekati Nick.
"Mengantar Ella pulang"
Gadis sialan itu terus saja dikerubuni pria tampan. Dulu Edgar, lalu Richardku, sekarang Nick. Amber memaki Ella dalam hati.
__ADS_1
"Hatchiiiii" Seketika Ella bersin dalam gendongan Henry.
"Apa anda ingin minum teh bersamaku?" Amber menatap Nick dengan tatapan sensual. Dia berusaha mendekati Nick dan menggandeng tangannya. Dia mendekatkan buah pepayanya ke lengan Nick karena sekarang dia menarik paksa Nick yang enggan berpindah.
"Sayang, dengan siapa di situ?" Tiba-tiba saja Larry Roberto datang dan menegur istrinya. Amber segera menjauh dari Nick.
Selamatlah diriku dari tante pedofil. Nick bersyukur dalam hati.
Kakek tua bangka ini kenapa bisa ada di sini? Tidur saja kenapa? Amber benar-benar dongkol karena kesenangannya terganggu.
"Aku bersama Tuan Muda Derbaltroz Pertama. Dia mengantar Ella pulang"
"Hah? Bukankah harusnya Tuan Muda Kedua yang mengantarnya?"
"Ada sedikit kesalahpahaman di pesta sehingga Ella lebih memilih untuk pulang bersamaku. Kalau begitu aku pamit, Tuan dan Nyonya"
Nick segera berlalu sebelum Amber berinisiatif mengantarnya sampai di gerbang. Dia tidak ingin terjerat dengan istri orang. Cukup bersama Ella yang merupakan tunangan adiknya.
***
"Aku datang kemari ingin mengajak Ella makan siang" Richard Derbaltroz dengan tidak tahu malu datang bertamu di rumah Ella.
"Aku akan memanggilnya" sahut Henry malas.
"Kakak ipar tidak pergi kantor?" Tanya Richard basa-basi.
"Terlalu cepat untuk memanggilku Kakak ipar. Semalam kakakmu datang dan memanggilku Kakak ipar. Ada apa dengan kalian berdua?"
"Hah? Mungkin Kakak hanya bercanda" Richard menampilkan senyuman palsunya.
Dasar Nick sialan. Kalau dia bukan kakakku, sudah aku lenyapkan dia.
"Tunggu di sini aku akan memanggil Ella. Aku harap kau tidak melenceng dan masuk ke kamar lain"
"Ma..maksud Kakak?"
"Kamar Adriana misalnya?"
Bukan hanya Ella yang selalu mengawasi pergerakan setiap orang di rumah itu tetapi Henry juga. Hanya saja dia sampai saat ini belum tahu Ella menderita Hemofilia. Henry segera menaiki tangga menuju kamar Ella.
Di depan pintu, di tidak langsung mengetok. Dia teringat kembali adegan semalam saat dia membaringkan Ella di kasur. Gadis itu hanya pura-pura tidur karena dia melihat dengan jelas tawa lebar di wajah gadis itu.
"Masuk kak" Teriak Ella seperti cenayang yang sudah tahu Henry di depan pintu.
"Ada Richard di bawah. Mau mengajakmu makan siang. Mungkin permintaan maaf soal sapu tangan?"
"Menjijikan. Tapi aku akan pergi"
Ella sudah siap. Dia memakai baju kaus dengan kemeja di luarnya dan celana jins. Simpel tapi tetap memancarkan aura kecantikannya.
"Kau akan mengenakan ini untuk jalan bersamaku? Apakah kau tidak punya gaun?" Melihat penampilan Ella membuat Richard risih sendiri.
"Memangnya kenapa?"
"Kita akan makan di restoran mewah kenapa kau berpenampilan seperti ini?"
"Restoran di luar sana masakannya tidak seenak buatan Emma. Kau malu jalan bersamaku? Yah sudah aku mau tidur saja"
'" Yah baiklah"
Richard dengan segera menyetujuinya daripada Ella ngambek kemudian masalah ini berbuntut panjang.
"Aku harap kau tidak menjadi buaya hari ini" Pesan Henry pada Richard mengingat kebiasaan buruknya yang selalu bermain wanita.
Ella diam saja di dalam mobil bersama Richard. Dia benar-benar merasa perjalanan 30 menit sungguh seperti sehari penuh. Sampai mereka tiba di Restoran Mewah, Ella melenggang masuk tanpa mau menunggu Richard. Dia duduk di salah satu meja yang bertuliskan Reservasi.
"Anda ingin memesan apa, nona?"
"Emmm.. Apakah ada jus mangga di sini?" Ella bertanya dengan berbisik.
"Kami menyediakan apapun nona. Bahkan jus durian juga ada"
"Benarkah? Bagus kalau begitu. Aku pesan jus durian dan juga kue rasa durian. Sisanya biarkan saja Tunanganku yang memesan"
"Baiklah nona. Tunggu sebentar, pesanan anda akan segera datang"
Jus durian? Selera yang unik. Pikir pelayan itu.
__ADS_1
"Sayang? Kenapa tidak menungguku?"
"Kau sangat lamban seperti siput. Oh yah pesan saja makananmu. Aku sudah duluan memesan" kata Ella acuh sambil memperhatikan sekitar.
Akhirnya Richard memesan makanan dan anggur mahal. Dia ingin membuat Ella mabuk.
"Penuh juga restoran ini"
"Tentu saja karena ini makan siang. Lagipula restoran milik kami akan selalu ramai pengunjung"
"Berapa banyak investor yang menanamkan modal untuk industri makananmu?"
"Sekitar 6 orang. Salah satu di antaranya bernama Chen sekitar 30% saham yang dia miliki. Aku selalu ingin bertemu dengan bosnya tapi tidak pernah kesampaian"
"Kau akan bertemu dengan bosnya. Siapa nama bosnya kalau begitu?"
"Mereka memanggilnya Nona Besar Sellena Williams"
"Jadi dia seorang wanita"
"Yah aku ingin bertemu dengannya tapi sudahlah. Ayo kita makan dan apa yang kau makan itu? Baunya tidak enak"
"Oh ini kue rasa durian. Kau mau mencobanya? Mereka pandai sekali membuatnya"
"Buang itu dan aku akan memesan yang lain. Aku bahkan memesan anggur"
"Heh? Siang bolong begini minum anggur? Lagipula aku sudah makan durian. Aku tidak mungkin minum anggur jika tidak ingin mati keracunan"
Ella kembali sibuk menyantap kue duriannya sambil menikmati wajah tersiksanya Richard.
"Sayang.... Aku merindukanmu" Suara sensual itu menarik perhatian beberapa tamu.
Tiba-tiba saja ada seorang gadis yang datang dan langsung duduk di pangkuan Richard. Dia mengalungkan tangan Richard di pinggangnya sambil berusaha menikmati bibir Richard. Sebelah tangannya menarik tangan Richard menuju semongkonya. Di tidak peduli tatapan orang-orang karena sudah biasa melakukannya bersama Richard.
"Emmmhhh.. Lepaskan aku" Richard berteriak frustasi.
"Kenapa berteriak? Biasanya kau menikmatinya saja. Apa karena kau malu pada adikmu?" Dia berbalik dan menatap Ella.
"Dia bukan adikku, dia..."
"Bukan adik yah? Oh kakaknya? Hai, perkenalkan aku Cathrine, kekasih Tuan Muda yang paling hot. Siapa namamu?"
Ella menaruh sendok di meja. Dia berdiri, merenggangkan ototnya dan memutar pergelangan tangannya.
"Aku Arquiela Roberto Simmons, orang yang semalam disematkan cincin oleh Tuan Muda tersayangmu itu. Aku tunangannya jadi menyingkirlah kau darinya"
Ella menarik rambut Cathrine lalu menghempaskan dia di lantai. Belum puas, Ella menariknya berdiri lalu memberinya tinju. Tinju loh bukan tamparan.
Seketika sudut bibir pelakor itu berdarah. Dia ingin menampar Ella yang berjarak 1 meter darinya tapi kaki Ella lebih dulu mendarat di dadanya membuat dia terlempar ke arah jendela.
"Dasar pelakor sialan. Aku baru bertunangan semalam dan siang ini kau sudah beraksi, hah? Namamu Cathrine kan? Kau bertingkah laku seperti kucing garong. Ingat, aku bisa saja membuatmu lebih parah. Jadi jangan mencari masalah denganku" Ella memberi Cath peringatan dengan menjambak rambutnya dan membuatnya menengadah.
"Tuan Muda tolong aku..." Rintih Cath. Ella yang mendengar dia meminta tolong segera membenturkan dagu wanita itu ke lantai. Entah berapa gigi yang rubuh. Semua tamu yang melihat kejadian itu hanya diam tidak ingin menolong pelakor bahkan ibu-ibu anti pelakor terus memberikan Ella semangat.
"Sayang.. Aku mohon tenanglah. Aku juga tidak tahu siapa orang itu" Richard berusaha menenangkan Ella. Dia menarik Ella duduk.
Segera dia mencoba menggenggam tangan Ella untuk meminta maaf tapi dia kalah cepat dengan pisau yang sudah menempel di meja tepat di samping telapak tangannya. Dia langsung berkeringat dingin.
"Jangan coba melebihi batasanmu Tuan Muda. Semalam dalaman Adriana sekarang berciuman di depanku. Besok apalagi? Kau benar-benar sesuatu? Lain kali, pisau ini akan tepat sasaran di tengah telapak tanganmu yang sudah berani meremas semongko wanita lain di hadapanku. Aku tidak pernah bercanda"
Ella mengambil jus durian itu dan menyiramkannya di sekujur tubuh Richard. Sudah malu, bau pula.
"Sayang, aku akan mengantarmu pulang" Tawar Richard.
"Jangan menjadi tidak tahu malu Tuan Muda. Apa kau sudah kehilangan ke****anmu?. Aku ingatkan sekali lagi, jangan sering-sering mengusikku nanti aku tidak bisa bersabar dan harta 45% itu akan hangus"
Ella mengambil sisa kue di piring dan memasukannya lalu melenggang pergi dengan riang. Gio sudah berada di parkiran menunggunya. Mereka segera melaju dengan kecepatan sedang.
"Nona jangan bercerita. Maafkan aku nona tapi nona sangat bau"
Ella tertawa tidak berdosa dan mengembuskan napasnya ke segala arah membuat Gio hanya bisa menaikan atap mobil agar udara segar bisa masuk.
"Nona mengandung racun"
"Maka dari itu, jangan mencoba mengusikku"
Aku tidak berani karena Nona besar adalah penolongku. Begitulah yang ada di pikiran Gio saat ini.
__ADS_1
***
๐๐๐Kurang seru yah? Sorry Otor lagi demam nih๐ญ Ngerayain Valentine bareng selimut dan bantal. Yah udahalah yang penting Reader happy terutama buat kesayangan aku BiQ. Sekali lagi Happy Valentine Day๐