
5 jam setelah meninggalnya Edgar, Mansion Keluarga Dhawn tampak mencekam. Putra bungsu keluarga itu kini berbaring kaku di dalam peti. Wajah pucatnya tanpa ekspresi.
Nyonya Chyntia duduk di samping peti mati putranya. Memandang wajah tampan tersebut sambil sesekali tangannya menghapus air mata yang jatuh. Dia tidak pernah membayangkan putra kesayangannya itu pergi mendahuluinya.
Mami Chyntia mengangkat kepalanya dan menatap Ella. Gadis itu diam saja dari tadi menatap lurus ke depan. Orang yang datang melayatpun tidak dia hiraukan. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Emma datang dan duduk di samping Ella tapi Ella tetap diam saja. Dia seperti kembali ke mode diam seperti 4 tahun lalu saat Ibunya Richard menjambak rambutnya. Emma memeluk Ella kuat untuk menyadarkannya tapi Ella terlanjur masuk ke dunianya sendiri. Dia membentengi perasaannya dengan berdiam diri.
"Ella, ayo makan"
Ella tidak menyahut atau menggerakan tubuhnya. Dia masih terus terpaku diam. Emma mengerahkan kekuatannya dan berhasil membopong Ella menuju dapur. Dia mencekoki Ella dengan susu dan bubur tapi Ella bahkan tidak mau mengunyahnya.
Emma bingung harus berbuat apa lagi. Ella sedikit bereaksi ketika melihat Renay datang dengan menggandeng Leon. Mereka menatap wajah Edgar sebentar kemudian hendak menghampiri Ella.
Ella mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya. Emma yang melihat perubahan raut wajah Ella langsung berbisik.
"Jika ingin mengomeli mereka, kau harus makan. Mengomeli orang butuh tenaga yang banyak". Emma memikirkan ide itu. Mungkin akan sedikit melukai hati Renay tapi Ella saat ini menjadi prioritasnya.
Dengan tidak terduga, Ella mengambil mangkuk bubur tersebut kemudian memakan isinya. Hanya setengah saja, dia mulai merasakan mual. Dia berlari menuju wastafel. Untung saja dia memuntahkan cairan kuning kehijauan yang sedikit asam dan pahit. Dia segera berkumur kemudian kembali menemui Emma. Di melangkah cepat mengacuhkan Renay dan Leon. Renay tidak mempermasalahkan hal itu. Dia tahu perasaan Ella saat ini.
Emma sedikit lega. Setidaknya diperut Ella sudah ada isi untuk menghidupi cacing-cacing di sana.
Larry Roberto, istri dan anak-anaknya semua sudah hadir. Si kembar berlari menuju peti mati Edgar kemudian mulai menangis. Mereka tahu jika seseorang berada di situ maka mereka tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
"Angkel tega sekali meninggalkan kami" Ello terlebih dahulu mengutarakan isi hatinya.
"Bahkan meninggalkan kakak kami yang cantik. Angkel, apakah kita tidak akan pernah bermain bersama lagi?" Tanya Elli di sela tangisnya.
"Huhuhuhu.... Angkel jahat sekali. Aku dan Elli masih ingin bermain bersama Angkel"
"Bawa ini bersama Angkel. Ini adalah mainan kesayangan kami. Mungkin Angkel bisa menemukan adik-adik kecil di sana untuk main bersama" Elli meletakan beberapa robot dan juga sebuah tablet. Mereka mungkin tidak akan menonton film horor lagi karena tablet tersebut telah berpindah tangan.
Ella menatap Amber dan Adriana yang ikut menangis. Dua orang ini juga bisa menangis? Entah tulus atau tidak Ella tidak peduli.
Bahkan keluarga Derbaltroz juga datang untuk melayat. Sebenarnya apa tujuan mereka datang. Melihat kesedihan kami atau hanya untuk mengejek? Sedikit seringaian tampak di wajah Richard ketika tiba di depan peti Edgar. Dia masih menggunakan tongkat untuk menopang bobot tubuhnya.
__ADS_1
Rivalku, selamat jalan. Tidak ada lagi yang menghalangi jalanku untuk mendapatkan gadis itu. Richard segera mengembalikan wajahnya menjadi sedih. Nyonya Derbaltroz datang dan memegang peti Edgar.
"Malang sekali nasibmu, Nak. Kenapa kalian harus balapan jika pada akhirnya kau seperti ini? Tapi aku bersyukur bahwa itu bukan putraku yang mrngalami nasib tragis"
Seketika Mami Chyntia berdiri dan ingin menjambak rambut Nyonya Derbaltroz tapi Emma dengan sigap memeluk Mami Chyntia menenangkannya.
"Jangan bertindak gegabah karena dia hanya ingin memprovokasi Mami. Dia mungkin sudah merencanakan sesuatu. Jika Mami menampar atau menjambaknya, dia punya alasan untuk mempolisikan Mami. Dia ular berbisa, jadi aku harap Mami tenang"
Napas Mami Chyntia masih memburu tapi beliau kembali duduk dengan tenang. Papi Romand datang kemudian memberi informasi bahwa penguburan Edgar akan segera dilaksanakan.
Jeremy atau yang lebih sering disebut dengan Jerry datang dengan setelan hitamnya. Dia memandang Ella cukup lama sebelum pergi ke peti Edgar.
Jadi gadis itulah alasanmu melakukan ini semua? Dia cantik. Dia juga kelihatan baik hati. Dia sangat kehilanganmu, itu artinya kau istimewa di hatinya. Entah apakah baik melakukan ini padanya. Aku harap dia bahagia setelah ini. Jeremy
Beberapa saat kemudian, peti akan segera di tutup jadi pelayat di mohon pindah ke halaman dan membiarkan keluarga melihat Jenazah untuk terakhir kali.
Ella menatap nanar wajah Edgar. Ketika peti akan ditutup, dia mencegah mereka melakukannya. Dia takut Edgarnya akan sesak napas. Tapi di saat bersamaan dia sadar bahwa Edgar tak memiliki napas lagi. Dia menjerit histeris saat tutup peti dipaku.
"Tidaaaakkkkk.. Aku mohon jangan menutupnya. Kakak lepaskan aku... Mereka menutup wajah Edgar-ku. Kak J, lepas....." Ella masih berusaha melepaskan pelukan Jackson di perutnya. Dia memukul-mukul tangan Jackson tapi pelukan itu tidak melonggar.
Jackson juga segera melepaskan Ella karena peti sudah selesai dipaku. Dia dan Jeremy ikut mengusung peti Edgar menuju mobil jenazah yang akan mengantar mereka menuju perkuburan keluarga Dhawn.
***
"Aku ikut bersamamu, Ed" Racau Ella saat peti telah di turunkan ke liang lahat.
Pendeta segera membaca doa dan mereka semua mengamininya. Sedangkan Ella diam saja. Dia tidak mau mengamini karena belum siap berpisah dengan Edgar.
Berpisah denganmu? Lalu segera melupakanmu, bisakah aku? Aku tidak yakin aku mampu menemukan cinta setulus dirimu. Ella membathin
"Ed, jangan tinggalkan aku. Aku harus berlari pada pelukan siapa jika sedih seperti ini? Kau membawa pergi cinta yang baru saja aku sadari"
Ella akan melompat masuk ketika sebuah tangan kekar kembali memeluknya posesif. Jeremy dengan sigap membelenggu Ella dengan pelukannya. Dia tidak bisa membiarkan Ella masuk ke dalam sana.
"Biarkan aku masuk, Kak. Edgar-ku kedinginan di bawah sana. Dia bahkan hanya mengenakan tuxedo. Edgar butuh pelukanku walaupun terlambat"
__ADS_1
"Dia akan baik-baik saja di sana"
"Dia tidak kak. Kakinya patah, bagaimana dia akan naik? Dia pasti merasa pusing"
Mendengar tangisan Ella yang pilu membuat mata beberapa teman lelaki mereka ikut memerah. Sangat banyak yang melayat dan ikut penguburan Edgar. Mami Chyntia masih pingsan jadi tidak ikut penguburan.
Saat tanah telah selesai menutupi liang lahat, hujan deras beserta gemuruh saling bersahutan. Tanah menjadi basah oleh hujan dan air mata.
Semua orang sudah kembali karena penguburan telah selesai dan juga hujan yang turun tiba-tiba. Tapi Ella masih duduk di tanah memeluk kuburan Edgar.
Untuk apa aku di sini bila tak bersamamu? Pada siapa aku harus berkeluh kesah? Aku bahkan melimpahkan hidupku padamu tapi kau pergi lebih dahulu. Ed, bawa aku bersamamu bisakah? Jika tidak memungkinkan, biarkan aku membalas dendam untuk mereka. Stop menceramahiku untuk menjadi gadia baik. Aku tidak bisa memaafkan perbuatan mereka yang mengharuskan kita berpisah seperti ini. Aku berjanji padamu, aku akan mencari keadilan untukmu.
Ella menggali kembali kuburan itu dengan tangannya. Kerikil kecil menggores tangannya dan darah segar segera keluar. Dokter Raymond yang juga Paman Edgar langsung panik. Dia segera menggendong Ella dan membawanya ke Rumah Sakit. Ella masih menderita Hemofilia bahkan mungkin sudah akut. Luka kecil di seluruh telapak dan jarinya terus berdarah.
Jackson yang heran dengan segera ikut mereka ke Rumah Sakit bersama Emma, sedangkan Jeremy kembali ke Mansion Dhawn melihat keadaan Mom-nya.
"Apa yang terjadi dengan Ella?" Tanya J pada Emma saat mereka berdua masih di mobil.
"Aku juga tidak tahu kenapa Ella seperti itu" Emma masih ingat untuk mengunci rapat mulutnya.
"Apa dia seringkali berdarah seperti itu?"
"Tidak juga. Hanya jika emosinya tidak stabil"
Astaga alasan konyol apa yang kubuat ini? Mudah-mudahan Kak Jackson tidak menyadarinya. Emma sedikit berkeringat dingin.
Jackson juga tidak ingin berpikir banyak. Dia tahu kenapa Emma bahkan Edgar menyembunyikan kebenaran. Demi keselamatan Ella. Dan juga Ella bersama Paman mereka Raymond Dhawn jadi gadis itu akan baik-baik saja.
***
Selesai semedi, Edgar juga sudah dikuburkan. Tisuuuu.. mana tisu?? 😭😭😭
Otor tidak bisa membuat kata-kata yang lebih sedih lagi. Maafkan Otor yah? Jangan lupa tinggalkan jejak😭 Otor mohon pake nangis nih..
Salam ELughta😍😘
__ADS_1