
Merubah penampilan menjadi orang lain awalnya merupakan sebuah berkah karena dengan begitu kita akan mendapatkan sumber daya yang kita perlukan. Sayangnya semakin lama hal itu justru membosankan. Kita tidak bisa melakukan hal yang kita sukai karena selama menjadi pribadi yang lain, semua memiliki batasannya.
Hal itulah yang dialami Ella ketika menjadi Elleane yang hidupnya statis berjalan di tempat dan itu-itu saja. Markas-kampus-markas- mengurus si kembar. Ingin berbelok ke tempat lainpun harus dikawal ketat.
"Aku rindu menjadi Ella yang setiap hari sibuk bersama para ahli atau membobol jaringan perusahaan orang" Ella merenggangkan tubuhnya di bangku taman dengan malas.
Masih sama seperti kemarin, dia sendirian. Steven masih belum kembali. Setelah lama duduk, dia mengeluarkan Tabletnya memonitor apa saja mahasiswa lakukan.
"Idih.. Bercumbu di toilet? Ck!" Ella menyimpan video mereka yang mungkin suatu saat akan berguna.
Astaga kemarin aku menolong adik seorang mafia. Kenapa lensaku ini lambat sekali memperoleh informasinya? Mungkin karena Camael masih sibuk memilah data semua orang di negara ini. Pikir Ella begitu melihat salah satu CCTV menampilkan Brenda gadis kemarin di antar oleh Brandon, kakaknya.
Si kakak mengelus pelan rambut adiknya kemudian masuk kembali ke dalam mobil sambil menatap tajam para lelaki di sana.
"Wow, enak juga dijaga oleh Kakak laki-laki. Hehehehe... Tidak mungkinkan aku menyuruh Kak Henry kembali berkuliah?" Ella menggelengkan kepalanya pelan sambil mengisi Ipadnya karena dia akan masuk kembali untuk mengikuti perkuliahan.
Dasar rok.. Membuatku kesusahan berjalan. Oh Ella hidupmu sangat menyedihkan. Ella mengerutu dalam hatinya karena sudah terbiasa memakai celana jeans.
Saat akan masuk kelas, Ella berpapasan dengan Brenda yang tersenyum manis padanya. Ella juga balas tersenyum lalu buru-buru masuk.
***
Ting. Notif pesan masuk berbunyi membuat Ella mengalihkan tatapannya sejenak menuju layar Ipadnya yang sekarang menampilkan nama Kak Chen.
Selamat pagi Nona Besar, maaf mengganggu kegiatan Nona tapi ini masalah darurat. Seven Paradise mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita. Apakah saya harus menyetujuinya?
Setujui saja karena permainan ini akan sangat menarik. Jangan lupa berikan mereka akses masuk tapi Lock data internal yang hanya boleh kita berlima yang tahu. Aku akan mengatur pengunciannya dari sini.
Setelah membalas pesan Chen Ella sedikit tidak berkonsentrasi memikirkan alasan mereka mengajukan kerjasama.
__ADS_1
Jika mereka ingin mengambil data internal maka dengan sendirinya saham mereka akan mengalir ke akunku yang tanpa nama tersebut. Aku bisa menguasai perusahaan mereka kalau begitu.
Ella tersenyum miring. Walaupun sudah tahu siapa CEO sekaligus pemilik perusahaan itu, tetap saja Ella ingin bermain-main tarik ulur dengan mereka yang tentu saja tidak pernah tahu siapa itu Sellena Willem.
Keluarga Willem tersebar di beberapa negara sehingga pada saat ibunya menjadi pemilik perusahaan, tidak ada yang komplain atau mencaritahu asal-usul ibunya.
"Kumpulkan esaynya dua hari lagi" ucap Dosen saat mengakhiri perkuliahan mereka.
Ella mengumpulkan kembali buku-buku yang berserakan di atas meja untuk dimasukan ke dalam lokernya.
"Hay..." Brenda menyapa Ella.
"Oh hay juga"
"Aku Brenda. Kamu Elleane kan?"
"Terimakasih untuk kemarin. Kakakku mengajakmu makan malam sebagai ucapan terimakasih"
"Emmm... Sepertinya aku tidak bisa karena..." Ella masih berusaha mencari alasan logis.
"Ah.. Aku tahu karena kau sama sepertiku tidak bisa sembarang berkeliaran. Baiklah. Mungkin besok aku bisa mentraktirmu makan di kantin"
"Bisakah sekarang saja? Besok aku tidak punya kegiatan di kampus"
"Kalau begitu ayo.."
Akhirnya Ella digandeng oleh Brenda menuju kantin. Sepanjang perjalanan, semua mata menatap Brenda dengan tatapan meremehkan.
Hanya perasaanku saja kan? Kenapa mereka menatap kami seperti itu? Ada apa dengan Brenda ini?
__ADS_1
Ella diam-diam mengetikan perintah pada Camael saat mereka duduk menunggu pesanan untuk menyelidiki latar belakang Brenda. Ella tidak ingin salah bergaul.
"Kamu pasti tidak nyaman yah berjalan bersamaku?"
"Sedikit. Soalnya aku belum tahu apapapun tentangmu"
"Em... Sebenarnya aku adalah anak simpanan. Ibu adalah orang ketiga dalam rumah tangga Keluarga Rizon. Itu menjadi pemberitaan panas saat aku lahir dan diantar ke Keluarga Rizon. Tidak banyak yang menyayangiku di sana. Hanya Dad dan Kak Brandon"
"Mereka semua di sini tahu masalah itu?"
"Awalnya tidak ada yang tahu. Tapi Matthew menyukaiku dan membuat Clara cemburu. Clara kemudian menyelidikiku dan berakhir pada tersebarnya gosip itu membuat aku sering di bully"
"Apakah Dad atau Kakakmu tahu?"
"Aku berusaha agar mereka tidak tahu karena jika mereka tahu, mereka akan mengadakan pembasmian besar-besaran. Akan banyak korban. Dad dan Kak Brandon adalah Mafia yang selama ini dicari Agen Kepolisian"
"Stop it. Itu rahasia keluargamu. Tidak baik membocorkannya padaku"
"Karena kau bisa dipercaya. Ini untukmu, tekanlah ini bila kau berada dalam bahaya. Bantuan dari keluarga kami akan segera datang"
"Baiklah, terimakasih"
Ella menyimpan sebuah pin berbentuk Mawar hitam bermahkota merah.
Jadi gadis ini salah satu anggota Queen Black Rose. Ella manggut-manggut sambil menatap hidangan yang sudah tersaji di barengi tatapan menghina oleh pramusaji.
"Ekhmm..." Ella batuk membuat si pramusaji sedikit kaget dan segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Setelah selesai, dia langsung kabur karena takut kena semprot Elleane.
Mereka berdua kemudian makan dalam diam hingga semua lauk pauk tandas. Ella lebih memilih makan nasi daripada roti dengan isian karena ini adalah makan siang.
__ADS_1