Sellena

Sellena
Satu persen, Cukup.


__ADS_3

"Jadi apa yang kau inginkan?" Tanya Edgar begitu Richard muncul di hadapannya. Entah angin apa yang membawa Richard menemuinya.


"Ayo bertaruh. Kita balapan di sepanjang jalan ini. Tempat finish kita adalah arena balap dekat perumahan CB"


"Jadi apa yang harus kita pertaruhkan?"


"Ella"


"Apa tidak ada hal lain lagi? Aku akan pergi"


"Jika aku menang, aku tidak akan mengganggunya lagi. Bahkan kami sekeluarga. Tapi jika kau kalah, dia harus menikah denganku" Richard melipat tangan dan bersandar di mobilnya.


Ini sangat berisiko. Jika aku menang maka Ella akan terbebas dari semua masalah. Tapi jika aku kalah, maka selamanya Ella tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman mereka. Apa yang harus aku lakukan? Edgar masih berperang dengan hatinya.


"Aku tunggu jawabanmu. Temui aku besok jika kau serius bertanding denganku. Jadilah pria sejati" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Richard melaju meninggalkan Edgar yang masih merenung.


Sial! Pilihan ini begitu sulit. Aku juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab pada hidup Ella tapi aku ingin membahagiakannya seperti janjiku pada Bibi Marie.


Edgar bimbang menentukan pilihannya. Dia begitu kalut. Akhirnya dia pergi menemui Jackson kakaknya. Mungkin ada sedikit saran dari saudara serahimnya itu.


***


"Apa pilihanmu jika dia menantangmu begitu?" Tanya Jackson saat Edgar selesai bercerita.


"Aku punya pilihan apa Kak? Jika aku tidak bingung, aku mungkin sudah berada di arena menantangnya" Edgar mendelik kesal ras pertanyaan Jackson.


"Jadi sebenarnya apa yang kau takutkan?"


"Jika kalah, hidup Ella selamanya akan terbelenggu bersama mereka. Keluarga Derbaltroz bukanlah keluarga yang baik"


"Aku punya sahabat seorang Derbaltroz jika kau lupa. Dan selama ini kami baik-baik saja"


"Mungkin sekarang kalian baik-baik saja tapi tidak kedepannya. Sifat orangtua bisa saja diturunkan pada anaknya. Aku hanya mengingatkanmu Kak. Suatu saat dia berkhianat, jangan mencariku sambil menangis"


"Kau pikir aku ini pria apa? Terima tawarannya. Kau adalah pembalap handal. Pakai saja mobilku karena aku sudah mengubah beberapa fitur untuk memaksimalkan lajunya"


"Baiklah. Jangan beritahu Mom bahwa aku melakukan balap liar. Aku bisa dicincang"


"Tenang saja. Kau cukup berpikir untuk kemenanganmu" Teriak Jackson saat Edgar keluar dari kamarnya.


Eh? Aku lupa memberitahu Edmund bahwa yang mengganti semua fiturnya adalah Nick. Tapi yah sudahlah, aku membawa mobil itu beberapa hari ini tapi tidak ada kendala apapun.


Jackson acuh kemudian berbalik masuk ke kamar mandi menuntaskan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kedatangan Edgar.


Aku tunggu di tempat tadi. Aku harap kau tidak bermain curang. Kuhancurkan Keluargamu apabila itu terjadi. Edgar


Pesan singkat itu mulus sampai di handphone milik Richard. Senyum puaspun tercetak jelas di bibirnya. Ella akan menjadi miliknya dan mungkin juga harta kakeknya.


"Ayo sayang kita lanjutkan. Aku sedang senang saat ini"


Kegiatan panas itupun terjadi. Entah dia sayang atau tidak pada tubuh 18 tahunnya itu. Teriakan histeris sang gadis menjadi saksi bisu gempa yang mengguncang.

__ADS_1


***


"Emma kenapa perasaanku tidak enak begini? Aku kepikiran Edgar terus"


"Telpon saja dia. Tidak mungkin kan dia mati di tabrak mobil?. Dia pasti baik-baik saja"


Deg! Lagi-lagi perasaan itu muncul.


Tuuuttt...tuuuut.... Lama sekali bunyi dering pemanggilan. Ella menelepon Edgar sebanyak 14 kali panggilan barulah si empunya handphone mengangkatnya.


"Ummm halooo" Suara serak khas orang yang baru bangun.


"Kau di mana?" Ella panik.


"Tempat tidur. Gadis kecil, kau mengganggu tidurku"


"Syukurlah kalau begitu. Bangunlah, kita akan ke restoran menemui Renay malam ini"


"ughh... Menyebalkan. Untuk apa menemui gadis itu?"


"Dia mentraktir kita makan. Katanya hari pernikahannya akan segera diumumkan"


"Hey.. Kau baik-baik saja?"


"Hehehehee... Aku lebih daripada sekedar baik. Aku turut berbahagia untuk sahabatku"


"Jika sakit, kau bisa bersandar padaku. Aku akan selalu siap. Dan pastikan 1 persen hatimu tetap ada aku di sana"


"Ok!" Sambungan telepon terputus.


"Jadi di mana beruang kutub itu berada?" Tanya Emma melihat Ella sudah selesai menelepon.


"Kasur hangatnya. Aku merasa seperti gadis kecil yang membangunkan Beruang besar itu. Marza? Masha? Entahlah aku lupa namanya"


"Kau juga bersiaplah segera"


"Baiklah"


Tapi entah kenapa perasaan itu belum juga hilang padahal Edgar baik-baik saja di sana.


***


"Hey, kemarilah!" Panggil Renay saat melihat Ella, Edgar dan juga Emma. Edgar tampak seperti pria beristri dua karena Emma dan Ella yang berjalan di sampingnya.


Ella sedikit terkejut karena ada juga Keluarga Rein dan Leon Simmons. Ada sedikit rasa deg degan yang berdebum di dadanya. Dia menarik napas kemudian mendekati Renay.


"Selamat yah? Akhirnya kau duluan yang menjalani malam pertama"


Perkataan sedikit vulgar itu dibisikkan Ella saat memeluk Renay. Wajah Renay menjadi merah dan dia tersenyum malu.


Ella kemudian memeluk Tuan dan Nyonya Rein. Menghadiahi Nyonya Rein sebuah ciuman lembut di pipinya.

__ADS_1


"Selamat untukmu, Mi. Mungkin tahun depan akan ada tangisan bayi"


"Aku harap kau juga menyusul"


"Hehehee... Renay menggendong 3 anak baru aku akan menyusul" Ella menggaruk kepalanya.


Nyonya Rein hanya tersenyum kemudian mempersilahkan mereka semua duduk. Ella diposisikan di samping kiri Leon. Nyonya Rein sendiri duduk di sebelah kiri Ella. Entah apa maksud Keluarga Rein.


Edgar yang mengambil kursi di seberang Ella menjadi tidak tenang. Dia takut Ella terpengaruh akan kemesraan Renay dan Leon.


"Mami, ini kelihatan janggal. Aku seperti istri keduanya Kak Leon jika duduk seperti ini. Aku akan duduk di samping Edgar saja" Ella manyun pada Maminya tersebut.


"Di samping Edgar pun kau akan menjadi istri kedua. Sudah ada Emma di sampingnya. Lihat"


"Aku akan duduk di antara mereka. Mereka sering bertengkar jadi butuh aku sebagai penengah. Aku takut restoran malam ini berubah menjadi arena perang"


Nyonya Rein hanya pasrah kemudian mengangguk. Tadi dia ingin melihat reaksi Leon apabila ada Ella di dekatnya. Tapi rencananya gagal.


"Apa Tuan Muda Edmund tidak ingin pacaran dengan kedua gadis manis ini?"Tanya Ayah Renay membuka percakapan karena sedari tadi mereka diam menghabiskan makan malam.


"Satu persen hatinya ada namaku saja sudah cukup" Edgar menjawab dengan pasti.


"Hatinya?"


"Pria sejati hanya memiliki satu wanita seumur hidupnya walaupun maut akan memisahkan mereka nantinya. Aku harus memilih mereka berdua salah satunya. Itu tidak bagus, akan ada yang tersakiti jadi aku tidak pernah berencana memacari mereka"


"Jadi bagaimana menurutmu Nak Leon, jika ada Ella dan Renay, siapa yang akan kau pilih?"


Pertanyaan menjebak. Satu kalimat darimu merupakan penentu hidup Keluarga Simmons. Hati-hati dengan jawabanmu Kakak. Ella memandang Leon dan tersenyum penuh arti.


"Aku memilih Nona Reinar kerena dia adalah tunanganku. Sedangkan aku dan Ella memiliki nama belakang Simmons yang sama. Tidak mungkin aku bersama adikku. Bukan begitu, El?" Leon memandang Ella dan tersenyum membalas senyuman Ella.


Memakai ancamanku waktu itu sebagai jawaban hari ini. Kau lumayan, Kak.


"Aku sahabat Renay, Tuan Muda Leon adalah Kakak angkatku. Jadi untuk apa memilihku. Aku memiliki mereka berdua tanpa harus dipilih kan?" Ella menjawab dengan pasti. Senyuman manis tidak pudar dari wajahnya menyakinkan keraguan di hati Tuan dan Nyonya Rein.


"Apa ada yang ingin memberiku pertanyaan? Aku sangat diam dan mulutku ini marah padaku karena tidak menyerocos dari tadi" Akhirnya Emma bersuara mencairkan suasana yang sempat canggung karena pertanyaan Tuan Rein.


"Setelah lulus ini kau akan kemana?" Tanya Renay.


"Mengikuti Ella tentu saja. Aku menjadi seperti sekarang karena dirinya. Jadi aku akan selalu berada di sampingnya"


Ella langsung memeluk Emma tahu bahwa sahabatnya ini sangatlah menyanyanginya.


"Aku harap saat aku menikah nanti, kau tidak merebut aku dari suamiku" Ucapan Ella sontak membuat mereka semua tertawa.


Tatapan Ella mengunci sosok diseberang mejanya.


Selamat atas tanggal pernikahanmu, Kak.


Ketika Leon mengangkat wajah untuk memandang Ella, Ella terlebih dahulu memutar lehernya menuju Edgar. Ada sedikit saus yang tertinggal di sana. Ella meraih tisu dan melap sudut bibir Edgar. Edgar tersenyum membalas perlakuan Ella.

__ADS_1


Satu persen, sudah cukup. Edgar


__ADS_2