
Cahaya matahari yang menembus gorden membuat Jackson merasa tidak nyaman. Dia bangun dengan sedikit linglung tapi kemudian senyumannya mengembang melihat Emma yang masih terlelap. Dia segera bangun dan membersihkan diri.
"Sayang, kau sudah bangun?"
Ketika keluar dari kamar mandi, Jackson melihat Emma yang meraba-raba bantal di sampingnya.
"Hoamm... Rasanya aku sangat lelah dan mengantuk. Bolehkah aku tidur lagi?" Emma menguap lebar dan memejamkan matanya lagi.
Jackson tertawa pelan kemudian masuk ke ruang ganti. Selepas itu, dia membujuk Emma untuk bangun karena Keluarga Besar mereka sudah menunggu di bawah.
Tanpa menunggu lama, Jackson menyibak selimut dan menggendong tubuh Emma yang polos menuju Kamar Mandi. Sebelumnya dia sudah mengisi bathtub dengan air hangat dan mencampurkan beberapa aroma terapi.
Byurr.. Jackson meletakan Emma ke dalam bak mandi sehingga sebagian air terciprat keluar dan mengenainya. Emma dengan enggan membuka mata karena dia bermimpi dilanda banjir.
"Astaga!!" Pekik Emma kaget karena sudah berada dalam bak mandi dna melihat Jackson yang terampil menyabuninya.
"Kau malas bangun sehingga aku terpaksa memandikanmu"
"Ta..Tapi... Kyaaa... Kak J mesum!!"
"Hehehee... Mesum sama istri sendiri bolehkan? Lagian semalam aku sudah melihat dna merasai semuanya"
Perkataan Jackson mengembalikan ingatan Emma. Aku lupa kalau aku sudah menikah dengannya dan semalam melakukan malam pertama. Emma memukul pelan kepalanya.
"Kakak sudah mandi? Kalau belum ayo mandi bersama" Tawar Emma.
"Aku mau sih mandi bersama hanya saja mungkin kita akan membutuhkan waktu lama" Jackson mengerling dan Emma paham maksudnya sehingga tidak banyak bicara dia bangun dan berdiri di bawah Shower untuk membebaskan diri dari busa sabun.
J keluar dengan wajah sedikit merona. Walaupun dia sudah menekan hasratnya, tapi tetap saja tampilan Emma tanpa sehelai benang tersebut sungguh membuatnya tergoda.
Dia segera mengganti kembali pakian karena yang sebelumnya telah basah terkena cipratan air. Untuk mengembalikan akal sehatnya, dia berencana merapikan tempat tidur.
Begitu melihat seprai bernoda merah tersebut dia tersenyum sampai-sampai deretan giginya nampak. Sungguh bahagia bisa memiliki Emma seutuhnya. Dia merapikannya dengan cepat karena dia tidak ingin Emma malu melihat masih ada bekas percintaan mereka semalam.
__ADS_1
"Kak? Di mana baju gantiku?"
Emma tiba-tiba muncul hanya menggunakan handuk membuat Jackson susah payah menelan ludahnya.
Godaan terbesar adalah istrimu berdiri dihadapanmu hanya menggunakan handuk dengan harum sabun yang menyeruak. Jackson menatap Emma tidak berkedip hingga dia dengan cepat meraup bibir Emma dan menyesapnya lembut.
"Emmm.. Emmghh.." Emma menepuk pundak Jackson minta berhenti.
"Hah... hah.." Napas mereka tersengal karena Jackson yang mencium intens.
"Kak, pakaianku. Nanti saja baru aku melayanimu lagi. Aku lapar" Perkataan Emma mengembalikan akal sehat Jackson dia langsung menunjuk ruang ganti.
"Muah.." Emma mengecup pelan pipi Jackson dan segera berlari masuk takut Jackson menyergapnya.
Tidak lama kemudian Emma muncul dengan dress selutut. Dia duduk di meja rias dan mulai memakai bedak tipis dan pelembab bibir. Jackson menyaksikan itu semua dengan wajah kagum. Selesai berdandan, Emma langsung mengajak Jackson turun.
Selamat pagi semuanya..." Sapa Emma saat melihat semua orang sudah duduk dengan rapi di meja.
"Selamat pagi juga pengantin baru" Mami Chyntia tersenyum manis melihat mereka berdua.
"Hay... Selamat pagi..." Sapa seorang gadis yang suaranya sangat Emma kenali.
***
Ella atau yang sekarang dipanggil Elleane bangun karena merasa perutnya ditimpa benda berat. Dia membuka mata dengan cepat dan meraba perutnya. Ketika merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di sana, dia segera menoleh kepada pemiliknya dan dia tersenyum bahagia melihat Steven di sampingnya.
Dia sangat imut bila tertidur seperti ini. Aku tidak tahan untuk sekedar menyentuh wajah tampannya. Sejalan dengan pikirannya, tangan Ella sudah menyusuri permukaan kulit wajah Steven. Merasakan sesuatu yang geli, Steven mengernyit tapi dia tidak membuka matanya. Ella yang melihat itu senyam-senyum sendiri. Dia lantas mengecup pipi Steven dan berlalu untuk membersihkan diri.
Keluar dari kamar mandi, dia melihat Steven belum bangun juga sehingga dia pergi ke kamar ganti. Pakaiannya masih tetap ada di sana karena sengaja tidak dipindahkan oleh Mami Chyntia. Dia memakai Celana jeans dan juga kaus oblong.
Sama seperti Emma yang tidak terlalu suka dandan, Emma hanya menyapukan bedak tipis dan lipgloss lalu keluar dari kamar Edgar dengan senyum mengembang. Dia mengunci kamar Edgar lagi ketika turun.
"Selamat pagi..." sapanya kepada semua orang yang menatapnya heran.
__ADS_1
"Bukannya itu teman Junior School-mu?" Bisik Jackson di telinga Emma.
Ampun deh. Masa hanya aku yang masih mengenalinya?? Toh hanya rambutnya saja yang berubah. Emma bangun dan menarik Elleane untuk duduk di sampingnya.
"Oh.. Namanya Elleane. Dia bermalam juga di sini karena dia ingin aku mengantarnya ke sebuah tempat" Dusta Emma dan juga jujur karena memang Ella memintanya.
"Cantik sekali..." Mami Chyntia langsung terpesona pada gadis itu. "Sudah ada pacar? Kalau belum, tante bisa jodohkan dengan Jerremy"
"Mom.. Apaan sih?" Jerremy langsung bereaksi.
"Rejeki nomplok tuh" seru Paman Raymond yang duduk berdampingan dengan Layla dan Henry.
"Mom kan hanya menawarkan saja bukan berarti kalian harus jadian"
"Ta..tapi..."
"Saya masih single dan juga jika berkenan, kita bisa berteman terlebih dahulu" Elleane memamerkan senyum manisnya.
"Hah? Oh.. Baiklah" Jerremy salah tingkah.
"Duduklah dan ikut sarapan" Perintah Romand Dhawn dari kepala meja.
"Mamiii..." Panggil Ello dengan kencang dan langsung memeluk Elleane diikuti kembarannya Elli membuat semuanya kaget.
"Hey, boys" Elleane mengusap lembut kepala Ello.
"Oh hay Miss. Maaf kami salah orang" Elli menunduk dan memundurkan langkahnya.
"Its ok" Elleane hanya bisa tersenyum sejujurnya dia juga merindukan mereka.
Mirip mami hanya saja beda warna rambutnya. Tapi harum parfumnya juga sama. Siapa orang ini? Ello berkutat dengan pikirannya sampai Ellie menariknya untuk duduk di samping Elleane.
"Jay, Carol, kalian makanlah juga"
__ADS_1
"Terimakasih bibi Chyntia" Jay dan Carol berucap bersamaan.
Sarapan pagi itu berlangsung dengan suasana kekeluargaan. Yang kurang hanyalah kehadiran Steven atau Edgar yang nyatanya masih terlelap.