
Setelah beberapa bulan tinggal, Ella memutuskan kembali ke negara A karena Tuan Willem membutuhkannya di sana. Lagipula kondisi Elleane sudah membaik sehingga Ella tidak perlu lagi menjadi Elleane.
Ella membawa baby Thea bersamanya. Vico merengek ingin ikut tetapi Ella tidak mau membawanya karena Chen butuh mereka berdua untuk mengurus perusahaan dan juga Emma butuh teman.
Dokter Tamia juga merasa berat melepaskan Thea karena dia yang menyusui bayi itu sejak pertama datang di markas.
Baby Thea tertidur dalam dekapan Ella saat mereka berjalan menuju bandara. Sesekali dia mengeliat pelan mencari posisi aman untuk tidur.
"Nona, aku ikut yah?" Vico dengan puppy eyesnya berusaha untuk merayu Ella.
"Bantulah Kak Chen. Jangan cengeng seperti itu. Aku akan pulang secepatnya" Ella bagaikan kakak yang mengelus rambut adiknya.
"Baiklah" Jawaban pasrah yang keluar dari mulut Vico menandakan dia tidak bisa membujuk Ella lagi.
Vico dan Gio melambaikan tangan pada Ella ketika Ella sudah menaiki jet pribadi dengan identitas Elleane Willem.
***
"Akhirnya aku kembali menjadi Nona Besar Willem. Masalah apa yang akan menghampiriku nanti?" Ella merenggangkan tubuhnya pelan agar tidak membangunkan Thea yang masih suka tidur.
Ella langsung dijemput oleh Steven begitu tiba. Dia naik mobil yang hanya bertiga dengan Steven sedangkan pengawal yang menaiki mobil yang lain.
Ketika di dalam mobil, Steven dengan cepat mendekat kemudian mengecup bibir Ella. Ella yang jahil menyesapnya pelan hingga membuat Steven tergoda untuk menelusupkan lidahnya. Tapi sayang Ella segera menjauhkan wajahnya dan memasang sabuk pengaman. Baby Thea tidur di troli bayi di belakang.
"Ayo jalan. Jika tidak, pengawal pasti mencurigai sesuatu"
Mau tidak mau, Steven menekan pedal gas dan mulai menyetir sedangkan Ella berusaha menormalkan detak jantungnya. Steven makin memesona.
"Kau ingin ke markas ataukah ke rumah Tuan Willem?"
"Rumahnya saja. Cari kesempatan dapatkan rambutnya karena aku mencurigai sesuatu"
"Apa itu?"
"Dia mungkin Ayahku"
"Hah!!??"
"Wohoho.. Hati-hati! Kita membawa buah hati kita di belakang" seru Ella ketika Steven agak limbung karena shock.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku tidak kepikiran hal ini yah? Padahal sedari awal aku melihat Ella dan Elleane yang sangat mirip. Steven meruntuki kebodohannya.
"Seandainya dia Ayahmu, apa yang akan kau lakukan?" Steven menatap Ella sekilas dan kembali menatap jalan.
"Apa aku harus minta pertanggungjawabnnya? Tentu saja tidak. Aku hanya senang punya keluarga selain Mom. Jangan sampai dia mencurigai hal ini. Aku ingin semua berjalan di tempatnya"
"Tapi jika dia tahu dan memintamu tinggal?"
"Dia tidak pernah menganggapku ada sehingga dengan berani menyuruhku menggantikan Elleane. Aku sekolah untuk putrinya. Aku mengikuti berbagai kegiatan untuk putrinya. Semua untuk putrinya"
"Kenapa kau tidak menolak saat Ayahmu pertama kali ingin membawamu?"
"Itu karena aku ingin mengunjungi Mom. Tapi dia selalu menghalanginya dengan menempatkan aku di markas"
"Lalu baby Thea bagaimana?"
"Aku mengadopsinya. Uruskan surat-surat kelahirannya di sini"
"Itu.. Emm.... Aku.. Emmm.."
"Bicara yang baik dan benar Stev, jangan em er em er saja"
"Aku juga mengadopsi bayi laki-laki dari panti asuhan. Sepertinya usia mereka sama"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku butuh bantuanmu untuk membesarkannya..."
"Haih!! Di mana bayi itu sekarang?"
"Ada di markas"
"Ayo, jemput anak kita kalau begitu"
"Kembali ke markas" Perintah Steven pada bawahannya melalui mic kecil yang sempat dimatikannya tadi saat mencium Ella.
Akhirnya dengan senyum mengembang, Steven berbelok menuju markas mereka yang berada di tengah hutan. Para pengawal yang berada di depan dan belakang mobil hanya mengikuti pemimpin mereka tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
***
"Theo... Dad pulang"
Steven langsung mengambil Theo dari gendongan salah satu pengasuhnya.
Bayi itu hanya membuka mata sekilas lalu tertidur lagi.
"Siapa namanya?"
"Theodor. Aku memberinya nama itu setelah tahu bayimu bernama Thea. Tapi sepertinya Theodor lebih tua sebulan daripada Thea"
"Astaga dia sangat menggemaskan. Lihatlah pipinya yang memerah. Sangat imut seperti dirimu"
Ella langsung minta menggendong Theodor. Begitu berada di pelukan Ella, Theodor bangun dan menatap Ella.
"Stev, bayimu bangun. Apa dia tidak suka denganku yah?"
"Entahlah. Jaga Theo sebentar karena aku harus mengatur ulang jadwal latihan para tentara"
Tanpa mendengar jawaban Ella, Steven melesat pergi. Ella yang berpikir Theo akan segera menangis, ingin memanggil pengasuhnya tapi ternyata Theo hanya membuka mulutnya lalu menutupnya lagi.
"Kau ingin bertemu adikmu? Dia juga sama sepertimu. Kalian malaikat kecil yang Tuhan berikan untukku lewat orang lain"
Karena Theo masih berusia dua bulan, Ella hanya menidurkannya di samping Thea. Setelah itu, dengan sendirinya Theo tertidur kembali.
"Mana Theo, El?" Panik Steven karena tidak menemukan keberadaan putra kecilnya.
"Kutidurkan di samping Thea. Lagian kita akan pergi mengunjungi Dad jadi aku biarkan mereka beristirahat di sana"
"Kalau begitu ayo pergi"
***
"Tanah dan bangunan pasti bernilai sekitar ratusan juta dollar"
"Masuklah terlebih dahulu. Nanti aku akan menemanimu menghitung total properti Keluarga Willem"
"Sepertinya aku berhasrat untuk menaklukan keluarga ini melihat betapa kayanya Ayahku"
__ADS_1
"Diamlah. Biar aku yang mendorong trolinya"
Ketika akan menekan bel, pintu lebih dahulu terbuka menampilkan seseorang....