Sellena

Sellena
Pingsan


__ADS_3

Pagi menyambut diselingi kicauan burung-burung. Hiruk-pikuk para pelayan yang sedang mempersiapkan jamuan makan malam membuat Ella sedikit merasa pusing. Dia duduk dan membaca buku di kamarnya. Toh tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan?


Ready. Pesan masuk di handphonenya membuat Ella menghentikan aksi membacanya dan fokus pada layar gawainya.


Seketika dia menghubungkan Camael dengan komputer yang ada di kamarnya.


100 %. Ella tersenyum puas di mana dia bisa meretas masuk ke dalam sistem CCTV. Dia hanya terlalu malas untuk melakukannya semalam.


Untuk masuk ke dalam ruang Dokumen, memang harus meretas CCTV terlebih dahulu. Semua dokumen dan file beberapa tahun silam tersimpan semuanya di sana karena ada brankas dengan sistem keamanan tingkat tinggi.


***


Malam datang dengan begitu cepat. Ella telah selesai di dandani. Sungguhlah cantik sampai-sampai Gwen menatapnya tidak percaya.


"Anda sungguh cantik, Nona Besar"


"Tentu saja" jawab Ella singkat.


Gwen kemudian membawa Nona Besarnya dengan hati-hati menuju tempat Ayahnya berdiri. Ella segera menggamit lengan Tuan Willem. Dia hanya berwajah datar memandang semua tamu yang ada.


"Tersenyumlah"


Walaupun sedikit berisik, tapi Ella masih bisa mendengarnya. Dia kemudian menarik bibirnya dan menampilkan senyuman lebar. Tersenyum pada siapapun yang lewat di depannya. Nyonya Willem hanya bisa memandangnya dari jauh.


Vino lewat di depan Ella dengan sopan dan menawarinya minuman.


Ella meletakan gelas yang masih setengah dan sebuah flashdisk di atas nampan yang dibawa Vino. Wajahnya datar saja tetap memandang ke depan seolah-olah tidak kenal.

__ADS_1


Minumannya tidak enak. Gerutu Ella dalam hati sebab lidahnya terasa sepat. Dia hanya berpura-pura minum agar bisa mengembalikan gelas tersebut pada Vino alias Vianney.


Ella lanjut berbincang dengan beberapa orang yang tidak dia kenal. Tapi mereka mengenalnya karena dia anak dari seorang Marcozta Willem.


Bruk. Vino menabrak Gwen sehingga sisa minuman di dalam gelas tertumpah ke atas baju Gwen. Warna dasarnya memanglah hitam tetapi karena rendanya putih, itu nampak sangat jelek karena jadi belang-belang.


"Kau baik-baik saja. Maafkan aku karena tidak melihatmu" Vino membantu Gwen untuk berdiri.


"Aku yang minta maaf karena aku merasa sedikit tidak sehat"


Wajah Gwen sedikit pucat.


"Kalau begitu beristirahatlah. Aku akan membantumu melayani Nona Besar"


"Tapi ak..."


Gwen menunjukan jalan menuju kamarnya. Vino mengambil obat demam dan juga beberapa obat lain untuk diminumkan pada Gwen. Dia menyelimutinya dengan hati-hati. Akhirnya Gwen tertidur pulas.


***


"Gwen, darimana saja kamu? Aku menunggumu dari tadi"


"Maaf Nona, saya merasa sedikit tidak enak badan"


"Beristirahatlah kalau begitu"


"Tapi Nona..."

__ADS_1


"Aku tidak akan menggendongmu jika kamu pingsan"


"Saya masih sanggup melayani Nona"


"Terserah kau saja"


Ella berbalik mencari Ayah Elleane yang dengan tiba-tiba saja menghilang.


"Anda sangat cantik Nona Willem" ucap seorang


pemuda.


"Anda juga sangat tampan, Tuan" balas Ella dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya.


Tapi tidak setampan Edgarku. Lanjut Ella dalam hati


"Mengapa berpura-pura tidak mengenalku?" Bisik pemuda itu.


"Ada terlalu banyak orang memperhatikan kita. Akan bahaya jika mereka tahu kita saling mengenal" jawab Ella sekenanya sebab dia baru saja mendapatkan data diri Tuan Muda dihadapannya ini melalui Camael.


"Kamu benar. Kalau begitu, aku akan menemuimu saat pesta berakhir"


"Baiklah"


Sungguh Ella malas berlama-lama dengan Tuan Muda yang menatapnya berbinar. Sedikit liur akan menetes jika dia membuka mulutnya lebih lama.


"Ayo, Gwen" ajak Ella

__ADS_1


Mencari Ayahnya ataukah ada tujuan lain?


__ADS_2