Sellena

Sellena
Tinggal serumah? Aku ini tunanganmu bukan istrimu


__ADS_3

Makasih buat Akak yang masih pantau kelanjutan cerita ini dan juga beberapa Readers yang suka malak😅😅 contohnya Kak Komang: Crazy up Thoooorrr.... Lama-lama Authornya Crazy beneran🤣🤣 Happy Reading Genk😍


.


.


Seperti biasa jika sudah mengembalikan formulir maka akan ada beberapa tahapan sampai seseorang benar-benar kuliah. Ella tidak ingin pusing dengan semuanya sehingga dia mengambil jalur beasiswa yang mana segala keribetan itu tidak perlu dia hadapi.


Masalahnya sekarang ada dua orang anak buahnya malah ikutan mendaftarkan diri menjadi mahasiswa yang mana membuat Ella juga harus ikutan duduk menjaga Venus yang suka usil.


"Nona, mau minum?" Tanya Gio sopan.


"Bisa tidak kalian memanggilku biasa saja? Di luaran sini kita adalah teman jadi berhenti memanggilku Nona"


"Baik, Nona"


"Heh? Baru juga kubilang. Panggil aku Ella saja"


"Non.. No.. El.. Ella...!??" Gio sangat susah menyebut nama Nonanya. Lidahnya selalu terpeleset.


Setelah lima belas menit menunggu, Emma dan Venus muncul dengan wajah sumringah. Mereka berempat berhasil mendaftar di Fakultas Ekonomi. Tinggal menunggu bulan depan mereka sudah bisa berkuliah.


"Apa kau yakin mengenalkan dirimu sebagai Venus?" Tanya Ella was-was soalnya nama Venus kan feminim.


"Tidak Nona, saya memperkenalkan diri dengan nama Vico. Mungkin untuk selamanya Venus menghilang"


Emma hanya tertawa kecil mengingat samaran Venus eh Vico maksudnya yang berhasil membuat para lelaki menahan birahi.


"Apakah kita langsung pulang, Nona?" Tanya Gio dengan lembut tapi mendapat pelototan dari Ella. "Eh maksudku ayo pulang, El" Gio segera mengganti kalimatnya yang kemudian diangguki Ella.


Kehadiran dua pria tampan anak buah Ella yang kini terlihat seperti temannya membuat seluruh kampus geger. Bahkan dosen muda juga tak ingin momen itu terlewat. Bagaimana mereka bisa terlahir dengan wajah rupawan seperti itu?


Gio dan Vico segera menyelamatkan diri menghilang dari kampus itu sebelum mereka diterkam para iblis betina yang haus belaian. Sedangkan Nona Besar mereka hanya tersenyum simpul saja menikmati keadaan tersiksa mereka berdua.


***

__ADS_1


Apa kabar Keluarga Dhawn? Mereka baik-baik saja tentunya. Hanya saja sampai saat ini belum ada pergerakan yang mencurigakan justru Keluarga Derbaltroz yang nampaknya mulai menyiapkan bubuk mesiu untuk memulai perang.


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Jackson?" Tanya Ella saat di kamar berdua dengan Emma.


"Seperti biasa. Aku diam dia lebih pendiam lagi" Jawab Emm asal.


"Aku serius, May! Aneh jika mereka diam saja menerima kematian Edgar. Bahkan Kak Jerremy juga menghilang. Aku tidak bisa mencaritahu secara pasti kemana dia pergi. Beberapa hari ini rasanya sangat tenang tanpa kedatangan Richard yang tiba-tiba. Aneh bukan?" Ella mengutarakan pendapatnya.


"Aneh kalau selama ini juga Richard tidak pernah bertemu Adriana dan Amber lagi. Sepertinya mereka sedang menyusun rencana baru. Persiapkan dirimu saja jika tiba-tiba dia datang dan memaksamu ikut dengannya dengan alasan yang tidak masuk akal"


"Bisa jadi seperti itu karena memang Richard orangnya tidak sederhana. Tampak bahwa dia orang yang lemah tapi dia dalang di balik kematian Edgar. Dia tidak segan-segan membuat dirinya ditabrak asalkan bisa mencelakakan Edgar. Aku memang harus berhati-hati mulai sekarang. Jangan sampai dia memiliki kesempatan untuk menekanku"


"Aku akan mendekati Kak Jackson lebih intens lagi menggali akar masalah. Tidak mungkin hanya karena dirimu makanya Richard berani mencelakai Edgar. Pasti ada alasan lain"


"Kau benar, May. Jangan terlalu mencolok bila mencaritahu. Jangan dalam waktu dekat ini karena kita bisa ketahuan" Saran Ella.


Emma mengambil keripik kentang dan mulai mengunyah.


"Itu bisa diatur asalkan kami benar-benar sudah dekat maka gampang mencaritahu"


"Entahlah...." Emma mengangkat bahu tidak peduli.


Tok tok tok. Suara pintu yang diketuk. Ternyata kak Gia alias Gio yang lagi menyamar. Masih ingatkan pelayan yang ditugaskan Ella untuk memata-matai Amber? Nah dialah Gio yang waktu itu menyamar sebagai Garcia. Kembali ke cerita.


"Ada apa Kak?" Tanya Ella sopan.


"Ada Tuan Muda Richard ingin bertemu dengan Nona"


"Katakan padanya aku akan turun sebentar lagi"


"Baik, Nona"


Gia segera berbalik dan turun ke lantai bawah untuk menyampaikan apa yang dikatakan Nona Mudanya.


"Apa aku bilang? Tenang-tenang badai juga akhirnya" Emma meremas bungkusan keripiknya dengan gemas.

__ADS_1


"Mau ikut aku mempermalukannya?"


"Em, aku tidak mau merusak kesenanganmu jadi aku akan menonton saja nanti. Pergilah, temui tunangan bobrokmu!" kata Emma dengan wajah sedih di buat-buat. "Jangan lupa untuk berteriak padanya" Tambah Emma.


"Tenang saja"


Ella pergi menemui Richard dengan senyuman manis. Dia menuruni tangga lamat-lamat sambil terus memperhatikan interaksi di antara Larry Roberto dengan Richard. Ella datang kemudian duduk di salah satu sofa yang kosong.


"Oh Ella, kau sudah datang rupanya" Larry menyapa Ella.


"Iya Tuan. Aku sudah datang sehingga kalian bisa mengutarakan maksud dan tujuan kalian" Ella bicara tanpa basa-basi.


"El, aku datang untuk mengajakmu tinggal bersamaku di apartemenku. Kita kan sudah bertunangan jadi apa salahnya kita tinggal bersama" Richard berusaha memberitahu Ella dengan kalimat sehalus mungkin.


"Tuan Roberto, menurut anda bagaimana? Apa aku harus ikut dengannya?" Ella memancing apa yang dipikirkan Larry Roberto.


" Itu bukan ide yang buruk. Kalian bisa mempererat hubungan kalian jika tinggal bersama"


"Bagaimana jika aku hamil? Pria dan wanita tinggal berdua di satu apartemen bisa saja menghadirkan yang ketiga yaitu setan yang membujuk mereka menghasilkan bayi yang menggemaskan"


"Itu tidak masalah karena Nak Richard bisa langsung menikahimu"


"Yakin anda mau menikahiku, Tuan Muda Derbaltroz?" Ella balik bertanya pada Richard.


"Tentu saja. Kau tunanganku dan aku juga sangat mencintaimu"


"Oppss... Tapi apa kabar Cathrine? Aku dengar gigi rubuh tiga yah? Tunangan saja satu pacarmu hampir meninggal. Kalau menikah, aku rasa aku mungkin akan membongkar semua kasus perselingkuhanmu"


"Itu hanya kesalapahaman saja. Dia bukan pacarku. Jangan percaya perkataannya" Richard gelagapan menjelaskan.


"Terserah siapa dia yang penting lain kali jangan saling meraba di depanku, itu menjijikan" Ella langsung berdiri dan bersiap ke kamarnya tapi dia sejenak berhenti dan berbalik menatap dua orang itu. "Aku adalah tunangan, bukan ISTRImu jadi tinggal berdua bukan ide yang bagus. Nikahi aku baru akan mengikutimu kemana kamu pergi bahkan kalau kamu selingkuhpun aku akan menemanimu" Ella segera meninggalkan mereka berdua bertepatan dengan suara muntah dari seseorang.


"Hueekkkkkk... huekkkkk...." Suara itu terdengar jelas.


Siapa yang sedang muntah? Suara seorang perempuan yang muntah menimbulkan beberapa spekulasi. Tunggu saja berita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2