Sellena

Sellena
Entah


__ADS_3

"Ella, aku lelah. Nenek sihir itu apa maunya sih? Lihat, kita berdua tampak seperti chef profesional. Aku merasa dia sedang mengerjai kita"


"hehehe.. Dia sedang menguji kesabaranku rupanya"


"Ini rumahmu tapi terlihat seperti kau yang datang menumpang" gerutu Emma pelan.


" Kau tahu, memberikan banyak cinta pada masakanmu mungkin bisa berdampak baik bagi pertumbuhan janin. Perilaku semasa hamil dapat mempengaruhi sifat dan kharakter anak. Aku hanya berharap anak dalam kandungannya itu tidak mengikuti sifat ibunya"


"Iyah aku paham. Tapi ini benar-benar keterlaluan"


"Ayo coba 1 masakan lagi"


"Apa itu?" tanya Emma antusias.


"Cabai hijau goreng dengan taburan cabai merah halus di atasnya"


"hah?"


"hahaha.. Jangan panik. aku hanya bercanda saja. Tadi aku ingin meracuninya dengan cabai benaran tapi mengingat dia sedang hamil, maka aku urungkan niatku"


"Aku kira benaran. Yah sudah ayo buat es krim saja. Ibu hamil suka makanan manis"


"Kak Gia, tolong ambilkan bahan es krim" Pinta Ella pada salah satu pelayannya.


Akhirnya mereka berlima kembali membuat es krim dengan harapan manisnya es krim mampu melumerkan semua ide gila di otak bibi Amber.


Sesungguhnya semua makanan yang di tolak bibi Amber sudah dihabiskan oleh empat orang anak. Minusnya adalah anak gadis tertua milik Amber benar-benar mewarisi sifat ibunya.


"Bantu aku meletakan es krim ini kedalam mangkuk yang paling besar. Biarkan mereka makan sampai muntah kembali" Emma menyuruh pelayan lainnya yang baru ia ketahui bernama Lona.


Dan sesuai dugaan Emma, si Nenek sihir tukang perintah itu sekarang duduk tenang dan menikmati camilannya. Benar-benar pembuat masalah.


"Ella, ayo mandi kilat dan bersiap"


"Kau duluan. Aku akan menyiapkan baju kita. oke?"


"Baiklah"


Dan secepat kilat Emma berlari masuk dan menyelesaikan ritual mandinya.


***


"Arrrrggghhhh..... Sial!"


Teriak Ella frustasi saat tiba di bandara. Pesawat yang ditumpangi keluarga Simmons sudah lepas landas beberapa menit yang lalu. Dia menelan semua kekesalan dan umpatan kasarnya dengan menarik rambut dan duduk berjongkok di sudut ruang tunggu. Dia kecewa tidak dapat mengantar mereka.

__ADS_1


"Ini semua karena Amber. Nenek sihir itu memperlambat pergerakanku dengan sengaja. Dia tahu aku akan mengantar keluargaku sehingga mulai berakting aneh"


Hilang sudah sapaan bibi saat ini. Ella benar-benar marah.


"Ayo pulang Ella. Yang terpenting sekarang adalah doakan mereka agar tiba dengan selamat" Emma datang dan memeluk sahabatnya itu.


"Aku akan sangat merindukan mereka" Gadis imut itu mulai sesegukan lagi.


"Lihat aku, El" Emma memegang dagu Ella dan memaksa gadis itu menatapnya.


"Mereka juga pasti akan merindukanmu. Tapi sekarang kau punya aku dan aku punya kau. Kita akan bergantung satu sama lain. Aku hanya punya kau saat ini. Aku mohon jangan patah semangat. Lebih bagus tadi kau tak melihat wajah mereka saat meninggalkanmu"


"Apa aku terlihat sangat jelek sekarang?"


"Yah sedikit. Ingusmu sangat banyak"


"Hahaha. kau ini. Seperti katamu jika tadi aku melihat keberangkatan mereka mungkin aku lebih patah hati. Aku melepas cinta pertamaku pergi" Ella melap air matanya.


"Jadi kau jatuh cinta pada Kak Leon?"


"Hehehe... tidak juga. Anggap saja aku penggemar rahasianya"


"Jika dia pulang apakah kau akan mengungkapkannya?" Tanya Emma penasaran.


"Entahlah"


"Kita masih muda. Masih bisa bertemu orang baru. Perasaan saat ini mungkin akan terkikis oleh waktu dan perhatian seseorang. Aku tidak ingin menunggu orang yang belum tentu membalas perasaanku."


"Lalu apa rencana selanjutnya?"


"Kita ini masih 13 tahun kan? Jadi lebih baik kita pikirkan cara efektif menghadapi nenek sihir itu daripada memikirkan cinta tak terbalasku ini. Kepulangan Kak Leon masih beberapa tahun lagi. Hari bertempur dengan nenek sihir dimulai"


" Pertanyaan selanjutnya, apa yang Kak Leon bisikkan tadi?" Detektif dadakan ini melanjutkan penyelidikannya.


"Menyuruhku menunggunya"


"Tidak usah kau tunggu. Tidak mungkin kan kau akan berada dalam fase kuncup terus? Pasti saat mekar, banyak kumbang yang akan hinggap. Posisinya bakalan tergeser dengan mudah"


"Benar sekali. Aku ini cantik, pandai, tidak sombong dan.."


"licik"


"iyah licik dan lucu juga jadi pasti banyak lelaki tampan yang akan mengantri. Lagipula Kak Leon sudah punya tunangan. Cepat atau lambat mereka akan menikah"


"Aku siap mencari pasangan buatmu nanti"

__ADS_1


"Emma, aku harap dia tampan seperti Kak Leon"


"Tentu saja kau imut begini tapi licik"


Emma kemudian merangkul Ella dan segera meninggalkan lobi bandara. Mereka mencari taxi tapi belum juga ada yang lewat. Akhirnya mereka berjalan kaki. Banyak bicara membuat mereka sedikit lebih lapar.


"Krrruuuukkk"


"Emma, kau dengar sesuatu?"


"I.. I..Itu.. Cacing-cacing peliharaanku berdemo karena aku lupa memberi mereka jatah makan. hehhehe" jawab Emma kikuk


"Kasihan cacing-cacingmu itu punya majikan durhaka macam dirimu.."


Ella menepuk bahu Emma tiga kali sebelum genderang perang yang sama keluar dari perutnya. "Kruuuukkkkkkkk.." Malahan lebih nyaring.


"Opppssss.. Pemberontakan cacing-cacing dimulai"


Emma kemudian tertawa memegangi perutnya yang terasa sedikit perih. Perasaan lapar dan tertawa berlebihan lumayan menguras energinya. Cairan bening mengalir di sudut matanya.


"Kita memberi mereka makan makanan sehat bergizi empat sehat lima sempurna, tetapi kita sendiri pula yang kelaparan. Huh!" Omel Ella kemudian.


"Anggap saja bersedekah. Kita lagi menumpuk pahala. Salah kita sendiri kenapa kita tidak memasak sambil makan tadi"


"Yah sudah lain kali aku masak, kau makan. jika kau masak, aku makan. Percayalah nene sihir itu pasti akan mengerjai kita lagi"


"Jangan bahas dia lagi. Di sana ada kedai. Mari kita makan"


"Ayo"


Dengan semangat perang yang membara, mereka melahap makanan yang tersedia. Menghabiskan beberapa porsi yang ada. Kemudian memesan taxi dan pulang.


"Ella?"


"hmmmm"


"Aku punya rencana"


"Apa itu?"


"Mari kubisikkan"


Setelah berbisik, raut wajah keduanya berubah dan tampak sedikit jahat.


***

__ADS_1


Jadi Apa rencana Emma?


__ADS_2