
Keringat dingin yang membanjiri tubuhnya sanggup membuat piyama itu basah. Ella terbangun sambil memegangi kepalanya yang nyut-nyutan. Dia kembali memimpikan pembunuhan ibunya.
Tangannya seketika mengepal di samping tubuhnya menahan amarah yang bergejolak. Dia benar-benar ingin membuat orang itu merasakan sakitnya disiksa.
Mendengar langkah kaki yang terburu-buru, Ella tidur kembali dengan posisi sebelumnya. Hanya mata saja yang dia biarkan terbuka.
"El, kau sudah bangun? Maaf aku tidak ingin mengganggumu sehingga aku tidur di kamar tamu. Kadang aku takut memelukmu terlalu erat dan menyakitimu"
Sungguh Ella setengah percaya apa yang diucapkan Emma. Tapi Emma menghilang tepat saat orang itu datang dan menggerayanginya. Tapi dia harus berterimakasih pada Emma karena membiarkan orang itu berhasil membuatnya marah. Sekarang dia leluasa bergerak tapi bukan Ella namaya jika tidak menguji kesetiaan orang.
"Ayo, aku mandikan. Setelah itu minum penahan lapar. Mudah-mudahan kau sudah bisa makan. Pil penahan lapar kalau dikonsumsi terlalu banyak bisa berpengaruh pada kesehatan jantungmu"
Ella hanya berusaha mengedipkan matanya tanda setuju. Emma memandikan Ella dan memakaikannya pakaian dengan telaten. Dia merasa sedih karena sahabatnya ini harus mengalami depresi seperti ini.
"Ini minum pilnya"
Ella mengedip dua kali tanda dia tidak mau. Emma garuk-garuk kepala karena tidak mengerti. Ella bahkan mengatup mulutnya rapat.
"Kau tidak mau minum? Apa mungkin kau bisa makan bubur?"
Ella mengedip satu kali. Dengan kecerdasan otaknya, Emma paham bahwa sahabatnya sudah bisa makan. Mungkin kehadiran pria tadi malam mampu membuat Ella pulih.
"Tunggu di sini, aku ambil bubur. Ini kabar baik..." Senyum lebar terbit di bibir Emma. Secepat kilat dia turun memberitahu Mami Chyntia bahwa Ella ingin makan bubur.
"Ada apa senyum-senyum begitu?" Mami Chyntia yang semula murung langsung ikut tersenyum.
"Mami, Ella mau makan bubur. Dia sudah bisa berkedip. Hanya saja ototnya masih kaku"
"Syukurlah kalau begitu. Ini suapi dia hingga habis. Mami akan memberitahu Papa dan kedua kakakmu" Nyonya Dhawn itu berubah semangat.
Emma hanya mengangguk lalu buru-buru membawa bubur hangat itu.
"Ta-da. Ini bubur spesial karya seorang Nyonya Dhawn. Kita sangat beruntung"
Ella hanya mengedipkan mata sekali dan tersenyum. Melihat itu, Emma hanya ternganga.
Wah!!! Pria gila itu mampu membuat Ella membaik. Secepatnya aku harus bertemu dengannya dan memohonnya kembali untuk menemui Ella. Emma senyam-senyum sendiri.
Ini sangat melelahkan. Aku tidak bisa membalas ocehan Emma karena aku masih harus berpura-pura lumpuh. Ella membathin.
Emma sibuk menyuapi Ella hingga tidak sadar setengah mangkok isinya sudah berpindah. Ella seketika mengatup bibirnya rapat tanda dia tidak bisa lagi menelan.
"Yah sudah. Ini lebih baik. Ini obatmu. Obat anti depresan agar kau cepat sembuh"
Melihat kulit obat Ella tahu bahwa Emma tidak berbohong. Tapi untuk apa meminum obat itu bila dia tidak depresi lagi? Tapi tidak mungkin dia mengatakannya.
Melihat Emma yang keluar, Ella segera mengeluarkan obat dari mulutnya dan berlari ke kamar mandi lalu membuangnya masuk ke dalam kloset lalu menyiramnya. Bukti sudah dimusnahkan. Dia kembali dan duduk dengan tenang.
***
"Aku datang untuk membawa isteriku pulang!!"
Siang makin panas dengan kehadiran Nick dan beberapa anak buahnya. Mereka berencana merebut Ella kembali.
"Oh Tuan Muda Derbaltroz silahkan masuk" kata Nyonya Dhawn ramah.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku hanya butuh Ella sekarang. Bawa dia padaku atau aku paksa dia keluar dari rumah ini"
"Oh begitu. Tapi Jerry dan Raymond yang membawa sayangku kemari sehingga mereka yang harus memberi keputusan. Kebetulan siang ini jadwal terapi Ella sehingga dokter akan datang"
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?"
"Oh itu, Ella shock melihat perselingkuhan pada malam pernikahannya sehingga dia depresi dan hampir saja bunuh diri. Bahkan sampai sekarang dia masih lumpuh karena Shock membuat kinerja ototnya melemah"
Nick terbelalak di tempatnya setelah tahu yang terjadi. Tapi ego mengalahkan hati nuraninya.
"Aku tidak peduli dia lumpuh atau tidak. Sebagai seorang istri, dia harus tinggal bersamaku"
"Lalu bagaimana dengan jal*ng itu?" Tiba-tiba saja Emma ikut nimbrung di depan pintu dengan senyum sinisnya.
"Jal*ng siapa yang kau maksud?"
"Mami, tidak apa-apakan kalau mulutku ini mengeluarkan kata tidak enak?" Bukannya menjawab pertanyaan Nick, Emma justru meminta ijin berbicara kotor di depan Nyonya Chyntia.
"Mami tidak ingin mendengarnya tapi kalau itu bisa mengusirnya, Mami persilahkan"
Nyonya Chyntia masuk dan menelepon Suami, Raymond, serta kedua anaknya. Tidak lupa dia juga memanggil beberapa bodyguard untuk menemani Emma.
"Karena Tuan Rumah sudah mempersilahkan aku bicara maka aku ingin bicara padamu Nick. Aku tidak peduli kau lebih tua dariku karena kau sudah menyakiti sahabatku. Apa pernah kau menganggap pernikahan ini suci? Bukan sebagai ajangmu untuk mendapatkan kekayaan kakekmu?"
"Tentu saja. Jika tidak maka mana mau aku bertukar posisi dengan adikku"
"Oh begitu. Jadi antara kalian bersaudara juga ada saling bertukar istri. Jangan-jangan anak Adriana adalah anakmu dan yang membobol Erine pertama kali adalah Richard. Sungguh lucu dan menjijikan bukan?"
"Kau..."
"Apa kau juga ingin menjadi seperti Erine? Kau juga bisa berada di atasku"
Setan alas dari mana yang sudah meracuni Nick?
"Hah? Hahahahha... Aku sangat jijik terhadapmu. Jika aku ingin, aku akan bersama suamiku sepanjang malam bukan bersama sampah!!!"
Ketika ingin menampar Emma, sebuah cekalan kuat menahan tangan Nick di udara. Jackson dengan wajah marahnya menatap Nick sengit. Kebenciannya pada Nick bertambah berkali lipat.
"Untuk apa kau kemari? Merebut Ella? Kau pikir gadis itu barang yang seenaknya kau bawa? Dia menderita karena ulahmu. Sebagai pria yang masih punya ********, sadar dirilah sedikit. Apa kau melihat gadisku tertarik padamu? Dia hanya ingin bersama suaminya yaitu aku"
Ucapan spontan itu membuat Emma merona dan Mami Chyntia di belakang pintu tersenyum penuh pengertian.
"Kalian akan menikah? Hahahaha... Jangan sampai aku yang menggerayanginya terlebih dahulu"
Bugh! Tinju yang indah mendarat di dengan sukses di wajah Nick membuatnya terhunyung. Anak buahnya ingin maju tapi melihat betapa seram bodyguard keluarga Dhawn, mereka mundur ke belakang Tuan Muda mereka.
Siang itu Nick Derbaltroz harus di larikan ke Rumah Sakit karena memar di seluruh tubuhnya akibat pukulan dari seorang Jackson.
Jackson merasa belum puas memukul Nick ketika Emma menarik dan memeluknya dari belakang menyuruhnya berhenti.
Jackson berbalik dan memeluk Emma kuat menyalurkan rasa cinta yang dipendamnya. Gadis kecil yang hampir menjadi korban pedofil tersebut kini tertambat di hatinya. Dia masih mengingat bagaimana rupa Emma ketika berada di bawah tubuhnya.
Damn!!! Dia mulai bangun!!! Jackson melepaskan Emma, mencium keningnya lalu berlari masuk secepat kilat menuju kamarnya untuk menenangkan adiknya yang mengacung sempurna.
"Sial! Jika lebih lama lagi, akan sangat bahaya. Tenang.... Dia adalah gadis kecil.."
__ADS_1
Sayangnya bukan mengecil justru makin membesar karena dia membayangkan wajah Emma yang berada di bawahnya saat itu.
"Aku akan gila...."
"Kakak kenapa berteriak-teriak?" Emma muncul dengan panik.
"Hah!? Akh!!!" Jackson melompat ke atas tempat tidur dan meraih selimut lalu menutupi celananya yang menggembul.
"Errr.... Kakak sakit?" Emma meraba dahi Jackson karena wajahnya sangat merah. "Tidak panas, lalu Kakak sebenarnya kenapa?"
"Demi kebaikan kita bersama, cepatlah keluar dari kamarku. Jika tidak, aku pastikan kau akan terluka"
"Bukan aku yang akan terluka tapi Kakak. Kenapa bersembunyi dalam selimut padahal panas terik begini?"
"Karena... Karena..."
Bibir Emma tepat berada di depan wajahnya menariknya seperti magnet. Mereka terhubung satu sama lain karena Jackson secepat kilat menarik pinggang Emma dan mendudukan Emma di atas pahanya lalu mulai merasai bibir yang menggoda itu.
Emma kaget lalu melepaskan ciuman itu secara paksa.
"Ciuman pertamaku" cicit Emma pelan yang masih terdengar oleh Jackson.
"Akupun begitu" bisik Jackson di telinga Emma membuat bulu romanya meremang.
Ketika Emma melihat wajah Jackson yang merona, dia menginginkannya lagi. Jackson terlihat sangat sexy dengan wajah memerah dan keringat membanjiri pelipisnya.
Astaga kenapa dia tampan dan sexy seperti ini? Aku bisa gila. Bathin Emma berhenti bicara saat tidak sadar dia sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Jackson.
Tentu saja Jackson menyambutnya senang hati. Memainkan bibirnya berdasarkan naluri semata hingga Emma menepuk bahunya pelan dengan terengah-engah. Suara sexy itu menaikan libidonya lagi bahkan kini Emma sedikit merasai bengkakan itu.
"Kakh... Di sela pahamu kenapa keras sekali, aku seperti duduk di atas batu"
"Jangan bergerak!! Dia bangun karenamu" Jackson meringis pelan ketika Emma tidak sengaja bergerak. Jackson meremas pinggang Emma dengan gemas menahan pergerakannya. "Nona Anderson, apa kau ingin menikah denganku?"
"What? Kak? Kau melamarku?"
"Ya. Jawab Iya maka aku pastikan 9 bulan lagi kau melahirkan bayi lucu. Aku tidak bisa menahannya lagi"
"Kak. Jangan-jangan kau..." Tebak Emma tepat sasaran.
"Ya dan itu karena pelukanmu, tanganmu di dahiku dan ciumanmu. Aku sangat tersiksa jadi bisakah kau kembali ke kamarmu? Jika tidak maka aku akan membuatmu berada di bawah kungkunganku sepanjang siang hingga malam nanti"
"Hell no!!! Baik, aku pamit. Kecilkan ukurannya segera"
Emma melompat berdiri sambil menunjuk sela paha Jackson yang masih tertutup selimut lalu berlari keluar kamar dengan wajah merona.
"Mami!!!" Kaget Emma.
"Hah!?? Oh, Mami hanya lewat" Mami Chyntia juga kaget dan langsung kabur dengan senyuman penuh di wajahnya.
Aku akan punya cucu segera.
Jackson di dalam sana meringis tersiksa lalu menyibak selimut. Dia melepas sepatu yang belum sempat dilepasnya tadi karena kedatangan Emma lalu meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
"Syukurlah sudah jam 3"
__ADS_1
Jackson mandi dan menenangkan pikirannya yang berkelana.