
"Akh!!!! Aku tidak mungkin lumpuh!!"
Saat bangun, Nick histeris karena tidak dapat menggerakan kakinya. Tubuh bagian bawahnya kaku dan tidak bertenaga. Mudah-mudahan pusaka kehidupannya masih berfungsi sehingga Erine tidak terlalu kecewa.
"Sabar sayang, kamu mengalami kelumpuhan karena kecelakaan itu"
"Lalu di mana Erine?"
"Dia sudah pulang ke rumah untuk beristirahat. Dia juga telah kehilangan bayi kalian"
"Sialannn!!! Kenapa ini harus terjadi padaku? Dosa apa yang aku perbuat ha!!?"
Nick sungguh lupa dosanya sendiri. Ikut andil dalam kecelakaan Edgar sehingga remaja itu tewas. Belum lagi perselingkuhannya dengan Erine di malam pernikahannya. Sungguh dia lupa semua itu. Saat ini dia merasa diri paling menderita.
"Ini semua terjadi karena kau menikahi perempuan jal*ng tersebut. Membawa sial masuk rumah kita. Jika saja kita membunuh tua bangka itu maka tidak perlu repot-repot menampung benalu"
"Membunuh kakek? Apa yang ibu pikirkan hah?"
"Dengan membunuhnya dan memalsukan surat wasiat, kita tidak perlu repot-repot mengadakan pernikahan yang ujung-ujungnya membawa sial. Ibu lebih suka kau bersama Erine karena dia gadis penurut"
"Apa ibu merasa gampang untuk membunuh kakek? Jangan pernah lagi ibu berpikir demikian jika ingin aku selamat"
"Tenang saja. Kau hanya perlu menunggu waktu tepat mengambil semua harta kakekmu. Ayahmu yang bodoh itu juga sudah ibu kendalikan"
"Aku ingin mendengar kabar baik. Kalau begitu, ibu jalankan saja rencana ibu. Aku mau tidur dulu. Kaki sialan ini menyiksaku"
Akhirnya Laura dengan terpaksa meninggalkan putra kesayangannya itu dan pergi untuk menjalankan rencana mereka.
Di ruang berbeda, dua orang gadis mengamati rekaman tersebut dengan seksama.
"Wah, ini lumayan rumit karena mereka melibatkan kakek" Emma menyerahkan kembali Ipad ke tangan Ella setelah melihat rekaman kamera tersembunyi tersebut.
"Memang orang semacam Nick bodoh. Bagaimana bisa membicarakan rahasia di tempat seperti ini? Untung aku sudah mengantisipasi dengan menyuruh Gio menyamar"
"Kau jangan banyak bergerak atau sandiwara kita bisa terbongkar"
"Baiklah. Atur pertemuan dengan Tuan Tua agar kita bisa bekerjasama. Aku yakin dia akan sedikit terkejut melihat ini. Semoga beliau punya jantung yang kuat"
"Laksanakan, Bos"
Akhirnya Ella dan Emma kembali bersandiwara ketika melihat Laura dan Jenko yang terburu-buru datang bersama perawat.
"Suster, aku akan memindahkan menantuku dan merawatnya di rumah saja. Kami tidak bisa membayar bila mereka berdua sama-sama ada di sini. Bagaimanapun anakku harus sembuh karena dialah yang mencari nafkah untuk kami"
"Maaf kami tidak bisa membiarkan kalian mengeluarkan pasien karena walinya tidak setuju"
"Siapa walinya? Karena kami adalah mertuanya"
"Walinya di sini adalah Mr.W yang sudah melunasi biaya Rumah Sakit dan juga akan memindahkan Nona Roberto ke Rumah Sakit lain"
"Eh, ada tante rempong"
Emma bisa bicara seenaknya karena mereka ada di kamar VVIP. Tuan Willem ingin Ella diberikan perawatan terbaik padahal menurut Ella di kamar mana saja asalkan tidak ada Laura Derbaltroz maka dia cepat sembuh.
"Anak kurang ajar!!!"
Jenko hanya menjadi penonton setia keganasan istrinya. Dia malas meladeni perempuan berkelahi. Kegemarannya hanyalah menonton kemolekan tubuh para pelayan melalui CCTV rumahnya.
"Eh suster, ini nih mertua yang tidak pernah menganggap sahabat saya sebagai menantu. Mereka malah mengata-ngatai sahabat saya lumpuh. Itu semua kan ulah anak mereka yang tukang selingkuh itu"
Perawat hanya menggelengkan kepala dan menyayangkan sikap Laura yang menurutnya tidak sepatutnya dilakukan oleh orang berpendidikan.
"Saya tidak ingin ikut campur urusan Keluarga anda semua apalagi anda berasal dari keluarga ternama. Tugas saya hanyalah merawat pasien ini sesuai pesan walinya. Lagipula di sini tertulis Nona Roberto seorang janda yang beberapa waktu lalu telah diceraikan"
__ADS_1
"Diceraikan? Maksudnya?" Laura kaget mendengar perceraian itu.
"Aduh tante, jangan sok kaget begitu. Tanyakan pada Nick apa yang dia dan Erine lakukan sebelum tabrakan itu. Lagipula surat cerai sudah ditandatangani paksa jadi tante tidak punya hak mengganggu Ella lagi. Silahkan!"
Emma membuka pintu dan mengusir mereka secara halus. Wajah Laura seketika memerah. Dia menatap tajam wajah Emma.
"Penghinaan ini akan aku balas"
"Secepatnya yah tante balasannya. Aku menunggu. Dahhh muaahhh" Emma memberikan kiss bye lalu menutup pintu keras membuat Ella melonjak.
"Bikin kaget saja"
"Hehehe maaf. Saking emosinya dengan si tante. Main jemput-jemput saja. Oh yah terima kasih Suster Gina" Emma tertawa melihat Gio yang cemberut karena hampir tiap waktu dia harus memakai pakaian wanita. Kadang dia berpikir apakah tonjolan di sela pahanya menjadi rata karena selalu memakai rok.
"Gina takut burungnya berganti menjadi bebek"
Seketika tawa mereka meledak menyisakan wajah jelek dan mengerut milik Gio.
Apaan sih dua gadis ini sukanya mereka meledek ke arah situ.
"Nona Muda....." Venus eh salah Vico maksudnya karena dia berpakaian lelaki saat ini datang dan langsung memeluk Ella. Dia sangat merindukan Nonanya tersebut.
Plak! Emma menggeplak kepala Vico dan memelototinya horor.
"Kenapa?" Tanya Vico dengan wajah lucunya.
"Nona habis kecelakaan malah kau peluk begitu. Kalau Nona sesak napas bagaimana?"
"Aku tidak peluk kencang kok"
Emma berhasil mengerjai pria yang suka sekali bertindak seperti anak-anak tersebut. Bahkan wajah Vico sudah merah menahan tangis.
"Siapa suruh menangis, hah!?"
Astaga! Anak orang benaran menangis!! Emma gelagapan sendiri sedangkan Ella dan Gio menjadi penonton setia.
"Vi...Vico..." Emma menoel bahu Vico lembut.
"Heyy.. Jangan marah lagi"
Emma akhirnya membalikkan badan Vico dan langsung memeluknya bertepatan dengan pintu yang dibuka.
Brak!! Pintu ditutup lagi agak keras menyisakan Emma yang mematung.
Mimpi apa aku semalam? Sial begini. Raja cemburu melihatnya.. Gawat!!! Danger!!! Alarm di otaknya langsung memberi tanda bahaya.
"Oke baby boy, jangan merajuk lagi karena tadi aku hanya bercanda. Ya ampun aku tidak serius mengatakannya. Aku juga harus mengejar cintaku, kehidupanku itu. Bahaya kalau dia juga merajuk. Ella dengan berat hati aku mohon tenangkan baby boy" Emma mengacak rambut Vico gemas lalu beranjak untuk mengejar pangeran kodoknya.
***
"Hoshh... hoshhh.." Napas Emma memburu seiring dengan langkah kakinya yang makin panjang.
Emma sudah menelepon Jackson tapi tidak diangkat. Entah sekarang dia di mana. Akhirnya Emma menelepon sekali lagi dan syukurnya diangkat.
"Sayanghhhh" Panggilan Emma yang ngos-ngosan terdengar seperti nyanyian merdu di telinga Jackson.
"Ada apa?" Jackson masih menetralkan nada bicaranya. Dia menahan sesuatu yang bergejolak memanaskan daerah pusat ke bawah.
"Kau di mana? Astaga. Ayo bertemu, aku akan menjelaskannya!!!" Emma bahkan lupa bahwa Jackson lebih tua 5 tahun dan dia harus memanggilnya kakak. Rasa cemas akan kecemburuan Jackson lebih mendominasi saat ini.
Kau? Anak kecil ini berani memanggilku begitu? Akan aku beri kau pelajaran.
"Aku diparkiran. Aku tunggu satu menit. Terlambat, hukuman bertambah"
__ADS_1
Syukurnya Emma yang sudah ada diparkiran, segera mencari mobil milik Jackson yang berwarna putih. Dia langsung membuka pintu dan masuk.
"Kak??" Emma sudah ingat memanggil orang didepannya ini Kakak.
"Sudah puas berpelukan?"
"Aku bisa jelaskan itu. Tadi kami hanya..."
"Jelaskan di rumah!!" kata Jackson tegas membuat nyali Emma seketika menciut. Buyar sudah kata-kata rayuan yang sempat disusunnya tadi.
Astaga Alpaca satu ini. Sungguh imut tapi diam-diam buas minta ampun juga. Akhirnya Emma memasang sabuk pengaman dan duduk dengan tenang.
***
"Pi..pintunya kenapa dikunci kak?"
"Biar anak kucing tidak melarikan diri" Smirk aneh muncul di wajah Jackson.
"Kak, aku masih kecil. Aku baru 17 tahun dan juga aku... aku..." Emma bahkan sulit mencari alasan saat ini.
Jackson menatap Emma dalam. Dia sedikit cemburu tadi tapi mendengar panggilan Emma yang setengah mendesah sungguh dia seketika terbakar. Dia sungguh menyayangkan karena Emma masih kecil. Tapi Emma sudah 17 tahun. Jackson masih sempat berpernag dengan setan napsu yang menjeratnya.
Tapi akhirnya dia kalah saat Emma menghantarkan dirinya masuk mobil dan duduk dengan diam membisu. Mempoutkan bibir cherrynya yang pasti sangat manis bila dia mencicipinya sedikit.
"Kau tahu, kau milikku. Tapi kenapa kau memeluk pria lain?"
"Dia bukan pria, Kak. Sungguh dia hanya anak kecil yang nyasar di tubuh remaja. Dia mudah bersedih karena bentakanku"
"Aku tidak peduli. Karena kau nakal, maka kau akan aku hukum"
Jackson mendekati Emma dengan cepat dan meraup bibir cherry itu dengan bibirnya. Menyesap, memainkan lidah dan mengabsen satu persatu gigi di dalamnya. Menyedot habis saliva yang hampir tumpah lalu membiarkan Emma menghirup oksigen sebanyaknya.
"Kak, kau mau membunuhku, huhh?"
"Jangan bersuara di depanku atau aku akan makin ganas"
Jackson bahkan mengepalkan tangannya demi menekan hawa di bawah sana. Emma memberinya pengaruh besar walaupun hanya sepenggal kalimat tak berarti. Tapi begitu masuk ditelinga Jackson, semua menjadi ajakan gelud.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian lagi!!"
Emma berjengit kaget saat lagi-lagi Jackson ******* bibirnya rakus. Bahkan tangan Jackson mulai nakal masuk ke kaos yang Emma kenakan dan melepas pengait branya.
Emma melemah. Tulangnya lunak seketika tidak mampu menahan bobot tubuhnya sehingga dia mengalungkan tangannya di leher Jack.
Jack merebahkan tubuh Emma di ranjang, menanggalkan kaos yang melekat di tubuh Emma bersama branya sekalian. Menatap gundukan itu lama sebelum dia menciumi lembahnya dan memutar kepuncak gunung. Tangannya aktif membelai dan meremas sedangkan bibirnya mengemut seperti bayi alpaca.
Dia bermain bersih tanpa meninggalkan satu jejakpun di sana. Dia tidak ingin Emma melihat itu kemudian memberikannya tendangan kasih sayang. Lebih baik membiarkan tubuh itu tetap putih bersih.
Perlakuan Jack membuat Emma bergumam tidak karuan. Mendesah tertahan takut Mami masuk dan memergoki mereka.
Pintu dikunci jadi biarkan setan bekerja. Emma pasrah hari itu membiarkan Jack menikmati tubuh atasnya puas.
Jack membalikkan Emma membuat Emma duduk di atas pahanya. Emma yang saat itu mengenakan celana pendek sungguh merasai pusaka kehidupan itu tegak bagaikan keadilan yang mereka junjung. Emma tidak ingin menyenggolnya dan membuat dia harus terkungkung di bawah Jack seharian.
Emma mengecup kening Jack sayang sedangkan Jack sendiri menutup matanya merasai cinta yang sedang disalurkan Emma melalui kecupan lembutnya.
"Jackson, aku mencintaimu"
Pernyataan Emma sukses membuka mata Jackson yang kini menatapnya dalam. Jackson tidak mampu berkata-kata lagi sehingga dia menekan tengkuk Emma dan kembali menyatukan bibir mereka.
Setelah melepas pangutan itu, kinerja otak Jack kembali normal. Dia menurunkan Emma lalu menyuruhnya memakai bajunya kembali. Sedangkan Jackson hilang ditelan Kamar Mandi dan ber-oh ria di dalam sana.
__ADS_1
Mandi air dingin cukup baik untuk kebaikan kita berdua. Aku sudah melewati batas dengan merasai puncak dadanya. Mungkin dia akan membenciku. Jackson tenggelam dalam pikirannya menyisakan Emma yang terlelap di atas ranjangnya tanpa mengenakan atasan.