Sellena

Sellena
Ella Atau Elle?


__ADS_3

Setelah kelas berakhir, Brenda langsung menggaet Ella dan membawanya ke sebuah cafe tidak jauh dari kampus.


"Ta-da.. Surprise buatmu, El" Brenda duduk di samping Ella setelah menyerahkan sebuah paper bag.


" Surprise apa lagi ini? Aku belum berulangtahun"


"Lihat saja sendiri"


"Heh? Tidak salah memberiku ini?" Ella melongo tidak percaya melihat sebuah cincin di paperbag sebesar itu.


"Well, banyak kegunaannya sih. Menyetrum, menusuk, menyabet, GPS, bisa juga buat bergaya"


"Memangnya ada apa sehingga kau memberiku ini?"


"Clara tahu penculiknya gagal menjualmu sehingga pasti akan terjadi penculikan lagi. Aku tahu kau mahir bela diri hanya saja, dia pasti menyewa yang lebih kejam daripada sebelumnya"


"Kalau begitu, biarkan Hiro menculiknya terlebih dahulu. Memberinya pelajaran hingga merasa takut untuk menemui kita"


"Ide bagus. Lagian Hiro masih menjadi tahanan kakakku. Aku bisa bicara dengan kakakku kalau begitu"


"Adakan pertemuan dengannya. Berikan aku kontaknya sehingga aku sendiri yang akan menemuinya sebagai ketua geng"


"Hohoho... Nona Besar mulai beraksi. Aku sedikit kasihan pada Clara.. Hehehe.." Brenda tertawa dengan paksa.


"Wajahmu sangat jelek mirip seperti penyihir jika tertawa seperti itu"


"Hahaha... Aku hanya ingin melihat dia hancur"


"Sebelum itu, berikan kontak bos. Cepat"


"Ini"


Brenda menyerahkan sebuah kartu nama pada Ella. Tertulis dengan jelas Brandon Rizon di situ.


"Aku akan menghubunginya nanti karena sampai saat ini belum ada pergerakan dari Clara. Dia tidak masuk kelas. Kita tunda dulu hingga dia muncul"


"Menurutku, rencana ini tetap dijalankan saja. Pertemuan kau dan kakakku lebih penting. Aku harap kau sedikit membahas tentang Tuan Willem dan tarik simpatinya, oke? Aku lihat kakakku peduli padamu"


"Akan aku coba membuat kakakmu berdebar sehingga mulus jalanku menuju puncak.. Hahahhaa..."


Keduanya kembali asyik mengobrol hingga sebuah mobil terparkir di luar caffe. Siapa lagi kalau bukan si Brandon. Dia mengkhawatirkan adiknya yang sedari tadi tidak mengangkat telponnya.


Bisa dilihatnya dari luar adiknya tertawa begitu lebar dihadapan gadis yang baru beberapa kali ditemuinya itu. Perasaannya seketika berdebar seolah-olah dia dan Elleane saling terikat. Dia masuk setelah menetralkan debaran di dadanya.


"Aw... Sakit.. Huhuhu.. Kakak.." Protes Brenda setelah mendapatkan jeweran di telinganya.


"Aku meneleponmu puluhan kali"


Brenda memeriksa telepon genggamnya dan hanya mendapati tiga panggilan di sana.

__ADS_1


"Puluhan kali apa? Ini hanya tiga kali. Lihatlah, tiga kali huh!!" Brenda mendengus kesal pada kakaknya.


Brandon menggaruk kepalanya kikuk melihat Elleane alias Ella hanya tersenyum.


"Sudah-sudah... Ayo berbelanja"


"Tapi bisakah Ella.. Ekhm.. Elle mengikuti kita?"


Ella? Aku tidak salah dengarkan adikku memanggil gadis ini Ella?


"Ka...kak..." Brenda menggoyang lengan Brandon agak kuat.


"Hah!? Eh iya? Ada apa?"


"Aku tadi bertanya apa Elle boleh ikut tapi kenapa kakak melamun? Kakak jatuh cinta pada Elle?"


Pletak! Sebuah jitakan mendarat di kening Brenda. Ella tertawa sembunyi-sembunyi sambil mengaduk minumannya.


"Bisanya hanya tertawa di atas penderitaan sahabatnya" Brenda memelototi Ella tapi yang dipelototi kembali tertawa tertahan.


"Ayo pergi. Sekalian aku mau bicara denganmu, Bos" Ella tersenyum manis pada Brandon.


"Ekhemm..." Batuk paksa dari Brenda segera membuyarkan lamunan Brandon yang sedari tadi tidak fokus.


"Oh kalau begitu, kita bisa cari tempat yang lebih aman untuk membicarakan hal penting"


"Ke rumah saja kalau begitu"


***


"Indah..." Sebuah kata yang meluncur dengan cepat dari mulut Ella melihat pemandangan di sekitar Mansion Rizon.


"Indah kan? Di sana tempat main kami saat masih kecil" Tunjuk Brenda ke sebuah ayunan dan juga perosotan.


"Wah.. Lebih mirip taman kanak-kanak ya?"


"Itu karena Dad tidak ingin kami diculik. Tahu saja waktu itu benar-benar saling bersaing. Ayo masuk"


Ella mengikuti langkah Brenda. Brandon sudah masuk terlebih dahulu untuk mengabari orangtua mereka bahwa ada teman Brenda yang mampir.


"Palingan juga gadis tidak jelas" Sinis Meiya yang merupakan ibu dari Brandon.


Brenda yang mendengar itu langsung memerah wajahnya menahan amarah karena sahabatnya dikatai oleh ibu tirinya.


"No, Mom. Dia gadis baik. Dia juga salah satu orang kepercayaanku"


"Mana kulihat"


Deg! Wajah Ella seketika mengingatkannya pada seseorang.

__ADS_1


"Apa dia Elleane Willem? Putri Tuan Willem? Kenapa kau membawanya ke sini hah!?" Bisik Meiya pada Brandon.


"Ada bisnis yang akan kami bahas" Balas Brandon berbisik.


"Bisnis? Gadis manja itu bisa berbisnis? Jangan sampai kau ikutan bangkrut"


"Tenang saja, Mom"


Brandon kembali setelah acara bisik-bisik dengan ibunya. Dia lega melihat wajah Ella biasa saja seolah-olah sudah sering menerima perkataan seperti itu.


"Maaf. Ibuku agak keras. Aku harap kau tidak memasukannya dalam hati"


"Hehehe... Semua ibu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Memang kadang-kadang perkataan mereka cukup pedas"


"Maklum saja karena situasi yang membuat ibuku berkata demikian"


"Aku bisa memakluminya"


Brandon tersenyum mendengar Elleane berkata seperti itu. Dia menyuruh pelayan membuatkan mereka minum.


"Aku ingin Bos menyelidiki gadis ini" Ella mengeluarkan fotonya dan meletakannya di depan Brandon.


"What? Tidak salah lihat kan ini!?" Brandon terkejut melihat kemiripan mereka yang berbeda hanyalah warna rambut saja.


"Kami sangat mirip bukan? Bisakah Bos meyelidikinya? Mengapa ada dua gadis yang begitu mirip? Jika bukan saudara lalu apa?"


"Aku pernah baca. Kita hidup di dunia ini punya tujuh kembaran. Aku rasa kalian mirip karena dia salah satu kembaranmu"


"Bisa jadi begitu. Tapi aku hanya ingin memastikan siapa dia, terutama kelahirannya. Aku merasa cukup janggal"


"Baik. Beri aku seminggu karena kelihatan gadis ini bukanlah sembarang gadis"


"Em, ada satu permintaan lagi, Bos"


"Apa itu?"


"Aku ingin menggunakan Hiro untuk menculik Clara. Gadis itu masih ingin menculikku sehingga aku berencana menculiknya lebih dahulu dan membuatnya kapok"


"Baiklah. Tapi apa bayaranku?"


"Bos ingin dibayar pakai apa?"


"Em makan malam?"


Hah!? Makan malam? Gilakah kakakku ini? Tidak demam juga. Brenda sibuk memeriksa kening kakaknya.


"Bayarannya makan malam? Kak...."


"Ayah berencana menjodohkanku lagi. Jadi aku butuh dia menjadi pacar pura-puraku" Brandon menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


Sungguh dia lebih baik membantai orang daripada merayu seorang gadis.


"Oke, deal" Ella menyodorkan tangannya dan Brandon menjabatnya cukup lama merasai tangan seorang gadis yang menarik perhatiannya.


__ADS_2