
Edgar bangun dengan sedikit linglung. Dia belum pernah bangun sepagi ini. Perutnya serasa ditindih benda berat dan ketika dirabanya, paha Ella dengan erat menjepit perutnya.
"Astaga, aku ini lelaki normal dan dengan kuatnya dia memelukku. Jangan sampai pagi ini menjadi kali pertama kami"
Edgar kemudian beringsut bangun tapi tangan Ella tidak melepasnya justru mencengkeram dadanya dengan gemas.
"Mau kemana? Gulingku yang empuk"
Edgar terpana. Dia baru tahu bahwa Ella seimut ini ketika tidur. Pembawaan dewasanya menguap entah kemana.
"El, aku ini Edgar loh bukan guling"
Tapi Ella masih saja tidak mau melepaskannya akhirnya Edgar berbaring kembali dengan menahan diri sambil berusaha memikirkan hal lain. Misalnya apa yang harus dia lakukan ketika sudah kembali ke negara A bersama Ella.
Setelah beberapa menit, netra cokelat itu terbuka sempurna sambil terus mengumpulkan nyawa. Dia cukup terkejut melihat tubuhnya yang rapat dengan Edgar.
Dasar Ella, saat bersama Edgar tidak punya pengendalian diri. Untung saja ini Edgar bukan pria lain. Ella meruntuki dirinya yang kelihatan seperti menyerahkan diri kedalam pelukan Edgar.
"Sudah bangun? Sampai kapan kau memelukku, gadis bodoh"
"Ck! Jika menikah denganmu, kita akan tidur berpelukan sepanjang malam"
"Tapi sekarang kan belum. Apa sebagai gadis kau tak bisa menjaga jarak? Pagi hari adalah saat lelaki memiliki gairah yang tidak terbatas"
Ella tidak bisa menjawab dan hanya memindahkan tubuhnya ke samping lalu masuk selimut dan memejamkan mata lagi. Dia merona dengan sendirinya.
Edgar terkekeh pelan lalu bangun untuk menuntaskan ritual mandinya. Toh perkututnya sudah tenang sedari tadi jadi ritualnya tidaklah lama.
Selesai mandi, Edgar dengan cepat menyelinap ke ruang ganti sebelum Ella bangun dan melihat dada polosnya karena belum saatnya.
"Eumngh..." Ella merenggakan ototnya. Dia bangun kemudian merapikan tempat tidur sebelum pergi mandi.
Dia tidak khawatir saat berganti pakaian karena dia tahu Edgar sudah kabur untuk mengurus kepulangan mereka.
Dia kemudian berjalan mengendap-endap lagi masuk ke kamar tamu. Sesaat kemudian dia turun dengan koper ditangannya tak lupa kacamata yang bertengger.
"Ane, sudah mau pulang?" tanya Emma.
"Yah kau tahu di sana kan aku kuliah jadi aku tidak bisa lama-lama di sini"
"Ayo sarapan dulu" Emma mengkode Ella untuk duduk makan.
"Eh... Tuan rumah kemana?" Elleane celingukan.
" Sebentar lagi semuanya berkumpul kok. Penerbanganmu jam berapa?"
"Sepertinya jam 10 ini"
"Ini masih jam 7 tenang saja. Nah itu mereka"
Gadis dan wanita itu menyambut anggota keluarga Dhawn dengan senyuman. Emma langsung di berondong kecupan di kening dan pipinya oleh Jackson.
Satu hal yang membuat pasangan itu romantis adalah mereka tidak ingin mempertonton adegan ciuman bibir mereka di depan orang lain.
"Selamat pagi Mom, Dad dan Kak Jerry" Emma tersenyum manis pada Jerry.
__ADS_1
"Oh hay adik ipar"
"Selamat pagi semuanya" Elleane juga menyapa dan melempar senyum manisnya pada Jerry membuat Jerry sedikit salah tingkah.
"Ikut sarapan bersama kami nak sebelum pulang" Mami Chyntia menarik Elleane dan mendudukannya di samping Jerry lalu ia sendiri duduk di sebelah kanan suaminya.
Mereka sarapan tanpa berbicara karena masing-masing mengejar deadline. Emma juga harus pergi kuliah walaupun dia sudah menikah karena Jackson tidak ingin mengekang kebebasan istrinya.
"Aku antar ke kampus yah?" Tanya Jackson begitu selesai sarapan.
"Boleh. Tapi jangan menampakan diri karena kaum hawa di kampusku buas akan lelaki tampan. Aku tidak ingin suamiku menjadi santapan mata mereka"
"Hehehhe... Aku ingin memastikan apakah ada yang melirikmu atau tidak" Jackson merangkul Emma mesra dan berpamitan pada Orang tua, kakak serta Elleane.
"Oh yah... Terimakasih karena sudah menampungku beberapa hari ini. Akh juga harus berangkat sekarang"
"Biarkan Jerry mengantarmu ke bandara"
"Tidak usah Angkel karena aku sudah memesan taksi. Lagipula Tuan Muda pertama pasti terlambat ke kantor"
"Baiklah kalau begitu" Romand tidak mempermasalahkan panggilan Angkel dan juga penolakan Elleane.
Akhirnya mereka berdua keluar bersama setelah menyalami Tuan dan Nyonya Derbaltroz. Elleane dengan kopernya menaiki taksi sedangkan Jerry melajukan mobilnya.
Sepeninggal mereka, Romand yang saat itu tidak ingin pergi ke kantor mengajak istrinya duduk di sofa dan membicarakan suatu hal yang serius.
"Sayang, bukankah Elleane sangat mirip dengan Ella?"
"Dad juga merasa begitu? Bahkan aku merasakan keterikatan dengannya"
"Dad sudah mencaritahu dan benar Elleane memang anaknya Tuan Willem. Mereka sangat mirip itulah yang membuat Dad sampai bingung"
"Tapi menantu kita sangat dekat dengannya" Romand Dhawn curiga.
"Menantu kita itu siapa sih yang tidak akrab? Bahkan dia berani memperkenalkan dua teman lelakinya si Vico dan siapa lagi yang pendek?"
"Gio.. Mom ini bagaimana sih? Masa lupa sama temannya menantu kita?"
"Mom kan sudah tua. Suka pikun. Untung tidak lupa suami"
Keduanya kompak tertawa..
"Iyah Mom benar menantu kita suka berteman makanya temannya banyak"
"Dia pilih-pilih teman loh Dad. Setahuku dua temannya itu jago main komputer dan berkelahi"
"Setidaknya di kampus ada dua orang yang menjaganya sehingga kita tidak perlu khawatir dia terluka"
Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka pergi ke halaman belakang berdua untuk memberi makan peliharaan mereka.
***
Ella turun di dekat mall kemudian menenteng kopernya masuk. Dia menuju tempat penitipan dan menitipkan koper tersebut. Setelah itu dia masuk ke butik khusus bayi dan membeli beberapa keperluan baby Thea.
Dia suka biru makanya hampir semuanya berwarna biru. Ketika melihat yang merah, dia mengambilnya juga.
__ADS_1
Dia segera membayar semuanya. Sekali kibasan tangannya, pengawal bayangan yang entah dari mana muncul dan membantunya membawa belanjaan itu ke mobil yang sudah ada di parkiran.
"Camael, urus CCTV mall. Jangan sampai menampilkan aku dan para pengawal"
"Baik nona Besar"
"Panggilkan manager atau pemilik butik kalian"
"Baik Nona Besar" Pelayan butik berlalu dan memanggil pemilik yang ternyata berada di tempat penyimpanan barang.
"Selamat pagi Nona. Silahkan duduk. Ada apa nona? Apakah anda kurang puas dengan pelayanan kami? Ah maaf karena ruangan ini sangat berantakan"
Mereka akhirnya duduk mengobrol di bagian dalam butik yang ternyata adalah sebuah ruangan yang penuh dengan kain-kain berserakan.
"Aku sangat puas. Tapi aku ingin kunjunganku hari ini menjadi rahasia kita. Oh yah aku ingin salah seorang anak buahmu bekerja untukku dan tinggal langsung di rumahku"
"Itu tidak masalah Nona tapi..."
"Jika Nona merasa aku keterlaluan tidak apa-apa. Aku tahu Nona juga membutuhkan pekerja di sini"
"Sekali lagi aku minta maaf karena kami kekurangan pekerja. Dan yang mendesain adalah aku sendiri"
"Begitu? Jadi apakah Nona mau bekerja denganku? Aku juga akan menjadi donatur butik ini karena aku suka desain pakaian yang Nona buat"
"Aku sangat tersanjung jika Nona mau mempekerjakan aku"
"Tapi...."
"Tapi apa Nona?"
"Kau harus menetap di rumahku. Tidak diperbolehkan untuk keluar masuk dan juga harus selalu berada di kegelapan"
"Saya paham maksud Nona karena Ayah saya juga bekerja seperti itu"
"Kalau begitu, orangku akan menjemputmu sore ini. Aku juga akan tambahkan anak buahku di sini . Nona tidak perlu khawatir karena tidak akan ada yang tahu bahwa Nona menghilang"
Setelah bicara seperti itu, Ella keluar dari butik tersebut. Semua pelayan butik menunduk hormat. Melihat itu, pemilik akhirnya tahu bahwa semua pekerjanya adalah anak buah si Nona yang mereka panggil Nona Besar.
Lagipula aku tidak punya siapa-siapa lagi yang perlu aku lindungi sehingga lebih baik aku ikut dengannya.
Tentu saja itu adalah pilihan yang bijak karena selama bersama Ella, dia tidak akan merasa kesepian lagi.
"Rose aku memilihmu karena dirimu mirip bibi Rosie dan aku juga suka namamu. Terlebih lagi kau teman yang melupakanku. Aku akan bantu kau mengingat diriku kembali"
Ella melenggang pergi dengan senyum mengembang. Tidak lupa mengambil kembali kopernya.
"Oh hay Stev.."
"Aku sudah membeli tiket pesawat untuk kita"
"Maaf aku belum bisa pulang jadi kau pulang saja sendiri. Masih ada beberapa hal yang harus aku urus. Ini mengenai perusahaan"
"Baiklah. Aku duluan. Jaga dirimu"
"Jangan merindukanku yah? Muah.." Kecupan lewat telpon itu seketika membuat Steven merinding. Dia segera mematikan panggilan.
__ADS_1
Aku ingin kembali tapi tidak bisa karena Thea masih sangat kecil. Bulan depan saja aku kembali.
Ternyata bukan karena perusahan tapi karena baby Thea. Gadis 18 tahun itu mendalami perannya menjadi Mom yang selalu siap siaga.